Riset terbaru Alibaba Cloud mengungkap adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Asia memasuki fase implementasi bisnis. Hampir seluruh perusahaan menjadikan AI sebagai prioritas strategis dan meningkatkan investasi pada infrastruktur, platform, serta model AI. Indonesia menjadi negara dengan tingkat optimisme tertinggi terhadap AI, sementara isu keamanan data, privasi, regulasi, dan keterbatasan talenta masih menjadi tantangan utama dalam mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Sebanyak 99% perusahaan di Asia menempatkan AI sebagai prioritas bisnis, sementara 95% berencana meningkatkan investasi pada solusi AI dalam beberapa tahun ke depan.
■ Indonesia menjadi negara paling optimistis terhadap AI dengan tingkat optimisme 100% dan adopsi cloud mencapai 91%, tertinggi di antara negara yang disurvei.
■ Meski investasi AI meningkat pesat, perusahaan masih menghadapi tantangan privasi data, biaya implementasi, regulasi, serta keterbatasan talenta digital.
Kecerdasan artifisial (AI) tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan. Bagi mayoritas perusahaan di Asia, AI kini telah menjadi bagian dari strategi bisnis yang menentukan daya saing. Setelah beberapa tahun berada pada fase eksperimen, perusahaan mulai mengalokasikan investasi besar untuk membangun fondasi teknologi yang mampu menopang transformasi digital dalam jangka panjang.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan “The AI Business Application Readiness and Accessibility Survey” yang dirilis Alibaba Cloud. Survei yang melibatkan 1.000 pengambil keputusan teknologi informasi (IT decision makers) di delapan negara Asia itu menunjukkan optimisme terhadap AI berada pada level yang sangat tinggi.
Sebanyak 99% responden menyatakan AI telah menjadi prioritas bisnis organisasinya, sementara 90% mengaku optimistis terhadap penerapan AI di perusahaan masing-masing.
Optimisme tersebut mulai diterjemahkan menjadi investasi nyata. Sebanyak 95% perusahaan berencana meningkatkan belanja untuk produk dan solusi AI. Fokus investasi terbesar masih diarahkan pada pembangunan fondasi teknologi berupa Infrastructure as a Service (IaaS), disusul Platform as a Service (PaaS) dan Model as a Service (MaaS).
Sebanyak 69% responden memperkirakan belanja IaaS akan meningkat lebih dari 20%. Untuk PaaS angkanya mencapai 61%, sedangkan investasi MaaS diperkirakan meningkat lebih dari 20% oleh 58% responden.
Tren tersebut memperlihatkan perusahaan mulai memahami bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada model AI yang canggih, tetapi juga pada infrastruktur komputasi, kapasitas penyimpanan data, jaringan, serta platform yang mampu mengelola AI secara berkelanjutan.
Indonesia Jadi Sorotan utama
Seluruh responden dari Indonesia atau 100% menyatakan optimistis terhadap implementasi AI di organisasi mereka. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh negara yang disurvei.
Tidak hanya itu, Indonesia juga mencatat tingkat adopsi cloud paling tinggi di kawasan. Sebanyak 91% responden menyatakan infrastruktur teknologi informasi perusahaan mereka telah berjalan sepenuhnya atau sebagian besar di lingkungan cloud.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan Indonesia semakin siap memasuki era AI berbasis cloud.
Menariknya, perusahaan Indonesia tidak lagi melihat AI hanya sebagai alat otomatisasi.
Sebanyak 75% responden menyatakan tujuan utama penerapan AI adalah mendorong inovasi dan menciptakan peluang bisnis baru, bukan sekadar meningkatkan efisiensi operasional.
Chief Technology Officer sekaligus President of International Business Alibaba Cloud Intelligence Group Dr. Feifei Li mengatakan, “Temuan riset ini semakin memperkuat keyakinan Alibaba Cloud bahwa AI, yang didukung oleh model AI dan infrastruktur cloud yang aman dan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan, akan menjadi fondasi teknologi utama dalam satu dekade mendatang.
Memasuki era agentic AI, fokus kami bergeser dari meningkatkan efisiensi model AI menjadi menghadirkan hasil yang dapat langsung diterapkan oleh perusahaan. Melalui pengembangan agentic cloud yang komprehensif, kami menyediakan infrastruktur penting, seperti runtime sandbox dan orkestrasi, sehingga perusahaan dapat membangun produk berbasis AI agent generasi berikutnya dengan lebih mudah.”
Implementasi AI Masuk Fase Operasional
Temuan Alibaba Cloud menunjukkan sebagian besar perusahaan di Asia kini telah melewati fase uji coba AI. Sekitar 75% responden menyatakan AI telah menjadi bagian dari operasional bisnis sehari-hari, bukan lagi proyek eksperimental.
Di seluruh lapisan teknologi AI, sekitar 90% perusahaan juga telah mengadopsi layanan Platform as a Service (PaaS) maupun Model as a Service (MaaS). Hanya 1% responden yang menyebut AI bukan menjadi prioritas organisasinya.
