Generasi Z masih memakai AI hampir setiap hari, tetapi kepercayaan mereka terhadap teknologi ini justru terus menurun. Di balik penggunaan yang tetap tinggi, muncul rasa cemas, marah, dan skeptis karena AI dinilai mengancam pekerjaan, melemahkan kemampuan berpikir, dan hadir lebih cepat daripada kesiapan sekolah, perusahaan, maupun pemerintah. Bagi banyak anak muda, masalahnya bukan lagi soal apakah AI berguna, tetapi apakah institusi di sekitar mereka benar-benar siap membantu mereka bertahan di era baru ini.
Fokus:
■ Gen Z masih aktif menggunakan AI, tetapi semakin tidak percaya pada dampaknya.
■ Kekhawatiran terbesar datang dari ancaman terhadap pekerjaan, pendidikan, dan masa depan karier.
■ Kampus, perusahaan, dan pemerintah dinilai belum cukup siap mendampingi generasi muda menghadapi era AI.
Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, smartphone, hingga chatbot berbasis AI. Namun, justru generasi inilah yang kini mulai menunjukkan rasa tidak nyaman terhadap ledakan kecerdasan buatan.
Masalahnya bukan karena mereka tidak memahami AI. Sebaliknya, mereka terlalu memahami dampaknya.
Banyak anak muda melihat AI bukan lagi sebagai alat yang mempermudah hidup, melainkan sebagai teknologi yang berpotensi menggerus kesempatan kerja, mengurangi nilai pendidikan formal, dan membuat masa depan terasa makin tidak pasti. Bagi mereka, AI bukan sekadar inovasi. AI adalah simbol dari dunia kerja yang makin sempit, biaya kuliah yang makin mahal, dan perusahaan yang lebih memilih otomatisasi ketimbang merekrut tenaga manusia.
Survei terbaru dari Gallup menunjukkan 51% Gen Z di Amerika Serikat masih menggunakan AI setidaknya sekali dalam seminggu. Namun di saat yang sama, rasa antusias mereka turun tajam. Hanya 22% yang mengaku masih merasa bersemangat terhadap AI, turun dari 36% tahun lalu. Sementara itu, rasa marah terhadap AI naik dari 22% menjadi 31%.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: penggunaan AI masih tinggi, tetapi kepercayaan terhadap AI justru makin rapuh.
Bagi Anak Muda, AI Identik dengan Ancaman Pekerjaan
Kekhawatiran terbesar Gen Z bukan pada teknologinya, tetapi pada dampaknya terhadap pekerjaan. Mereka melihat perusahaan mulai memangkas perekrutan entry-level, mengurangi kebutuhan tenaga administrasi, customer service, analis junior, hingga pekerjaan kreatif dasar.
Banyak lulusan baru merasa mereka bersaing bukan hanya dengan kandidat lain, tetapi juga dengan software, chatbot, dan mesin otomatis.
CEO Palantir Technologies Alex Karp, dikutip dari TechRadar, bahkan secara terbuka mengatakan AI akan menghancurkan banyak pekerjaan berbasis humaniora. Sementara CEO Anthropic Dario Amodei memperingatkan bahwa AI berpotensi menghilangkan hingga separuh posisi white collar entry-level.
Tidak mengherankan jika hampir separuh Gen Z percaya risiko AI di tempat kerja lebih besar dibanding manfaatnya. Banyak dari mereka juga mulai merasa bahwa bekerja keras, kuliah mahal, dan membangun karier tidak lagi memberikan jaminan masa depan yang stabil.
Bahkan, survei dari Writer dan Workplace Intelligence menunjukkan 44% pekerja Gen Z à Gen Z terhadap AI juga muncul karena mereka merasa sekolah dan kampus tidak cukup cepat beradaptasi.
Banyak institusi pendidikan masih bingung menentukan apakah AI harus dilarang, dibatasi, atau dipakai sebagai alat bantu belajar. Di sisi lain, mahasiswa justru sudah menggunakan AI untuk mencari referensi, menyusun tugas, mempersiapkan wawancara kerja, hingga mempelajari keterampilan baru.
