Citi: Tokenisasi Saham dan Obligasi Diproyeksi Jadi Industri Senilai US$5,5 Triliun di 2030

- 20 Juni 2026 - 08:25

Tokenisasi aset keuangan diproyeksikan menjadi salah satu transformasi terbesar di Wall Street dalam dekade ini. Dalam laporan terbarunya “Tokenization 2030”, Citigroup memperkirakan nilai aset yang ditokenisasi secara global dapat mencapai US$5,5 triliun pada 2030 dalam skenario dasar, bahkan berpotensi menembus US$8 triliun dalam skenario optimistis. Perubahan ini didorong oleh migrasi saham, obligasi, surat utang pemerintah, dan instrumen pasar modal lainnya ke infrastruktur blockchain yang memungkinkan perdagangan dan penyelesaian transaksi berlangsung hampir tanpa batas waktu. Bagi industri perbankan, fenomena ini berpotensi mengubah model bisnis, sumber pendapatan, serta struktur pasar keuangan global.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Citigroup memproyeksikan nilai pasar aset tokenisasi global mencapai US$5,5 triliun pada 2030 dengan potensi menembus US$8 triliun.
■ Bursa besar seperti NYSE, Nasdaq, dan DTCC mulai mengintegrasikan teknologi blockchain ke sistem perdagangan dan penyelesaian transaksi.
■ Stablecoin dan deposito digital dipandang menjadi fondasi utama agar aset keuangan dapat berpindah ke ekosistem blockchain secara massal.


Wall Street mulai bergerak menuju era baru. Jika selama beberapa dekade perdagangan saham, obligasi, dan instrumen keuangan bergantung pada sistem pasar modal konvensional, dalam lima tahun ke depan sebagian besar aset tersebut diperkirakan mulai bermigrasi ke jaringan blockchain melalui proses yang dikenal sebagai tokenisasi.

Dalam laporan terbaru bertajuk “Tokenization 2030: Wall Street On-Chain”, Citigroup memperkirakan nilai aset keuangan yang ditokenisasi secara global akan mencapai sekitar US$5,5 triliun pada 2030 dalam skenario dasar. Dalam skenario optimistis, nilainya bahkan dapat melonjak menjadi US$8 triliun.

Angka tersebut jauh melampaui ukuran pasar aset tokenisasi saat ini yang baru sekitar US$17 miliar. Tokenisasi merupakan proses mengubah kepemilikan aset keuangan menjadi token digital yang tercatat di jaringan blockchain. Dengan mekanisme ini, saham, obligasi, surat utang negara, komoditas, hingga aset pasar uang dapat diperdagangkan secara digital dengan proses yang lebih cepat dan efisien.

Citigroup menilai fase eksperimen telah berakhir. Industri kini memasuki tahap implementasi yang lebih serius.

Bursa-Bursa Besar Mulai Masuk Blockchain

Perubahan terbesar datang dari lembaga-lembaga infrastruktur pasar keuangan yang selama ini menjadi tulang punggung Wall Street.

Citigroup mencatat sejumlah institusi besar seperti Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC), New York Stock Exchange (NYSE), dan Nasdaq mulai mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem penerbitan, perdagangan, dan penyelesaian transaksi mereka.

Langkah tersebut dinilai penting karena selama ini tokenisasi terkendala oleh infrastruktur pasar yang terfragmentasi, ketidakpastian regulasi, dan belum tersedianya mekanisme penyelesaian transaksi berbasis uang digital yang terpercaya.

Kini kondisi mulai berubah. Sejumlah regulator global mulai memberikan kepastian hukum terhadap aset digital. Di saat yang sama, pertumbuhan stablecoin dan deposito digital menciptakan fondasi baru bagi transaksi keuangan berbasis blockchain.

Investor Muda Dorong Migrasi Aset ke Blockchain

Laporan Citi menunjukkan bahwa perubahan perilaku investor menjadi salah satu pendorong utama tokenisasi.

Investor generasi digital semakin terbiasa dengan akses layanan keuangan yang tersedia 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Ekspektasi tersebut sulit dipenuhi oleh infrastruktur pasar modal tradisional yang masih bergantung pada jam perdagangan tertentu.

Karena itu, saham, obligasi, dan komoditas diperkirakan akan menjadi kelompok aset pertama yang berpindah ke jaringan blockchain.