Dalam praktiknya, AI dimanfaatkan untuk berbagai fungsi bisnis yang semakin luas. Penggunaan terbesar berada pada analisis data dan pengambilan keputusan yang dipilih 66% responden. Selanjutnya AI digunakan untuk layanan pelanggan seperti chatbot (64%), pemasaran dan pembuatan konten (58%), pengembangan perangkat lunak dan coding (55%), serta pengelolaan sumber daya manusia (38%).
Di sisi strategi bisnis, perusahaan menempatkan inovasi dan penciptaan peluang usaha baru sebagai tujuan utama adopsi AI (64%). Disusul peningkatan efisiensi dan penghematan biaya (63%), peningkatan pertumbuhan pendapatan (48%), memperkuat daya saing (45%), serta meningkatkan pengalaman pelanggan (43%).
Perubahan tersebut menunjukkan AI mulai diposisikan sebagai mesin pertumbuhan bisnis, bukan sekadar teknologi pendukung operasional.
Perusahaan Ingin Solusi AI yang Terintegrasi
Riset Alibaba Cloud juga menunjukkan perusahaan semakin menginginkan solusi AI yang terintegrasi penuh dengan layanan cloud.
Sebanyak 45% responden memilih solusi AI + Cloud yang terintegrasi secara menyeluruh dibandingkan membangun sistem yang terpisah.
Sebanyak 34% responden memilih pendekatan hybrid cloud, sementara hanya 16% yang lebih memilih model AI berdiri sendiri tanpa integrasi cloud.
Preferensi tersebut muncul karena integrasi AI dan cloud dinilai mampu menyederhanakan implementasi teknologi, meningkatkan keamanan data, memperkuat tata kelola, sekaligus memberikan efisiensi biaya melalui model pembayaran sesuai kebutuhan.
Perusahaan juga menilai platform yang terintegrasi mampu mempercepat implementasi AI karena seluruh proses pengelolaan data, model, keamanan, hingga orkestrasi berjalan dalam satu ekosistem.
Privasi Data Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Di balik tingginya optimisme tersebut, perusahaan masih menghadapi berbagai tantangan dalam memperluas implementasi AI.
Privasi dan keamanan data menjadi hambatan terbesar. Sebanyak 48% responden menyebut aspek tersebut sebagai tantangan utama.
Berikutnya adalah tingginya biaya implementasi AI (42%) dan keterbatasan talenta internal (37%).
Selain itu, 31% responden mengaku masih menghadapi tantangan regulasi dan etika penggunaan AI, terutama pada sektor yang memiliki pengawasan ketat seperti jasa keuangan, sektor publik, dan pendidikan.
Hambatan lain yang masih dihadapi perusahaan antara lain integrasi dengan sistem lama (28%), keterbatasan solusi AI yang sesuai kebutuhan (23%), ketidakjelasan manfaat investasi atau return on investment (ROI) (22%), minimnya contoh implementasi yang berhasil (19%), hingga resistensi dari manajemen (18%).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar adopsi AI kini bukan lagi persoalan teknologi, melainkan kesiapan organisasi, tata kelola, serta kualitas sumber daya manusia.
Industri Membutuhkan Solusi AI yang Lebih Spesifik
Survei juga menemukan sebagian besar perusahaan sebenarnya telah memiliki akses terhadap berbagai produk AI. Sekitar 91% responden menyatakan solusi AI sudah tersedia di pasar masing-masing. Namun, perusahaan masih membutuhkan solusi yang lebih spesifik sesuai karakteristik industrinya.
Sebanyak 54% responden menginginkan solusi AI yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri tertentu. Selanjutnya 49% membutuhkan lebih banyak tenaga ahli AI, sedangkan 45% menginginkan solusi yang lebih mudah diakses dan lebih terjangkau.
Perusahaan juga berharap penyedia teknologi menghadirkan lebih banyak contoh implementasi yang berhasil (42%), pelatihan pengguna (41%), serta dukungan manajemen yang lebih kuat (32%) agar implementasi AI dapat berlangsung dalam skala besar.
Pentingnya Bahasa Lokal dalam Era AI
Selain infrastruktur dan keamanan, laporan Alibaba Cloud menyoroti satu faktor yang kerap luput dari perhatian, yakni dukungan terhadap bahasa lokal.
Di sejumlah negara Asia seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand, perusahaan menilai keterbatasan model AI yang mampu memahami bahasa lokal masih menjadi salah satu hambatan dalam memperluas implementasi AI.
Survei menunjukkan hanya sekitar separuh responden yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam aplikasi AI. Selebihnya memanfaatkan Bahasa Indonesia, Jepang, Korea, Thailand, maupun bahasa lokal lainnya.
Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap model AI yang dirancang untuk memahami konteks bahasa dan budaya di masing-masing negara.
Alibaba Cloud menilai tren tersebut akan menjadi salah satu faktor pembeda dalam kompetisi penyedia AI global. Melalui keluarga model bahasa Qwen, perusahaan mengembangkan model yang mendukung lebih dari 200 bahasa dan dialek, sehingga mampu menjawab kebutuhan perusahaan di berbagai negara Asia.
