Bank-bank global semakin agresif memanfaatkan artificial intelligence atau AI bukan hanya untuk efisiensi bisnis dan personalisasi layanan, tetapi juga sebagai alat utama melawan gelombang fraud digital yang kian canggih. Di saat penjahat siber memanfaatkan AI untuk mencuri identitas, membajak akun, dan memalsukan dokumen, industri perbankan dipaksa beralih dari sistem pertahanan reaktif menuju teknologi prediktif yang mampu mendeteksi ancaman sebelum serangan terjadi.
Fokus:
■ Bank global mulai menjadikan AI sebagai alat utama untuk deteksi fraud, efisiensi, dan personalisasi layanan.
■ Fraud berbasis AI melonjak tajam, dengan pencurian identitas dan pembajakan akun jadi ancaman terbesar.
■ Perbankan didorong beralih dari sistem keamanan reaktif ke teknologi prediktif berbasis AI.
Industri perbankan global memasuki fase baru dalam pemanfaatan artificial intelligence. Jika sebelumnya AI lebih banyak dipandang sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memangkas biaya, kini teknologi tersebut mulai menjadi benteng utama dalam menghadapi gelombang fraud digital yang semakin sulit dideteksi.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, nasabah menuntut layanan yang lebih cepat, personal, dan real-time. Di sisi lain, para pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan AI untuk melancarkan penipuan yang jauh lebih meyakinkan, lebih murah dijalankan, dan bisa dilakukan dalam skala besar.
Kondisi ini membuat bank-bank besar di dunia mulai menempatkan AI sebagai prioritas strategis. Salah satu contohnya adalah langkah HSBC yang baru saja menunjuk pejabat AI pertamanya. Bank terbesar di Eropa itu bahkan tetap mengalokasikan anggaran khusus untuk perekrutan Chief AI Officer meski sedang menjalankan efisiensi besar-besaran dan menargetkan pemangkasan biaya hingga US$1,5 miliar pada akhir tahun.
Chief Executive Officer HSBC, Georges Elhedery, mengatakan kebutuhan nasabah terhadap layanan yang cepat dan sesuai kebutuhan pribadi membuat AI menjadi elemen penting dalam masa depan industri perbankan.
“Nasabah kami semakin mengharapkan bank mereka mampu memberikan layanan yang secara unik selaras dengan kebutuhan spesifik mereka, dan cepat. Kami sedang membangun bank yang dirancang untuk masa depan dan AI memainkan peran kunci dalam bagaimana kami mencapainya,” ujarnya mengutip Financial Times.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul ancaman yang semakin nyata. AI kini tidak hanya digunakan bank, tetapi juga dipakai para pelaku kejahatan untuk membobol sistem keamanan, memalsukan identitas, membajak akun, hingga meniru suara dan wajah seseorang secara nyaris sempurna.
Di United Kingdom, lonjakan fraud berbasis AI sudah mulai terlihat. Data dari Cifas menunjukkan lebih dari 444.000 kasus fraud tercatat sepanjang 2025, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah. Dari jumlah itu, sekitar 72% terkait dengan pencurian identitas dan pembajakan akun.
Kasus pencurian identitas di sektor perbankan juga naik sekitar 10% menjadi lebih dari 63.000 kasus. Modus yang digunakan semakin beragam, mulai dari deepfake, identitas sintetis, dokumen palsu, hingga pengambilalihan akun melalui SIM swap dan pencurian data pribadi.
Menurut Chief Executive Officer Cifas, Mike Haley, kejahatan fraud kini berubah menjadi industri global yang semakin terorganisasi.
“Data dan intelijen kami menunjukkan bagaimana fraud sedang diindustrialisasi, dengan AI mempercepat kejahatan yang semakin digital, terorganisasi, dan internasional. Fraud harus diperlakukan sebagai prioritas penegakan hukum nasional.”
Pandangan serupa disampaikan oleh Global Managing Partner Banking and Financial Markets IBM, Shanker Ramamurthy. Menurut dia, AI menciptakan ketimpangan inovasi karena bank harus tetap mematuhi regulasi dan etika, sementara para penjahat bisa menggunakan teknologi tanpa batasan.
“Ancaman berkembang secara eksponensial. Tantangannya bukan hanya karena penjahat menggunakan alat baru, tetapi karena mereka menggunakan AI untuk mengeksploitasi kerentanan yang sudah ada dengan presisi yang sangat tinggi,” katanya.
