Lonjakan Dispute 35%, Visa Luncurkan Senjata AI untuk Percepat Penyelesaian Sengketa

- 4 April 2026 - 07:52

Visa Inc. meluncurkan enam alat berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk merombak proses sengketa transaksi kartu kredit (charge dispute) yang selama ini lambat dan manual. Dengan volume sengketa mencapai lebih dari 106 juta kasus pada 2025—naik 35% sejak 2019—Visa mencoba menggeser sistem dari reaktif menjadi proaktif, sekaligus memangkas biaya, waktu, dan friksi dalam ekosistem pembayaran global.


Fokus:

■ Visa meluncurkan enam tools AI untuk merombak proses dispute transaksi.
■ Volume sengketa global melonjak 35% sejak 2019, mencapai 106 juta kasus.
■ AI digunakan untuk mengubah sistem dari reaktif menjadi proaktif.


Lonjakan sengketa transaksi kartu kredit yang kian tak terkendali memaksa industri pembayaran global mencari solusi baru. Visa Inc. memilih jalan radikal: mengganti proses manual yang berbelit dengan kecerdasan buatan—sebuah langkah yang bisa mengubah cara bank, merchant, hingga konsumen menghadapi konflik transaksi.

Industri pembayaran global tengah menghadapi satu masalah klasik yang semakin membesar, yakni sengketa transaksi atau charge dispute. Ketika nasabah tidak mengenali transaksi di kartu kreditnya, proses klarifikasi kerap panjang, mahal, dan penuh friksi.

Kini, Visa Inc. mencoba memutus rantai masalah itu dengan meluncurkan enam solusi berbasis Artificial Intelligence (AI).

Langkah yang diambil Visa bukan tanpa alasan. Sepanjang 2025, Visa mencatat lebih dari 106 juta kasus sengketa transaksi di seluruh dunia—melonjak 35% dibandingkan 2019. Angka ini mencerminkan meningkatnya kompleksitas ekosistem pembayaran digital, sekaligus lemahnya sistem lama yang masih bergantung pada proses manual.

“Beberapa tantangan muncul karena sistem back-office masih sangat manual,” ujar Andrew Torre, Presiden Value-Added Services Visa seperti  dikutip CNBC.  “Kami harus memikirkan ulang pendekatan ini dalam skala besar,” tambahnya.

Dari Manual ke Mesin Cerdas

Solusi baru Visa dibagi menjadi dua kelompok besar, yaknu untuk merchant, serta untuk bank penerbit dan acquirer. Tiga alat pertama ditujukan bagi merchant. Fungsinya bukan sekadar menyelesaikan sengketa, tetapi mencegahnya sejak awal. Dengan AI generatif, merchant bisa merespons potensi sengketa secara otomatis, memahami detail transaksi lebih dalam dan mengurangi kebingungan pelanggan terhadap tagihan yang tidak dikenali.

Fenomena “tidak mengenali transaksi” memang menjadi penyebab utama dispute. Dalam banyak kasus, nama merchant di laporan kartu kredit berbeda dari brand yang diingat pelanggan.

Dengan AI, Visa dapat menyajikan informasi transaksi yang lebih detail kepada bank dan nasabah—membantu menjelaskan asal-usul transaksi secara transparan.

Analisis Cerdas untuk Bank

Sementara itu, tiga tools lainnya ditujukan bagi bank dan lembaga keuangan. Sistem ini menggunakan model AI prediktif untuk menganalisis sengketa secara per kasus, merangkum dokumen secara otomatis
mengisi data (auto-fill) dan mengelola seluruh proses dispute dalam satu platform terintegrasi.

Pendekatan ini diharapkan mengubah cara kerja industri—dari sekadar merespons masalah menjadi mengantisipasi sebelum terjadi. “Kami ingin memberikan insight dan data agar mereka bisa bergerak dari reaktif menjadi proaktif,” sambung Torre.

Bagian dari Transformasi Besar Industri Keuangan

Langkah Visa mencerminkan tren yang lebih luas di sektor keuangan global. Raksasa perbankan seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs sudah lebih dulu memanfaatkan AI untuk efisiensi operasional, termasuk mengurangi kebutuhan tenaga kerja.

Bahkan BNY Mellon dilaporkan menggelontorkan sekitar US$3,8 miliar untuk teknologi pada 2025—setara sekitar 19% dari total pendapatan. Artinya, AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan fondasi baru dalam model bisnis keuangan.

Efisiensi: Waktu, Biaya, dan Pengalaman Nasabah

Visa menargetkan dampak konkret dari inovasi ini a.l. untuk  mempercepat penyelesaian sengketa menekan biaya operasional, mengurangi kebingungan pelanggan, serta meningkatkan pengalaman pengguna.

Selain itu, perusahaan juga mulai mengembangkan solusi lain berbasis AI, termasuk fitur pengelola langganan (subscription manager) yang memungkinkan pengguna membatalkan langganan secara langsung.

Mayoritas tools AI ini dijadwalkan mulai tersedia secara luas pada akhir 2026. “Kami percaya solusi ini membuat sengketa jauh lebih mudah dikelola dan diselesaikan. Hasilnya akan lebih baik untuk semua pihak,” kata Torre.


Digionary:

● Acquirer: Bank atau lembaga yang memproses pembayaran untuk merchant
● AI (Artificial Intelligence): Teknologi yang memungkinkan sistem belajar dan mengambil keputusan otomatis
● Charge Dispute: Sengketa antara nasabah dan bank terkait transaksi kartu kredit
● Generative AI: AI yang mampu membuat konten atau respons otomatis
● Issuer: Bank penerbit kartu kredit kepada nasabah
● Merchant: Pelaku usaha yang menerima pembayaran dari pelanggan
● Predictive AI: AI yang digunakan untuk memprediksi hasil berdasarkan data
● Subscription Manager: Fitur untuk mengelola dan membatalkan langganan digital

#Visa #ArtificialIntelligence #Fintech #DigitalPayment #ChargeDispute #BankingInnovation #AIinFinance #FinancialTechnology #PaymentSystem #DigitalTransformation #GlobalFinance #CustomerExperience #Automation #FutureOfBanking #TechInnovation #DataAnalytics #SmartFinance #CashlessSociety #BankingTrends #AIRevolution

Comments are closed.