Citigroup memperkirakan apabila hanya 10% investor ritel di Amerika Serikat menggunakan platform investasi berbasis blockchain pada 2030, maka potensi permintaan terhadap saham publik yang ditokenisasi dapat mencapai sekitar US$2,6 triliun.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tokenisasi tidak lagi terbatas pada pasar aset kripto, tetapi mulai memasuki pasar modal utama.

Stablecoin Menjadi Fondasi

Dalam pandangan Citi, tokenisasi aset tidak akan berkembang tanpa keberadaan uang digital yang dapat digunakan sebagai alat penyelesaian transaksi.

Karena itu, pertumbuhan stablecoin dan deposito yang ditokenisasi menjadi faktor penting dalam ekosistem baru tersebut.

Laporan tersebut memperkirakan nilai pasar stablecoin global dapat mencapai sekitar US$1,9 triliun pada 2030.

Stablecoin yang diatur regulator dianggap mampu meningkatkan kepercayaan terhadap transaksi blockchain sekaligus mengurangi risiko penyelesaian transaksi.

Konsep yang dikenal sebagai Delivery-versus-Payment (DvP) memungkinkan perpindahan aset dan pembayaran terjadi secara simultan sehingga mengurangi risiko gagal bayar dan meningkatkan efisiensi modal.

Peluang Baru bagi Bank

Perkembangan tokenisasi juga membuka sumber pendapatan baru bagi industri jasa keuangan. Citi memperkirakan akan muncul kelompok pemain baru yang disebut sebagai structural orchestrators, yaitu institusi yang mengendalikan penerbitan, distribusi, dan penyelesaian transaksi aset digital.

Bank, manajer investasi, penerbit stablecoin, hingga penyedia infrastruktur blockchain berpotensi memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai baru tersebut.

Tidak hanya memperoleh pendapatan dari transaksi, mereka juga berpeluang mengembangkan layanan berbasis programabilitas dan interoperabilitas aset digital.

Dalam konteks ini, bank tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan dana, tetapi juga operator infrastruktur keuangan digital.

Revolusi yang Tidak Terjadi Seketika

Meski potensinya sangat besar, Citi menegaskan bahwa tokenisasi tidak akan menggantikan sistem keuangan tradisional dalam waktu singkat.

Sebaliknya, industri akan memasuki periode transisi yang panjang di mana sistem blockchain dan sistem konvensional berjalan berdampingan. Model hybrid diperkirakan akan mendominasi selama beberapa tahun ke depan.

Interoperabilitas antara sistem on-chain dan off-chain menjadi faktor kunci agar adopsi tokenisasi dapat berkembang secara luas.
Karena itu, Citi melihat masa depan pasar keuangan bukan sebagai revolusi mendadak, melainkan evolusi bertahap yang akan mengubah struktur Wall Street secara perlahan hingga akhir dekade ini.

Bagi industri perbankan global, perubahan tersebut dapat menjadi transformasi terbesar sejak lahirnya internet banking dan mobile banking dua dekade lalu. ●


DIGI-INSIGHTS:

Tokenisasi bukan lagi isu teknologi, melainkan isu strategi bisnis perbankan. Laporan Citi menunjukkan bahwa tokenisasi sedang bergerak dari tahap eksperimen menuju infrastruktur inti pasar keuangan. Jika proyeksi pasar tokenisasi mencapai US$5,5 triliun pada 2030 terealisasi, maka yang berubah bukan sekadar cara aset diperdagangkan, melainkan siapa yang mengendalikan aliran nilai dalam sistem keuangan. Selama puluhan tahun, bank memperoleh pendapatan dari fungsi sebagai perantara transaksi, kustodian aset, dan penyedia likuiditas. Dalam ekosistem blockchain, sebagian fungsi tersebut berpotensi terotomatisasi melalui smart contract dan jaringan digital yang beroperasi 24 jam. Artinya, tantangan terbesar bank bukan menghadapi fintech atau perusahaan teknologi, tetapi memastikan mereka tetap relevan ketika aset, uang, dan transaksi dapat berpindah secara instan tanpa banyak perantara. Bank yang lebih cepat menguasai infrastruktur tokenisasi berpeluang menjadi operator jaringan keuangan masa depan, sementara yang terlambat berisiko hanya menjadi penyedia likuiditas di belakang layar.

