DBS Group memperkuat posisinya sebagai salah satu bank paling agresif dalam adopsi artificial intelligence (AI) di dunia. Bank terbesar Singapura itu mengintegrasikan AI ke ratusan lini bisnis, mulai dari manajemen risiko, layanan nasabah, hingga pengambilan keputusan internal. Strategi tersebut membantu DBS mencetak laba tinggi, menghasilkan nilai ekonomi sekitar S$1 miliar dari AI sepanjang 2025, serta mendorong kapitalisasi pasar bank menembus US$124 miliar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan percepatan transformasi digital industri keuangan.
Digi-Highlights:
■ DBS mengoperasikan lebih dari 430 use case AI dan 2.000 model AI untuk memperkuat bisnis dan efisiensi operasional.
■ Implementasi Gen AI dan Agentic AI membantu DBS menghasilkan nilai ekonomi sekitar S$1 miliar sepanjang 2025.
■ DBS menilai AI bukan sekadar teknologi tambahan, tetapi fondasi baru model bisnis perbankan masa depan.
Ketika banyak bank global masih bereksperimen dengan artificial intelligence (AI), DBS Group justru melangkah lebih jauh: menjadikan AI sebagai bagian dari “DNA” perusahaan.
Bank terbesar di Singapura itu kini mengintegrasikan teknologi AI ke hampir seluruh lini bisnis, mulai dari layanan nasabah, manajemen risiko, pengambilan keputusan, hingga operasional internal. Strategi agresif tersebut bukan hanya memperkuat efisiensi, tetapi juga menjadi mesin pertumbuhan baru yang mendorong kinerja keuangan DBS di tengah volatilitas ekonomi global.
CEO DBS Group Tan Su Shan mengatakan AI kini menjadi fondasi utama transformasi bisnis perseroan. “Kami ingin mempertahankan posisi sebagai AI-enabled bank with a heart, menggunakan teknologi untuk menciptakan keunggulan kompetitif sekaligus memberikan dampak nyata bagi nasabah,” ujar Tan dalam wawancara dengan Global Finance.
Sepanjang 2025, DBS mencatat total pendapatan mencapai S$22,9 miliar atau sekitar US$18 miliar dengan laba sebelum pajak sebesar S$13,1 miliar. Return on equity (ROE) bank mencapai 16,2%, berada di atas rata-rata bank regional maupun global.
Kepercayaan pasar terhadap DBS juga melonjak tajam. Pada pertengahan 2025, kapitalisasi pasar bank tersebut menembus US$100 miliar dan ditutup di level US$124 miliar pada akhir tahun, menjadikannya salah satu dari 25 bank terbesar dunia berdasarkan nilai pasar.
Di balik capaian tersebut, AI memainkan peran sentral.
DBS saat ini mengoperasikan lebih dari 430 use case AI — empat kali lebih banyak dibanding 2021 — dengan dukungan lebih dari 2.000 model AI dan machine learning.
Implementasi AI tersebut menghasilkan dampak nyata, mulai dari penguatan manajemen risiko, peningkatan kontrol operasional, hingga efisiensi produktivitas. Sepanjang 2025, inisiatif AI dan data analytics DBS menghasilkan nilai ekonomi sekitar S$1 miliar atau setara lebih dari Rp12 triliun.
DBS juga mulai mengintegrasikan Generative AI dan Agentic AI ke dalam perjalanan nasabah dan alur kerja internal perusahaan.
Salah satu inovasinya adalah DBS-GPT, platform generative AI internal milik DBS yang memberikan akses berbasis peran terhadap jutaan dokumen internal perusahaan untuk mempercepat pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Sementara untuk layanan pelanggan, DBS mengembangkan chatbot berbasis Gen AI bernama DBS Joy yang mampu memberikan layanan otomatis selama 24 jam.
Menurut DBS, chatbot tersebut berhasil meningkatkan kepuasan nasabah sebesar 23% dan menangani lebih dari 235 ribu interaksi berbasis AI.
“Kapabilitas ini meningkatkan produktivitas, kualitas pengambilan keputusan, dan pengalaman nasabah dengan menggabungkan kecerdasan mesin dan penilaian manusia,” kata Tan.
Langkah DBS menjadi menarik karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu fragmentasi perdagangan dunia, gejolak nilai tukar, hingga perubahan besar akibat perkembangan AI.
Tan mengakui 2025 menjadi salah satu tahun paling menantang bagi DBS, terutama setelah muncul tekanan tarif dagang global dan volatilitas pasar pasca “Liberation Day”.
“Ketika tekanan suku bunga dan fluktuasi foreign exchange digabungkan, itu menciptakan perfect storm yang harus kami hadapi,” ujarnya.
Namun DBS berhasil menjaga kinerja dengan strategi lindung nilai neraca, memperkuat arus dana pihak ketiga, dan fokus pada bisnis dengan ROE tinggi seperti wealth management.
Menurut Tan, salah satu keunggulan DBS dibanding banyak bank lain adalah investasi jangka panjang di bidang data dan teknologi yang sudah dilakukan lebih dari satu dekade.
