AI Akan Belanja dan Membayar Sendiri? Visa Mulai Bangun Infrastruktur Agentic Commerce

- 13 Juni 2026 - 14:23

Visa mulai membangun fondasi pembayaran otonom berbasis kecerdasan buatan (AI) di Afrika Selatan dengan melibatkan bank-bank lokal dalam program khusus yang memungkinkan AI melakukan transaksi atas nama pengguna. Namun, survei terbaru menunjukkan hanya 23% konsumen yang bersedia mempercayakan pembelian kepada AI agent. Di tengah pesatnya perkembangan agentic commerce, tantangan terbesar industri pembayaran bukan lagi teknologi, melainkan membangun kepercayaan, keamanan, dan tata kelola di era ketika AI dapat menjadi pelaku transaksi sekaligus alat kejahatan siber.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Visa mulai menyiapkan infrastruktur pembayaran otonom berbasis AI, meski mayoritas konsumen belum siap mempercayakan uang mereka kepada AI.
■ AI agent diproyeksikan mampu mencari produk, membandingkan harga, dan menyelesaikan transaksi tanpa campur tangan manusia secara langsung.
■ Di saat AI mendorong inovasi pembayaran, pelaku kejahatan juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan skala dan efektivitas penipuan digital.


Industri pembayaran global mulai memasuki babak baru. Jika selama ini kecerdasan buatan hanya berperan sebagai asisten digital, dalam beberapa tahun ke depan AI diproyeksikan dapat berbelanja, membandingkan harga, memilih produk, hingga menyelesaikan pembayaran secara mandiri atas nama pengguna.

Visa menjadi salah satu pemain pertama yang secara serius mempersiapkan infrastruktur tersebut. Perusahaan pembayaran global itu mulai melibatkan bank-bank di Afrika Selatan dalam program yang memungkinkan transaksi dilakukan oleh AI agent secara otonom.

Namun ada satu persoalan mendasar yang belum terpecahkan, yakni soal kepercayaan konsumen. Survei Stay Secure 2026 yang dilakukan Visa bersama Wakefield Research terhadap 5.800 responden di 17 negara kawasan Eropa Tengah, Timur Tengah, dan Afrika menunjukkan hanya 23% konsumen Afrika Selatan yang bersedia mempercayakan AI agent untuk melakukan pembelian atas nama mereka.

Data tersebut menunjukkan perkembangan teknologi berjalan jauh lebih cepat dibanding kesiapan masyarakat untuk menyerahkan kendali keuangan kepada mesin.

“Agentic commerce pada dasarnya berarti Anda memberi instruksi kepada AI agent untuk melakukan sesuatu, kemudian AI tersebut akan melakukan riset, membandingkan pilihan, dan sesuai batasan yang telah ditentukan pengguna, menyelesaikan transaksi atas nama pengguna,” kata Country Head Visa South Africa, Lineshree Moodley seperti dikutip techcentral.co.za.

Menurut Visa, belum ada transaksi agentic commerce yang benar-benar diluncurkan secara komersial di Afrika Selatan. Namun sejumlah bank lokal telah bergabung dalam program Visa Agentic Ready yang dirancang untuk mempersiapkan lembaga keuangan menghadapi era transaksi berbasis AI.

Tiga Lapisan Infrastruktur

Visa membangun ekosistem pembayaran AI melalui tiga komponen utama. Pertama adalah Visa Intelligent Commerce, yaitu kumpulan API yang memungkinkan autentikasi dan personalisasi transaksi yang dilakukan AI agent.

Kedua adalah Visa Agentic Ready Programme yang mempersiapkan bank dan merchant agar mampu memproses transaksi yang dijalankan AI secara otomatis.

Ketiga adalah Visa Trusted Agent Protocol yang berfungsi memastikan bahwa transaksi benar-benar dilakukan oleh AI agent yang sah dan bekerja berdasarkan instruksi asli dari pengguna.

Kombinasi ketiga lapisan tersebut menjadi fondasi bagi model perdagangan baru yang dikenal sebagai agentic commerce.

Dalam skenario ini, pengguna cukup memberikan instruksi seperti membeli tiket pesawat termurah, memesan hotel sesuai preferensi, atau mencari harga terbaik untuk sebuah produk. Selanjutnya AI akan menjalankan seluruh proses hingga pembayaran selesai.

Siapa Bertanggung Jawab Jika AI Salah?

Salah satu pertanyaan terbesar dalam model transaksi baru ini adalah soal tanggung jawab ketika terjadi kesalahan atau penipuan.

Head of Risk Visa untuk Afrika Timur dan Afrika Selatan, Irene Auma, mengatakan bahwa aturan yang berlaku tetap sama seperti transaksi Visa saat ini. “Pembayaran tetap dilakukan berdasarkan instruksi konsumen melalui institusi keuangan yang sama kepada merchant,” kata Auma.

Menurut dia, jika terjadi penipuan, proses investigasi dan penentuan tanggung jawab akan dilakukan berdasarkan mekanisme yang selama ini digunakan Visa.

Meski demikian, Visa belum secara eksplisit menyatakan bahwa agentic commerce lebih aman dibanding sistem pembayaran konvensional. Auma hanya menegaskan bahwa teknologi tersebut dirancang dengan standar keamanan tinggi dan pengukuran keamanan dilakukan berdasarkan analisis transaksi yang telah diproses.

AI Jadi Senjata Baru Penjahat Siber

Di saat Visa membangun AI untuk mempermudah transaksi, teknologi yang sama juga dimanfaatkan pelaku kejahatan digital.

Visa mengungkapkan bahwa sekitar 42,5% upaya penipuan yang terdeteksi kini melibatkan AI. Bahkan, jumlah penipuan berbasis AI meningkat lebih dari 1.210% sepanjang 2025.

