Ericsson memperkenalkan AI in RAN, teknologi yang menempatkan kecerdasan buatan langsung di jaringan akses radio (RAN) untuk meningkatkan kinerja, efisiensi spektrum, kapasitas pengguna, dan penghematan energi pada jaringan 5G. Solusi berbasis software ini memungkinkan operator telekomunikasi memaksimalkan investasi jaringan yang sudah ada tanpa perlu membangun infrastruktur baru, sekaligus menjadi fondasi menuju jaringan 6G yang lebih otonom dan berbasis AI.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Ericsson menghadirkan AI langsung ke jaringan radio 5G untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi spektrum, dan kualitas layanan pelanggan secara real-time.
■ Operator dapat meningkatkan performa jaringan melalui upgrade software tanpa investasi besar pada infrastruktur baru atau perangkat tambahan.
■ AI in RAN menjadi fondasi menuju jaringan AI-native dan 6G yang mampu mengelola operasional secara lebih otomatis dan hemat energi.
Persaingan industri telekomunikasi memasuki babak baru. Jika selama ini kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) banyak digunakan untuk chatbot, analitik data, dan otomatisasi bisnis, kini AI mulai ditempatkan langsung di inti jaringan telekomunikasi.
Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah platform software yang memungkinkan model AI kelas telekomunikasi bekerja langsung di dalam jaringan akses radio (Radio Access Network/RAN), yaitu bagian jaringan yang menghubungkan perangkat pelanggan dengan infrastruktur operator.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan layanan digital berbasis AI yang menuntut jaringan dengan latensi rendah, kapasitas lebih besar, dan kemampuan otomatisasi yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang membutuhkan investasi perangkat baru, AI in RAN dirancang untuk meningkatkan performa jaringan melalui pembaruan software sehingga operator dapat memaksimalkan investasi 5G yang sudah dimiliki.
Menurut Ericsson, teknologi ini memungkinkan jaringan menjadi lebih cerdas karena mampu mengambil keputusan secara real-time dalam hitungan mikrodetik untuk mengelola lalu lintas data, alokasi spektrum, kualitas sinyal, hingga konsumsi energi.
“AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi. Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan,” kata Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia.
Menjawab Tantangan Investasi 5G
Bagi operator telekomunikasi, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas jaringan tanpa terus-menerus menggelontorkan investasi infrastruktur yang mahal.
Data GSMA menunjukkan kebutuhan investasi pengembangan 5G secara global terus meningkat. Untuk Indonesia, nilai investasi jaringan 5G diperkirakan mencapai sekitar US$18 miliar dan berpotensi meningkat hingga US$50 miliar pada 2030.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan layanan 5G nasional mencapai 32% pada 2030, seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital berbasis cloud, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, kendaraan otonom, hingga industri manufaktur pintar.
Dalam konteks tersebut, AI in RAN menawarkan pendekatan yang lebih efisien karena memungkinkan operator meningkatkan kinerja jaringan melalui optimasi software dibandingkan ekspansi perangkat keras secara besar-besaran.
Ericsson menyebut AI in RAN mampu meningkatkan efisiensi spektrum, memperbaiki pengalaman pengguna, sekaligus mengurangi konsumsi energi jaringan yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya operasional terbesar operator telekomunikasi.
AI Masuk ke Lapisan Paling Kritis Jaringan
Teknologi AI in RAN dikembangkan menggunakan model AI khusus telekomunikasi yang dirancang untuk bekerja dalam lingkungan jaringan yang sangat dinamis.
Model tersebut dilatih menggunakan data jaringan berkualitas tinggi dan mampu menghasilkan keputusan secara real-time untuk mengelola berbagai parameter jaringan yang berubah setiap detik.
Ericsson menjelaskan bahwa AI tidak lagi ditempatkan hanya sebagai alat analisis di luar jaringan, tetapi langsung berada di dalam sistem radio dan baseband yang mengelola komunikasi pelanggan.
Pendekatan ini memungkinkan jaringan beradaptasi secara otomatis terhadap perubahan kondisi lalu lintas data, kepadatan pengguna, hingga kualitas sinyal.