Alibaba Siapkan Investasi Lebih dari Rp1.000 Triliun
Besarnya peluang AI membuat Alibaba Group menyiapkan investasi dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Perusahaan mengumumkan komitmen investasi sedikitnya RMB380 miliar atau sekitar Rp1.012,1 triliun selama tiga tahun ke depan untuk memperkuat infrastruktur cloud dan AI.
Nilai tersebut bahkan melampaui total investasi Alibaba di bidang AI dan komputasi awan selama satu dekade terakhir.
Melalui Alibaba Cloud, perusahaan mengembangkan kapabilitas AI secara full-stack, mulai dari infrastruktur komputasi, platform pengembangan, hingga model AI seperti Qwen untuk pemrosesan bahasa serta Wan untuk menghasilkan gambar dan video berbasis AI.
Strategi tersebut menunjukkan persaingan industri AI global kini tidak lagi hanya berfokus pada model bahasa besar (large language model/LLM), tetapi juga pada kemampuan menghadirkan ekosistem AI yang lengkap, aman, mudah diintegrasikan, dan siap digunakan oleh dunia usaha.
AI Memasuki Fase Implementasi Massal
Laporan Alibaba Cloud memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia kini memasuki fase baru transformasi digital.
Jika beberapa tahun lalu perusahaan masih mencari berbagai kemungkinan penggunaan AI, kini fokus mereka bergeser pada bagaimana teknologi tersebut mampu menghasilkan produktivitas, efisiensi, inovasi, serta pertumbuhan bisnis secara nyata.
Keberhasilan implementasi AI tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan model AI, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur cloud, tata kelola data, keamanan siber, kepatuhan terhadap regulasi, ketersediaan talenta digital, hingga kemampuan model memahami bahasa dan kebutuhan lokal.
Dengan semakin besarnya investasi yang mengalir ke sektor AI, kawasan Asia diperkirakan akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital dunia dalam beberapa tahun mendatang. ●
DIGI-INSIGHTS:
Perusahaan di Asia kini memasuki fase implementasi AI dalam skala besar. Pergeseran investasi dari sekadar penggunaan aplikasi AI menuju pembangunan infrastruktur cloud menunjukkan bahwa perusahaan mulai memandang AI sebagai fondasi bisnis jangka panjang, bukan lagi proyek teknologi eksperimental. Infrastruktur komputasi, data, dan platform akan menjadi aset strategis yang menentukan kecepatan inovasi perusahaan.
Temuan bahwa Indonesia menjadi negara paling optimistis terhadap AI merupakan sinyal positif bagi perkembangan ekonomi digital nasional. Namun optimisme tersebut harus diimbangi dengan percepatan pembangunan talenta digital, penguatan tata kelola AI, keamanan siber, serta regulasi yang adaptif. Tanpa kesiapan tersebut, tingginya investasi AI berpotensi tidak menghasilkan nilai ekonomi yang optimal.
Persaingan penyedia AI global juga mulai bergeser. Jika sebelumnya kompetisi berpusat pada kemampuan model AI, kini perusahaan lebih membutuhkan solusi end-to-end yang mengintegrasikan cloud, keamanan, tata kelola, bahasa lokal, hingga layanan konsultasi. Penyedia teknologi yang mampu menghadirkan ekosistem AI secara menyeluruh diperkirakan akan menjadi pemain dominan pada dekade mendatang. ●
DIGIONARY:
● Agentic AI: Teknologi AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri dengan mengambil keputusan berdasarkan tujuan yang diberikan.
● Cloud Computing: Layanan komputasi melalui internet yang menyediakan server, penyimpanan data, jaringan, dan berbagai aplikasi secara fleksibel.
● Infrastructure as a Service (IaaS): Layanan penyediaan infrastruktur komputasi seperti server, jaringan, dan penyimpanan berbasis cloud.
● Model as a Service (MaaS): Layanan yang menyediakan model AI siap digunakan melalui cloud tanpa harus membangun model sendiri.
● Platform as a Service (PaaS): Platform cloud yang menyediakan lingkungan untuk mengembangkan, menguji, dan menjalankan aplikasi.
● Qwen: Keluarga model AI generatif yang dikembangkan Alibaba Cloud untuk mendukung berbagai kebutuhan bisnis dan bahasa.
● Return on Investment (ROI): Ukuran untuk menilai tingkat keuntungan yang diperoleh dibandingkan dengan nilai investasi yang dikeluarkan.
● Runtime Sandbox: Lingkungan komputasi yang aman untuk menjalankan aplikasi AI tanpa memengaruhi sistem utama.
#AlibabaCloud #ArtificialIntelligence #AI #CloudComputing #DigitalTransformation #Indonesia #AgenticAI #Cloud #GenerativeAI #Qwen #DigitalEconomy #EnterpriseAI #BusinessTechnology #DataSecurity #CyberSecurity #IaaS #PaaS #MaaS #Teknologi #InovasiDigital
