DBS Soroti Ledakan Belanja AI, Investor Diminta Siapkan Strategi Hadapi Era Capex Baru

- 1 Agustus 2026 - 06:42

DBS menilai dunia tengah memasuki siklus belanja modal (capital expenditure/capex) baru yang dipimpin oleh investasi kecerdasan artifisial (AI) dan sektor energi. Meski AI menjanjikan lonjakan produktivitas dalam jangka panjang, investasi besar-besaran pada infrastruktur AI justru berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa tahun ke depan karena tingginya kebutuhan perangkat keras, pusat data, semikonduktor, listrik, dan jaringan digital.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ DBS menilai investasi AI global memasuki fase ekspansi besar yang menjadi penggerak utama siklus belanja modal dunia.
■ Permintaan terhadap pusat data, semikonduktor, perangkat keras, dan listrik meningkat sehingga berpotensi mendorong inflasi jangka pendek.
■ Investor disarankan menyesuaikan strategi portofolio karena AI diperkirakan mengubah lanskap ekonomi, investasi, dan industri global.


Gelombang investasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki babak baru. Jika selama dua tahun terakhir AI identik dengan ledakan aplikasi generatif seperti ChatGPT, Gemini, maupun Copilot, kini fokus bergeser ke pembangunan infrastruktur berskala besar yang membutuhkan investasi triliunan dolar.

Pandangan tersebut disampaikan Chief Investment Office (CIO) DBS dalam laporan investasi kuartal III-2026. DBS menilai dunia sedang memasuki super cycle belanja modal baru yang ditopang oleh dua mesin utama, yakni AI dan energi.

Menurut Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, perkembangan tersebut akan menjadi salah satu tema investasi terpenting dalam beberapa tahun ke depan.

“Fase saat ini masih merupakan periode belanja modal yang sangat besar dan menghadapi keterbatasan pasokan. Dalam jangka pendek, investasi AI berskala masif berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi karena pembangunan infrastruktur membutuhkan perangkat lunak, komponen elektronik, pusat data, serta konsumsi listrik dalam jumlah besar,” ujarnya pekan ini.

DBS menjelaskan, manfaat AI terhadap produktivitas memang sangat besar. Namun keuntungan tersebut diperkirakan baru akan terasa dalam jangka panjang. Sebaliknya, pada fase awal pembangunan ekosistem AI, lonjakan investasi justru meningkatkan permintaan terhadap berbagai komponen industri sehingga berpotensi memicu kenaikan harga.

Fenomena itu terlihat dari semakin agresifnya belanja perusahaan teknologi global. Sejumlah hyperscaler seperti Microsoft, Amazon, Google, Meta, dan Oracle terus memperbesar investasi pusat data AI, chip semikonduktor, jaringan komputasi, hingga infrastruktur kelistrikan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi.

Selain investasi sektor swasta, banyak negara kini mulai mengembangkan konsep sovereign AI, yaitu membangun kapasitas AI nasional melalui pusat data, komputasi, model bahasa, serta infrastruktur digital yang dikendalikan di dalam negeri. Langkah tersebut membuat investasi AI tidak lagi menjadi agenda perusahaan teknologi semata, tetapi juga bagian dari strategi ekonomi dan keamanan nasional.

DBS juga melihat kondisi geopolitik ikut memperbesar tekanan inflasi. Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, sementara belanja pertahanan di berbagai negara terus meningkat. Pada saat yang sama, investasi AI membutuhkan konsumsi energi yang jauh lebih besar dibandingkan teknologi digital generasi sebelumnya.

“Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, memiliki konsekuensi makroekonomi yang signifikan. Konflik yang berkepanjangan meningkatkan risiko harga energi bertahan pada level tinggi lebih lama, sementara kerentanan pasokan minyak semakin terlihat ketika persediaan global menurun,” tambahnya.

Menurut DBS, kombinasi faktor tersebut membuat inflasi berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan perkiraan pasar.

Situasi tersebut mendorong sejumlah bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE), mengambil sikap yang lebih berhati-hati terhadap kebijakan suku bunga.

DBS menilai strategi investasi tradisional dengan komposisi 60% saham dan 40% obligasi semakin menghadapi tantangan karena korelasi kedua aset tersebut meningkat pada era inflasi tinggi. Oleh sebab itu, investor dinilai perlu memperluas diversifikasi portofolio ke aset alternatif.

