Chief Executive Officer Goldman Sachs David Solomon menilai kecerdasan buatan (AI) akan mengubah cara kerja industri perbankan global, namun tidak akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran seperti yang banyak dikhawatirkan. Menurutnya, AI justru akan meningkatkan produktivitas pekerja, mempercepat pengambilan keputusan, dan mengubah struktur pekerjaan di sektor jasa keuangan. Pandangan ini muncul ketika bank-bank global, termasuk Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, hingga Citigroup, berlomba mengintegrasikan AI ke berbagai lini bisnis mulai dari riset investasi, manajemen risiko, layanan nasabah, hingga operasional back office.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ CEO Goldman Sachs David Solomon menilai AI akan meningkatkan produktivitas industri perbankan tanpa memicu gelombang PHK massal pekerja kantoran.
■ Bank-bank global seperti Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Citigroup kini menjadikan AI sebagai bagian dari infrastruktur strategis bisnis.
■ Persaingan industri perbankan mulai bergeser dari produk dan distribusi menuju kemampuan memanfaatkan data, AI, dan otomatisasi untuk menciptakan efisiensi dan profitabilitas.
Di tengah kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan jutaan pekerja kantoran, Chief Executive Officer Goldman Sachs David Solomon justru menyampaikan pandangan berbeda. Menurutnya, AI memang akan mengubah industri perbankan secara fundamental, tetapi teknologi tersebut lebih berpotensi meningkatkan produktivitas manusia daripada menghilangkan pekerjaan dalam skala besar.
Pandangan tersebut disampaikan Solomon dalam wawancara bersama Bloomberg Odd Lots ketika dunia bisnis masih memperdebatkan manfaat ekonomi AI, tingkat pengembalian investasi yang belum sepenuhnya terlihat, hingga ancaman disrupsi terhadap pasar tenaga kerja global.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri perbankan menjadi salah satu sektor yang paling agresif mengadopsi artificial intelligence.
Berbeda dengan industri lain yang masih berada pada tahap eksperimen, bank-bank besar global telah mengintegrasikan AI ke dalam berbagai fungsi bisnis mulai dari customer service, analisis kredit, fraud detection, compliance, anti-money laundering (AML), manajemen risiko, hingga riset pasar modal.
Goldman Sachs menjadi salah satu institusi yang berada di garis depan transformasi tersebut. Menurut David Solomon, teknologi AI kini digunakan oleh berbagai kelompok pekerja di Goldman Sachs, mulai dari staf operasional, analis junior, hingga banker senior yang menangani transaksi korporasi bernilai miliaran dolar.
“AI akan mengubah cara kita bekerja, tetapi saya tidak melihat adanya kehancuran besar-besaran pekerjaan kerah putih,” kata Solomon.
Pernyataan itu menjadi kontras dengan sejumlah proyeksi yang memperkirakan AI akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor jasa profesional.
Perdebatan AI Bergeser dari Teknologi ke Produktivitas
Dalam dua tahun terakhir, fokus diskusi AI telah bergeser. Jika sebelumnya perhatian tertuju pada kemampuan teknologi generatif seperti ChatGPT, Claude, Gemini, dan Copilot, kini perusahaan mulai mempertanyakan nilai bisnis nyata yang dihasilkan dari investasi AI yang sangat besar.
Sejumlah riset menunjukkan perusahaan global telah menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pengembangan AI dan infrastruktur data center.
Namun laporan Bain & Company yang dipublikasikan pada 2026 menunjukkan banyak perusahaan masih kesulitan mengukur return on investment (ROI) dari implementasi AI dalam skala besar.
Di sektor perbankan, tantangannya sedikit berbeda. Bank tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga peningkatan produktivitas, kecepatan pengambilan keputusan, kualitas layanan nasabah, serta kemampuan mengelola risiko secara lebih akurat.
