PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) mencatat laba bersih tertinggi sepanjang sejarah perusahaan sebesar Rp71,12 miliar pada kuartal I-2026. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit bruto 30,62% secara tahunan menjadi Rp4,16 triliun, kenaikan aset 34,72% menjadi Rp6,93 triliun, serta perbaikan kualitas kredit yang tercermin dari rasio NPL net turun menjadi 0,86%. Sejalan dengan pencapaian tersebut, Amar Bank membagikan dividen tunai Rp110,1 miliar dan menyiapkan strategi pertumbuhan berkelanjutan melalui penguatan layanan embedded banking berbasis cloud dan AI, akselerasi pembiayaan ritel dan UMKM, serta ekspansi ke sektor ekonomi kreatif.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Amar Bank mencetak laba bersih tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp71,12 miliar pada kuartal I-2026, didukung pertumbuhan kredit bruto 30,62% YoY menjadi Rp4,16 triliun.
■ Perseroan membagikan dividen tunai Rp110,1 miliar dan mencatat rasio CAR sangat kuat sebesar 99,17%, sementara NPL net turun menjadi hanya 0,86%.
■ Embedded banking berbasis cloud dan AI menjadi fokus utama strategi pertumbuhan 2026 dengan target ekspansi ke sektor e-commerce, logistik, ride-hailing, fintech, dan industri kreatif.
PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) mencatatkan kinerja terbaik sepanjang sejarah perusahaan pada kuartal I-2026. Bank digital yang fokus pada segmen ritel dan UMKM tersebut membukukan laba bersih Rp71,12 miliar, didukung pertumbuhan kredit dua digit, peningkatan aset, serta kualitas pembiayaan yang semakin sehat.
Laba Tertinggi Sepanjang Sejarah
Kinerja Amar Bank pada tiga bulan pertama 2026 menunjukkan percepatan pertumbuhan yang signifikan di tengah persaingan industri perbankan digital yang semakin ketat.
Perseroan membukukan laba bersih Rp71,12 miliar atau menjadi laba tertinggi sepanjang sejarah operasional bank. Capaian tersebut diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik yang digelar di Jakarta, Kamis (18/6).
Sejalan dengan kinerja positif tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp110,1 miliar atau setara Rp6,11 per saham.

Pertumbuhan laba didukung oleh peningkatan penyaluran kredit bruto sebesar 30,62% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp4,16 triliun. Angka tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional. Di saat yang sama, total aset perseroan meningkat 34,72% YoY menjadi Rp6,93 triliun.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi strategi perusahaan dalam menghadirkan solusi keuangan digital yang aman dan terpercaya bagi segmen ritel dan UMKM.
Pencapaian kinerja positif di kuartal pertama 2026 ini merupakan bukti nyata dari konsistensi strategi Amar Bank dalam menghadirkan solusi keuangan digital yang aman dan tepercaya bagi segmen ritel dan UMKM.
“Pertumbuhan kredit kami yang berhasil melampaui rata-rata industri menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital yang kami hadirkan. Momentum positif ini memotivasi kami untuk terus berinovasi dan tumbuh secara berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa setiap pencapaian membawa dampak nyata bagi inklusi keuangan di Indonesia,” ujar Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian.
Pendapatan Operasional dan NII Tumbuh Dua Digit
Pertumbuhan bisnis Amar Bank juga tercermin dari kenaikan pendapatan operasional dan pendapatan bunga bersih. Perseroan mencatat pendapatan operasional sebesar Rp527,76 miliar atau tumbuh 13,82% YoY. Sementara pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 15,58% menjadi Rp370,20 miliar.
Kinerja tersebut didorong oleh ekspansi pembiayaan ke segmen-segmen dengan imbal hasil tinggi (high yielding segment), sekaligus menunjukkan kemampuan bank dalam menjaga profitabilitas di tengah dinamika suku bunga dan persaingan pendanaan.
Pertumbuhan kredit yang kuat disertai peningkatan margin menjadi indikasi bahwa model bisnis Amar Bank tetap scalable dan mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
NPL Turun, CAR Tembus 99,17%
Menariknya, ekspansi kredit yang agresif tidak mengorbankan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) net turun menjadi 0,86%, membaik dibandingkan posisi Maret 2025 yang mencapai 1,48%.
Perbaikan tersebut mencerminkan efektivitas manajemen risiko, kualitas underwriting, serta pemanfaatan teknologi analitik dalam proses penyaluran kredit.
Di sisi permodalan, Amar Bank mencatat Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 99,17%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Senior Vice President Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan penguatan dana pihak ketiga (DPK) menjadi salah satu faktor yang membantu efisiensi biaya dana dan mendukung profitabilitas perusahaan.
“Capaian laba tertinggi sepanjang masa ini membuktikan efisiensi operasional dan efektivitas manajemen modal kami, tercermin dari rasio CAR yang kuat di level 99,17%. Lonjakan DPK sebesar 115,46% YoY juga berhasil mengoptimalkan biaya dana kami. Ke depan, fokus kami adalah menjaga pertumbuhan laba yang sehat dan konsisten guna memastikan fondasi keuangan yang kuat untuk mendukung pembagian dividen yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ujarnya.
Embedded Banking Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Dalam paparan publik, manajemen Amar Bank menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan 2026 akan difokuskan pada penguatan teknologi digital, pengembangan embedded banking, dan ekspansi ke sektor-sektor ekonomi potensial.
Bank akan memperluas penetrasi segmen ritel dan UMKM melalui Tunaiku, platform pinjaman digital yang telah menjadi produk unggulan perusahaan.
