DBS Percepat Transformasi AI Agen, CEO Tan Su Shan: “Setiap Pekerjaan Bisa Tergantikan AI”

- 25 Juni 2026 - 08:21

DBS Bank mempercepat transformasi digital dengan mengintegrasikan agentic AI ke dalam operasional inti. CEO Tan Su Shan menegaskan teknologi ini bukan sekadar alat otomatisasi, tetapi perubahan fundamental cara kerja bank, meski tetap menuntut keseimbangan antara inovasi, tata kelola, dan peran manusia dalam pengambilan keputusan.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ DBS mengintegrasikan agentic AI ke inti operasional bank, bukan sekadar proyek uji coba digital.
■ Lebih dari 70% karyawan DBS sudah menggunakan AI dengan 1,8 juta prompt per bulan.
■ Transformasi AI mendorong efisiensi besar, namun juga menuntut tata kelola dan re-skilling tenaga kerja.


Di tengah gelombang kecemasan bahwa kecerdasan buatan akan menghapus jutaan pekerjaan, DBS Bank justru melangkah lebih jauh. Bank terbesar di Asia Tenggara ini tidak hanya mengadopsi AI, tetapi mulai menanamkan agentic artificial intelligence—sistem AI yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara semi-otonom—ke jantung operasionalnya.

CEO DBS, Tan Su Shan, menyebut perubahan ini sebagai titik balik besar dalam industri perbankan, di mana keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh adopsi teknologi semata, melainkan kemampuan organisasi merombak proses kerja, tata kelola, hingga budaya perusahaan.

Transformasi dari Eksperimen ke Inti Operasi

DBS kini memandang AI bukan lagi sebagai alat uji coba, melainkan bagian dari sistem kerja utama. Tan mengungkapkan bahwa bank telah mengembangkan ribuan personal agents hanya dalam beberapa bulan sejak teknologi itu tersedia pada akhir 2025.

Perubahan simbolik bahkan terlihat dari budaya internal perusahaan. Jika sebelumnya para eksekutif mengenakan kaus bertuliskan “Talk is cheap. Show me your code”, kini berubah menjadi “Talk is cheap. Show me your agent”.

Menurut Tan, perubahan ini mencerminkan pergeseran besar: dari sekadar digitalisasi menuju era agen otonom yang mampu bekerja lintas sistem dan proses.

Tiga Lapisan AI di DBS: Personal, Tim, dan Enterprise

DBS membagi penerapan AI ke dalam tiga kategori utama:

● Personal agents, yang membantu individu dalam aktivitas harian.
● Team agents, yang mendukung analisis dan pengambilan keputusan kelompok.
● Enterprise agents, yang mengelola proses kompleks di tingkat organisasi.

Salah satu implementasi nyata adalah penggunaan AI dalam analisis data keuangan untuk penetapan suku bunga dan hipotek. Sistem ini mampu mengolah data dari berbagai sumber secara cepat, termasuk data kompetitor.

Di sisi lain, DBS juga telah memperluas penggunaan generative AI. Sekitar 70% karyawan kini menggunakan alat berbasis AI seperti DBSGPT dan Microsoft Copilot, dengan total 1,8 juta prompt per bulan untuk mendukung pekerjaan seperti riset, penulisan, hingga ringkasan dokumen.

AI Masuk ke Inti Operasi: Dari Kredit hingga Kepatuhan

Perubahan paling signifikan terjadi di area operasional inti, termasuk kredit korporasi. Proses yang sebelumnya membutuhkan analisis manual panjang—mulai dari laporan industri, data keuangan, hingga pertemuan nasabah—kini dapat dipercepat melalui ratusan agen AI.

Dalam beberapa kasus, hingga 70 agen bekerja secara paralel untuk menghasilkan draf credit memo yang kemudian diverifikasi oleh manajer kredit sebelum keputusan akhir dibuat.

DBS menyebut pendekatan ini bukan untuk menggantikan manusia, tetapi mengalihkan fokus tenaga kerja ke aktivitas bernilai lebih tinggi seperti pengembangan nasabah dan analisis strategis.

