DBS Treasures Catat Lonjakan NPAT 289%, Perkuat Wealth Management Berbasis AI

- 18 Juni 2026 - 20:58

PT Bank DBS Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada bisnis wealth management melalui layanan DBS Treasures di tengah tingginya volatilitas pasar global. Hingga Mei 2026, laba bersih setelah pajak (NPAT) segmen ini melonjak 289% secara tahunan, ditopang pertumbuhan nasabah baru 73%, peningkatan jumlah nasabah affluent dengan portofolio di atas Rp1 miliar sebesar 8%, serta kenaikan revenue per customer 15%. Kinerja tersebut didukung strategi advisory-led berbasis insight Chief Investment Office (CIO) DBS, pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning, serta jaringan investasi regional yang mencakup enam pasar utama Asia.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ DBS Treasures mencatat pertumbuhan NPAT sebesar 289% YoY hingga Mei 2026, ditopang peningkatan nasabah baru sebesar 73% serta pertumbuhan nasabah dengan portofolio di atas Rp1 miliar sebesar 8%.
■ Bank DBS Indonesia memanfaatkan AI, machine learning, dan insight CIO DBS untuk menghadirkan rekomendasi investasi yang lebih personal dan relevan di tengah volatilitas pasar global.
■ CIO DBS tetap mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai aset defensif, sejalan dengan lonjakan permintaan emas global sebesar 74% dan kenaikan permintaan emas batangan di Indonesia sebesar 47%.


Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, dan fluktuasi pasar keuangan, PT Bank DBS Indonesia justru mencatat pertumbuhan kuat pada bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management. Melalui layanan DBS Treasures, bank ini membukukan lonjakan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar 289% secara tahunan hingga Mei 2026, didukung kombinasi strategi investasi berbasis insight global, teknologi AI, dan layanan konsultasi yang semakin personal.

PT Bank DBS Indonesia memperkuat posisinya di segmen wealth management melalui DBS Treasures, layanan yang ditujukan bagi nasabah affluent dan high-net-worth individuals (HNWI). Hingga Mei 2026, DBS Treasures mencatat pertumbuhan Net Profit After Tax (NPAT) sebesar 289% secara tahunan (YoY), jauh melampaui target internal sebesar 157%.

Kinerja tersebut diikuti pertumbuhan nasabah baru sebesar 73% YoY, peningkatan jumlah nasabah dengan portofolio investasi di atas Rp1 miliar sebesar 8% YoY, serta kenaikan revenue per customer sebesar 15% YoY. Bank juga mencatat skor kepuasan nasabah yang tinggi, yakni 4,5 dari skala 5.

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan perubahan perilaku nasabah affluent menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi layanan wealth management.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat perubahan perilaku nasabah affluent yang semakin signifikan terutama pada kondisi pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global. Situasi ini menjadi perhatian utama kami, dan secara konsisten kami mengedepankan strategi wealth management yang berbasis insight yang objektif, komprehensif, berorientasi pada peluang, dapat ditindaklanjuti, serta relevan dengan pendekatan personal yang berpusat pada nasabah,” ujar Melfrida Gultom.

AI dan Machine Learning Jadi Senjata Utama
DBS Indonesia mengandalkan kombinasi insight regional dari Chief Investment Office (CIO) DBS dengan teknologi AI dan machine learning untuk memberikan rekomendasi investasi yang lebih personal.

Teknologi tersebut membantu menganalisis pola perilaku investasi, profil risiko, serta kebutuhan finansial setiap nasabah secara lebih akurat.

Hasil analisis kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi investasi yang dikirim melalui berbagai kanal digital, termasuk WhatsApp, email, dan aplikasi digibank by DBS.

Strategi ini memungkinkan Relationship Manager memberikan pendampingan yang lebih proaktif dan relevan di tengah kondisi pasar yang bergerak cepat.

Model advisory-led berbasis data tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan bisnis wealth management DBS di Indonesia.

Pasar Global Masih Penuh Tantangan

DBS menilai volatilitas pasar global masih akan berlanjut pada semester kedua 2026. Tekanan datang dari tingginya inflasi di Amerika Serikat, kebijakan perdagangan internasional, serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Data CIO DBS menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada Maret 2026 mencapai 3,5% YoY, masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%. Kondisi tersebut membuat suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama.

Sementara itu, pasar domestik juga menghadapi tantangan. Hingga Mei 2026, IHSG terkoreksi hampir 30% dan terjadi arus keluar modal asing sekitar Rp41,16 triliun.

Meski demikian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,61% YoY pada kuartal I 2026.

Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi investor untuk membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi.

Emas Masih Jadi Pilihan Favorit

Menghadapi pasar yang tidak pasti, CIO DBS tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada emas sebagai aset defensif.

Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan strategi investasi berbasis conviction-led menjadi pendekatan utama dalam menghadapi volatilitas global.

“Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat. Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” ujar Djoko Soelistyo.

Data World Gold Council menunjukkan nilai permintaan investasi emas global melonjak 74% YoY pada kuartal I 2026.

Di Indonesia, permintaan emas batangan juga meningkat 47%, mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe haven.

Sejalan dengan tren tersebut, DBS Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan akses investasi emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.

