Bank Jakarta akan membangun dua biodigester komunal di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, dengan kapasitas gabungan hingga 500 kilogram sampah organik per hari. Fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari dan mengurangi emisi sekitar 154,4 ton CO2e per tahun. Program ini datang ketika Jakarta menghadapi timbunlan sampah sekitar 7.700–8.000 ton per hari dan pemerintah mendorong pemilahan serta pengolahan sampah sejak dari sumber.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Dua biodigester Bank Jakarta di Rorotan dan Rawa Badak ditargetkan mengolah total 500 kilogram sampah organik setiap hari.
■ Fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan 37,5 meter kubik biogas per hari dan memangkas emisi sekitar 154,4 ton CO2e per tahun.
■ Program ini memperkuat pengolahan sampah dari sumber ketika Jakarta menghadapi timbulan 7.700–8.000 ton sampah setiap hari.
Sampah organik yang biasanya berakhir di tempat pemrosesan akhir akan coba diubah menjadi sumber energi di Jakarta Utara. Bank Jakarta menyiapkan pembangunan dua biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Kedua fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah hingga 500 kilogram sampah organik per hari.
Peletakan batu pertama pembangunan fasilitas itu dilakukan Senin (10/8) di Rusunawa Rorotan. Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Wali Kota Jakarta Utara Wawan Budi Rohman, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Utara Iyan Sopian Hadi, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto, serta Camat Cilincing Daniel Azka Alfarobi.

Program ini menjadi bagian dari kontribusi Bank Jakarta melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), sekaligus implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta 2026.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan pembangunan biodigester merupakan salah satu langkah untuk membantu menjawab persoalan sampah Jakarta, terutama sampah organik.
“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,” ujar Agus.
Jakarta Menghasilkan Ribuan Ton Sampah Setiap Hari
Persoalan yang hendak disentuh program tersebut bukan perkara kecil. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut timbulan sampah di Jakarta saat ini berada di kisaran 7.700–8.000 ton per hari. Pada Oktober 2025, Pemprov DKI juga mencatat total timbunan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, telah mencapai sekitar 55 juta ton.
Karena itu, pemerintah Jakarta mulai memperkuat pendekatan yang tidak hanya mengandalkan pengangkutan sampah ke tempat pemrosesan akhir.
Pada Mei 2026, Pemprov DKI mendorong pemilahan sampah dari rumah melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Dinas Lingkungan Hidup DKI menyebut mayoritas timbulan sampah berasal dari rumah tangga dan hampir separuhnya merupakan sampah organik.
Kebijakan tersebut membuat pengolahan sampah organik di tingkat komunitas menjadi semakin relevan.
Biodigester bekerja dengan mengolah bahan organik melalui proses biologis tanpa oksigen atau anaerob. Dalam proses tersebut, material organik dapat menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, sementara residunya dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik sesuai pengelolaan dan standar teknis yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, sampah tidak langsung dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan baku yang masih memiliki nilai.
Kapasitas 500 Kilogram per Hari
Bank Jakarta menyatakan masing-masing biodigester dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 250 kilogram sampah organik per hari.
Dengan dua unit, total kapasitas pengolahan mencapai 500 kilogram atau 0,5 ton per hari.
Berdasarkan kajian teknis program, kedua fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas setiap hari.
Selain energi, proses pengolahan juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Bank Jakarta memperkirakan fasilitas tersebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau sekitar 154,4 ton CO2e per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa program ini masih berskala komunitas jika dibandingkan dengan total timbulan sampah Jakarta. Kapasitas 0,5 ton per hari hanya sekitar 0,006% dari timbulan sampah Jakarta yang berada di kisaran 7.700–8.000 ton per hari. Namun, nilai programnya tidak semata-mata terletak pada volume yang diolah.
Model pengolahan dari sumber dapat mengurangi kebutuhan mengangkut sebagian sampah organik keluar dari kawasan permukiman sekaligus memperkenalkan sistem pemanfaatan sampah kepada masyarakat.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan arah kebijakan Jakarta yang mulai mendorong pemilahan dan pengolahan sampah sebelum sampah mencapai tempat pemrosesan akhir.
Bank Jakarta Perluas Program Biodigester
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan program tersebut membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat.
“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi,” ucap Arie.
Biodigester di Jakarta Utara juga bukan program pertama yang didukung Bank Jakarta.
Pada November 2025, Bank Jakarta bersama Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta dan Pemprov DKI meresmikan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Fasilitas tersebut dikembangkan untuk mengolah limbah domestik secara anaerob dan menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Program Pekayon memiliki konteks yang sedikit berbeda karena berkaitan dengan sanitasi komunal dan dukungan terhadap target Stop Buang Air Besar Sembarangan atau Open Defecation Free (ODF). Namun, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pengembangan pemanfaatan teknologi biodigester oleh Bank Jakarta.
