Lembaga riset teknologi global Gartner memperkirakan lima tahun ke depan akan menjadi periode transformasi besar yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, simulasi digital, dan sistem otonom. Dalam laporan terbarunya, Gartner mengidentifikasi 12 teknologi disruptif yang akan membentuk masa depan bisnis global, termasuk industri perbankan dan jasa keuangan. Teknologi seperti domain-specific AI, physical AI, intelligent simulation, autonomous drones, hingga cyberkinetic security diperkirakan menjadi fondasi baru dalam strategi bisnis, pengelolaan risiko, keamanan siber, dan pengalaman nasabah di era ekonomi digital.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Gartner memperkirakan 90% solusi generative AI pada 2030 akan menggunakan domain-specific AI yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri tertentu, termasuk perbankan, asuransi, dan fintech.
■ Physical AI diproyeksikan mampu mengotomatisasi hingga 50% pekerjaan manual industri pada 2028. Robot, drone, dan sistem otonom akan semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis dan pengelolaan infrastruktur.
■ Ancaman deepfake dan disinformasi berbasis AI mendorong lahirnya cyberkinetic security. Gartner memperkirakan pengeluaran global untuk verifikasi keaslian konten digital akan melampaui US$25 miliar pada 2030.
Persaingan industri perbankan dan jasa keuangan dalam beberapa tahun mendatang diperkirakan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membangun aplikasi digital atau memperluas ekosistem layanan. Lembaga riset teknologi Gartner menilai gelombang baru kecerdasan buatan, otomatisasi, simulasi digital, dan sistem otonom akan menjadi faktor utama yang membentuk peta persaingan bisnis global hingga 2030.
Perusahaan riset dan konsultasi teknologi Gartner memprediksi dunia usaha akan memasuki fase baru transformasi digital yang lebih kompleks dibanding era adopsi cloud computing maupun generative AI saat ini.
Dalam laporan bertajuk “12 Disruptive Emerging Technologies for Product Leaders” yang dirilis pada Mei 2026, Gartner mengidentifikasi empat tren makro yang akan mendorong perubahan besar di berbagai sektor industri, yakni domain-specific AI, physical AI, applied intelligence dan simulation, serta meningkatnya ancaman penyalahgunaan AI.
Menurut Gartner, perusahaan yang lebih cepat mengadopsi teknologi baru akan memperoleh keunggulan kompetitif. Namun dalam jangka panjang, teknologi-teknologi tersebut diperkirakan akan menjadi standar minimum yang wajib dimiliki perusahaan untuk tetap relevan.
“Para pengadopsi awal akan memperoleh keunggulan kompetitif, tetapi seiring waktu teknologi-teknologi disruptif ini akan menjadi standar baru dalam operasional bisnis,” tulis Gartner dalam laporannya.
Perubahan tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap sektor perbankan, fintech, asuransi, telekomunikasi, manufaktur, hingga sektor publik.
Era AI Generik Diprediksi Berakhir
Salah satu temuan utama Gartner adalah bergesernya penggunaan AI dari model umum menuju model yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri tertentu.
Gartner memperkirakan bahwa pada 2030 sekitar 90% solusi generative AI akan menggunakan domain-specific AI guna meningkatkan akurasi, efisiensi, dan keberlanjutan operasional.
Bagi industri perbankan, tren ini berpotensi mengubah cara bank melakukan analisis kredit, deteksi fraud, manajemen risiko, anti pencucian uang (AML), personalisasi layanan, hingga pengelolaan kekayaan (wealth management).
Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa implementasi agentic AI tidak selalu menghasilkan nilai bisnis yang optimal.
Gartner memproyeksikan lebih dari 50% inisiatif agentic AI di perusahaan akan gagal memenuhi target pengembalian investasi (ROI) pada 2029 akibat penerapan yang tidak sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Era solusi AI yang bersifat umum mulai berakhir karena organisasi menyadari bahwa model bahasa besar atau LLM bukanlah solusi yang cocok untuk semua kebutuhan,” tulis Gartner.