Selain itu, DBS telah meluncurkan 16 produk investasi baru guna memperluas pilihan instrumen bagi nasabah.

Manfaatkan Jaringan Investasi Regional

Keunggulan lain DBS Indonesia berasal dari jaringan regional DBS Group yang hadir di Singapura, Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, India, dan Indonesia.

Akses terhadap berbagai pasar tersebut memungkinkan nasabah memperoleh perspektif investasi yang lebih luas serta peluang diversifikasi lintas negara.

Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product PT Bank DBS Indonesia, Natalina Syabana, mengatakan pendekatan DBS Treasures tidak hanya fokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga keberlanjutan kekayaan lintas generasi.

“Pendekatan DBS Treasures dalam melayani nasabah diwujudkan melalui kampanye bertajuk ‘Mitra Tepercaya untuk Setiap Tujuan Anda’ dan dilakukan melalui insights-driven wealth management dengan highly-personalized advisory serta rangkaian diskusi pakar yang berorientasi pada pertumbuhan kekayaan global secara berkelanjutan hingga generasi penerus,” katanya.

Selain layanan investasi, DBS juga menghadirkan program DBS Expert Connection dan DBS NextGen Excursion yang membahas tren masa depan seperti AI, aset digital, inovasi disruptif, dan praktik bisnis berkelanjutan.

Raih Pengakuan Internasional

Kinerja bisnis wealth management DBS Indonesia mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia. Sementara itu, Chief Investment Office DBS dinobatkan sebagai Best CIO in Asia oleh The Asset Triple A.

Penghargaan tersebut memperkuat posisi DBS sebagai salah satu pemain utama dalam industri wealth management Asia yang menggabungkan teknologi, data analytics, AI, dan kapabilitas investasi regional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan investasi yang lebih personal, bank-bank kini tidak hanya bersaing dalam menawarkan produk, tetapi juga kemampuan menghadirkan insight yang relevan dan dapat ditindaklanjuti.

Transformasi digital, AI, dan advisory berbasis data menjadi faktor utama yang menentukan daya saing industri wealth management ke depan. ●


DIGI-INSIGHTS:

Industri wealth management di Asia sedang memasuki fase transformasi yang sangat berbeda dibanding satu dekade lalu. Jika sebelumnya keunggulan bank ditentukan oleh kekuatan produk investasi, kini diferensiasi utama bergeser ke kualitas insight, kemampuan analitik data, dan personalisasi berbasis AI. Dalam konteks ini, DBS menunjukkan bagaimana teknologi tidak menggantikan peran Relationship Manager, melainkan memperkuat kualitas advisory yang diberikan kepada nasabah.

Pertumbuhan DBS Treasures juga mencerminkan perubahan perilaku investor affluent Indonesia. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar, investor tidak lagi hanya mencari return tinggi, tetapi juga membutuhkan panduan investasi yang cepat, kredibel, dan berbasis data global. Model advisory-led yang mengintegrasikan CIO regional, AI, machine learning, serta akses lintas pasar Asia berpotensi menjadi standar baru industri wealth management di kawasan.

Ke depan, persaingan industri perbankan tidak hanya terjadi pada kredit dan dana murah, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem wealth management digital. Bank yang mampu menggabungkan data analytics, AI, cybersecurity, dan akses investasi global akan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan segmen affluent dan high-net-worth individuals. Dalam jangka panjang, bisnis wealth management berpotensi menjadi salah satu sumber profitabilitas paling stabil bagi perbankan, terutama ketika margin kredit menghadapi tekanan akibat siklus suku bunga dan kompetisi yang semakin ketat. ●


DIGIONARY:

● Advisory-led Wealth Management: Pendekatan pengelolaan kekayaan berbasis konsultasi dan rekomendasi investasi.
● AI (Artificial Intelligence): Teknologi kecerdasan buatan untuk analisis dan pengambilan keputusan.
● Asset Allocation: Strategi pembagian investasi ke berbagai kelas aset.
● Chief Investment Office (CIO): Tim investasi yang menyusun pandangan dan strategi pasar.
● Conviction-led Investing: Strategi investasi berbasis keyakinan kuat terhadap tema atau aset tertentu.
● Diversifikasi: Penyebaran investasi ke berbagai instrumen untuk mengurangi risiko.
● Federal Reserve: Bank sentral Amerika Serikat.
● High Net Worth Individual: Individu dengan kekayaan dan aset investasi tinggi.
● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data.
● Net Profit After Tax (NPAT): Laba bersih setelah pajak.
● Overweight: Rekomendasi untuk menempatkan porsi investasi lebih besar pada aset tertentu.
● PCE Inflation: Indikator inflasi konsumsi yang dipantau Federal Reserve.
● Relationship Manager: Konsultan keuangan yang mendampingi nasabah.
● Safe Haven: Instrumen investasi yang dianggap aman saat pasar bergejolak.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan kekayaan dan investasi bagi nasabah.

#DBSIndonesia #DBSTreasures #WealthManagement #PrivateBanking #ArtificialIntelligence #MachineLearning #DigitalBanking #Investasi #PasarModal #Emas #DiversifikasiInvestasi #FinancialPlanning #WealthGrowth #AffluentBanking #CIO #InvestmentStrategy #GlobalMarket #BankDBS #Fintech #TransformasiDigital

Comments are closed.