“Pengalaman dari program biodigester di Pekayon menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi di bidang lingkungan. Kini, kami memperluas pemanfaatan teknologi biodigester yang berasal dari pengolahan sampah organik yang berasal dari sumber melalui program kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”.
Sampah Organik Mulai Diolah dari Lingkungan Warga
Pengalaman di sejumlah wilayah Jakarta menunjukkan bahwa pengolahan sampah dari sumber bukan sekadar konsep.
Di RW 07 Joglo, Jakarta Barat, misalnya, sejak 1 Juni 2026 pemerintah menerapkan sistem pengangkutan sampah terpilah. Sampah organik diangkut setiap hari, residu dua kali seminggu, sampah anorganik sekali seminggu, dan minyak jelantah sebulan sekali.
Pemprov DKI mencatat sekitar 400 kilogram sampah organik terkumpul setiap hari di wilayah tersebut. Sekitar 90% di antaranya kemudian diolah menjadi kompos, eco enzyme, dan pakan maggot. Pengelolaan itu juga menghasilkan produk turunan seperti kompos, eco enzyme, maggot, dan sayuran dari kebun warga.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pengurangan sampah tidak selalu harus dimulai dari fasilitas berkapasitas besar.
Sebagian persoalan justru dapat ditangani dengan memisahkan sampah sejak awal, kemudian memilih teknologi pengolahan yang sesuai dengan karakteristik dan volume sampah di masing-masing wilayah.
Dalam konteks itu, biodigester komunal dapat menjadi salah satu pilihan untuk menangani fraksi organik yang relatif cepat membusuk dan berpotensi menimbulkan persoalan bau maupun emisi apabila tidak dikelola dengan baik.
Tekanan ke Bantargebang Mendorong Pengolahan dari Sumber
Kebutuhan tersebut semakin penting karena Jakarta sedang menghadapi tekanan terhadap sistem pengelolaan sampahnya.
Pemprov DKI pada Juli 2026 menyampaikan roadmap perubahan pengelolaan di TPST Bantargebang. Pada kuartal II 2026, praktik open dumping masih mendominasi dengan porsi 72,56%, sementara sampah yang diolah melalui berbagai fasilitas baru mencapai 7,59%. Untuk kuartal III dan IV 2026, pemerintah menargetkan porsi open dumping turun menjadi 50,34%, sementara pengolahan melalui berbagai fasilitas meningkat menjadi 20,28%.
Pada saat yang sama, pembatasan pembuangan sampah ke Bantargebang mulai menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat, misalnya, menyampaikan bahwa mulai Agustus 2026 hanya 50% sampah residu yang diarahkan ke Bantargebang sehingga pemilahan dari sumber perlu diperkuat.
Situasi tersebut membuat setiap kilogram sampah yang dapat dipilah dan diolah sebelum dikirim ke tempat pemrosesan akhir memiliki arti lebih besar.
Dalam skala Jakarta, biodigester Bank Jakarta memang belum akan mengubah neraca sampah kota secara signifikan. Tetapi program tersebut menempatkan pengolahan sampah di titik yang lebih dekat dengan sumber timbulan. Di sinilah nilai strategis program itu berada.
Bukan Sekadar Mengurangi Sampah
Bank Jakarta menyatakan program biodigester di Rorotan dan Rawa Badak merupakan bagian dari agenda keberlanjutan perusahaan, khususnya pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi gas rumah kaca dan pemanfaatan energi terbarukan.
Program ini juga dikaitkan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 7 mengenai energi bersih dan terjangkau, SDG 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta SDG 17 mengenai kemitraan.
Bagi perusahaan keuangan, keterlibatan dalam isu lingkungan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kegiatan sosial.
Bank memiliki posisi sebagai salah satu penggerak ekonomi. Pembiayaan, layanan transaksi, investasi, serta program TJSL dapat diarahkan untuk mendukung perubahan perilaku dan model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks Jakarta, peran tersebut dapat diterjemahkan melalui dukungan terhadap ekosistem kota, termasuk pengelolaan sampah, energi bersih, UMKM, transportasi, hingga pembangunan fasilitas publik.
Tantangan Setelah Biodigester Dibangun
Namun, keberhasilan biodigester tidak berhenti pada pembangunan fasilitas.
Teknologi pengolahan sampah membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten. Itu berarti sampah organik harus dipilah dari sampah lainnya sejak dari sumber.
Jika sampah organik bercampur dengan plastik, logam, bahan kimia atau material lain yang tidak sesuai, kualitas bahan baku dapat menurun dan operasi fasilitas menjadi lebih sulit.
Karena itu, keberhasilan program akan sangat bergantung pada perilaku warga dan pengelola di sekitar fasilitas.
Pemilahan harus berjalan. Pengumpulan harus konsisten. Operator harus memiliki kemampuan teknis. Biogas yang dihasilkan harus memiliki pemanfaatan yang jelas. Residu hasil proses juga harus dikelola sesuai standar.
Dengan kata lain, biodigester bukan mesin yang secara otomatis menyelesaikan persoalan sampah.