Ia menilai serangan fraud kini berubah menjadi bentuk “peniruan kognitif”, di mana sistem otomatis mampu meniru perilaku nasabah yang sah sehingga hampir tidak terlihat oleh sistem keamanan lama.
Fenomena tersebut terlihat dari maraknya penipuan berbasis AI generatif. Pelaku kini dapat membuat email, pesan, panggilan telepon, hingga video palsu yang terdengar dan terlihat sangat meyakinkan. Mereka juga dapat membuat situs pinjaman atau hipotek palsu untuk mencuri data sensitif, memungut biaya pendaftaran, lalu menggunakan identitas korban untuk mengajukan pembiayaan resmi sebelum menghilang.
Global Head of Financial Services Neo4j, Michael Down, mengatakan sistem keamanan tradisional sering gagal melihat pola tersembunyi di balik berbagai transaksi mencurigakan.
“Permukaan terlihat seperti permintaan yang terpisah dari orang yang berbeda, padahal sebenarnya itu adalah penyamaran yang sengaja dibuat penjahat. Permintaan ini terlihat dan terdengar sangat meyakinkan sehingga Anda harus mengidentifikasi pola perangkat dan perilaku akun di seluruh jaringan untuk menemukan pelakunya,” katanya.
Ancaman itu diperkirakan akan semakin besar. Dalam laporan terbaru, Cifas mencatat bahwa lebih dari 1.200 kasus fraud kini terjadi setiap hari di Inggris. Fraud bahkan telah menyumbang sekitar 45% dari seluruh tindak kejahatan di negara tersebut.
Riset lain menunjukkan serangan fraud berbasis AI juga berkembang pesat di sektor identitas digital. Kajian akademik mengenai AI-based identity fraud detection menyebut deepfake, dokumen sintetis, dan identitas palsu kini menjadi ancaman baru yang membuat proses verifikasi konvensional semakin tidak memadai.
Di kawasan Asia Tenggara, ancaman serupa mulai meningkat. Laporan iProov menunjukkan serangan berbasis injeksi dan manipulasi identitas digital di kawasan ini melonjak sekitar 720% pada kuartal III-2025.
Karena itu, banyak pakar menilai bank tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem keamanan tradisional yang bekerja setelah fraud terjadi. Bank harus beralih ke sistem prediktif yang mampu mendeteksi pola mencurigakan sebelum transaksi dilakukan.
“Untuk menutup kesenjangan, pemimpin keamanan di bank harus beralih dari pertahanan reaktif menuju intelijen prediktif,” kata Shanker Ramamurthy.
Tujuannya bukan hanya menangkap fraud lebih cepat, tetapi membangun ekosistem yang tangguh yang mampu mengantisipasi ancaman dan menghentikan jalur serangan sebelum transaksi berbahaya dimulai.
Digionary:
● Account Takeover: Pengambilalihan akun nasabah oleh pihak yang tidak berwenang.
● AI Generatif: Teknologi AI yang mampu membuat teks, suara, gambar, atau video baru secara otomatis.
● Deepfake: Teknologi yang memanipulasi video atau audio sehingga terlihat seperti asli.
● Fraud Digital: Penipuan yang dilakukan melalui platform digital, aplikasi, atau internet.
● Identity Fraud: Kejahatan menggunakan identitas orang lain untuk memperoleh keuntungan.
● Predictive Intelligence: Teknologi analisis yang digunakan untuk memprediksi ancaman sebelum terjadi.
● SIM Swap: Teknik penipuan dengan mengambil alih nomor ponsel korban untuk mengakses akun digital.
● Synthetic Identity: Identitas palsu hasil gabungan data asli dan data fiktif.
● Verification System: Sistem untuk memastikan identitas dan keaslian pengguna.
● Voice Cloning: Teknologi yang meniru suara seseorang menggunakan AI.
#AI #FraudDigital #Perbankan #CyberSecurity #IdentityFraud #Deepfake #HSBC #BankingAI #ArtificialIntelligence #DigitalBanking #CyberFraud #AccountTakeover #FinancialCrime #DataProtection #VoiceCloning #SIMSwap #SyntheticIdentity #BankingTechnology #Fintech #FraudDetection
