Kinerja Amar Bank Moncer: Kredit Tumbuh 30,62%, DPK Meroket 115,46%

- 25 Mei 2026 - 17:39

PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank mencatat pertumbuhan kredit bruto 30,62% secara tahunan menjadi Rp4,16 triliun pada kuartal I-2026, melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional. Kinerja tersebut ditopang lonjakan dana pihak ketiga (DPK), perbaikan kualitas aset, dan penguatan model bisnis digital berbasis data analytics yang menyasar segmen ritel dan UMKM. Di tengah kompetisi likuiditas yang ketat, Amar Bank mulai menunjukkan arah transformasi digital bank yang lebih matang dengan fokus pada profitabilitas, efisiensi pendanaan, dan disiplin risiko.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Amar Bank mencatat pertumbuhan kredit bruto 30,62% YoY menjadi Rp4,16 triliun pada kuartal I-2026, melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
■ Dana pihak ketiga Amar Bank melonjak 115,46% menjadi Rp2,91 triliun, memperbaiki struktur likuiditas dan menurunkan LDR secara signifikan.
■ Di tengah ekspansi kredit agresif, rasio NPL Amar Bank justru turun menjadi 0,86%, menunjukkan kualitas aset dan mitigasi risiko tetap terjaga.


PT Bank Amar Indonesia Tbk (BEI: AMAR) membuka 2026 dengan kinerja yang melampaui rata-rata industri perbankan nasional. Bank digital yang selama ini dikenal fokus menyasar segmen ritel dan UMKM itu mencatat penyaluran kredit bruto sebesar Rp4,16 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 30,62% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ekspansi kredit tersebut menjadi motor utama pertumbuhan aset perseroan yang naik 34,72% YoY menjadi Rp6,93 triliun. Dari sisi profitabilitas, Amar Bank membukukan laba bersih sebesar Rp71,12 miliar.

Kinerja operasional bank juga menunjukkan penguatan. Pendapatan operasional meningkat 13,82% YoY menjadi Rp527,76 miliar, sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 15,58% menjadi Rp370,20 miliar.

Pertumbuhan kredit dua digit yang diikuti ekspansi margin bunga menunjukkan model bisnis Amar Bank mulai bergerak menuju fase yang lebih scalable dan efisien.

Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, mengatakan pertumbuhan bank tidak hanya diukur dari ekspansi kredit dan laba, tetapi juga kemampuan membangun struktur pendanaan yang sehat dan berkelanjutan.

“Dalam industri perbankan, pertumbuhan yang sehat tidak hanya tercermin dari ekspansi kredit atau peningkatan laba, tetapi juga dari kemampuan membangun struktur pendanaan yang kuat dan berkelanjutan. Profitabilitas ini didukung oleh struktur pendanaan yang berkelanjutan,” ujarnya, Senin (25/5).

Menurut Vishal, pendekatan customer-focused tetap menjadi fondasi strategi digital Amar Bank. Perseroan memanfaatkan teknologi dan data insights untuk memahami kebutuhan nasabah ritel dan UMKM yang berubah cepat.

Transformasi Digital Dorong Model Bisnis Baru

Kinerja Amar Bank memperlihatkan perubahan model bisnis bank digital yang mulai berfokus pada keseimbangan antara pertumbuhan kredit, efisiensi dana, dan kualitas aset.

Di tengah tingginya kompetisi penghimpunan dana di industri perbankan nasional, Amar Bank mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 115,46% YoY menjadi Rp2,91 triliun.

Lonjakan DPK tersebut memperbaiki struktur pendanaan bank secara signifikan. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 142,56% dari sebelumnya 235,04% pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan LDR menunjukkan likuiditas bank menjadi lebih sehat dan seimbang untuk menopang ekspansi kredit jangka panjang.

Di industri perbankan digital, kemampuan menghimpun dana murah menjadi faktor penting menjaga profitabilitas. Persaingan tidak lagi hanya soal jumlah pengguna aplikasi digital, tetapi juga kemampuan membangun loyalitas nasabah dan memperbesar CASA atau current account saving account.

Bank digital mulai memanfaatkan artificial intelligence, data analytics, dan machine learning untuk meningkatkan customer experience, memperkuat credit scoring, dan membaca perilaku transaksi nasabah secara real-time. Transformasi digital menjadi faktor utama persaingan industri perbankan.

Kualitas Aset Membaik di Tengah Ekspansi Kredit

Menariknya, agresivitas pertumbuhan kredit Amar Bank tidak diikuti peningkatan risiko kredit bermasalah. Rasio non-performing loan (NPL) justru turun menjadi 0,86% dari sebelumnya 1,48% pada Maret 2025.