Selain emas, DBS melihat peluang menarik pada perusahaan-perusahaan yang menjadi pemasok utama ekosistem AI atau dikenal sebagai strategi pick-and-shovel. Kelompok ini mencakup produsen semikonduktor, perangkat jaringan, perangkat keras komputasi, hingga perusahaan penyedia layanan infrastruktur energi yang menjadi fondasi pengembangan AI global.

“Di sektor energi, investasi yang selama bertahun-tahun berada di bawah kebutuhan serta meningkatnya perhatian terhadap ketahanan energi mulai mendorong kebangkitan belanja modal di seluruh rantai nilai. Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih perusahaan penyedia infrastruktur utama yang berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya intensitas belanja modal, terutama pada ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia layanan dan peralatan industri minyak.”

Pandangan DBS sejalan dengan berbagai proyeksi lembaga riset global. Gartner memperkirakan belanja AI perusahaan dunia terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang, sementara International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa pusat data AI akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan konsumsi listrik global hingga akhir dekade ini.

Bagi investor, perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan telah berkembang menjadi penggerak utama investasi global yang akan memengaruhi inflasi, arah kebijakan moneter, kebutuhan energi, hingga strategi pengelolaan portofolio dalam jangka panjang. ●


DIGI-INSIGHTS:

DBS membaca AI bukan lagi sebagai tema teknologi murni, melainkan sebagai rezim investasi baru yang menuntut modal fisik, listrik, dan rantai pasok yang jauh lebih besar. Itu sebabnya bank ini menggeser fokus dari sekadar model AI ke infrastruktur yang memungkinkan AI dipakai secara masif. Dalam logika pasar, ini berarti peluang terbesar bisa muncul di luar nama-nama AI yang paling sering dibicarakan, justru pada perusahaan yang memasok chip, jaringan, daya, dan sistem penunjang.

Pandangan DBS juga menunjukkan bahwa inflasi dan AI kini saling terkait. Semakin besar belanja pusat data dan komputasi, semakin tinggi pula tekanan pada listrik, komponen, dan peralatan industri. Bagi investor, ini mengubah cara melihat AI: bukan hanya narasi pertumbuhan, tetapi juga sumber permintaan baru yang bisa memperpanjang siklus harga di sejumlah sektor. Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi tidak cukup hanya lintas aset, tetapi juga lintas lapisan ekosistem AI.

Yang menarik, DBS tidak hanya memberi saran dari luar. Bank ini sendiri sudah memonetisasi AI di operasi internalnya, dari model analitik hingga agentic AI untuk layanan pelanggan. Itu membuat pesan investasinya lebih kredibel: AI bisa menciptakan nilai nyata jika didukung tata kelola, data, dan infrastruktur yang tepat. Dalam beberapa tahun ke depan, pemenangnya bukan semata perusahaan yang paling cepat mengumumkan proyek AI, tetapi yang paling disiplin membangun ekosistemnya. ●


DIGIONARY:

● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem komputer menjalankan tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
● Belanja Modal (Capital Expenditure/Capex): Investasi perusahaan untuk membangun atau membeli aset jangka panjang seperti pusat data, mesin, dan infrastruktur.
● Data Center: Fasilitas yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, dan memproses data serta menjalankan layanan komputasi digital.
● Hyperscaler: Perusahaan teknologi global yang mengoperasikan pusat data dan layanan komputasi awan dalam skala sangat besar.
● Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode tertentu.
● Pick-and-Shovel Strategy: Strategi investasi pada perusahaan penyedia infrastruktur atau peralatan pendukung industri yang sedang bertumbuh.
● Semikonduktor: Komponen utama yang menjadi otak berbagai perangkat elektronik dan sistem AI.
● Sovereign AI: Upaya suatu negara membangun ekosistem AI nasional yang mandiri melalui infrastruktur, data, dan model AI sendiri.
● Super Cycle: Periode pertumbuhan jangka panjang yang didorong oleh perubahan struktural besar dalam ekonomi global.
● The Fed: Bank sentral Amerika Serikat yang bertugas mengatur kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi.

#DBS #ArtificialIntelligence #AI #InvestasiAI #Capex #DigitalTransformation #Semiconductor #DataCenter #Hyperscaler #Inflasi #InvestasiGlobal #Teknologi #Energi #GenerativeAI #SovereignAI #CloudComputing #EkonomiGlobal #StrategiInvestasi #BankDBS #DigitalEconomy

Comments are closed.