Tuhu Nugraha: “Bank yang Lambat Beradaptasi di Era Agentic AI, Akan Kehilangan Trust”

- 15 April 2026 - 19:00

Industri perbankan nasional kini berada pada titik balik strategis seiring pergeseran dari digital banking konvensional menuju era Agentic AI. Di fase ini, AI bertransformasi menjadi agen otonom yang mampu mengambil keputusan mandiri, yang jika tidak dikelola dengan orkestrasi strategis, hanya akan menjadi fenomena fear of missing out (FOMO) berisiko tinggi bagi perbankan. Ancaman kebocoran data sensitif serta manipulasi deepfake fraud menjadi urgensi utama bagi jajaran C-Level untuk segera membangun kompas strategis yang tepat.

Merespons perkembangan yang terjadi digitalbank.id berkolaborasi dengan Digitalbank Academy dan Indonesia Applied Digital Economy & Regulatory Network (IADERN) meluncurkan program terbaru Executive Advisory Brief bertajuk “Future of AI: Foresight between Competitiveness and Compliance” secara in-house, dimana bank yang berminat dengan program ini bisa memilih hari dan jam program. Program ini dirancang selama 3 jam khusus untuk membantu BOD dan BOC melakukan “AI Strategic Reset” demi mengoptimalkan potensi laba dengan pemanfaatan AI, sekaligus memastikan keselarasan dengan regulasi ketat seperti Panduan OJK April 2025, UU PDP, dan Perpres Roadmap dan Etika AI yang akan segera ditandatangani Presiden Prabowo.

Terkait program ini, Deddy H. Pakpahan dari digitalbank.id ​berbincang dengan Tuhu Nugraha, expert speaker dalam program executive advisory brief ini. Ia adalah seorang penasihat strategis dan pembicara internasional yang memiliki spesialisasi dalam bidang artificial intelligence, tata kelola digital, serta manajemen risiko dengan perspektif Global South. Tuhu dikenal memiliki kemampuan kuat dalam menerjemahkan isu-isu kompleks—mulai dari Agentic AI, kedaulatan digital, hingga blockchain—menjadi wawasan strategis yang aplikatif dan relevan bagi para pengambil keputusan di level senior.

Perbincangan eksklusif ini menggali lebih dalam urgensi program advisory tersebut dalam membangun “safety guardrails” dan “accountability framework” di industri perbankan. Melalui sesi ini, jajaran pimpinan diharapkan mampu menyusun rencana aksi konkret untuk mengintegrasikan AI sebagai mesin pertumbuhan yang aman, patuh secara tata kelola, dan siap menghadapi masa depan perbankan otonom.  Berikut petikan perbincangannya:


Apa sebenarnya urgensi program Executive Advisory Brief ini untuk jajaran board of director (BOD) dan board of commissioners (BOC) saat ini?

​Urgensinya saya kira sangat nyata karena lanskap risiko perbankan saat ini telah berubah total seiring bergesernya industri dari digital banking ke era Agentic AI. Pimpinan bank seringkali terjebak dalam tekanan untuk segera mengadopsi teknologi terbaru agar tidak terlihat tertinggal (FOMO), namun seringkali abai bahwa AI otonom membawa risiko baru seperti kebocoran data dan deepfake fraud. Sesi ini hadir bukan untuk memberikan tutorial teknis, melainkan untuk membangun kompas strategis agar pimpinan bank bisa membedakan mana inovasi yang bernilai dan mana yang hanya menjadi liabilitas bagi organisasi.

​Dengan Panduan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial OJK yang mulai berlaku penuh pada April 2025 serta UU PDP yang sudah berjalan, pimpinan bank harus memiliki pemahaman yang selaras (regulatory alignment). Jika jajaran C-Level tidak segera bertindak untuk melakukan AI Strategic Reset, bank mungkin saja berisiko menghadapi masalah hukum atau bahkan kehilangan kedaulatan atas data nasabah mereka sendiri. Nah, program advisory brief ini akan memberikan ruang bagi BOD dan BOC untuk memahami bagaimana mengintegrasikan AI sebagai mesin pertumbuhan yang patuh hukum dalam sebuah bank.

Tuhu Nugraha (Dok. digitalbank.id)

Program ini mengharuskan BOD dan BOC bank melakukan “AI Strategic Reset”. Bisa dijelaskan?

​Hal mendasar yang perlu direset adalah pandangan bahwa AI hanyalah proyek IT atau bagian dari efisiensi operasional biasa. AI Strategic Reset mengajak pimpinan bank untuk melihat AI sebagai strategi investasi berbasis nilai yang membutuhkan tata kelola dari atas ke bawah. Kita mengubah pola pikir dari sekadar “menggunakan AI” menjadi “mengorkestrasikan AI” secara aman dan akuntabel. Reset ini penting agar bank tidak hanya membeli teknologi mahal yang akhirnya menjadi investasi kosong tanpa perlindungan yang memadai terhadap risiko algoritma.