Sementara itu, SVP Finance Amar Bank, David Wirawan, mengatakan penurunan NPL menunjukkan perseroan tetap disiplin menjaga kualitas aset di tengah ekspansi bisnis. “Kualitas aset tetap menjadi perhatian utama kami.

Penurunan NPL di tengah pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa Amar Bank terus menjaga disiplin risiko, termasuk dalam memperkuat proses analisis dan pengelolaan portofolio kredit,” ujar David.

Penurunan NPL menjadi indikator penting karena industri perbankan nasional saat ini menghadapi tekanan kualitas aset akibat perlambatan daya beli dan ketidakpastian ekonomi global.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan nasional masih berada di level satu digit tinggi, sementara bank digital mulai menghadapi tantangan profitabilitas akibat tingginya biaya dana dan persaingan suku bunga simpanan.

Dalam konteks tersebut, kemampuan Amar Bank menjaga kualitas aset di tengah ekspansi kredit agresif menjadi perhatian pasar.

Permodalan Sangat Tebal

Dari sisi permodalan, Amar Bank mencatat capital adequacy ratio (CAR) sebesar 99,17%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Posisi modal yang sangat kuat memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan investasi teknologi, pengembangan layanan digital, dan penguatan manajemen risiko.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri bank digital Indonesia memang memasuki fase baru. Fokus investor mulai bergeser dari sekadar pertumbuhan pengguna menuju profitabilitas, efisiensi operasional, dan kemampuan monetisasi ekosistem digital. Bank digital mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat mitigasi fraud digital.”

Ke depan, Amar Bank menyatakan akan terus memperkuat penghimpunan dana, menjaga ekspansi kredit yang terukur, serta mengembangkan layanan digital yang relevan bagi segmen ritel dan UMKM. ●


DIGI-INSIGHT:

Kinerja Amar Bank menunjukkan bahwa industri bank digital Indonesia mulai memasuki fase konsolidasi kualitas, bukan lagi sekadar perang pertumbuhan pengguna atau nasabah. Investor dan pasar kini lebih memperhatikan kemampuan bank digital menjaga profitabilitas, menurunkan cost of fund, dan mempertahankan kualitas aset di tengah tekanan likuiditas yang semakin ketat. Dalam konteks ini, lonjakan DPK Amar Bank menjadi indikator penting keberhasilan membangun trust dan loyalitas nasabah digital.

Fenomena menarik lainnya adalah semakin besarnya peran data analytics dan artificial intelligence dalam model bisnis bank digital. Bank tidak lagi hanya menjual aplikasi mobile banking, tetapi mulai membangun ekosistem berbasis data untuk membaca perilaku nasabah, meningkatkan credit scoring, dan mengelola risiko secara real-time. Kompetisi industri ke depan kemungkinan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling agresif membakar modal, melainkan siapa yang paling efisien memonetisasi data dan menjaga kualitas portofolio kredit.

Di sisi lain, struktur modal Amar Bank yang sangat tebal menunjukkan bank digital mulai mempersiapkan fase pertumbuhan jangka panjang yang lebih stabil. Dengan CAR mendekati 100%, Amar Bank memiliki ruang besar untuk memperluas investasi teknologi, cybersecurity, dan pengembangan layanan AI-driven banking. Namun tantangan terbesar industri tetap berada pada kemampuan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, kualitas aset, dan profitabilitas di tengah perubahan perilaku konsumen digital yang semakin cepat. ●


DIGIONARY:

● Artificial Intelligence: Teknologi kecerdasan buatan untuk analisis data dan otomatisasi sistem.
● Capital Adequacy Ratio: Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko kerugian.
● CASA: Dana murah bank yang berasal dari tabungan dan giro.
● Credit Scoring: Sistem penilaian kelayakan kredit nasabah berbasis data.
● Customer Experience: Pengalaman nasabah saat menggunakan layanan bank digital.
● Data Analytics: Proses analisis data untuk membaca pola bisnis dan risiko.
● Dana Pihak Ketiga: Dana masyarakat yang dihimpun bank dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● Digital Banking: Layanan perbankan berbasis teknologi digital.
● Loan to Deposit Ratio: Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga bank.
● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data otomatis.
● Net Interest Income: Pendapatan bunga bersih bank setelah dikurangi biaya bunga.
● Non-Performing Loan: Rasio kredit bermasalah dalam industri perbankan.
● Profitabilitas: Kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
● Scalable: Model bisnis yang mampu tumbuh tanpa kenaikan biaya secara proporsional.
● UMKM: Usaha mikro, kecil, dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

#AmarBank #BankDigital #DigitalBanking #UMKM #AI #ArtificialIntelligence #DataAnalytics #MachineLearning #Perbankan #TransformasiDigital #Fintech #LDR #NPL #CAR #DPK #CustomerExperience #Cybersecurity #OJK #TeknologiFinansial #IndustriPerbankan

Comments are closed.