Bank dan Fintech Global Berlomba Adopsi Agentic AI, Regulasi Terus Diuji: Bagaimana Peluang Indonesia?

- 16 Juni 2026 - 10:10

Agentic AI mulai bergerak dari sekadar alat bantu menjadi “pelaku” yang mampu menjalankan tugas secara mandiri di industri jasa keuangan. Sejumlah bank, perusahaan pembayaran, dan fintech global seperti Mastercard, ING, Worldline, eToro, Klarna, dan ABN AMRO mulai mengimplementasikan teknologi ini untuk pembayaran, investasi, layanan nasabah, hingga proses kredit. Namun di balik peluang efisiensi dan peningkatan produktivitas, muncul tantangan baru terkait tata kelola, risiko operasional, regulasi, keamanan data, dan masa depan tenaga kerja di sektor keuangan.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Agentic AI mulai digunakan untuk melakukan pembayaran, investasi, dan layanan pelanggan secara mandiri dengan persetujuan pengguna.
■ University of Cambridge memproyeksikan penggunaan AI agent di sektor jasa keuangan melonjak dari 24% menjadi 81% pada 2030.
■ Regulasi, tata kelola, keamanan data, dan pengawasan manusia menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi agentic AI.


Industri jasa keuangan global memasuki babak baru pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Jika selama ini AI hanya berfungsi menjawab pertanyaan atau membantu analisis, kini teknologi tersebut mulai diberi kemampuan untuk mengambil tindakan dan menjalankan tugas secara mandiri.

Fenomena yang dikenal sebagai agentic AI menjadi salah satu topik paling banyak dibahas dalam ajang Money20/20 Europe 2026 di Amsterdam pekan lalu. Teknologi ini diyakini akan mengubah cara bank, perusahaan pembayaran, dan fintech melayani nasabah, mengelola transaksi, hingga menjalankan operasional bisnis sehari-hari.

Perubahan besar itu mulai terlihat dari implementasi nyata di industri keuangan.
Mastercard, bank asal Belanda ING, dan perusahaan pembayaran Worldline baru-baru ini mengumumkan keberhasilan pelaksanaan transaksi pembayaran agentic AI pertama di Eropa yang berjalan secara end-to-end dalam lingkungan produksi nyata.

Dalam demonstrasi tersebut, seorang konsumen meminta asisten AI mencari tiket konser berdasarkan lokasi, tanggal, dan anggaran tertentu. Setelah pengguna memilih opsi yang diinginkan, AI melakukan pembayaran secara otomatis setelah mendapatkan persetujuan dari pengguna.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai chatbot atau mesin pencari informasi. AI mulai berkembang menjadi agen digital yang dapat melakukan tindakan atas nama pengguna.

Scarlett Sieber, Chief Strategy and Growth Officer Money20/20, mengatakan AI di sektor keuangan telah bergerak jauh melampaui tahap eksperimen. “Dulu AI hanya menjadi buzzword. Sekarang adopsinya terjadi di seluruh industri, bukan hanya di startup,” ujarnya kepada CNN.

Adopsi AI Diprediksi Melonjak

Perubahan tersebut diperkirakan akan berlangsung sangat cepat. Laporan Global AI in Financial Services 2026 yang dipimpin University of Cambridge menunjukkan penggunaan AI agent di industri jasa keuangan diproyeksikan meningkat dari 24% saat ini menjadi 81% pada 2030.

Survei yang melibatkan lebih dari 600 perusahaan dan regulator di berbagai negara itu juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi berjalan lebih cepat dibanding kemampuan regulator dan pengawas untuk mengelolanya. Temuan ini menjadi perhatian penting karena semakin banyak keputusan bisnis dan transaksi keuangan yang berpotensi dilakukan secara otomatis oleh AI.

Investasi dan Trading Mulai Diserahkan ke AI

Transformasi juga terjadi di sektor investasi.
Platform perdagangan saham dan aset digital eToro mengembangkan asisten AI yang tidak hanya memberikan rekomendasi investasi, tetapi juga dapat melakukan transaksi atas nama pengguna sesuai parameter yang telah ditentukan sebelumnya.

