Pembiayaan Berkelanjutan BRI Tembus Rp842,1 Triliun per Juni 2026, Kredit Mikro Dominasi 60%

- 12 September 2026 - 11:41

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp842,1 triliun hingga akhir triwulan II 2026—setara 58% dari total portofolio kredit perseroan—yang didorong oleh ekspansi segmen mikro serta dukungan sustainable wholesale funding sebesar Rp37,6 triliun.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Portofolio pembiayaan berkelanjutan BRI mencapai Rp842,1 triliun atau 58% dari total kredit pada triwulan II 2026, naik dari Rp802,4 triliun.
■ Aspek sosial mendominasi portofolio hijau dan sosial BRI senilai Rp739,9 triliun, didorong oleh porsi kredit mikro sebesar 60,4%.
■ Pendanaan grosir berkelanjutan (sustainable wholesale funding) BRI tumbuh menjadi Rp37,6 triliun melalui instrumen social bond dan green bond.


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus memperkuat penetrasi keuangan berkelanjutan (sustainable finance) dalam struktur bisnis perseroan. Hingga akhir triwulan II 2026, bank BUMN berfokus UMKM ini mengucurkan portofolio pembiayaan sosial dan lingkungan hingga Rp842,1 triliun. Angka ini setara dengan 58% dari total portofolio kredit BRI dan meningkat dari posisi semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp802,4 triliun.

Struktur penyaluran ini didominasi oleh pilar pembiayaan sosial yang menyerap anggaran sebesar Rp739,9 triliun. Komponen utama pada pilar ini ditopang oleh penyaluran kredit mikro sebesar 60,4%, disusul kredit usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar 37,1%, serta pembiayaan perumahan bersubsidi sebesar 2,5%. Integrasi ini menegaskan posisi BRI dalam menopang ketahanan usaha masyarakat bawah sekaligus memperluas akses hunian terjangkau.

Di sisi pembiayaan lingkungan, BRI mengalokasikan Rp102,2 triliun atau sekitar 7,1% dari keseluruhan kredit. Dana tersebut difokuskan untuk mendukung transisi ekonomi rendah karbon dan pengelolaan sumber daya alam. Sektor sustainable land management menjadi kontributor terbesar dengan porsi 69,2%, diikuti pembiayaan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 6,5%, produk ramah lingkungan 4,5%, green transportation 3,1%, efisiensi energi 2,6%, serta aktivitas lingkungan lainnya.

Guna mengimbangi penetrasi kredit di pilar sosial dan lingkungan, BRI memperluas struktur pendanaan terikat (sustainable wholesale funding). Hingga semester I 2026, akumulasi pendanaan grosir berkelanjutan perseroan menyentuh Rp37,6 triliun, naik dari Rp34,8 triliun pada 2025 dan Rp27 triliun pada 2024. Porsi terbesar ditopang oleh social loan sebesar 38%, social bond 26,6%, sustainability-linked loan 23,8%, green bond 3,7%, serta instrumen pasar uang lainnya sebesar 7,9%.

Direktur Legal & Compliance BRI Mahdi Yusuf menegaskan bahwa penyaluran dana dan strategi ekspansi ini dijalankan secara disiplin untuk menjaga rasio risiko perseroan.

“Ke depan, BRI akan terus mengembangkan sustainable finance sebagai bagian dari strategi pertumbuhan Perseroan. Langkah ini dijalankan secara terukur dengan mempertimbangkan aspek risiko, sekaligus memastikan setiap pertumbuhan yang dicapai turut menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata Mahdi dalam keterangan resmi, Jumat (11/9).

Keterkaitan antara instrumen pendanaan dan pembiayaan dipantau secara transparan melalui impact report. Berdasarkan Impact Report Social Bond BRI 2025, hasil penerbitan dana social bond disalurkan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes yang berkontribusi terhadap pembentukan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM serta meningkatkan aset usaha milik 23.000 nasabah.

Sementara itu pada pilar lingkungan, laporan dampak penerbitan green bond BRI mencatatkan kontribusi terhadap penghindaran emisi karbon sebesar 2.711 kTCO₂e per tahun. Penyaluran proceeds ini diarahkan kepada pelaku usaha sektor perkebunan dan kelautan yang telah memiliki sertifikasi keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). ■


DIGIONARY:

● Green Bond: Obligasi yang penerbitan dananya khusus dialokasikan untuk pembiayaan proyek-proyek ramah lingkungan dan transisi energi.
● Impact Report: Laporan evaluasi berkala yang mengukur dampak nyata sosial dan lingkungan dari penggunaan dana investasi atau pendanaan.
● ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil): Sistem sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan yang ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memenuhi standar lingkungan dan hukum.
● RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil): Organisasi global non-profit yang menyusun standar internasional untuk produksi kelapa sawit yang ramah lingkungan dan sosial.
● Social Bond: Instrumen utang yang hasil penerbitannya digunakan untuk mendanai proyek-proyek sosial seperti pemberdayaan ekonomi mikro dan penyediaan hunian murah.
● Sustainable Finance: Praktik jasa keuangan yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam keputusan investasi dan penyaluran kredit.
● Sustainable Land Management: Pengelolaan lahan terpadu yang bertujuan menjaga produktivitas tanah sekaligus mencegah kerusakan ekosistem dan degradasi lingkungan.

#bri #bbri #pembiayaanberkelanjutan #sustainablefinance #kreditmikro #kreditukm #socialbond #greenbond #bankrakyatindonesia #keuanganberkelanjutan #perbankanindonesia #esg #kur #kupedes #sustainabilitylinkedloan #reksadana #saham #emisi #ebt #ijp

Comments are closed.