Lloyds Banking Group menempatkan AI sebagai inti strategi baru hingga 2030 untuk menekan biaya, mempercepat layanan, dan menaikkan imbal hasil. Bank asal Inggris itu sudah mengoperasikan lebih dari 800 model AI, menargetkan cost-income ratio di bawah 50% pada 2026 dan di bawah 45% pada 2030, serta memperkirakan AI memberi nilai lebih dari £100 juta pada 2026.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Lloyds Banking Group menjadikan AI sebagai mesin efisiensi utama untuk menekan biaya dan memperbesar imbal hasil hingga 2030.
■ Lebih dari 800 model AI sudah berjalan di produksi, didukung 28 juta pelanggan dan adopsi Microsoft 365 Frontier Suite secara luas.
■ Bank juga memperkuat keamanan dan talenta digital, termasuk fraud prevention berbasis AI, AI Academy, dan rekrutmen AI berskala besar.
Lloyds Banking Group mengubah AI dari proyek teknologi menjadi tulang punggung strategi bisnis. Bank yang melayani 28 juta pelanggan itu memperluas penggunaan model AI, agentic AI, dan infrastruktur digital untuk menekan biaya, memperkuat layanan nasabah, sekaligus mengejar target imbal hasil yang lebih tinggi hingga 2030.
Lloyds Banking Group menempatkan kecerdasan artifisial atau AI sebagai penggerak utama dalam strategi barunya sampai 2030. Dalam dokumen dan pembaruan kinerja yang dirilis pada 30 Juli 2026, bank ini menyatakan ingin mencapai return on tangible equity di atas 18% pada 2028 dan sekitar 20% pada 2030, sambil menjaga cost-income ratio di bawah 50% pada 2026 dan di bawah 45% pada 2030. Bank juga menyebut telah menghemat £2 miliar sejak 2022 melalui peningkatan produktivitas, modernisasi teknologi, digitalisasi interaksi, dan perampingan jejak kantor.
Skala pemakaian AI di Lloyds sudah jauh melampaui tahap uji coba. Bank itu mengatakan memiliki lebih dari 800 model AI dalam produksi, dengan cakupan yang menyentuh layanan pelanggan, pencegahan fraud, dan peningkatan operasional. Lloyds juga meluncurkan Microsoft 365 Frontier Suite secara menyeluruh bersama Microsoft, termasuk 40.000 lisensi Copilot, dan 97% karyawan berlisensi tercatat aktif memakai alat tersebut. Langkah ini menjadi fondasi untuk memperluas agentic AI ke lebih banyak proses kerja di dalam bank.
“Selama ini kami menjalankan strategi yang jelas untuk memperkuat kapabilitas, menghadirkan proposisi baru bagi nasabah, dan memposisikan diri agar bisa memanfaatkan teknologi baru,” kata Charlie Nunn, Direktur Eksekutif Lloyds Banking Group pekan ini.
Ia menambahkan bahwa Lloyds telah “secara signifikan memodernisasi infrastruktur dan membuka data serta teknologi warisan yang selama ini tertutup.” Pernyataan itu menegaskan bahwa efisiensi Lloyds bukan hanya soal memangkas biaya, tetapi juga membongkar hambatan lama yang selama ini menghambat kecepatan inovasi.
Di sisi ritel, Lloyds mulai memperluas agentic customer journeys untuk membuat pengalaman nasabah lebih cepat dan lebih personal. Di sisi operasional, bank ini memanfaatkan AI untuk mempercepat respons, menyederhanakan proses, dan menurunkan biaya layanan. Perusahaan memperkirakan AI akan terus memberi manfaat produktivitas dalam skala besar, sementara peluncuran solusi internal seperti Envoy memberi ruang bagi tim untuk membangun dan menjalankan AI agents dengan kontrol, pemantauan, dan audit trail yang lebih ketat.