Karena itu, ketika tren Gen AI dan Agentic AI berkembang sangat cepat dalam dua tahun terakhir, DBS tidak memulai dari nol. “Kami sudah bekerja dengan AI lebih dari 10 tahun. Investasi awal pada data dan teknologi memberi fondasi kuat untuk mengindustrialisasi AI dalam ratusan use case,” jelasnya.
Ke depan, DBS menilai AI tidak hanya akan menjadi alat bantu operasional, tetapi juga mengubah model bisnis industri perbankan secara fundamental.
Bank kini tidak lagi hanya bersaing lewat produk finansial, melainkan lewat kemampuan memanfaatkan data, otomatisasi, dan kecerdasan mesin untuk membangun pengalaman nasabah yang lebih personal dan efisien.
DBS menyebut strategi masa depannya bertumpu pada empat kekuatan utama yang disebut “4D”: Dependable, Diversifier, Digital, dan Disruptor. Bank juga akan terus memperkuat bisnis wealth management, transaction banking, treasury, dan konektivitas perdagangan intra-Asia yang diperkirakan terus tumbuh di tengah perubahan geopolitik global.
Selain Singapura, DBS tetap fokus memperkuat enam pasar utama di Asia, yaitu Hong Kong, India, Taiwan, China, Indonesia, dan Singapura.
Di Indonesia sendiri, persaingan transformasi AI di sektor perbankan mulai meningkat. Sejumlah bank besar nasional kini mulai mengembangkan AI untuk layanan nasabah, fraud detection, credit scoring, hingga otomatisasi operasional.
Namun langkah DBS memperlihatkan bahwa masa depan industri perbankan kemungkinan tidak lagi sekadar “digital banking”, melainkan AI-native banking — ketika AI menjadi inti dari pengambilan keputusan, operasional, dan strategi bisnis bank. ■
Digi-Insights:
Langkah DBS menjadikan AI sebagai “DNA” perusahaan menunjukkan bahwa industri perbankan global mulai bergerak memasuki fase baru: AI bukan lagi sekadar tools tambahan untuk efisiensi, tetapi telah menjadi core operating system bank modern. Ketika DBS mengintegrasikan lebih dari 430 use case AI dan 2.000 model machine learning ke seluruh operasi bisnis, yang terjadi sebenarnya adalah perubahan struktur industri perbankan itu sendiri. Bank masa depan kemungkinan tidak lagi diukur dari jumlah cabang atau besarnya aset semata, melainkan dari kemampuan mengolah data, mempercepat keputusan, mempersonalisasi layanan, dan mengotomatisasi proses bisnis secara real-time menggunakan AI. Dalam konteks ini, AI mulai menjadi “mesin profitabilitas baru” yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat pengalaman nasabah.
Keberhasilan DBS juga memperlihatkan satu pola penting: bank yang paling siap menghadapi era Gen AI dan Agentic AI bukanlah yang paling cepat membeli teknologi baru, melainkan yang paling lama membangun fondasi data, budaya digital, dan tata kelola teknologi. DBS sudah berinvestasi pada AI lebih dari satu dekade sebelum hype Gen AI meledak secara global. Ini menjadi pelajaran penting bagi bank-bank di Indonesia yang kini ramai berlomba mengadopsi AI. Tanpa fondasi data yang kuat, governance yang matang, dan integrasi bisnis yang jelas, AI hanya akan menjadi proyek inovasi jangka pendek. Namun jika AI benar-benar diintegrasikan ke model bisnis inti seperti yang dilakukan DBS, bank dapat berubah dari sekadar institusi keuangan menjadi intelligent financial platform yang bergerak lebih cepat, lebih personal, dan jauh lebih efisien dibanding model perbankan tradisional. ■
Digionary:
● Agentic AI: Sistem AI yang mampu mengambil tindakan dan menjalankan tugas secara mandiri tanpa instruksi manusia terus-menerus.
● AI-native Banking: Model bank modern yang menjadikan AI sebagai inti operasional dan strategi bisnis.
● Capitalization Market: Nilai total perusahaan di pasar saham berdasarkan harga saham dan jumlah saham beredar.
● Data Analytics: Proses analisis data untuk menghasilkan insight bisnis dan pengambilan keputusan.
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, audio, atau konten baru secara otomatis.
● Machine Learning: Cabang AI yang memungkinkan sistem belajar dari data dan meningkatkan performa secara otomatis.
● Return on Equity (ROE): Rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.
● Use Case AI: Penerapan spesifik teknologi AI dalam suatu fungsi bisnis atau operasional.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan kekayaan dan investasi untuk nasabah individu maupun institusi.
#DBS #DBSBank #ArtificialIntelligence #AI #GenAI #AgenticAI #DigitalBanking #AIBanking #MachineLearning #Fintech #BankDigital #WealthManagement #AITransformation #Singapore #PerbankanDigital #FinancialTechnology #FutureBanking #DataAnalytics #Automation #AIInnovation