Karena itu, manfaat AI di sektor keuangan sering kali muncul dalam bentuk peningkatan produktivitas dan kualitas keputusan, bukan sekadar pengurangan jumlah karyawan.
Bank Global Berlomba Mengintegrasikan AI
Persaingan industri perbankan global kini tidak hanya terjadi pada produk, suku bunga, atau jaringan distribusi.
Kompetisi mulai bergeser ke kemampuan mengelola data dan memanfaatkan AI.
JPMorgan Chase, misalnya, telah menginvestasikan miliaran dolar setiap tahun untuk pengembangan teknologi dan AI. Bank terbesar di Amerika Serikat itu baru-baru ini mengimplementasikan AI dan robotika untuk mengotomatisasi pemrosesan cek dan dokumen fisik dengan tingkat akurasi lebih dari 99,9%.
Morgan Stanley menggunakan AI untuk membantu penasihat keuangan mengakses informasi internal secara lebih cepat. Citigroup mengembangkan AI untuk meningkatkan produktivitas internal serta mempercepat analisis dokumen hukum dan kepatuhan. Sementara Goldman Sachs mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas investment banking, riset, analisis pasar modal, dan pengelolaan risiko.
Transformasi digital menjadi faktor utama persaingan industri perbankan modern. Kalimat tersebut semakin relevan ketika AI berkembang dari sekadar alat bantu menjadi infrastruktur bisnis strategis.
AI Mengubah Struktur Pekerjaan, Bukan Menghilangkannya
Sejumlah analis meyakini AI akan mengubah komposisi pekerjaan di industri keuangan.
Pekerjaan yang bersifat administratif, repetitif, dan berbasis aturan diperkirakan menjadi yang paling terdampak.
Sebaliknya, kebutuhan terhadap talenta yang memiliki kemampuan analitis, kreativitas, komunikasi, pengambilan keputusan strategis, serta pengelolaan hubungan nasabah diperkirakan meningkat.
Dalam konteks ini, AI berfungsi sebagai “co-pilot” yang membantu pekerja menghasilkan output lebih cepat dan akurat.
Di Goldman Sachs, penggunaan AI bahkan mulai membantu banker dalam menyusun presentasi, menganalisis dokumen transaksi, hingga merangkum informasi pasar yang kompleks. Fenomena serupa juga mulai terlihat di berbagai bank Asia dan Eropa.
Relevansi Bagi Industri Perbankan Indonesia
Bagi industri perbankan Indonesia, pandangan David Solomon memberikan pesan penting.
Banyak bank masih melihat AI sebagai proyek teknologi atau inisiatif inovasi semata.
Padahal, bank-bank global mulai memperlakukan AI sebagai aset strategis yang memengaruhi produktivitas, profitabilitas, efisiensi operasional, kualitas layanan, dan kemampuan mengelola risiko.
Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan juga terus mendorong digitalisasi sektor keuangan melalui berbagai kebijakan transformasi digital. Dalam beberapa tahun ke depan, pemanfaatan AI diperkirakan semakin meluas pada area credit scoring, fraud detection, customer experience, anti-fraud monitoring, cybersecurity, dan personalisasi layanan keuangan.
Bank yang mampu mengintegrasikan AI secara efektif ke dalam seluruh rantai nilai bisnis berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan.
Sebaliknya, bank yang terlambat beradaptasi berisiko menghadapi tekanan biaya operasional yang lebih tinggi dan produktivitas yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya.
AI Akan Menjadi Faktor Pembeda Industri
Terlepas dari perdebatan mengenai dampaknya terhadap tenaga kerja, satu hal mulai terlihat jelas. AI tidak lagi sekadar tren teknologi. AI berkembang menjadi fondasi baru bagi industri jasa keuangan global.