Menurut Auma, kelompok pelaku kejahatan kini semakin jarang mengandalkan metode tradisional. “Pelaku ancaman sudah menggunakan AI agent untuk menjalankan penipuan. Mereka tidak lagi bergantung pada manusia untuk menelepon korban atau mengirim email palsu. Saat ini mereka sudah memiliki skala operasi yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Sebagai respons, Visa mengklaim teknologi deteksi penipuannya yang berbasis AI mampu mencapai tingkat akurasi antara 92% hingga 98%, jauh di atas sistem berbasis aturan konvensional yang rata-rata hanya mencapai sekitar 25%.

Perusahaan tersebut juga menyebut telah menginvestasikan lebih dari US$13 miliar untuk teknologi pencegahan penipuan secara global.

Anak-Anak Menjadi Target Baru

Visa juga memperingatkan munculnya tren baru dalam kejahatan digital. Anak-anak dan remaja kini semakin sering dijadikan pintu masuk oleh pelaku penipuan untuk mengakses sistem keuangan keluarga.

Modus yang digunakan umumnya memanfaatkan platform gim daring dan media sosial untuk memengaruhi anak-anak agar tanpa sadar membantu pelaku melakukan transaksi. Survei yang sama menunjukkan 53% konsumen Afrika Selatan yang berbelanja melalui media sosial pernah mengalami penipuan di platform tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan pembayaran di era AI tidak hanya terkait teknologi, tetapi juga edukasi digital dan perlindungan konsumen.

Industri Pembayaran Memasuki Fase Baru

Langkah Visa menunjukkan bahwa industri pembayaran global sedang bergerak menuju era autonomous finance, ketika AI tidak lagi hanya membantu pengguna membuat keputusan, tetapi juga menjadi pelaksana keputusan tersebut. Perkembangan ini diperkirakan akan mengubah cara bank, merchant, dan penyedia layanan keuangan beroperasi.

Menurut berbagai proyeksi industri, pasar agentic AI global diperkirakan tumbuh sangat cepat dalam lima tahun ke depan karena semakin banyak perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam proses transaksi, layanan pelanggan, manajemen keuangan, dan pengambilan keputusan otomatis.
Namun, keberhasilan transformasi tersebut akan sangat bergantung pada satu faktor utama: kemampuan industri membangun kepercayaan yang setara dengan kecanggihan teknologinya. ●


DIGI-INSIGHTS:

Perkembangan agentic commerce menandai perubahan fundamental dalam industri pembayaran. Selama puluhan tahun, bank dan penyedia kartu kredit membangun sistem yang berfokus pada interaksi manusia. Kini, pelanggan mungkin bukan lagi manusia secara langsung, melainkan AI agent yang bertindak atas nama mereka. Ini berarti bank perlu mendesain ulang pengalaman digital, keamanan, hingga proses autentikasi agar kompatibel dengan ekonomi yang dijalankan oleh mesin.

Bagi industri perbankan Indonesia, langkah Visa menjadi sinyal penting bahwa persaingan masa depan tidak hanya terjadi di aplikasi mobile banking atau super app. Bank harus mulai mempersiapkan infrastruktur agar produk dan layanan mereka dapat ditemukan, dipahami, dan dipilih oleh AI agent. Dalam era agentic commerce, algoritma berpotensi menjadi “nasabah baru” yang mengambil keputusan berdasarkan harga, kualitas layanan, reputasi, dan kecepatan transaksi.

Namun peluang besar tersebut dibayangi risiko yang tidak kalah besar. Ketika AI digunakan untuk bertransaksi, AI juga digunakan oleh penjahat siber untuk melakukan penipuan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu, investasi bank ke depan kemungkinan akan bergeser dari sekadar digitalisasi layanan menuju pembangunan AI Trust Infrastructure, yaitu kombinasi teknologi, tata kelola, keamanan, dan pengawasan yang memastikan AI dapat dipercaya sebelum diberi kewenangan mengelola uang nasabah. ●


DIGIONARY:

● Agentic Commerce: Model perdagangan digital di mana AI dapat mencari, memilih, dan melakukan transaksi atas nama pengguna secara otomatis.
● AI Agent: Sistem kecerdasan buatan yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri sesuai instruksi pengguna.
● API: Antarmuka yang memungkinkan berbagai aplikasi dan sistem saling terhubung serta bertukar data.
● Autonomous Finance: Konsep layanan keuangan yang dijalankan secara otomatis oleh AI dengan keterlibatan manusia yang minimal.
● Fraud Detection: Teknologi untuk mendeteksi dan mencegah aktivitas penipuan dalam transaksi keuangan.
● Intelligent Commerce: Platform digital yang memanfaatkan AI dan data untuk mengotomatisasi proses perdagangan dan pembayaran.
● Merchant: Pelaku usaha atau penjual yang menerima pembayaran dari konsumen.
● Payment Infrastructure: Sistem dan teknologi yang mendukung proses transaksi keuangan.
● Rule-Based System: Sistem yang bekerja berdasarkan aturan tetap yang telah ditentukan sebelumnya.
● Trusted Agent Protocol: Mekanisme verifikasi yang memastikan AI agent bertindak sesuai otorisasi pengguna.

#Visa #AgenticAI #AgenticCommerce #ArtificialIntelligence #DigitalPayment #PaymentTechnology #Fintech #BankingInnovation #DigitalBanking #AIPayment #AutonomousFinance #CyberSecurity #FraudDetection #FinancialServices #FutureOfBanking #OpenFinance #EmbeddedFinance #DigitalEconomy #AIInnovation #FinancialTechnology

Comments are closed.