Bank Neo Commerce Percepat Transformasi AI, Tata Kelola Jadi Prioritas Utama

- 1 Agustus 2026 - 04:45

Bank Neo Commerce (BNC) menetapkan transformasi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai salah satu agenda strategis pada 2026. Namun, bank digital ini memilih pendekatan bertahap dengan memperkuat fondasi operasional, tata kelola, dan kesiapan sumber daya manusia sebelum memperluas implementasi AI. Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, memperkuat manajemen risiko, serta menghadirkan pengalaman perbankan digital yang lebih aman dan relevan bagi nasabah.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ BNC memprioritaskan penguatan operasional, SLA, pengendalian risiko, dan tata kelola sebagai fondasi transformasi AI yang berkelanjutan.
■ Implementasi AI difokuskan pada area dengan dampak bisnis terbesar, mulai dari efisiensi operasional hingga peningkatan kualitas layanan nasabah.
■ Seluruh pengembangan AI dilakukan secara bertahap sesuai prinsip Responsible AI dan AI Governance yang sejalan dengan arah regulasi OJK.


Bank Neo Commerce (BNC) menetapkan 2026 sebagai momentum memperkuat transformasi teknologi dengan pendekatan yang lebih terukur. Berbeda dengan tren adopsi AI yang agresif di berbagai industri, bank digital ini memilih membangun fondasi operasional terlebih dahulu agar implementasi Artificial Intelligence (AI) mampu memberikan manfaat bisnis yang nyata sekaligus tetap memenuhi prinsip tata kelola dan manajemen risiko.

Strategi tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan Technology & Banking Operations yang dirancang untuk mendukung visi BNC sebagai bank digital yang semakin praktis, cepat, aman, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin digital.

Direktur Operasional & Teknologi Informasi Bank Neo Commerce Adrian W. Soewardjo mengatakan transformasi teknologi tidak lagi diposisikan hanya sebagai fungsi pendukung, tetapi menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis dan peningkatan kualitas layanan.

“Setiap investasi teknologi harus menghasilkan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh nasabah maupun perusahaan melalui proses yang lebih sederhana, layanan yang lebih cepat, serta operasional yang lebih efisien dan andal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (31/7).

Untuk mencapai tujuan tersebut, demikian Adrian, BNC menetapkan empat prioritas utama pada 2026.

Prioritas pertama adalah Strengthen Operations, yakni memperkuat fondasi operasional melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kepatuhan terhadap Service Level Agreement (SLA), serta penguatan sistem pengendalian internal dan manajemen risiko agar operasional semakin stabil.

Pilar kedua adalah Great Customer Experience, dengan menghadirkan layanan yang lebih cepat, konsisten, dan proaktif sehingga mampu meningkatkan kepuasan serta loyalitas nasabah.

Selanjutnya, BNC mengembangkan AI Capability melalui berbagai use case AI yang memberikan nilai tambah bagi bisnis, namun tetap berada dalam koridor tata kelola yang kuat, pengawasan manusia, dan prinsip Responsible AI.

Sementara itu, pilar keempat adalah AI-Assisted Engineering, yaitu pemanfaatan AI untuk mempercepat pengembangan teknologi, meningkatkan produktivitas tim engineering, mempercepat implementasi solusi digital, tanpa mengurangi kualitas maupun keamanan sistem.

Adopsi AI Meningkat, Perbankan Dituntut Lebih Siap

Langkah BNC dilakukan di tengah meningkatnya pemanfaatan AI di Indonesia. Berbagai riset global menunjukkan AI semakin menjadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari.

Laporan Microsoft Work Trend Index 2025 mencatat sekitar 69% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir. Namun penggunaan Generative AI secara rutin masih sekitar 16%, sedangkan pemanfaatan AI Agent baru mencapai sekitar 8%. Kondisi tersebut menunjukkan ruang peningkatan produktivitas melalui AI masih sangat besar.

Di sisi lain, sekitar 95% pemimpin perusahaan meyakini AI Agent akan menjadi bagian penting dari operasional bisnis dalam satu hingga dua tahun mendatang. Sementara 59% perusahaan di Indonesia telah mulai mengadopsi AI Agent untuk mengotomatisasi alur kerja, dan 65% manajer menilai peningkatan kompetensi AI akan menjadi kebutuhan utama bagi seluruh karyawan.

Bagi industri perbankan, tren tersebut menjadikan AI bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan kebutuhan strategis untuk mempertahankan daya saing di tengah meningkatnya ekspektasi nasabah terhadap layanan digital yang cepat, personal, dan aman.

