PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp12,01 miliar pada kuartal II-2026 yang didorong oleh ekspansi bisnis digital, termasuk lonjakan digital saving sebesar 66,4% dan penyaluran kredit digital yang tumbuh 22,6%. Pertumbuhan ini ditopang oleh produk unggulan Pinang Dana Talangan yang menyasar ekosistem Agen BRILink dan Agen Gadai, di tengah fundamental keuangan yang tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 40,8%.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Laba bersih Bank Raya mencapai Rp12,01 miliar pada kuartal II-2026, yang didukung kuat oleh pertumbuhan signifikan pada ekosistem pembiayaan digital.
■ Digital saving tumbuh 66,4% menjadi Rp2,47 triliun, sementara transaksi aplikasi Raya naik 41,2% dengan total 3 juta transaksi pada periode tersebut.
■ Kinerja fundamental solid ditandai dengan Net Interest Margin (NIM) di level 5,95% dan rasio likuiditas yang melampaui ketentuan minimum regulator.
PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) kembali menunjukkan arah positif dalam transformasi digitalnya. Hingga kuartal II-2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp12,01 miliar. Perolehan ini menjadi cerminan dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan ekosistem pembiayaan digital dan penghimpunan dana berbasis aplikasi yang terus menunjukkan tren pertumbuhan.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, mengungkapkan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari konsistensi perusahaan dalam menghadirkan inovasi layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui berbagai inovasi layanan dan penguatan ekosistem digital, kami terus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat,” ujar Ida Bagus dalam keterangan resminya.
Ekspansi Kredit Digital
Salah satu penopang utama kinerja Bank Raya adalah produk Pinang Dana Talangan. Layanan pembiayaan digital yang ditargetkan untuk Agen BRILink dan Agen Gadai ini berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp14,67 triliun, atau melonjak 29,1% secara year-on-year (yoy) hingga kuartal II-2026. Keberhasilan produk ini tercermin dari jumlah pengguna yang mencapai sekitar 69 ribu agen, dengan outstanding pembiayaan yang melonjak 48,8% (yoy) menjadi Rp1,19 triliun.
Secara keseluruhan, kredit digital Bank Raya mencapai Rp16,46 triliun, meningkat 22,6% (yoy), sementara outstanding kredit digital tumbuh 21,2% (yoy) menjadi Rp3,17 triliun. Ekspansi ini turut berdampak pada efisiensi pendanaan, di mana rasio dana murah (CASA) meningkat signifikan menjadi 38,09% pada kuartal II-2026, dibandingkan 29,72% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Fundamental yang Solid
Di tengah ekspansi digital, Bank Raya tetap menjaga profil risiko dan likuiditas yang konservatif. Indikator fundamental perseroan tercatat sangat kuat, dengan Net Interest Margin (NIM) yang meningkat 104 basis poin menjadi 5,95%.
Dari sisi ketahanan likuiditas, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 83,31%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 444,63%, serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) di angka 166,46%. Seluruh rasio likuiditas tersebut berada jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 100%. Selain itu, dengan posisi Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 40,8%, Bank Raya memiliki kapasitas permodalan yang cukup luas untuk terus mendukung keberlanjutan bisnis dan inovasi di masa mendatang. ■
DIGIONARY:
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam menampung risiko kerugian.
● CASA (Current Account Saving Account): Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan.
● Digital Saving: Layanan tabungan yang dilakukan sepenuhnya melalui saluran digital atau aplikasi perbankan.
● LCR (Liquidity Coverage Ratio): Rasio yang mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban likuiditas jangka pendek.
● LDR (Loan to Deposit Ratio): Rasio untuk mengukur jumlah kredit yang disalurkan dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun.
● NIM (Net Interest Margin): Selisih antara bunga yang diterima dari kredit dengan bunga yang dibayarkan kepada nasabah.
● NSFR (Net Stable Funding Ratio): Rasio pendanaan stabil bersih untuk memastikan bank memiliki struktur pendanaan yang berkelanjutan.
#BankRaya #AGRO #TransformasiDigital #KinerjaKeuangan #LabaBersih #KreditDigital #PinangDanaTalangan #PerbankanDigital #EkonomiDigital #LaporanKeuangan #QuartalII2026 #FintechIndonesia #InklusiKeuangan #LiterasiKeuangan #BisnisPerbankan #InovasiDigital #PertumbuhanEkonomi #PerbankanIndonesia #EmitenPerbankan #DigitalBanking