Sebagai informasi, hingga kuartal I-2026, Tunaiku telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp19 triliun sejak diluncurkan pada 2014 dan telah menjangkau lebih dari 500.000 pelaku UMKM di Indonesia.
Selain itu, Amar Bank semakin agresif mengembangkan embedded banking melalui model kemitraan B2B2C yang memungkinkan layanan perbankan terintegrasi langsung ke dalam platform digital mitra.
Model ini memungkinkan nasabah mengakses produk perbankan tanpa harus berpindah aplikasi atau mengalami friksi digital yang tinggi. Salah satu implementasi embedded banking dilakukan melalui kolaborasi dengan platform MyMRTJ.
Direktur Informasi Teknologi dan Operasional Amar Bank Kevin Kane mengatakan pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil positif terhadap akuisisi nasabah baru.
Layanan digital perbankan dengan solusi embedded banking menjadi media akuisisi nasabah dalam mendukung strategi pertumbuhan bagi bank. Layanan yang terintegrasi di dalam platform digital mitra tanpa pindah aplikasi (zero friction) di berbagai mitra, salah satunya MyMRTJ.
“Solusi embedded banking dengan mitra B2B telah mendatangkan hingga 10.000 nasabah baru dengan pengguna aktif sebesar 41,09%. Ke depan, dengan infrastruktur digital berbasis cloud dan AI kami akan terus memperluas layanan perbankan digital di sektor e-commerce, logistik, ride-hailing, fintech, hingga industri kreatif,” ungkap Kevin.
Bidik Industri Kreatif
Selain memperluas layanan digital, Amar Bank juga meningkatkan dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan tinggi.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjadi sponsor utama JAFF Market, ajang industri perfilman nasional yang mempertemukan pelaku kreatif dengan investor dan mitra bisnis.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas basis pembiayaan sekaligus memperkuat peran bank sebagai enabler ekonomi digital dan industri kreatif Indonesia.
Bagi industri perbankan, langkah Amar Bank menunjukkan bahwa pertumbuhan digital banking tidak lagi hanya bertumpu pada aplikasi perbankan semata. Embedded banking, cloud computing, artificial intelligence, dan kemitraan ekosistem semakin menjadi faktor pembeda dalam persaingan bank digital.
Transformasi digital kini tidak hanya berfokus pada efisiensi operasional, tetapi juga menjadi instrumen utama untuk memperluas akses layanan keuangan, meningkatkan akuisisi nasabah, serta memperkuat inklusi keuangan nasional. ●
DIGI-INSIGHTS:
Kinerja Amar Bank menunjukkan bahwa fase berikutnya kompetisi bank digital di Indonesia tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan pengguna, melainkan kemampuan mengubah pertumbuhan tersebut menjadi profitabilitas yang berkelanjutan. Laba bersih tertinggi sepanjang sejarah yang dibarengi penurunan NPL mengindikasikan bahwa teknologi analitik, AI, dan pengelolaan risiko kini menjadi faktor kunci keberhasilan model bisnis bank digital.
Strategi embedded banking yang dikembangkan Amar Bank mencerminkan pergeseran besar dalam industri perbankan global. Bank tidak lagi menunggu nasabah datang ke aplikasi mereka, tetapi menghadirkan layanan keuangan langsung di dalam ekosistem digital yang sudah digunakan masyarakat sehari-hari. Model ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri perbankan Indonesia, terutama ketika integrasi dengan sektor transportasi, e-commerce, logistik, dan ekonomi kreatif semakin luas.
Ke depan, kombinasi cloud computing, artificial intelligence, dan embedded finance akan menjadi fondasi baru industri perbankan digital. Bank yang mampu mengintegrasikan layanan keuangan ke berbagai platform digital sambil menjaga kualitas kredit dan profitabilitas akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat. Dalam konteks ini, langkah Amar Bank memperluas layanan berbasis AI sekaligus membidik sektor kreatif menunjukkan upaya membangun pertumbuhan yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan di tengah perubahan perilaku nasabah digital. ●
DIGIONARY:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem melakukan analisis dan pengambilan keputusan secara otomatis.
● B2B2C: Model bisnis yang menghubungkan perusahaan dengan konsumen melalui mitra bisnis.
● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal bank terhadap aset tertimbang menurut risiko.
● Cloud Computing: Infrastruktur komputasi berbasis internet yang mendukung layanan digital.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat.
● Digital Banking: Layanan perbankan yang diakses melalui platform digital.
● Embedded Banking: Integrasi layanan perbankan ke dalam aplikasi atau platform non-bank.
● Fintech: Teknologi yang digunakan untuk menyediakan layanan keuangan.
● High Yielding Segment: Segmen bisnis dengan tingkat imbal hasil relatif tinggi.
● Inklusi Keuangan: Upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
● Net Interest Income (NII): Pendapatan bunga bersih setelah dikurangi biaya bunga.
● Non-Performing Loan (NPL): Rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
● Predictive Analytics: Analisis data untuk memprediksi perilaku atau risiko di masa depan.
● Tunaiku: Platform pinjaman digital milik Amar Bank.
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional.
#AmarBank #BankDigital #DigitalBanking #PerbankanIndonesia #Tunaiku #EmbeddedBanking #ArtificialIntelligence #AI #CloudComputing #UMKM #FintechIndonesia #TransformasiDigital #InklusiKeuangan #KreditUMKM #PerbankanDigital #TeknologiKeuangan #LabaBank #Dividen #EkonomiDigital #FinancialTechnology