Teknologi tersebut didukung oleh Ericsson Silicon, chip khusus yang memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di perangkat radio dengan konsumsi energi yang tetap efisien.
Selain itu, dukungan generasi terbaru RAN Compute dan platform Cloud RAN membuat implementasi AI dapat dilakukan pada berbagai jenis arsitektur jaringan operator.
Peningkatan Kinerja yang Sudah Terbukti
Ericsson mengklaim teknologi AI in RAN telah diuji dalam lebih dari 15 implementasi dan proyek komersial di berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20%, peningkatan efisiensi spektrum hingga 10%, serta kemampuan melayani hingga dua kali lebih banyak pelanggan dengan kebutuhan trafik tinggi.
Selain itu, teknologi ini mampu meningkatkan akurasi prediksi cakupan jaringan hingga 90%-95% dan meningkatkan presisi penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lebih tinggi dibanding metode sebelumnya.
Sejumlah fitur awal yang mulai tersedia pada kuartal kedua 2026 antara lain:
● AI-native Scheduler, untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis.
AI-powered Positioning, untuk meningkatkan akurasi lokasi pengguna.
● AI-managed Beamforming, untuk mengoptimalkan kualitas sinyal secara dinamis.
● AI-powered Multi-layer Coordination, untuk meningkatkan koordinasi antar lapisan jaringan.
● Augmented Observability, yang memberikan visibilitas lebih tinggi terhadap cara AI mengambil keputusan dalam jaringan.
Operator Global Mulai Mengadopsi
Sejumlah operator telekomunikasi global telah mulai menguji dan mengimplementasikan teknologi tersebut.
SoftBank Jepang, Bell Canada, SK Telecom Korea Selatan, dan Rogers Canada termasuk di antara operator yang bekerja sama dengan Ericsson dalam pengembangan AI in RAN.
Senior Vice President & CNO SoftBank Corp., Teruyuki Oya, menilai AI in RAN menjadi fondasi penting bagi pengembangan layanan berbasis AI yang membutuhkan konektivitas ultra-andal dan latensi rendah.
Sementara itu, Bruce Dean, Senior Vice President Network Technology & Operations Bell, mengatakan integrasi AI langsung ke dalam jaringan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan performa sekaligus efisiensi energi.
Di Korea Selatan, SK Telecom melihat AI in RAN sebagai bagian dari persiapan menuju jaringan AI-native 6G, yang diperkirakan mulai berkembang pada dekade berikutnya.
Fondasi Menuju Jaringan AI-Native
Menurut analis Mobile Experts, Joe Madden, AI in RAN berpotensi menjadi salah satu investasi dengan tingkat pengembalian (ROI) tertinggi bagi operator telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bisa menjadi ROI terbaik bagi operator seluler dalam beberapa tahun terakhir. Dengan hanya melakukan upgrade software, operator dapat memaksimalkan kapasitas, meningkatkan visibilitas jaringan, serta menghadirkan layanan berbasis lokasi yang lebih akurat dari jaringan 5G yang telah mereka miliki sebelumnya,” katanya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan industri telekomunikasi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah menara atau spektrum frekuensi yang dimiliki operator. Ke depan, kecerdasan jaringan akan menjadi faktor pembeda utama.
Bagi Indonesia yang sedang mempercepat transformasi digital dan perluasan layanan 5G, pemanfaatan AI langsung di jaringan berpotensi membantu operator meningkatkan kapasitas layanan tanpa harus terus menambah investasi infrastruktur secara agresif.
Dengan kata lain, AI bukan lagi sekadar aplikasi yang berjalan di atas jaringan. AI kini mulai menjadi bagian dari jaringan itu sendiri. ●
DIGI-INSIGHTS:
Transformasi AI di industri telekomunikasi kini memasuki fase yang jauh lebih strategis. Jika selama dua tahun terakhir AI banyak digunakan di lapisan aplikasi seperti chatbot, customer service, atau analitik bisnis, Ericsson mendorong AI masuk langsung ke lapisan infrastruktur jaringan. Ini menandai pergeseran besar karena kecerdasan buatan tidak lagi sekadar membantu operator memahami jaringan, tetapi mulai mengambil keputusan operasional jaringan secara real-time. Dalam jangka panjang, operator yang memiliki jaringan berbasis AI akan memiliki keunggulan kompetitif dalam mengelola lonjakan trafik data dari layanan AI, video, cloud gaming, kendaraan otonom, hingga Internet of Things (IoT).