Masalahnya, mereka juga sadar AI bisa merusak kemampuan berpikir kritis dan kreativitas jika dipakai tanpa batas.
Sekitar 80% Gen Z percaya penggunaan AI yang terlalu fokus pada efisiensi akan membuat kemampuan belajar manusia menurun dalam jangka panjang. Banyak juga yang menilai AI membuat mereka lebih cepat mendapatkan jawaban, tetapi tidak otomatis membuat mereka lebih memahami sesuatu secara mendalam.
Ada ironi besar di sini. Anak muda sadar mereka harus menguasai AI agar tidak tertinggal. Tetapi di saat yang sama, mereka juga takut bahwa semakin mereka bergantung pada AI, semakin mereka kehilangan kemampuan berpikir sendiri.
Masalah Terbesar Ada pada Institusi yang Gagal Memberi Arah
Yang membuat Gen Z marah sebenarnya bukan AI itu sendiri. Yang membuat mereka marah adalah perasaan ditinggalkan.
Mereka melihat pemerintah terlalu lambat membuat aturan. Mereka melihat kampus belum punya kurikulum yang relevan. Mereka melihat perusahaan lebih fokus mengejar efisiensi daripada membantu pekerja beradaptasi.
Dalam banyak kasus, generasi muda merasa mereka diminta menghadapi perubahan besar tanpa perlindungan, tanpa panduan, dan tanpa kepastian.
Karena itu, penolakan Gen Z terhadap AI bukanlah bentuk ketakutan terhadap teknologi. Ini adalah bentuk kritik terhadap institusi yang dianggap gagal menyiapkan mereka menghadapi masa depan.
Di Indonesia, situasinya juga tidak jauh berbeda. Survei global PwC menunjukkan Gen Z Indonesia yang menggunakan AI setiap hari memang merasa lebih produktif dan lebih aman secara karier dibanding yang jarang memakai AI. Namun, kesenjangan akses pelatihan dan keterampilan antarlevel jabatan masih besar. Banyak pekerja muda merasa mereka harus belajar sendiri tanpa dukungan yang cukup dari perusahaan.
Pada akhirnya, AI mungkin akan tetap dipakai oleh generasi muda. Tetapi kepercayaan mereka tidak akan pulih hanya karena teknologi semakin canggih. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa sekolah, perusahaan, dan pemerintah benar-benar hadir untuk membantu mereka bertahan dan berkembang di tengah perubahan.
Digionary:
● AI Anxiety: Kecemasan terhadap dampak AI terhadap pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial.
● Automation: Penggunaan teknologi untuk menggantikan pekerjaan atau proses yang sebelumnya dilakukan manusia.
● Entry-Level Job: Posisi kerja tingkat awal yang biasanya diisi lulusan baru atau pekerja muda.
● Generative AI: Teknologi AI yang dapat menghasilkan teks, gambar, video, atau kode secara otomatis.
● Gen Z: Generasi yang lahir sekitar 1997–2012 dan tumbuh di era digital.
● Humaniora: Bidang studi seperti sastra, komunikasi, sejarah, seni, dan ilmu sosial.
● Reskilling: Proses mempelajari keterampilan baru untuk berpindah ke jenis pekerjaan lain.
● Upskilling: Proses meningkatkan kemampuan agar tetap relevan dengan kebutuhan kerja baru.
● White Collar: Pekerjaan kantoran atau profesional seperti administrasi, keuangan, hukum, dan pemasaran.
● Workforce Transition: Perubahan besar dalam struktur tenaga kerja akibat teknologi atau kondisi ekonomi.
#GenZ #ArtificialIntelligence #AI #GenZvsAI #FutureOfWork #JobDisplacement #Automation #WorkforceTransformation #AIAnxiety #DigitalEconomy #FutureJobs #EmployeeReskilling #Upskilling #EducationCrisis #YouthWorkforce #TechDisruption #AIAdoption #CriticalThinking #CareerAnxiety #WorkplaceAI