​Di sesi ini, kita akan membedah bagaimana mengubah keraguan menjadi kepercayaan melalui accountability framework. Pimpinan akan diajarkan untuk menyusun roadmap 100 hari pertama yang tidak hanya fokus pada peluncuran produk, tetapi pada pembangunan fondasi etika dan keamanan sesuai regulasi BI, OJK, dan Kominfo. Tujuannya agar bank benar-benar siap secara organisasi, bukan hanya siap secara teknologi.

Lantas, bagaimana program advisory ini bisa membantu bank menjawab tantangan “data sovereignty” atau kedaulatan data yang menjadi isu sensitif bagi perbankan nasional?

​Saya kira, isu kedaulatan data adalah jantung dari kepercayaan nasabah. Banyak bank saat ini menggunakan model AI global yang pengolahan datanya seringkali berada di luar kontrol langsung institusi. Melalui sesi ini, kami akan membekali pimpinan bank dengan strategi untuk mempertahankan kontrol penuh atas data sensitif nasabah. Kami membantu mereka merancang cetak biru “Responsible AI” di mana kedaulatan data menjadi pilar utama dalam setiap integrasi teknologi.

Hal mendasar yang perlu direset adalah pandangan bahwa AI hanyalah proyek IT atau bagian dari efisiensi operasional biasa. AI Strategic Reset mengajak pimpinan bank untuk melihat AI sebagai strategi investasi berbasis nilai yang membutuhkan tata kelola dari atas ke bawah. Kita mengubah pola pikir dari sekadar “menggunakan AI” menjadi “mengorkestrasikan AI” secara aman dan akuntabel.

​Tanpa pemahaman strategis tentang kedaulatan data, bank rentan melanggar UU PDP dan kehilangan kepercayaan pasar. Dalam program ini kami akan memberikan wawasan tentang bagaimana membangun lapisan kendali (safety guardrails) yang memastikan data nasabah tidak hanya aman dari peretas, tetapi juga tidak “bocor” secara algoritmik ke pihak ketiga melalui proses pelatihan model AI. Ini adalah tentang menjaga aset bank paling berharga di era digital, yaitu informasi nasabah.

Lantas, ​sejauh mana program ini mampu menyiapkan bank untuk audit standar keamanan tersebut?

​Program ini dirancang sangat padat dan fokus pada output kepatuhan atau compliance. Kami tidak hanya memaparkan pasal-pasal regulasi, tetapi menerjemahkannya menjadi daftar periksa (check list) strategis yang harus dipenuhi untuk kesiapan audit OJK ke depan. Jajaran eksekutif akan memahami apa saja parameter keamanan yang akan diuji oleh regulator dan bagaimana memastikan setiap lapisan algoritma di bank mereka memiliki dokumentasi manajemen risiko yang memadai.

​Program ini juga akan sangat membantu sinkronisasi antara BOD dan BOC dalam hal pengawasan. Kami membekali mereka dengan kerangka kerja untuk menilai apakah strategi AI saat ini sudah selaras dengan Panduan OJK, Perpres Roadmap dan Etika AI, dan standar industri perbankan lainnya. Dengan pemahaman ini, pimpinan bank dapat dengan percaya diri menghadapi audit regulator karena mereka telah membangun lapisan kendali yang tepat sejak awal, bukan sebagai pemikiran tambahan di akhir.

Banyak bank masih terjebak pada AI tradisional (chatbot sederhana). Bagaimana program ini mendorong bank ke arah “autonomous finance” yang lebih menguntungkan?

Begini. ​Dalam hal adopsi dan pemanfaatan AI, kita harus melampaui sekadar chatbot jika ingin mengejar kenaikan laba hingga 30% pada tahun 2030. Autonomous finance atau perbankan otonom membutuhkan Agentic AI yang mampu melakukan manajemen risiko secara otomatis, personalisasi layanan kredit secara real-time, hingga deteksi fraud yang proaktif. Program advisory brief ini mendorong pimpinan bank untuk berani merancang AI sebagai mesin pertumbuhan yang terintegrasi secara mendalam ke dalam model bisnis inti.

Autonomous finance atau perbankan otonom membutuhkan Agentic AI yang mampu melakukan manajemen risiko secara otomatis, personalisasi layanan kredit secara real-time, hingga deteksi fraud yang proaktif. Program advisory brief ini mendorong pimpinan bank untuk berani merancang AI sebagai mesin pertumbuhan yang terintegrasi secara mendalam ke dalam model bisnis inti.

