Privy meluncurkan solusi Digital Identity melalui dua fitur baru, PrivyHub dan Continue with Privy, untuk menyederhanakan proses onboarding digital sekaligus memperkuat keamanan identitas pengguna. Solusi ini memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan digital tanpa harus berulang kali mengisi data dan melakukan verifikasi identitas. Bagi perusahaan, teknologi ini berpotensi meningkatkan conversion rate, menekan biaya akuisisi pelanggan, mengurangi risiko fraud, serta mempercepat transformasi digital di berbagai sektor, termasuk keuangan, investasi, media, pendidikan, dan layanan publik.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Privy meluncurkan PrivyHub dan Continue with Privy untuk menghilangkan proses registrasi berulang sekaligus meningkatkan keamanan identitas digital pengguna.
■ Digital Identity memungkinkan perusahaan menekan biaya akuisisi pelanggan, meningkatkan conversion rate, dan mengurangi risiko fraud berbasis identitas sintetis.
■ Solusi Privy telah digunakan oleh Treasury, Kompas.id, Belajarlagi, dan SPUN sebagai bagian dari strategi digital trust dan transformasi layanan digital.
Persaingan layanan digital yang semakin ketat membuat pengalaman pengguna menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis. Menjawab tantangan tersebut, Privy meluncurkan Digital Identity yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai platform digital tanpa harus berulang kali mengisi data pribadi dan menjalani proses verifikasi identitas yang panjang.
Privy resmi memperkenalkan Privy Digital ID yang terdiri dari dua layanan utama, yakni PrivyHub dan Continue with Privy. Kedua solusi tersebut dirancang untuk menyederhanakan proses registrasi digital sekaligus meningkatkan tingkat kepercayaan dalam transaksi online.
Peluncuran ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap proses onboarding yang cepat namun tetap aman. Dalam banyak kasus, pengguna harus mengulang proses registrasi setiap kali mengakses layanan digital baru, mulai dari mengisi data pribadi, mengunggah KTP, melakukan verifikasi biometrik hingga menunggu proses validasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi perusahaan digital. Berbagai studi menunjukkan lebih dari 60% calon pengguna meninggalkan proses pendaftaran karena registrasi yang terlalu panjang dan kompleks.
Di sisi lain, proses onboarding yang terlalu sederhana juga menghadirkan risiko keamanan. Data Equifax menunjukkan sekitar 95% identitas sintetis atau Synthetic Identity Fraud dapat lolos melalui proses onboarding standar yang hanya mengandalkan verifikasi dasar.
Digital Identity Jadi Fondasi Digital Trust
CEO & Founder Privy Marshall Pribadi mengatakan identitas digital kini telah berkembang menjadi infrastruktur penting yang mendukung akses, verifikasi, hingga transaksi digital lintas sektor.
Banyak perusahaan menginvestasikan sumber daya besar untuk mendapatkan pengguna baru, tetapi kehilangan calon pengguna saat proses registrasi karena terlalu panjang dan rumit. Di sisi lain, pengguna juga semakin menginginkan pengalaman digital yang cepat dan aman. Solusi Digital Identity hadir untuk menghilangkan kendala tersebut.
Privy sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) memiliki tanggung jawab dan kewenangan untuk menerbitkan sertifikat elektronik setelah pengguna melalui verifikasi identitas berbasis NIK, biometrik, dan memiliki sertifikat elektronik – sehingga mereka bisa mendaftar di platform mitra cukup dengan Privy ID masing-masing.
“Sementara bagi perusahaan, setiap pengguna dengan Privy ID sudah dijamin sebagai individu unik dan terverifikasi. Privy juga memberikan Certificate Warranty hingga Rp1 miliar terhadap setiap sertifikat elektronik yang diterbitkan sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan kepercayaan digital di setiap interaksi, termasuk pada proses onboarding pelanggan,” ujar Marshall.
