PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih Rp294,85 miliar pada Semester I 2026 atau tumbuh 6,81% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan efisiensi, membaiknya kualitas aset, penguatan permodalan, serta lonjakan transaksi digital, terutama QRIS. Di tengah tantangan ekonomi global dan likuiditas industri perbankan yang masih ketat, BNC memilih memperkuat fundamental bisnis sebagai bekal memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ BNC membukukan laba bersih Rp294,85 miliar pada Semester I 2026, tumbuh 6,81%, melanjutkan tren profitabilitas selama dua tahun terakhir.
■ Transaksi QRIS melonjak 124% menjadi 267,4 juta transaksi, sementara pendapatan QRIS meningkat 246% menjadi Rp25,8 miliar.
■ Struktur permodalan semakin kuat dengan CAR 50,23%, NPL turun menjadi 2,99%, serta fokus ekspansi ke segmen konsumer dan UMKM.
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) kembali mencatatkan kinerja positif pada paruh pertama 2026. Bank digital tersebut membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar, naik 6,81% dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai Rp276,05 miliar.
Pencapaian ini memperpanjang tren profitabilitas BNC dalam dua tahun terakhir sekaligus menunjukkan strategi perusahaan yang kini lebih menitikberatkan pada pertumbuhan berkualitas dibanding ekspansi agresif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga, dan tantangan likuiditas di industri perbankan, BNC memilih memperkuat kualitas aset, efisiensi operasional, serta struktur permodalan.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi perusahaan membangun fondasi bisnis yang lebih sehat selama beberapa tahun terakhir.
Selama lebih dari lima tahun melayani nasabah sebagai salah satu pelopor bank dengan layanan digital, BNC telah membangun pengalaman, kapabilitas, serta fondasi operasional yang semakin matang.
“Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif. Kami percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya,” jelas Eri di Jakarta, Jumat (31/7).

Hingga Juni 2026, total aset BNC mencapai Rp17,45 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp12,30 triliun. Di tengah kompetisi penghimpunan dana yang semakin ketat, saldo tabungan nasabah tetap tumbuh menjadi Rp3,39 triliun, meningkat 2,10% secara tahunan. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan nasabah yang tetap terjaga terhadap layanan digital BNC.
Dari sisi pendapatan, Bank Neo Commerce membukukan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar, tumbuh 6,77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menunjukkan kontribusi pendapatan non-bunga yang semakin besar terhadap kinerja perseroan.
Transformasi digital juga tercermin dari melonjaknya penggunaan layanan transaksi QRIS. Sepanjang Semester I 2026, jumlah transaksi QRIS mencapai 267,4 juta transaksi, meningkat 124% dibandingkan 119,3 juta transaksi pada periode yang sama tahun lalu.
Tidak hanya volume transaksi, pendapatan dari layanan QRIS juga meningkat signifikan menjadi Rp25,8 miliar, melonjak 246% dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp7,4 miliar. Tren tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekosistem pembayaran digital di Indonesia yang terus berkembang. Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi pembayaran digital nasional, termasuk QRIS, masih mencatat pertumbuhan dua digit sepanjang 2026 seiring meningkatnya adopsi pembayaran nontunai.
Di sisi efisiensi, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik menjadi 82,31%, dibandingkan 84,81% pada Semester I 2025. Rasio Return on Assets (ROA) juga meningkat menjadi 3,23% dari sebelumnya 3,09%, mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang semakin baik.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 2,99% dari 3,10% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan kredit bermasalah tersebut merupakan hasil penguatan manajemen risiko, penyempurnaan proses underwriting digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Dari sisi permodalan, posisi BNC semakin solid. Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 50,23%, naik dari 41,27% setahun sebelumnya. Modal inti perseroan juga tumbuh 14,52% menjadi Rp4,20 triliun, memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mendukung ekspansi bisnis secara sehat dan berkelanjutan.
Dalam penyaluran kredit, BNC menerapkan strategi yang lebih selektif. Total kredit tercatat Rp7,13 triliun, turun 11,79% dibandingkan Semester I 2025 sebesar Rp8,09 triliun. Penurunan terutama berasal dari segmen komersial dan korporasi sebagai bagian dari optimalisasi portofolio kredit.