​Namun, transisi menuju perbankan otonom ini membutuhkan keberanian strategis yang terukur. Melalui sesi ini, kita membahas bagaimana membangun Future-Ready Action Plan yang konkret. Pimpinan diajak untuk melihat bagaimana AI dapat mengotomatisasi fungsi departemen strategis (seperti CRO, CIO, CTO, CDO) untuk bekerja lebih presisi, sehingga bank tidak hanya kompetitif di pasar lokal tetapi juga setara dengan standar perbankan cerdas global.

Seberapa krusial peran Accountability Framework dalam mencegah “Deepfake Fraud” yang saat ini mulai menyerang nasabah perbankan dan membuat banyak bankir ketar-ketir?

​Deepfake fraud adalah ancaman yang bisa menghancurkan reputasi bank dalam semalam karena ia menyerang identitas nasabah secara visual dan auditori. Di sinilah Accountability Framework atau kerangka akuntabilitas menjadi krusial. Kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi keamanan statis; pimpinan bank harus memiliki manajemen risiko algoritma yang mampu mendeteksi manipulasi berbasis AI secara dinamis.

​Dalam program advisory, kami akan membedah cara membangun benteng pertahanan (fraud defense) yang berlapis. Kami mengajarkan eksekutif untuk menuntut akuntabilitas dari penyedia teknologi AI mereka dan memastikan sistem memiliki lapisan deteksi otomatis terhadap serangan siber berbasis AI. Tanpa kerangka kerja ini, bank akan kesulitan membuktikan siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kegagalan sistem, yang pada akhirnya akan merusak hubungan bank dengan nasabah dan regulator.

Program ini ditargetkan untuk BOD, BOC, dan fungsi pimpinan strategis lainnya (CRO, CIO, CTO, CDO). Mengapa kolaborasi lintas fungsi ini menjadi kunci dalam advisory brief ini?

​Karena adopsi Agentic AI bukan masalah IT semata, melainkan masalah tata kelola organisasi secara menyeluruh. Seringkali terjadi diskoneksi: CTO ingin inovasi cepat, sementara CRO sangat khawatir tentang risiko, dan BOC belum tentu memahami implikasi teknisnya secara mendalam.

Melalui kolaborasi lintas fungsi dalam sesi ini, bank dapat menghasilkan cetak biru Responsible AI yang komprehensif. CRO akan memahami manajemen risiko algoritma, CIO akan memastikan integrasi yang aman, dan CDO akan menjaga integritas data. Kesepahaman di level C-Level inilah yang akan mempercepat proses pengambilan keputusan dan memastikan roadmap 100 hari pertama tidak terhambat oleh konflik internal atau kebingungan regulasi.

Advisory brief ini berfungsi sebagai platform sinkronisasi agar semua fungsi pimpinan memiliki bahasa strategis dan tingkat pemahaman yang sama tentang risiko serta peluang AI.

​Melalui kolaborasi lintas fungsi dalam sesi ini, bank dapat menghasilkan cetak biru Responsible AI yang komprehensif. CRO akan memahami manajemen risiko algoritma, CIO akan memastikan integrasi yang aman, dan CDO akan menjaga integritas data. Kesepahaman di level C-Level inilah yang akan mempercepat proses pengambilan keputusan dan memastikan roadmap 100 hari pertama tidak terhambat oleh konflik internal atau kebingungan regulasi.

Mengapa format briefing-nya dibuat “In-House”? Apa keunggulan pendekatan ini dibandingkan seminar publik bagi pimpinan bank?

​Format “in-house” dipilih karena memberikan fleksibilitas dan kerahasiaan yang diperlukan bagi setiap institusi perbankan untuk mendiskusikan tantangan spesifik mereka. Setiap bank memiliki profil risiko, infrastruktur data, dan strategi pasar yang berbeda. Dengan sesi In-House, kami bisa menyesuaikan pembahasan dengan kebutuhan jadwal bank dan melakukan eksplorasi mendalam pada titik-titik lemah atau keunggulan kompetitif yang ingin mereka perkuat tanpa harus mengungkapnya di depan publik.

​Selain itu, sesi ini memungkinkan dialog yang lebih jujur antara BOD dan BOC tentang kesiapan internal mereka. Dengan begitu kami bisa langsung fokus pada bagaimana rencana aksi konkret integrasi AI dapat diterapkan pada ekosistem bank tersebut secara spesifik. Ini adalah tentang memberikan solusi yang aplikatif dan relevan, bukan sekadar teori umum yang mungkin tidak cocok dengan budaya kerja atau regulasi internal bank tertentu.

Anda menyebutkan “Safety Guardrails” sesuai regulasi OJK, BI, dan Kominfo. Bisakah Anda berikan gambaran bagaimana advisory ini membantu pimpinan bank membangun “pagar pengaman” tersebut?