Seperti internet pada awal 2000-an atau mobile banking satu dekade lalu, AI kini menjadi faktor yang akan menentukan efisiensi, kecepatan inovasi, kualitas layanan, dan daya saing bank di masa depan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah bank akan menggunakan AI, tetapi seberapa cepat dan seberapa dalam teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam model bisnis mereka. ●
DIGI-INSIGHTS:
Pandangan David Solomon menunjukkan bahwa industri perbankan memasuki fase baru transformasi AI. Selama ini banyak diskusi berfokus pada apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan yang lebih relevan justru adalah bagaimana AI mengubah karakter pekerjaan manusia. Di masa depan, analis kredit, relationship manager, investment banker, hingga risk manager akan semakin bergantung pada AI untuk mengolah data dan menghasilkan rekomendasi. Nilai tambah manusia akan bergeser ke kemampuan interpretasi, negosiasi, empati, dan pengambilan keputusan strategis. Dengan kata lain, AI tidak menghilangkan profesi bankir, tetapi mengubah kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi bankir.
Selama puluhan tahun, keunggulan bank ditentukan oleh modal, jaringan kantor, dan jumlah nasabah. Kini muncul faktor baru yang jauh lebih penting: produktivitas berbasis teknologi. Bank yang mampu meningkatkan produktivitas karyawannya melalui AI akan memiliki cost-to-income ratio yang lebih baik, kecepatan layanan lebih tinggi, serta kemampuan inovasi yang lebih cepat. Dalam konteks ini, AI menjadi mesin produktivitas yang dapat memperbesar kapasitas organisasi tanpa harus menambah jumlah karyawan secara proporsional. Perubahan ini berpotensi mengubah peta persaingan industri perbankan global maupun Indonesia.
Banyak bank menganggap implementasi AI sebagai proyek teknologi. Padahal tantangan terbesar justru berada pada governance, kualitas data, keamanan siber, manajemen risiko model, dan kepatuhan regulasi. Semakin besar peran AI dalam proses bisnis inti, semakin penting pula transparansi algoritma dan pengawasan manusia. Bagi regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, maupun regulator global, isu AI governance kemungkinan akan menjadi agenda utama dalam beberapa tahun mendatang. Bank yang mampu menyeimbangkan inovasi AI dengan tata kelola yang kuat berpotensi menjadi pemenang dalam era transformasi digital berikutnya. ●
DIGIONARY:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan berpikir dan belajar manusia.
● Automation: Penggunaan teknologi untuk menjalankan proses secara otomatis dengan intervensi manusia yang minimal.
● Capital Markets: Pasar yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dan investor melalui instrumen keuangan.
● ChatGPT: Model AI generatif yang mampu menghasilkan teks dan menjawab pertanyaan secara natural.
● Compliance: Kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan yang berlaku.
● Customer Experience: Pengalaman keseluruhan nasabah saat berinteraksi dengan bank.
● Data Analytics: Proses mengolah dan menganalisis data untuk menghasilkan wawasan bisnis.
● Digital Transformation: Perubahan model bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital.
● Fraud Detection: Sistem untuk mendeteksi aktivitas penipuan secara cepat dan akurat.
● Generative AI: AI yang mampu menciptakan konten baru seperti teks, gambar, audio, dan kode program.
● Investment Banking: Layanan perbankan yang fokus pada transaksi korporasi dan pasar modal.
● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data.
● Productivity: Kemampuan menghasilkan output lebih besar dengan sumber daya yang sama.
● Return on Investment (ROI): Ukuran efektivitas investasi dibandingkan hasil yang diperoleh.
● White Collar Worker: Pekerja profesional yang umumnya bekerja di sektor jasa dan perkantoran.
#GoldmanSachs #DavidSolomon #ArtificialIntelligence #AI #GenerativeAI #BankingAI #DigitalBanking #TransformasiDigital #Fintech #DataAnalytics #MachineLearning #CustomerExperience #FraudDetection #Cybersecurity #InvestmentBanking #PerbankanGlobal #BankingInnovation #FinancialServices #FutureOfWork #DigitalbankID