Salah satu fitur yang menarik perhatian adalah aplikasi POTU$, yang memantau media sosial dan pemberitaan terkait Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketika muncul informasi yang berpotensi menggerakkan pasar, sistem dapat langsung mengeksekusi transaksi dalam hitungan detik.

CEO eToro Yoni Assia mengungkapkan penggunaan AI di perusahaannya meningkat hampir 10 kali lipat dalam enam bulan terakhir. Bahkan, sekitar 95% kode baru yang dikembangkan perusahaan saat ini ditulis menggunakan bantuan AI, dibandingkan nol dua tahun lalu.

Meski demikian, Assia menegaskan bahwa manusia tetap memegang peranan utama. “AI tidak berguna tanpa manusia yang mengarahkannya,” katanya.

Efisiensi Operasional dan Dampaknya terhadap Pekerjaan

Di sisi lain, implementasi AI juga mulai mengubah struktur tenaga kerja industri keuangan. Klarna, perusahaan fintech asal Swedia yang dikenal melalui layanan buy now pay later (BNPL), menjadi salah satu contoh paling menonjol.

Perusahaan tersebut mengembangkan asisten AI bersama OpenAI untuk menangani layanan pelanggan. Klarna sebelumnya mengklaim sistem AI tersebut mampu mengerjakan pekerjaan setara 700 agen layanan pelanggan penuh waktu.

CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski mengatakan penggunaan AI membantu perusahaan meningkatkan produktivitas secara signifikan. “Teknologi baru seperti AI memungkinkan kami melakukan lebih banyak pekerjaan dengan sumber daya yang lebih sedikit,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir jumlah karyawan Klarna turun dari sekitar 6.000 orang menjadi kurang dari 3.000 orang, sementara pendapatan per karyawan meningkat.

Namun Klarna juga menemukan bahwa otomatisasi yang berlebihan dapat berdampak pada kualitas layanan. Perusahaan akhirnya kembali merekrut sebagian tenaga manusia untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Menurut Siemiatkowski, sejumlah pekerjaan berpotensi terdampak AI dalam jangka pendek, meskipun profesi yang berhubungan langsung dengan pelanggan diperkirakan tetap memiliki prospek yang baik.

Bank Tradisional Ikut Bertransformasi

Bank-bank konvensional juga bergerak cepat.
ABN AMRO, salah satu bank terbesar di Belanda, menjadikan AI sebagai bagian dari transformasi digital jangka panjang.

CEO ABN AMRO Marguerite Bérard mengatakan sekitar 85% pegawai bank, termasuk dirinya, telah menggunakan AI dalam aktivitas sehari-hari.Bank tersebut juga mengoperasikan chatbot AI bernama Ana untuk melayani jutaan percakapan dengan nasabah dan AI bernama Lenny yang membantu mempercepat proses pengajuan kredit.

Bérard menegaskan bahwa AI harus digunakan untuk memperbaiki proses bisnis, bukan sekadar menambahkan teknologi baru. “Jika Anda menempatkan AI pada proses yang buruk, hasilnya tetap proses yang buruk,” ujarnya.

Menurutnya, prinsip utama implementasi AI adalah tetap mempertahankan pengawasan manusia. “Selalu harus ada manusia yang mengawasi dan terlibat dalam prosesnya,” tambahnya.

Risiko dan Regulasi Menjadi Tantangan Besar

Meski menawarkan efisiensi yang besar, implementasi agentic AI juga memunculkan berbagai risiko baru.

Perusahaan riset Gartner memperkirakan lebih dari 40% proyek agentic AI akan dibatalkan sebelum 2027 akibat biaya yang meningkat, manfaat bisnis yang tidak jelas, atau lemahnya kontrol risiko.

Laporan Accenture dan Wharton School juga mengingatkan bahwa perusahaan harus menentukan secara jelas keputusan mana yang dapat didelegasikan kepada AI dan keputusan mana yang harus tetap berada di tangan manusia.

Isu tata kelola, akuntabilitas, transparansi algoritma, keamanan siber, serta perlindungan data pribadi menjadi faktor yang semakin penting ketika AI mulai diberi kewenangan untuk bertindak secara mandiri.