​Safety Guardrails atau pagar pengaman adalah lapisan kendali teknis dan kebijakan yang memastikan AI tetap beroperasi dalam batas-batas yang aman dan etis. Banyak bank tahu mereka butuh keamanan, tapi tidak tahu “pagar” seperti apa yang diwajibkan oleh regulator seperti BI atau OJK. Dalam sesi ini, kami membantu pimpinan merumuskan kebijakan yang menjamin AI tidak melakukan bias dalam penilaian kredit atau melanggar privasi data di bawah UU PDP.

Safety Guardrails atau pagar pengaman adalah lapisan kendali teknis dan kebijakan yang memastikan AI tetap beroperasi dalam batas-batas yang aman dan etis. Banyak bank tahu mereka butuh keamanan, tapi tidak tahu “pagar” seperti apa yang diwajibkan oleh regulator seperti BI atau OJK.

Juga soal risiko sosial seperti diskriminasi, lalu kecemasan dan sabotase internal karena takut tergantikan AI, terus juga risiko dari faktor eksternal misalnya ketergantungan vendor, serangan siber dan resiliensinya.

Nah, melalui program ini kita akan membimbing eksekutif perbankan untuk melihat di mana saja titik-titik kritis yang membutuhkan intervensi manusia (human-in-the-loop) dan di mana AI bisa bekerja secara mandiri. Dengan membangun guardrails yang tepat, pimpinan bank bisa tidur lebih nyenyak karena mereka tahu sistem mereka memiliki protokol keamanan yang secara otomatis akan memberikan peringatan atau menghentikan proses jika terdeteksi aktivitas yang mencurigakan atau di luar parameter regulasi.

Banyak bankir di C-Level saat ini merasa mereka masih punya cukup waktu untuk misalnya menunda atau malah tidak terlalu concern dengan tata kelola AI di perusahaannya, bagaimana Anda melihat itu?

Buat saya ​waktu tidak sedang dan tidak pernah menunggu kita. Saya berani katakan, bank yang lambat beradaptasi di era Agentic AI hari ini, ia akan menjadi bank yang kewalahan menghadapi tuntutan nasabah dan pengawasan regulator esok hari. Penundaan dalam membangun tata kelola AI bukan hanya soal kehilangan peluang laba, tapi soal membiarkan bank Anda terbuka terhadap risiko kehancuran reputasi akibat fraud atau kegagalan algoritma. ■


Digionary:

● Accountability Framework: Kerangka akuntabilitas untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan dan risiko AI.
● Agentic AI: AI otonom yang dapat mengambil keputusan sendiri tanpa harus selalu menunggu instruksi manusia.
● AI Strategic Reset: Proses mengubah cara pandang organisasi terhadap AI dari sekadar proyek teknologi menjadi strategi bisnis.
● Autonomous Finance: Model layanan keuangan yang memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi proses bisnis dan pengambilan keputusan.
● Board of Commissioners (BOC): Dewan komisaris yang bertugas mengawasi jalannya perusahaan.
● Board of Directors (BOD): Direksi yang bertanggung jawab atas operasional dan strategi perusahaan.
● Deepfake Fraud: Penipuan menggunakan video, suara, atau gambar palsu berbasis AI yang terlihat sangat meyakinkan.
● Fear of Missing Out (FOMO): Ketakutan tertinggal tren atau inovasi baru.
● Human-in-the-Loop: Mekanisme yang memastikan manusia tetap memiliki kendali dalam keputusan AI tertentu.
● Responsible AI: Konsep penggunaan AI yang aman, etis, transparan, dan patuh terhadap regulasi.
● Safety Guardrails: Lapisan pengaman yang membatasi AI agar tetap beroperasi sesuai aturan dan etika.

#AgenticAI #PerbankanDigital #DigitalBanking #DeepfakeFraud #AIRegulation #OJK #UU_PDP #ResponsibleAI #AutonomousFinance #AIPerbankan #DataSovereignty #FraudDetection #CyberSecurity #DigitalTransformation #BankingInnovation #AICompliance #FutureOfAI #RiskManagement #DigitalbankAcademy #IADERN


Daftarkan segera bank Anda untuk mengikuti program executive advisory brief “Future of AI: Foresight between Competitiveness and Compliance” sebagai langkah awal untuk mengamankan posisi bank Anda di masa depan. Membangun kompas strategis bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap pemimpin perbankan yang ingin tetap relevan, kompetitif, dan yang paling penting, patuh terhadap hukum dan etika perbankan nasional. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program ini bisa menghubungi WA: 0878-8291-5126 atau Mobile: 0813-1418-8319. 


Comments are closed.