Sebaliknya, pembiayaan pada segmen yang menjadi fokus utama justru meningkat. Penyaluran kredit ke sektor konsumer dan UMKM mencapai Rp5,80 triliun, naik 6,68% dibandingkan tahun sebelumnya. Strategi tersebut mencerminkan fokus perusahaan pada pembiayaan yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang dengan profil risiko yang lebih terjaga.
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, BNC mengusung strategi “Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust.”
Strategi tersebut dibangun di atas tiga pilar utama, yakni memperkuat kinerja melalui profitabilitas yang sehat dan pengelolaan risiko yang disiplin, meningkatkan kapabilitas teknologi digital termasuk adopsi Artificial Intelligence (AI) untuk memperkaya layanan nasabah, serta memperkuat kepercayaan melalui tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, kepatuhan, dan layanan yang semakin andal.
Menurut Eri, ukuran keberhasilan bank digital ke depan tidak lagi semata ditentukan oleh besarnya ekspansi bisnis, tetapi oleh kemampuan menciptakan pertumbuhan yang sehat, berkelanjutan, dan dipercaya seluruh pemangku kepentingan.
“Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi kinerja yang kuat, teknologi yang semakin andal, serta kepercayaan yang terus tumbuh dari nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh, kualitas operasional yang terus membaik, dan pengalaman lebih dari lima tahun sebagai bank dengan layanan digital, BNC kini menjadi bank berbasis digital yang sehat dan siap memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh stakeholders,” ungkap Eri.
Ke depan, BNC akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pengembangan produk digital yang lebih relevan, peningkatan kualitas layanan, optimalisasi efisiensi operasional, penguatan keamanan digital, serta pemanfaatan teknologi, termasuk AI, untuk meningkatkan pengalaman nasabah dan daya saing perusahaan di industri perbankan digital Indonesia. ●
DIGI-INSIGHTS:
Profitabilitas tumbuh di tengah strategi ekspansi yang lebih konservatif. Alih-alih mengejar pertumbuhan kredit secara agresif, BNC memilih memperbaiki kualitas portofolio, memperkuat manajemen risiko, dan meningkatkan efisiensi. Strategi ini terbukti mampu menjaga pertumbuhan laba 6,81%, sekaligus menurunkan NPL menjadi 2,99%. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan yang sehat kini menjadi prioritas dibanding sekadar mengejar volume bisnis.
Transaksi digital menjadi mesin pertumbuhan baru. Lonjakan transaksi QRIS sebesar 124% dan kenaikan pendapatan QRIS hingga 246% mengindikasikan semakin tingginya aktivitas transaksi nasabah di ekosistem digital BNC. Artinya, sumber pendapatan bank mulai bergeser tidak hanya dari bunga kredit, tetapi juga dari layanan transaksi digital (fee based income) yang lebih berkelanjutan.
Modal yang kuat membuka ruang ekspansi pada fase berikutnya. Dengan CAR mencapai 50,23% dan modal inti tumbuh menjadi Rp4,20 triliun, BNC memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Dikombinasikan dengan rencana adopsi Artificial Intelligence (AI) dan penguatan teknologi, bank memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk meningkatkan daya saing di industri perbankan digital Indonesia. ●
DIGIONARY:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem komputer menjalankan tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia, seperti analisis data dan pengambilan keputusan.
● Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko dan mendukung ekspansi usaha.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana masyarakat yang dihimpun bank dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● Fee Based Income: Pendapatan bank yang berasal dari biaya layanan, bukan dari bunga kredit.
● Net Interest Income (NII): Pendapatan bunga bersih yang diperoleh bank setelah dikurangi beban bunga.
● Non Performing Loan (NPL): Rasio kredit bermasalah terhadap total kredit yang disalurkan bank.
● Profit After Tax (PAT): Laba bersih perusahaan setelah dikurangi seluruh pajak.
● QRIS: Standar nasional pembayaran digital menggunakan kode QR yang dikembangkan Bank Indonesia.
● Return on Assets (ROA): Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki.
● Underwriting: Proses analisis kelayakan calon debitur sebelum kredit disetujui.
#BankNeoCommerce #BNC #BankDigital #PerbankanDigital #KinerjaBank #LaporanKeuangan #LabaBank #QRIS #BankIndonesia #OJK #Fintech #TransformasiDigital #ArtificialIntelligence #AI #UMKM #DigitalBanking #EkonomiIndonesia #Investasi #PasarKeuangan #CorporateNews