Bagi industri perbankan dan jasa keuangan, tantangan tersebut akan menjadi salah satu agenda utama dalam beberapa tahun ke depan.
Di saat yang sama, tekanan kompetisi juga semakin besar. Bank dan fintech yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, dan memperbaiki pengalaman nasabah berpotensi memperoleh keunggulan signifikan di pasar.

Transformasi AI di sektor keuangan kini tidak lagi menjadi wacana masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan sejauh mana institusi keuangan mampu mengelola manfaat dan risikonya secara seimbang. ●


DIGI-INSIGHTS:

Agentic AI berpotensi menjadi lompatan terbesar industri jasa keuangan sejak lahirnya mobile banking. Jika generative AI membantu manusia menghasilkan informasi, maka agentic AI melangkah lebih jauh dengan mengeksekusi tindakan bisnis. Dalam konteks perbankan, teknologi ini dapat digunakan untuk mengelola pembayaran, membuka rekening, memproses kredit, melakukan investasi, hingga menangani pengaduan nasabah secara otomatis. Artinya, model operasional bank masa depan akan semakin bergeser dari human-centric menjadi AI-assisted organization.

Bagi industri perbankan Indonesia, peluang terbesar agentic AI terletak pada efisiensi biaya operasional dan peningkatan pengalaman nasabah. Bank yang selama ini menghadapi tekanan biaya, persaingan digital bank, serta tuntutan layanan 24 jam dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat proses bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas pegawai. Namun tantangannya tidak kecil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan industri harus mulai memikirkan kerangka tata kelola AI yang mencakup audit algoritma, akuntabilitas keputusan, perlindungan data pribadi, hingga mitigasi risiko fraud berbasis AI.

Dalam jangka panjang, persaingan industri keuangan kemungkinan tidak lagi hanya terjadi antarbank atau antara bank dan fintech. Persaingan akan bergeser menjadi kompetisi antar-ekosistem AI. Institusi yang memiliki data berkualitas, infrastruktur cloud yang kuat, model AI yang andal, serta tata kelola yang baik akan memiliki keunggulan signifikan. Karena itu, investasi pada AI tidak lagi sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari strategi bisnis inti yang akan menentukan profitabilitas, efisiensi, dan daya saing industri jasa keuangan dalam dekade mendatang. ●


DIGIONARY:

● Accenture: Perusahaan konsultan global yang fokus pada transformasi bisnis dan teknologi.
● Agentic AI: AI yang mampu mengambil tindakan dan menjalankan tugas secara mandiri berdasarkan tujuan tertentu.
● AI Assistant: Asisten digital berbasis kecerdasan buatan yang membantu pengguna menyelesaikan berbagai aktivitas.
● Algorithmic Decision: Pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan model dan algoritma komputer.
● Artificial Intelligence: Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir dan belajar manusia.
● Chatbot: Program AI yang dirancang untuk berinteraksi dengan pengguna melalui percakapan.
● Customer Experience: Pengalaman yang dirasakan nasabah saat berinteraksi dengan perusahaan atau layanan.
● eToro: Platform investasi dan perdagangan aset digital berbasis teknologi.
● Fintech: Perusahaan yang menyediakan layanan keuangan berbasis teknologi digital.
● Governance: Kerangka tata kelola untuk memastikan teknologi dan organisasi berjalan sesuai aturan dan tujuan bisnis.
● Klarna: Perusahaan fintech asal Swedia yang dikenal melalui layanan buy now pay later.
● Money20/20: Konferensi global terbesar yang membahas industri fintech dan pembayaran digital.
● OpenAI: Perusahaan pengembang teknologi AI generatif seperti ChatGPT.
● Risk Management: Proses identifikasi, pengukuran, dan pengendalian risiko bisnis.
● University of Cambridge: Universitas riset global yang aktif melakukan penelitian mengenai AI dan sektor keuangan.

#AgenticAI #ArtificialIntelligence #AI #DigitalBanking #Fintech #BankingTechnology #OpenAI #Money2020 #FinancialServices #FutureOfBanking #CustomerExperience #DigitalTransformation #MachineLearning #Automation #CyberSecurity #RiskManagement #DataAnalytics #EmbeddedFinance #BankInnovation #DigitalBankID

Comments are closed.