AI Difokuskan pada Area Bernilai Tinggi

Meski demikian, BNC memilih pendekatan selektif dalam mengembangkan AI.

Alih-alih menerapkan AI di seluruh lini bisnis secara bersamaan, implementasi difokuskan pada area yang memberikan manfaat paling besar, seperti meningkatkan kapasitas operasional, mempercepat penyelesaian layanan nasabah, memperluas akses pengetahuan internal, hingga memperkuat sistem pengendalian dan manajemen risiko.

Pendekatan tersebut juga selaras dengan arah penguatan tata kelola AI di sektor jasa keuangan yang terus didorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Regulator menekankan bahwa pengembangan AI harus memperhatikan prinsip kehati-hatian, transparansi, akuntabilitas, keamanan data, pengawasan manusia, serta pengelolaan risiko secara menyeluruh.

Bangun Fondasi Sebelum Memperluas AI

Dalam implementasinya, BNC mengusung tema eksekusi “Building the Foundation Before Scaling AI”. Strategi tersebut dimulai dengan memperkuat fondasi operasional melalui penyempurnaan SLA, standard operating procedures (SOP), pengendalian internal, serta sistem pelaporan. Langkah ini dinilai penting agar setiap proses yang nantinya diotomatisasi AI telah memiliki standar yang jelas dan dapat diukur.

Tahap berikutnya adalah membangun kesiapan organisasi melalui pelatihan AI, peningkatan kemampuan menyusun prompt, serta pemahaman mengenai risiko dan tata kelola AI.

Setelah organisasi siap, implementasi AI dimulai dari berbagai safe use cases yang berisiko rendah namun memberikan manfaat tinggi, seperti knowledge assistant bagi karyawan, peringkasan dokumen, analisis keluhan nasabah, hingga dukungan quality assurance.

Tahapan selanjutnya adalah penerapan AI-Assisted Engineering untuk membantu proses prototyping, otomatisasi pekerjaan teknis, dokumentasi sistem, serta mempercepat pengembangan aplikasi digital.

Keberhasilan implementasi AI akan diukur melalui peningkatan pengalaman nasabah. Indikatornya antara lain kecepatan layanan, kemampuan mendeteksi potensi masalah secara proaktif, serta mekanisme umpan balik untuk memastikan inovasi yang dikembangkan benar-benar memberikan nilai tambah.

Melalui roadmap tersebut, BNC menegaskan transformasi AI tidak sekadar mengejar adopsi teknologi terbaru, tetapi membangun kapabilitas digital yang berkelanjutan. “Fokus akhirnya adalah meningkatkan produktivitas, memperkuat efisiensi operasional, memperbaiki kualitas layanan, sekaligus menjaga kepercayaan nasabah terhadap bank digital,” tandas Adrian. ●


DIGIONARY:

● AI Agent. Sistem AI yang mampu menjalankan tugas atau alur kerja secara semiotomatis maupun otomatis.
● AI-Assisted Engineering. Pemanfaatan AI untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak, dokumentasi, dan pengujian sistem.
● Artificial Intelligence (AI). Teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan berpikir, belajar, dan mengambil keputusan layaknya manusia.
● Customer Experience. Keseluruhan pengalaman yang dirasakan nasabah saat menggunakan produk atau layanan perusahaan.
● Generative AI. Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, kode program, maupun konten digital lainnya.
● Knowledge Assistant. Asisten berbasis AI yang membantu pengguna memperoleh informasi atau pengetahuan secara cepat.
● Responsible AI. Prinsip pengembangan dan penggunaan AI yang mengedepankan etika, transparansi, keamanan, dan akuntabilitas.
● Service Level Agreement (SLA). Standar layanan yang mengatur target kualitas dan waktu penyelesaian suatu layanan.
● Standard Operating Procedure (SOP). Prosedur baku yang menjadi pedoman pelaksanaan suatu proses kerja.
● Use Case. Skenario atau contoh penerapan teknologi untuk menyelesaikan kebutuhan bisnis tertentu.

#BankNeoCommerce #BNC #PerbankanDigital #DigitalBank #ArtificialIntelligence #AI #AIGovernance #ResponsibleAI #TransformasiDigital #BankingTechnology #TechOperations #CustomerExperience #DigitalTransformation #FinancialTechnology #FintechIndonesia #OJK #RiskManagement #Engineering #Innovation #Indonesia

Comments are closed.