Pertarungan berikutnya bukan antara bank dan fintech, tetapi antara platform distribusi aset digital. Salah satu poin paling penting dalam laporan Citi adalah munculnya kelompok baru yang disebut structural orchestrators, yakni institusi yang mengendalikan penerbitan, distribusi, dan penyelesaian aset digital. Ini menunjukkan bahwa sumber keuntungan terbesar di era tokenisasi kemungkinan tidak berasal dari kepemilikan aset, melainkan dari penguasaan platform distribusi. Fenomena ini mirip dengan transformasi industri ritel ketika Amazon menjadi lebih kuat daripada banyak produsen barang, atau ketika Google menguasai distribusi informasi dibandingkan penerbit media. Dalam konteks keuangan, pemain yang menguasai jaringan tokenisasi, stablecoin, identitas digital, dan akses investor berpotensi menjadi “gerbang utama” transaksi keuangan global. Karena itu, bank tidak cukup hanya menerbitkan aset tokenisasi. Mereka harus membangun ekosistem yang mampu menghubungkan investor, penerbit, bursa, kustodian, dan sistem pembayaran dalam satu pengalaman yang terintegrasi. Nilai ekonomi terbesar kemungkinan akan dinikmati oleh pihak yang mengendalikan jaringan, bukan sekadar produk.

Generasi muda akan menjadi katalis utama migrasi Wall Street ke blockchain. Proyeksi Citi bahwa 10% investor ritel Amerika Serikat dapat menciptakan permintaan US$2,6 triliun untuk saham yang ditokenisasi menunjukkan bahwa transformasi ini lebih didorong perubahan perilaku konsumen daripada kemajuan teknologi semata. Investor generasi muda tumbuh di era layanan digital yang serba instan, real-time, dan tanpa batas waktu. Mereka tidak memahami mengapa perdagangan saham harus berhenti pada jam tertentu atau mengapa penyelesaian transaksi membutuhkan beberapa hari. Ekspektasi yang sama pernah mendorong lahirnya mobile banking dan dompet digital, dan kini mulai menekan pasar modal tradisional. Dalam perspektif yang lebih luas, tokenisasi merupakan respons industri keuangan terhadap perubahan preferensi generasi digital. Jika bank dan pasar modal gagal memenuhi ekspektasi tersebut, ruang itu akan diisi oleh platform teknologi, bursa aset digital, atau bahkan perusahaan AI yang mampu menawarkan akses investasi yang lebih sederhana, cepat, dan personal. Oleh karena itu, tokenisasi bukan hanya proyek inovasi, melainkan upaya mempertahankan relevansi industri keuangan di tengah perubahan perilaku investor global. ●


DIGIONARY:

● Blockchain: Teknologi buku besar digital terdistribusi yang mencatat transaksi secara aman dan transparan.
● Delivery-versus-Payment (DvP): Mekanisme penyelesaian transaksi yang memastikan aset dan pembayaran berpindah secara bersamaan.
● Deposito Tokenisasi: Simpanan bank yang direpresentasikan dalam bentuk token digital di blockchain.
● DTCC: Depository Trust & Clearing Corporation, lembaga penyelesaian transaksi pasar modal terbesar di Amerika Serikat.
● Hybrid Model: Model yang menggabungkan sistem keuangan tradisional dengan infrastruktur blockchain.
● Interoperabilitas: Kemampuan berbagai sistem berbeda untuk saling terhubung dan bertukar data.
● Nasdaq: Bursa saham teknologi terbesar di Amerika Serikat.
● NYSE: New York Stock Exchange, bursa saham terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.
● On-Chain: Aktivitas atau transaksi yang tercatat langsung di jaringan blockchain.
● Public Securities: Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar publik seperti saham dan obligasi.
● Smart Contract: Program otomatis di blockchain yang menjalankan instruksi berdasarkan kondisi tertentu.
● Stablecoin: Aset digital yang nilainya dipatok pada mata uang atau aset tertentu.
● Token Digital: Representasi digital dari kepemilikan aset di jaringan blockchain.
● Tokenisasi: Proses mengubah aset fisik atau keuangan menjadi token digital.
● Treasury: Surat utang pemerintah yang diterbitkan untuk membiayai kebutuhan negara.

#Tokenisasi #Blockchain #DigitalAssets #WallStreet #Citigroup #Stablecoin #DigitalBanking #BankingTransformation #Fintech #TokenizedAssets #NYSE #Nasdaq #DTCC #CryptoInfrastructure #FinancialInnovation #CapitalMarket #DigitalFinance #FutureOfBanking #OnChainFinance #Web3

Comments are closed.