PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk atau BWS merombak jajaran direksi dan komisaris untuk memperkuat strategi transformasi bisnis di tengah tekanan industri perbankan dan perlambatan ekonomi global. Perubahan manajemen ini difokuskan untuk mempercepat digital banking, memperkuat dana murah (CASA), menjaga kualitas aset, serta meningkatkan manajemen risiko. Langkah tersebut mencerminkan semakin ketatnya persaingan bank menengah dalam membangun efisiensi, profitabilitas, dan kapabilitas digital di era transformasi industri keuangan.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Bank Woori Saudara merombak direksi dan komisaris untuk memperkuat transformasi bisnis, pengelolaan risiko, dan percepatan digital banking.
■ BWS fokus pada empat strategi utama: kredit berkualitas, penguatan CASA, manajemen risiko, dan ekspansi layanan digital untuk meningkatkan efisiensi.
■ Persaingan industri perbankan kini semakin ditentukan oleh kemampuan digital banking, akuisisi dana murah, dan penguatan tata kelola risiko.
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk melakukan perombakan jajaran direksi dan komisaris di tengah tekanan industri perbankan yang semakin kompleks. Bank berkode saham SDRA itu kini fokus memperkuat pertumbuhan kredit berkualitas, meningkatkan dana murah, menjaga kualitas aset, serta mempercepat pengembangan digital banking demi memperbaiki kinerja dan daya saing bisnis.
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk resmi merombak susunan direksi dan komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Selasa (26/5).
Perubahan manajemen dilakukan di tengah tantangan industri perbankan yang masih menghadapi tekanan likuiditas, biaya dana tinggi, perlambatan pertumbuhan kredit, hingga meningkatnya kebutuhan investasi digital dan penguatan manajemen risiko.
Direktur BWS, Moon Sungwon, mengatakan perubahan tersebut bertujuan memperkuat strategi transformasi bisnis perseroan agar lebih terarah, prudent, dan berkelanjutan.
“Perubahan manajemen ini diharapkan dapat memperkuat eksekusi strategi perseroan, khususnya dalam mendorong perbaikan kinerja setelah tahun 2025 yang penuh tantangan kemarin,” ujarnya dalam Public Expose RUPST BWS di Jakarta.
Dalam susunan baru, Arief Budiman tetap menjabat Presiden Komisaris. Posisi Komisaris Independen kini ditempati Ahmad Fajarprana, Tippy Joesoef, dan Yudi Permana.
Sementara posisi Komisaris dijabat Kim Ki Joo.
Di jajaran direksi, Han Chang Sik ditunjuk sebagai Presiden Direktur bersama sejumlah direktur baru seperti Ricko Irwanto, Dandy Indrawardhana Pandi, Felix Aristo Ardian, dan Adityo Kristianto.
“Susunan untuk Direktur dan juga Presiden Direktur ini efektif setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata Moon.
Fokus pada Empat Strategi Utama
Manajemen baru BWS langsung mengarahkan fokus bisnis pada empat strategi utama untuk memperkuat fundamental bank di tengah perubahan industri perbankan nasional.
1. Pertumbuhan Kredit Selektif dan Berkualitas
Strategi pertama adalah memperkuat bisnis inti melalui pertumbuhan kredit yang lebih selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Perseroan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan fokus pada segmen yang memiliki prospek baik dan kualitas debitur yang solid,” ujar Moon.
Langkah ini mencerminkan tren industri perbankan nasional yang mulai lebih berhati-hati dalam ekspansi kredit di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, dan volatilitas suku bunga.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan industri perbankan mulai memperketat manajemen kualitas kredit untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap stabil.
2. Memperkuat CASA untuk Efisiensi Likuiditas
Strategi kedua adalah memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA).
Hingga Maret 2026, giro BWS tercatat sebesar Rp3,61 triliun dan tabungan mencapai Rp4,16 triliun.
“Penguatan CASA menjadi salah satu agenda paling penting yang kami dukung untuk mendukung efisiensi biaya dan likuiditas yang lebih sehat bagi kami,” ucap Moon.
Persaingan mendapatkan CASA saat ini menjadi fokus utama industri perbankan karena tingginya biaya dana akibat kompetisi suku bunga deposito dan perlambatan likuiditas pasar.
Bank-bank kini semakin agresif mengembangkan layanan digital banking, mobile banking, dan ekosistem transaksi digital untuk meningkatkan akuisisi dana murah.
3. Penguatan Manajemen Risiko dan Kualitas Aset
BWS juga memperkuat strategi pengelolaan risiko melalui peningkatan monitoring kredit, penguatan analisis debitur, dan optimalisasi penyelesaian kredit bermasalah.
“Hal ini kami rasa penting agar pertumbuhan bisnis kedepannya tetap sehat dan tidak mengorbankan kualitas portfolio kami,” katanya.