Lloyds juga menjadikan AI sebagai alat pertahanan, bukan sekadar alat efisiensi. Melalui sistem fraud protection berbasis agentic AI, bank ini mengatakan telah mencegah lebih dari £1 miliar penipuan pada 2025 dan menginvestasikan £100 juta untuk teknologi fraud baru sejak 2023. Teknologi itu membantu tim fraud mendeteksi transaksi mencurigakan secara real time, sementara fitur Scam Check yang akan hadir tahun ini ditujukan untuk menilai kemungkinan penipuan pembelian saat proses pembayaran berlangsung.
Pondasi sumber daya manusia juga diperkuat. Lloyds menyebut telah merekrut sekitar 9.000 spesialis data, menambah lebih dari 1.000 peran baru terkait AI, dan menyiapkan AI Academy untuk mempercepat literasi AI bagi karyawan. Sejak Januari, lebih dari 400.000 kursus AI Academy telah diikuti, dan lebih dari 65.000 karyawan sudah menuntaskan pelatihan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Bank itu menargetkan seluruh karyawan menjadi melek AI pada akhir 2026.
Dalam konteks industri, langkah Lloyds menunjukkan bahwa bank besar kini tidak lagi melihat AI sebagai eksperimen tambahan, melainkan sebagai infrastruktur inti untuk efisiensi biaya, keamanan, dan pertumbuhan pendapatan. Dengan 28 juta pelanggan, lebih dari 800 model AI, serta strategi agentic AI yang makin matang, Lloyds sedang mencoba membangun keunggulan yang tidak hanya cepat terasa di operasional, tetapi juga relevan dalam persaingan perbankan digital Eropa dalam beberapa tahun ke depan. ●
DIGIONARY:
● Agentic AI: AI yang mampu menjalankan tugas dan alur kerja secara lebih mandiri dengan kontrol dan orkestrasi tertentu.
● AI Academy: Program pelatihan internal Lloyds untuk meningkatkan literasi dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
● AI model: Model komputasi yang dilatih untuk mengenali pola, memprediksi, atau menjalankan fungsi tertentu dalam layanan bank.
● Cost-income ratio: Rasio biaya terhadap pendapatan yang dipakai untuk mengukur efisiensi operasional bank.
● Customer journey: Rangkaian pengalaman nasabah saat berinteraksi dengan layanan bank dari awal hingga selesai.
● Digital logon: Aktivitas masuk ke aplikasi atau layanan digital bank oleh pengguna.
● Embedded finance: Penyediaan layanan keuangan yang tertanam di platform atau produk pihak ketiga.
● Frontier Suite: Paket Microsoft 365 yang dipakai Lloyds untuk menyiapkan fondasi agentic AI secara aman.
● GenAI: Generative AI, yaitu AI yang bisa menghasilkan teks, kode, gambar, atau output lain.
● Legacy data estate: Infrastruktur data lama yang masih digunakan dan perlu dimodernisasi agar lebih efisien.
● Return on tangible equity: Ukuran imbal hasil atas modal berwujud yang dipakai investor untuk menilai profitabilitas bank.
● Relationship manager: Petugas bank yang mengelola hubungan dengan nasabah atau klien bisnis.
● Responsible AI: Pendekatan pengembangan AI yang menekankan transparansi, fairness, keamanan, dan pengawasan manusia.
● Tech and data staff: Karyawan yang bekerja di bidang teknologi, data, dan pengembangan sistem.
● Workforce reskilling: Pelatihan ulang tenaga kerja agar memiliki keterampilan baru yang sesuai kebutuhan teknologi dan bisnis.
#LloydsBankingGroup #AI #AgenticAI #DigitalBanking #PerbankanDigital #BankingTechnology #ArtificialIntelligence #FraudPrevention #CyberSecurity #Microsoft365 #Copilot #Fintech #TransformasiDigital #CostIncomeRatio #ROTE #ResponsibleAI #EmbeddedFinance #DataAnalytics #UKBanking #Innovation