Physical AI Menghubungkan Dunia Digital dan Fisik
Selain AI berbasis perangkat lunak, Gartner melihat perkembangan physical AI sebagai salah satu transformasi paling signifikan dalam dekade ini.
Physical AI mencakup robot, drone, sensor pintar, kendaraan otonom, dan berbagai infrastruktur cerdas yang mampu beroperasi serta mengambil keputusan secara mandiri.
Gartner memperkirakan pada 2028 teknologi physical AI mampu mengotomatisasi hingga 50% pekerjaan manual industri yang saat ini belum dapat dilakukan oleh teknologi konvensional.
Perkembangan tersebut diperkirakan akan memengaruhi berbagai sektor, termasuk logistik, manufaktur, energi, hingga industri jasa keuangan. Dalam konteks perbankan, physical AI berpotensi digunakan untuk pengawasan aset fisik, pengelolaan fasilitas kritikal, distribusi uang tunai, hingga sistem keamanan cabang yang semakin terintegrasi.
Pada saat yang sama, Gartner memperkirakan lebih dari 23 juta drone akan digunakan setiap hari untuk kebutuhan komersial pada 2032.
Simulasi Cerdas Akan Menjadi Mesin Pengambilan Keputusan
Gartner juga menyoroti meningkatnya peran intelligent simulation dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Teknologi ini memungkinkan perusahaan membangun berbagai skenario digital untuk menguji dampak suatu keputusan sebelum diterapkan di dunia nyata.
Menurut Gartner, pada 2030 teknologi intelligent simulation akan menjadi komponen utama dalam decision intelligence dan mulai mengubah cara perusahaan maupun konsumen mengambil keputusan.
Selain itu, hypersynthetic data diprediksi menjadi standar baru dalam simulasi bisnis karena dianggap lebih aman, lebih fleksibel, dan dalam beberapa kasus lebih efektif dibanding penggunaan data aktual.
Bagi industri perbankan, simulasi berbasis AI dapat digunakan untuk menguji ketahanan portofolio kredit, risiko likuiditas, dampak perubahan suku bunga, hingga simulasi serangan siber.
“Potensi terbesar AI berada pada kemampuannya menyelesaikan persoalan-persoalan kompleks yang melampaui kapasitas kognitif manusia,” tulis Gartner.
Ancaman Deepfake Dorong Investasi Keamanan Siber
Di balik peluang besar yang ditawarkan AI, Gartner juga mengingatkan meningkatnya ancaman keamanan digital. Kemajuan teknologi generative AI memungkinkan pelaku kejahatan menciptakan video palsu, suara sintetis, identitas digital palsu, hingga kampanye disinformasi yang semakin sulit dibedakan dari informasi asli.
Untuk menghadapi risiko tersebut, Gartner memperkenalkan konsep cyberkinetic security, yaitu pendekatan keamanan yang tidak hanya melindungi sistem digital, tetapi juga aset fisik yang terhubung dengan sistem AI dan otomasi.
Lembaga riset tersebut memperkirakan setidaknya 50% investasi keamanan baru pada sistem otonom akan difokuskan pada cyberkinetic security pada 2028.
Selain itu, pengeluaran perusahaan global untuk memverifikasi keaslian konten digital diperkirakan melampaui US$25 miliar pada 2030.
“Perusahaan akan menghabiskan lebih dari US$25 miliar untuk memverifikasi keaslian konten digital, menjadikan platform autentikasi sebagai investasi penting untuk membangun kembali kepercayaan dan melindungi operasional bisnis,” tulis Gartner.
Dampak bagi Industri Perbankan
Temuan Gartner menunjukkan bahwa masa depan industri keuangan akan semakin ditentukan oleh kemampuan institusi dalam mengintegrasikan AI, data analytics, cloud computing, simulasi digital, dan keamanan siber ke dalam model bisnisnya.
Transformasi digital di sektor perbankan tidak lagi hanya berfokus pada digitalisasi layanan, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat pengambilan keputusan, memperkuat mitigasi risiko, dan menciptakan pengalaman nasabah yang lebih personal.