Menurut Marshall, Digital Identity tidak lagi sekadar alat autentikasi atau tanda tangan elektronik. Teknologi ini telah berkembang menjadi fondasi digital trust yang dapat membantu perusahaan meningkatkan kualitas data pelanggan sekaligus menekan risiko fraud.
“Identitas digital tidak hanya berfungsi membuktikan keabsahan seseorang dalam penandatanganan sebuah dokumen, namun juga memastikan keunikan individu tersebut dalam mengakses berbagai layanan digital lainnya secara aman, cepat, dan terpercaya. Begitupun bagi perusahaan, ini bukan hanya soal registrasi yang lebih singkat, tetapi juga memastikan kualitas data pengguna, menghindari potensi fraud, serta efisiensi bisnis dalam hal ini termasuk biaya akuisisi pengguna,” lanjutnya.
PrivyHub Jadi Gerbang Layanan Digital Terverifikasi
PrivyHub berfungsi sebagai portal layanan digital terverifikasi yang tersedia langsung di aplikasi Privy. Melalui platform ini, pengguna dapat menemukan dan mengakses berbagai merchant tanpa harus berpindah aplikasi maupun melakukan registrasi ulang.
Salah satu mitra yang telah memanfaatkan PrivyHub adalah SPUN, platform layanan pengajuan visa digital.
Integrasi ini memungkinkan pengguna yang telah memiliki identitas terverifikasi di Privy untuk mengakses layanan SPUN secara lebih cepat dan efisien.
Continue with Privy Percepat Akuisisi Pengguna Baru
Selain PrivyHub, Privy juga menghadirkan Continue with Privy yang dapat diintegrasikan ke dalam aplikasi maupun website perusahaan mitra. Salah satu pengguna awal teknologi ini adalah Treasury, platform investasi digital logam mulia.
CEO Treasury, Andreas Santoso, mengatakan proses onboarding yang sederhana namun tetap memenuhi aspek kepatuhan menjadi kebutuhan utama industri investasi digital.
Sejalan dengan visi Treasury untuk meningkatkan literasi finansial dan investasi masyarakat, hal ini bukan hanya soal menyediakan akses terhadap produk investasi, namun juga memastikan masyarakat dapat memulai perjalanan investasinya dengan mudah. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu didukung oleh proses verifikasi yang sah.
“Dengan mengintegrasikan Continue with Privy di aplikasi Treasury, selain dapat membantu mempercepat proses verifikasi pengguna, juga meningkatkan peluang peningkatan pelanggan baru Treasury yang berasal dari pengguna Privy. Bahkan, sudah hampir 16.000 pengguna baru yang mendaftar melalui Continue with Privy pada aplikasi Treasury,” kata Andreas.
Di sektor pendidikan digital, Belajarlagi juga mengadopsi layanan tersebut untuk mempercepat akses pengguna terhadap program pembelajaran.
“Di industri EdTech, semakin sederhana proses akses pengguna, semakin besar juga potensi untuk mempercepat proses belajar. Sebab ketika seseorang sudah memiliki intensi untuk belajar atau meningkatkan skills, proses registrasi yang panjang bisa menjadi hambatan yang membuat momentum tersebut hilang atau tertunda. Melalui integrasi Continue with Privy, kami dapat menghadirkan proses onboarding yang lebih praktis sehingga pengguna dapat lebih cepat mengakses program pembelajaran,” ungkap Christian H, Head of B2C Operation, Belajarlagi.
Relevansi bagi Industri Keuangan
Bagi industri perbankan, fintech, wealth management, hingga asuransi digital, identitas digital yang terverifikasi semakin menjadi kebutuhan strategis.
Peningkatan transaksi digital, maraknya fraud berbasis identitas, serta tuntutan efisiensi akuisisi nasabah membuat institusi keuangan membutuhkan mekanisme onboarding yang cepat namun tetap memenuhi prinsip Know Your Customer (KYC), Anti Money Laundering (AML), dan perlindungan data pribadi.
Digital Identity dipandang sebagai salah satu fondasi utama ekonomi digital karena mampu menghubungkan keamanan, pengalaman pengguna, dan efisiensi operasional dalam satu ekosistem.