Antara Efisiensi dan Risiko: Tata Kelola Jadi Kunci

Meski optimistis, Tan menegaskan bahwa adopsi AI tidak lepas dari risiko. Ia menyoroti potensi bias data, kesalahan model, hingga perubahan perilaku sistem AI yang dapat terjadi tanpa intervensi langsung perusahaan.

“Bahkan jika kita sangat optimistis terhadap AI, kita juga harus menyadari bahwa skenario distopia itu tetap mungkin terjadi. Karena itu kami membangun kerangka tata kelola dan control plane,” ujarnya.

DBS mengembangkan sistem pengawasan yang memungkinkan pemantauan seluruh agen AI, termasuk audit, pelacakan, dan evaluasi kinerja secara berkelanjutan.

Dampak ke Tenaga Kerja: Pekerjaan Berubah, Bukan Hilang

Transformasi ini juga berdampak pada struktur tenaga kerja. Beberapa fungsi teknis diperkirakan akan menyusut, tetapi DBS menekankan re-skilling sebagai prioritas utama.

Tan bahkan menyebut bahwa “setiap pekerjaan pada dasarnya bisa digantikan AI”, termasuk posisi puncak seperti CEO. Namun, menurutnya, hal itu justru mempertegas pentingnya adaptasi manusia.

Bank kini mendorong karyawan untuk mempelajari keterampilan baru berbasis AI, sekaligus memanfaatkan pengalaman karyawan senior sebagai basis pengetahuan perusahaan.

Strategi Rekrutmen dan Generasi Baru Bankir
Di tengah transformasi tersebut, DBS tetap agresif merekrut talenta muda. Tahun ini, bank menargetkan 500 talenta muda melalui program magang, trainee, dan management associate.

Tan menekankan bahwa sikap dan kemauan belajar jauh lebih penting dibandingkan sekadar kemampuan teknis. “Knowledge is ubiquitous, tetapi attitude yang membedakan,” katanya.

Bank Menuju Model Organisasi AI-First

DBS kini tidak lagi hanya berbicara tentang digital banking, tetapi bergerak menuju model AI-first organization. Transformasi ini mencakup teknologi, proses bisnis, hingga struktur organisasi.

Namun di tengah percepatan itu, bank tetap menempatkan manusia sebagai pusat keputusan akhir. Tantangan terbesar ke depan bukan lagi soal teknologi, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara efisiensi mesin dan intuisi manusia. ●


DIGIONARY:

● Agentic AI: Sistem kecerdasan buatan yang mampu merencanakan dan menjalankan tugas secara semi-otonom tanpa intervensi manusia penuh.
● Credit memo: Dokumen analisis kelayakan kredit yang menjadi dasar persetujuan pinjaman bank.
● DBSGPT: Platform chatbot internal DBS berbasis AI untuk membantu pekerjaan karyawan.
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, atau data berdasarkan prompt pengguna.
● Human-in-the-loop: Model kerja AI yang tetap melibatkan manusia dalam proses pengambilan keputusan akhir.
● Model drift: Perubahan perilaku model AI dari waktu ke waktu akibat perubahan data atau kondisi operasional.
● Personal agents: Agen AI yang dirancang untuk membantu individu dalam tugas-tugas personal atau pekerjaan.
● Enterprise agents: Agen AI yang mengelola proses kompleks di tingkat organisasi perusahaan.
● Robo-advisory: Layanan otomatis berbasis AI untuk memberikan rekomendasi keuangan.
● Workflow automation: Otomatisasi alur kerja bisnis menggunakan teknologi digital atau AI.

#DBS #AgenticAI #AIinBanking #DigitalBanking #FutureOfWork #ArtificialIntelligence #BankingTransformation #FintechAsia #GenerativeAI #AIDeployment #WorkforceTransformation #EnterpriseAI #SmartBanking #FinancialTechnology #AIRevolution #BankingInnovation #DigitalTransformation #AIStrategy #MachineLearning #BankingAutomation

Comments are closed.