Bagi Indonesia, teknologi seperti AI in RAN berpotensi mengubah model investasi telekomunikasi. Selama ini peningkatan kapasitas jaringan identik dengan pembangunan BTS baru, penambahan spektrum, atau investasi perangkat keras yang mahal. Dengan AI yang mampu mengoptimalkan penggunaan spektrum dan kapasitas secara otomatis, operator dapat memperoleh peningkatan performa tanpa harus mengeluarkan belanja modal (capex) sebesar sebelumnya. Di tengah tekanan profitabilitas industri telekomunikasi yang terus menurun akibat perang tarif dan tingginya kebutuhan investasi 5G, pendekatan berbasis software seperti ini bisa menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan return on investment (ROI).
Lebih jauh lagi, kemunculan AI-native network akan menciptakan fondasi baru bagi ekonomi digital berbasis AI. Ketika perusahaan, bank, rumah sakit, pabrik, dan instansi pemerintah mulai mengoperasikan AI agent dalam skala besar, kebutuhan jaringan tidak lagi hanya soal kecepatan, tetapi juga kemampuan merespons keputusan dalam hitungan milidetik dengan tingkat keandalan yang sangat tinggi. Artinya, persaingan operator di masa depan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki jaringan terbesar, melainkan siapa yang memiliki jaringan paling cerdas. Dalam konteks ini, AI in RAN dapat dilihat sebagai langkah awal menuju era 6G, ketika AI bukan lagi pengguna jaringan, melainkan menjadi bagian inti dari jaringan itu sendiri. ●
DIGIONARY:
● Agentic AI: Teknologi AI yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara semi-otonom berdasarkan tujuan tertentu.
● AI-native Network: Jaringan telekomunikasi yang sejak awal dirancang menggunakan kecerdasan buatan sebagai bagian inti operasionalnya.
● AI in RAN: Solusi Ericsson yang menempatkan model AI langsung di jaringan akses radio untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi jaringan.
● Beamforming: Teknologi yang mengarahkan sinyal radio secara lebih presisi ke perangkat pengguna untuk meningkatkan kualitas koneksi.
● Cloud RAN: Arsitektur jaringan radio yang memanfaatkan komputasi awan untuk meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi operasional.
● Ericsson Silicon: Chip khusus buatan Ericsson yang mendukung pemrosesan AI langsung di perangkat jaringan.
● GSMA: Organisasi global yang mewakili industri operator seluler dan ekosistem telekomunikasi dunia.
● Latency: Waktu tunda yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya dalam jaringan.
● Massive MIMO: Teknologi antena 5G yang menggunakan banyak elemen antena untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi jaringan.
● Radio Access Network (RAN): Bagian jaringan telekomunikasi yang menghubungkan perangkat pengguna dengan jaringan inti operator.
● Spectrum Efficiency: Kemampuan jaringan memanfaatkan frekuensi radio secara lebih optimal untuk melayani lebih banyak pengguna.
● 5G Advanced: Evolusi teknologi 5G yang menghadirkan peningkatan kapasitas, efisiensi, dan dukungan AI yang lebih luas.
● 6G: Generasi berikutnya teknologi komunikasi seluler yang diperkirakan akan mengintegrasikan AI secara menyeluruh dalam jaringan.
#Ericsson #AIinRAN #ArtificialIntelligence #AI #5G #5GAdvanced #Telecommunications #Telekomunikasi #DigitalTransformation #IndonesiaDigital2045 #CloudRAN #RAN #AgenticAI #NetworkAutomation #SmartNetwork #DigitalInfrastructure #MobileNetwork #6G #GSMA #TechnologyInnovation