Marshall menegaskan Privy akan terus memperluas integrasi Digital Identity ke berbagai sektor lain.
“Didukung peran Privy sebagai PSrE terdaftar di Indonesia, Privy terus memperkuat peran kami dalam membangun ekosistem digital trust yang aman, praktis dan terpercaya. Privy juga akan terus terbuka dalam memperluas merchants yang terintegrasi dengan layanan Digital Identity di berbagai sektor lainnya, termasuk ritel, pariwisata, ticketing, hingga gaya hidup atau lifestyle,” imbuh Marshall. ●
DIGI-INSIGHTS:
Transformasi digital di sektor keuangan memasuki fase baru. Jika sebelumnya fokus industri berada pada digitalisasi layanan dan pembukaan rekening secara online, kini perhatian bergeser ke pembangunan infrastruktur identitas digital yang dapat digunakan lintas platform. Di tengah tingginya biaya akuisisi nasabah dan meningkatnya risiko fraud, Digital Identity berpotensi menjadi “jalan tol” baru bagi industri keuangan untuk mempercepat onboarding tanpa mengorbankan aspek kepatuhan dan keamanan.
Bagi bank digital, fintech, hingga wealth management platform, kemampuan mengenali pengguna secara akurat akan menjadi keunggulan kompetitif. Dalam beberapa tahun ke depan, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh fitur aplikasi atau bunga simpanan, melainkan oleh siapa yang mampu menghadirkan pengalaman onboarding tercepat dengan tingkat keamanan tertinggi. Model seperti Continue with Privy menunjukkan bagaimana identitas digital dapat berkembang menjadi shared infrastructure yang digunakan oleh berbagai institusi sekaligus.
Di tingkat yang lebih strategis, perkembangan identitas digital juga akan mendukung agenda ekonomi digital nasional. Ketika identitas, tanda tangan elektronik, pembayaran digital, dan layanan keuangan mulai terhubung dalam satu ekosistem terpercaya, Indonesia memiliki peluang membangun fondasi digital trust yang lebih kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan tata kelola data, perlindungan privasi, interoperabilitas antarplatform, serta kesiapan regulasi agar pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berkelanjutan. ●
DIGIONARY:
● Acquisition Cost: Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru.
● Authentication: Proses memastikan identitas pengguna sebelum mengakses layanan.
● Biometrik: Verifikasi identitas menggunakan karakteristik fisik seperti wajah atau sidik jari.
● Certificate Warranty: Jaminan perlindungan atas penggunaan sertifikat elektronik.
● Continue with Privy: Fitur login dan registrasi menggunakan identitas digital Privy.
● Conversion Rate: Rasio pengguna yang berhasil menyelesaikan tindakan tertentu seperti registrasi.
● Digital Identity: Identitas digital yang telah diverifikasi dan dapat digunakan lintas platform.
● Digital Trust: Tingkat kepercayaan terhadap interaksi dan transaksi digital.
● EdTech: Industri teknologi pendidikan berbasis digital.
● Fraud: Tindakan penipuan yang merugikan individu atau perusahaan.
● KYC: Know Your Customer, proses identifikasi dan verifikasi pelanggan.
● NIK: Nomor Induk Kependudukan yang digunakan sebagai identitas resmi warga negara.
● Onboarding: Proses registrasi dan aktivasi pengguna pada suatu layanan digital.
● PSrE: Penyelenggara Sertifikasi Elektronik yang diakui pemerintah.
● Synthetic Identity Fraud: Penipuan menggunakan identitas palsu atau gabungan data identitas.
#Privy #DigitalIdentity #DigitalTrust #FintechIndonesia #DigitalBanking #Cybersecurity #OnboardingDigital #KYC #eKYC #FraudPrevention #IdentityVerification #Treasury #KompasID #Belajarlagi #DigitalTransformation #CustomerExperience #FinancialTechnology #IndonesiaDigitalEconomy #ElectronicSignature #DigitalInnovation