Ia merupakan satu mata rantai dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih panjang.
Model Komunal Lebih Dekat dengan Masyarakat
Pilihan membangun fasilitas di rusunawa dan TPS 3R juga memperlihatkan pendekatan yang berbeda dibandingkan membangun fasilitas pengolahan berskala kota.
Fasilitas komunal ditempatkan lebih dekat dengan masyarakat yang menghasilkan sampah.
Model tersebut memungkinkan proses pemilahan, pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan hasil berlangsung dalam satu ekosistem lokal.
Bagi masyarakat, manfaatnya juga lebih mudah terlihat.
Sampah organik yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah dapat berubah menjadi biogas. Sementara residu pengolahan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk pupuk organik.
Jika sistem tersebut berjalan konsisten, masyarakat tidak hanya menjadi penghasil sampah, tetapi ikut menjadi bagian dari rantai pengelolaannya.
Bank Jakarta dan Agenda Keberlanjutan
Bank Jakarta menempatkan program ini sebagai bagian dari perannya sebagai lembaga keuangan yang mendukung ekosistem ekonomi Jakarta.
Melalui pembiayaan dan aktivitas ekonomi, bank memiliki hubungan langsung dengan berbagai sektor yang menentukan perkembangan kota. Karena itu, agenda keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan operasional internal, tetapi juga bagaimana lembaga keuangan berkontribusi terhadap kebutuhan kota.
Program biodigester merupakan salah satu bentuk kontribusi tersebut.
Bank Jakarta berharap pembangunan fasilitas di Rorotan dan Rawa Badak dapat memperkuat pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus mendukung terciptanya lingkungan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program bukan hanya berapa banyak biogas yang dihasilkan atau berapa ton emisi yang dapat dikurangi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat mulai memilah sampah dari sumber, apakah sampah organik dapat dikurangi sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir, dan apakah teknologi tersebut dapat terus beroperasi setelah seremoni pembangunan selesai.
Dengan timbulan sampah Jakarta yang mencapai ribuan ton setiap hari, kota ini membutuhkan kombinasi solusi: pemilahan dari rumah, pengurangan sampah, daur ulang, pengolahan organik, teknologi pengolahan residu, serta fasilitas pemrosesan akhir yang dikelola secara aman.
Dua biodigester Bank Jakarta hanyalah bagian kecil dari sistem tersebut.
Namun, bagi dua komunitas di Jakarta Utara, program itu dapat menjadi titik awal untuk menunjukkan bahwa sebagian sampah yang selama ini berakhir sebagai beban kota masih dapat diolah menjadi energi dan produk yang memiliki nilai. ■
DIGIONARY:
● Biodigester — Teknologi yang mengolah bahan organik melalui proses biologis anaerob untuk menghasilkan biogas dan residu organik.
● Biogas — Gas yang dihasilkan dari penguraian bahan organik tanpa oksigen dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
● CO2e — Satuan yang digunakan untuk menyetarakan dampak berbagai gas rumah kaca dengan dampak karbon dioksida.
● Emisi Gas Rumah Kaca — Pelepasan gas yang berkontribusi terhadap peningkatan efek rumah kaca dan perubahan iklim.
● Energi Terbarukan — Energi yang berasal dari sumber yang dapat diperbarui secara alami, termasuk biomassa dan biogas.
● Open Dumping — Praktik pembuangan sampah dengan pengelolaan yang minim sehingga dapat menimbulkan risiko lingkungan dan kesehatan.
● Pupuk Organik — Bahan penyubur tanah yang berasal dari material organik yang telah melalui proses pengolahan.
● Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) — Rencana lembaga jasa keuangan untuk menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan dalam kegiatan usaha dan pengelolaannya.
● Sampah Organik — Sampah yang berasal dari bahan hayati dan dapat terurai secara biologis, seperti sisa makanan dan dedaunan.
● Sampah Residu — Sampah yang tersisa setelah proses pengurangan, pemilahan, penggunaan kembali, atau pengolahan dan tidak lagi memiliki nilai guna yang mudah dimanfaatkan.
● Sustainable Development Goals (SDGs) — Tujuan pembangunan berkelanjutan global yang mencakup aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.
● Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) — Fasilitas untuk memproses dan menempatkan sampah serta residu setelah tahapan pengelolaan sebelumnya.
● Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) — Fasilitas pengelolaan sampah yang menerapkan prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah.
● Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) — Komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.
● TPST Bantargebang — Fasilitas pengelolaan sampah yang digunakan untuk menangani sampah dari Jakarta dan berlokasi di Bantargebang, Kota Bekasi.
#BankJakarta #BankJakartaPeduli #Biodigester #SampahJakarta #SampahOrganik #PengelolaanSampah #Jakarta #JakartaUtara #Rorotan #RawaBadak #EnergiTerbarukan #Biogas #EkonomiSirkular #KeuanganBerkelanjutan #TJSL #ESG #SustainableFinance #Lingkungan #PerubahanIklim #SDGs