Pada saat yang sama, ancaman deepfake, fraud berbasis AI, pencurian identitas digital, dan serangan terhadap sistem otonom diperkirakan akan menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi industri.
Karena itu, keseimbangan antara inovasi dan tata kelola risiko diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing bank dan perusahaan fintech pada dekade mendatang.
Transformasi digital berikutnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki AI terbaik, tetapi juga oleh siapa yang mampu mengelola risiko AI secara efektif. ●
DIGI-INSIGHTS:
Perubahan paling penting dari laporan Gartner bukan sekadar munculnya teknologi baru, melainkan bergesernya paradigma penggunaan AI di perusahaan. Selama dua tahun terakhir banyak institusi keuangan berlomba mengadopsi generative AI sebagai alat produktivitas. Namun fase berikutnya akan bergerak menuju domain-specific AI yang dirancang khusus untuk kebutuhan industri. Dalam konteks perbankan, nilai bisnis terbesar bukan berasal dari AI yang mampu menjawab pertanyaan umum, melainkan AI yang memahami regulasi, risiko kredit, perilaku nasabah, kepatuhan, dan dinamika industri keuangan secara spesifik.
Di saat yang sama, physical AI akan memperluas ruang lingkup transformasi digital dari dunia virtual ke dunia fisik. Ketika robot, drone, edge computing, dan sensor pintar mulai terintegrasi dengan sistem keuangan, bank tidak lagi hanya mengelola risiko digital, tetapi juga risiko operasional yang melibatkan aset fisik. Fenomena ini berpotensi melahirkan model bisnis baru sekaligus meningkatkan kompleksitas pengawasan dan tata kelola risiko.
Yang tidak kalah penting adalah munculnya ekonomi berbasis kepercayaan digital. Semakin canggih AI menghasilkan konten sintetis dan identitas palsu, semakin tinggi nilai autentikasi dan verifikasi digital. Dalam beberapa tahun mendatang, investasi terbesar industri keuangan mungkin bukan pada pembangunan model AI baru, melainkan pada teknologi yang mampu memastikan bahwa data, identitas, komunikasi, dan transaksi yang digunakan benar-benar asli. Di era AI, kepercayaan akan menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan modal dan teknologi. ●
DIGIONARY:
● Agentic AI: Sistem AI yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir dan belajar manusia.
● Authenticity Platform: Platform untuk memverifikasi keaslian identitas dan konten digital.
● Autonomous Drone: Drone yang mampu beroperasi tanpa kendali manusia secara langsung.
● Cloud Computing: Infrastruktur komputasi berbasis internet yang dapat diakses secara fleksibel.
● Cyberkinetic Security: Sistem keamanan yang melindungi aset digital dan fisik yang terhubung.
● Data Analytics: Proses pengolahan dan analisis data untuk menghasilkan wawasan bisnis.
● Deepfake: Konten audio atau video palsu yang dibuat menggunakan AI.
● Domain-Specific AI: AI yang dikembangkan khusus untuk kebutuhan industri tertentu.
● Earth Intelligence: Pemanfaatan data lingkungan dan bumi untuk mendukung pengambilan keputusan.
● Generative AI: AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, video, atau konten baru.
● Hypersynthetic Data: Data sintetis canggih yang digunakan untuk simulasi dan pelatihan AI.
● Intelligent Simulation: Simulasi berbasis AI untuk menguji berbagai skenario dan keputusan.
● Physical AI: AI yang terintegrasi dengan perangkat fisik seperti robot dan sensor.
● Weaponization of AI: Pemanfaatan AI untuk aktivitas yang berpotensi merugikan atau menyerang pihak lain.
#Gartner #ArtificialIntelligence #AI #GenerativeAI #AgenticAI #DomainSpecificAI #PhysicalAI #DigitalTransformation #DigitalBanking #BankingTechnology #Fintech #Cybersecurity #CyberkineticSecurity #DataAnalytics #CloudComputing #AutonomousDrones #IntelligentSimulation #FutureOfBanking #EmergingTechnology #Innovation