Di tengah tekanan ekonomi global, penguatan tata kelola dan manajemen risiko menjadi isu utama industri perbankan. Risiko kredit, risiko siber, serta risiko operasional meningkat seiring digitalisasi layanan keuangan.
Transformasi digital tanpa penguatan risk governance dinilai dapat meningkatkan potensi fraud, kebocoran data, hingga gangguan operasional.
4. Percepatan Digital Banking
Strategi keempat sekaligus menjadi fokus penting BWS adalah mempercepat pengembangan digital banking.
Bank akan meningkatkan kualitas layanan digital untuk memperluas akses nasabah, memperkuat akuisisi dana murah, serta meningkatkan fee based income.
Transformasi digital kini menjadi arena persaingan utama industri perbankan nasional. Bank-bank menengah seperti BWS menghadapi tantangan besar untuk memperkuat kapabilitas teknologi di tengah dominasi bank besar dan bank digital.
Perubahan perilaku nasabah yang semakin mengutamakan layanan cepat, seamless, dan berbasis aplikasi mendorong bank memperbesar investasi pada mobile banking, AI analytics, data management, dan cybersecurity.
Menurut sejumlah riset industri, penggunaan AI dan data analytics di sektor perbankan semakin berkembang untuk meningkatkan customer experience, fraud detection, credit scoring, dan efisiensi operasional. Di sisi lain, regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia juga terus memperkuat pengawasan terhadap tata kelola digital banking, perlindungan data, dan keamanan siber.
Dengan perubahan manajemen dan strategi baru tersebut, BWS berupaya memperkuat posisi di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin terdigitalisasi dan berbasis efisiensi. (NCK) ●
DIGI-INSIGHT:
Perombakan manajemen di Bank Woori Saudara menunjukkan bahwa tekanan industri perbankan kini tidak lagi hanya berasal dari perlambatan ekonomi atau kualitas kredit, tetapi juga dari percepatan transformasi digital. Bank-bank menengah menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan di tengah dominasi bank besar yang agresif membangun ekosistem digital dan bank digital yang tumbuh lebih lincah. Dalam konteks ini, penguatan digital banking bukan lagi proyek teknologi, melainkan strategi bertahan hidup.
Fokus BWS pada CASA dan efisiensi memperlihatkan perubahan struktur kompetisi industri perbankan nasional. Likuiditas murah menjadi aset strategis karena biaya dana terus meningkat. Bank yang mampu membangun engagement digital melalui mobile banking, transaksi harian, dan layanan berbasis data memiliki peluang lebih besar menjaga profitabilitas. Karena itu, transformasi digital kini sangat terkait langsung dengan kemampuan bank meningkatkan margin dan menekan cost of fund.
Di sisi lain, percepatan digitalisasi juga meningkatkan kompleksitas risiko industri. Risiko siber, fraud digital, dan tata kelola data menjadi tantangan utama bank ke depan. Bank yang hanya fokus pada ekspansi digital tanpa memperkuat risk governance berpotensi menghadapi tekanan reputasi dan kualitas aset. Dalam beberapa tahun mendatang, industri perbankan kemungkinan akan semakin terkonsolidasi pada institusi yang memiliki kombinasi kuat antara modal, teknologi, manajemen risiko, dan kemampuan membangun ekosistem digital berbasis data dan AI. ●
DIGIONARY:
● CASA: Dana murah bank yang berasal dari giro dan tabungan.
● Credit Scoring: Sistem penilaian kelayakan kredit nasabah menggunakan data dan analitik.
● Customer Experience: Pengalaman nasabah saat menggunakan layanan bank.
● Digital Banking: Layanan perbankan berbasis digital melalui aplikasi dan internet.
● Fee Based Income: Pendapatan bank yang berasal dari biaya layanan non-bunga.
● Fraud Detection: Sistem untuk mendeteksi aktivitas transaksi mencurigakan atau penipuan.
● Giro: Simpanan nasabah yang dapat ditarik kapan saja menggunakan cek atau bilyet giro.
● Likuiditas: Kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana jangka pendek.
● Mobile Banking: Layanan transaksi perbankan melalui aplikasi smartphone.
● Monitoring Kredit: Pengawasan terhadap kualitas dan pembayaran pinjaman debitur.
● NPL: Non-performing loan atau rasio kredit bermasalah bank.
● OJK: Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulator sektor jasa keuangan Indonesia.
● Prudential Banking: Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bank.
● Risk Governance: Tata kelola manajemen risiko dalam perusahaan atau bank.
● Transformasi Digital: Proses perubahan bisnis melalui pemanfaatan teknologi digital.
#BankWooriSaudara #BWS #DigitalBanking #TransformasiDigital #PerbankanIndonesia #CASA #ManajemenRisiko #OJK #BankDigital #MobileBanking #Cybersecurity #AI #Fintech #BankingIndustry #CustomerExperience #FeeBasedIncome #RiskManagement #BankIndonesia #StrategiBisnis #TeknologiPerbankan
