Pasar properti Indonesia dinilai tetap berada di jalur positif pada 2026, didorong oleh meningkatnya transaksi rumah second yang dianggap menjadi katalis baru pertumbuhan sektor perumahan. Segmen ini dinilai membuka akses hunian lebih terjangkau, berlegalitas jelas, serta berpotensi menjadi solusi backlog perumahan nasional yang masih tinggi.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Pasar rumah second dinilai jadi katalis baru properti Indonesia di tengah backlog perumahan yang masih tinggi.
■ Banyak rumah second berada di lokasi matang dengan harga lama sehingga dinilai lebih terjangkau dan bernilai investasi.
■ Lelang puluhan ribu aset properti dan skema KPR khusus diperkirakan dorong likuiditas pasar sekunder.
Pasar properti nasional memasuki fase yang berbeda pada 2026. Di tengah terbatasnya suplai rumah baru dan tingginya kebutuhan hunian, pasar rumah second atau rumah bekas mulai muncul sebagai penopang baru pertumbuhan sektor ini. Segmen yang selama ini kerap dianggap alternatif, kini justru diproyeksikan menjadi motor utama yang menjaga pasar properti tetap bergerak positif.
Pasar properti Indonesia diperkirakan tetap berada dalam tren positif seiring meningkatnya aktivitas di pasar rumah second yang kian mendapat perhatian pelaku industri maupun investor.
Anggota Satgas Perumahan sekaligus pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai penguatan pasar sekunder dapat menjadi katalis penting bagi industri properti nasional. Selain memperluas akses kepemilikan rumah, segmen ini dinilai lebih realistis bagi generasi muda, termasuk Gen Z, yang mulai memasuki pasar hunian.
“Properti saat ini on the track karena ada momentum rumah second ke pasar sekunder. Ini menjadi peluang besar khususnya bagi Gen Z untuk mulai masuk ke pasar properti dengan legalitas yang sudah jelas dan harga yang masih kompetitif,” ujar Panangian.

Menurut dia, pertumbuhan pasar rumah second tidak lepas dari kondisi struktural perumahan Indonesia yang masih menghadapi backlog besar.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kebutuhan rumah nasional masih belum sepenuhnya terpenuhi, dengan jutaan keluarga belum memiliki hunian layak.
Di sisi lain, keterbatasan suplai rumah baru membuat pasar sekunder menjadi alternatif yang semakin rasional. Rumah second dinilai lebih menarik karena banyak berada di lokasi yang sudah matang secara infrastruktur, seperti kawasan perkotaan dengan akses transportasi, fasilitas publik, dan nilai tanah yang terus meningkat.
“Rumah second biasanya berada di lokasi premium dengan harga tanah yang masih menggunakan level harga puluhan tahun lalu. Ibaratnya, kita beli tanahnya saja sudah untung,” kata Panangian.
Ia juga menyebut dalam waktu dekat akan ada pelepasan puluhan ribu aset rumah second melalui mekanisme lelang, yang diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Aset tersebut mencakup rumah subsidi, rumah komersial, apartemen, hingga kavling dengan rentang harga yang beragam.
Selain faktor lokasi dan harga, aspek legalitas juga menjadi daya tarik utama. Menurut Panangian, sebagian besar aset yang masuk pasar telah melalui proses verifikasi sehingga memberikan kepastian hukum bagi pembeli. Skema pembiayaan seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga mulai disesuaikan untuk mendukung transaksi rumah second.
“Pasar rumah second ini menarik karena sebagian besar aset sudah berada di kawasan yang hidup, infrastrukturnya terbentuk, dan harga tanah terus meningkat. Dari sisi investasi maupun hunian, potensinya masih sangat besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan pasar sekunder dapat membantu meningkatkan likuiditas industri properti secara keseluruhan. Selama ini, pasar properti Indonesia dinilai masih terlalu terkonsentrasi pada produk rumah baru, sementara pasar sekunder belum tergarap optimal.
“Selama ini masyarakat terlalu fokus pada rumah baru, padahal rumah second juga memiliki value yang tinggi. Dengan edukasi yang tepat, pasar sekunder bisa menjadi salah satu motor baru pertumbuhan sektor properti nasional,” kata Panangian. ●
DIGI-INSIGHTS:
Pergerakan pasar rumah second menandai pergeseran penting dalam struktur industri properti Indonesia, dari dominasi supply-driven (rumah baru dari developer) menuju demand-driven market yang lebih realistis dan berbasis keterjangkauan. Dengan backlog perumahan yang masih besar dan harga rumah baru yang terus meningkat, pasar sekunder secara tidak langsung menjadi “katup pengaman” sistem perumahan nasional. Namun, tantangan ke depan bukan hanya soal ketersediaan unit, melainkan juga literasi konsumen, transparansi harga, serta kesiapan sistem pembiayaan agar pasar sekunder tidak sekadar menjadi alternatif, tetapi benar-benar menjadi pilar utama dalam ekosistem perumahan yang lebih inklusif dan efisien. ●
DIGIONARY:
● Backlog perumahan: Kekurangan jumlah rumah layak huni dibanding kebutuhan masyarakat.
● KPR (Kredit Pemilikan Rumah): Skema pembiayaan bank untuk pembelian rumah secara cicilan.
● Likuiditas pasar: Kemampuan pasar dalam memperjualbelikan aset dengan cepat tanpa mengubah harga signifikan.
● Pasar sekunder: Transaksi jual beli properti bekas atau yang sudah pernah dimiliki sebelumnya.
● Rumah second: Hunian yang dijual kembali oleh pemilik sebelumnya, bukan rumah baru dari pengembang.
#pasarproperti #rumahsecond #propertiindonesia #kpr #backlogperumahan #investasiproperti #genzproperty #rumahmurah #propertinasional #perumahan #realestateindonesia #pasarsekunder #hunian #propertitrend #lelangproperti #investasi #propertymarket #ekonomiproperti #rumahbekas #finansial
