PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) mencatatkan pertumbuhan bisnis yang solid sepanjang semester I 2026 dengan kenaikan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK), aset, dan laba bersih. Kinerja tersebut ditopang oleh lonjakan dana murah (CASA), kualitas aset yang tetap terjaga, permodalan yang kuat, serta percepatan transformasi digital dan penguatan bisnis wealth management sebagai motor pertumbuhan jangka panjang.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Kredit dan DPK OCBC masing-masing tumbuh 11% menjadi Rp185,3 triliun dan Rp239,9 triliun, didorong kenaikan CASA 26% hingga rasio CASA mencapai 60,5%.
■ Laba bersih naik menjadi Rp2,7 triliun dengan fundamental tetap kuat, tercermin dari CAR 23,1%, LCR 233,2%, serta NPL gross yang terjaga di level 1,9%.
■ OCBC mempercepat transformasi digital dan memperkuat layanan wealth management untuk menjawab kebutuhan nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis pada paruh pertama 2026 dengan mencatatkan kenaikan kredit, penghimpunan dana masyarakat, laba bersih, serta penguatan kualitas aset. Di tengah dinamika industri perbankan yang semakin kompetitif, perseroan juga terus memperbesar porsi dana murah, memperkuat layanan digital, dan mengembangkan bisnis wealth management sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang.
Hingga akhir Juni 2026, total kredit OCBC mencapai Rp185,3 triliun atau meningkat 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan pembiayaan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11% menjadi Rp239,9 triliun.
Salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut berasal dari dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Nilai CASA meningkat 26% secara tahunan menjadi Rp145,2 triliun sehingga mendorong rasio CASA naik menjadi 60,5%. Kenaikan dana murah ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah sekaligus memperkuat struktur pendanaan bank.
Dari sisi profitabilitas, OCBC membukukan laba bersih sebesar Rp2,7 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut ditopang oleh kenaikan total pendapatan sebesar 6% menjadi Rp6,9 triliun, sementara beban operasional lainnya hanya meningkat 1% menjadi Rp3,1 triliun sehingga efisiensi operasional tetap terjaga.
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, total aset meningkat 11% menjadi Rp329,5 triliun. Total ekuitas juga bertambah 8% menjadi Rp44,4 triliun, memperkuat kemampuan bank dalam menopang ekspansi usaha secara berkelanjutan.
Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mengatakan, “Kinerja yang positif pada semester pertama tahun ini semakin memperkuat fondasi OCBC untuk terus bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kami terus meningkatkan kapabilitas dalam melayani kebutuhan nasabah, termasuk wealth management yang terus berkembang di Indonesia. Dengan kapabilitas yang semakin terintegrasi dan didukung kekuatan ekosistem Grup OCBC, kami berfokus menjadi mitra keuangan jangka panjang bagi nasabah dalam mengelola dan menumbuhkan aset secara berkelanjutan.”
Dari sisi permodalan, OCBC mempertahankan posisi yang kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 23,1%, sedangkan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 233,2%. Kedua indikator tersebut memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk terus memperluas pembiayaan sekaligus menjaga ketahanan menghadapi berbagai dinamika ekonomi.
Kualitas aset juga tetap terjaga. Hingga Juni 2026, rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di level 1,9%, sementara Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 4,8% dibandingkan 5,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, pencadangan terhadap kredit bermasalah tetap kuat dengan coverage ratio mencapai 230%.
Selain memperkuat bisnis inti, OCBC terus mempercepat transformasi digital. Nilai transaksi melalui berbagai kanal digital meningkat 15% secara tahunan. Jumlah pengguna aktif internet banking dan OCBC Mobile naik 6%, sedangkan pengguna aktif OCBC Business untuk segmen korporasi melonjak 23%.
Perseroan juga memperluas kapabilitas layanan wealth management sebagai bagian dari strategi Larger Scale, Deeper Expertise, Greater Impact. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Wealth Report dalam layanan Wealth Discovery yang membantu nasabah memperoleh analisis menyeluruh mengenai kondisi keuangan, profil risiko, hingga rekomendasi investasi yang dapat diakses melalui OCBC Mobile.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi dan perencanaan keuangan, layanan wealth management menjadi salah satu segmen yang terus tumbuh di industri perbankan Indonesia. OCBC melihat tren tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisi sebagai mitra finansial jangka panjang bagi nasabah individu maupun korporasi.
Kinerja positif tersebut turut diikuti berbagai pengakuan internasional. Sepanjang 2026, OCBC meraih sejumlah penghargaan bergengsi, antara lain The Asset Triple A Treasurise Award 2026 untuk kategori Best Payments and Collections Solution in Indonesia, penghargaan Alpha Southeast Asia sebagai Best FX Bank, HR Asia Awards 2026, Asian Banking & Finance Retail Banking Awards 2026, serta Asian Banking & Finance Wholesale Banking Awards 2026.
Secara industri, pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2026 masih ditopang oleh permintaan pembiayaan dari sektor korporasi, konsumsi, dan UMKM. Di sisi lain, persaingan penghimpunan dana semakin ketat sehingga kemampuan meningkatkan CASA menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga biaya dana dan profitabilitas bank. Dalam konteks tersebut, pertumbuhan CASA OCBC menjadi salah satu faktor yang memperkuat daya saing perseroan di tengah perubahan lanskap industri perbankan. (NCK) ●
DIGI-INSIGHTS:
Pertumbuhan kredit dan DPK yang sama-sama mencapai 11% menunjukkan ekspansi OCBC berlangsung secara seimbang. Bank tidak hanya agresif menyalurkan kredit, tetapi juga berhasil menjaga kualitas pendanaan melalui peningkatan CASA. Strategi ini penting karena dana murah menjadi faktor utama dalam menjaga margin bunga bersih ketika persaingan suku bunga simpanan semakin ketat.
Penguatan bisnis wealth management memperlihatkan arah transformasi OCBC menuju bank berbasis hubungan jangka panjang dengan nasabah. Seiring meningkatnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah dan kelompok affluent di Indonesia, layanan konsultasi investasi, proteksi aset, hingga perencanaan keuangan diperkirakan menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang semakin strategis.
Transformasi digital yang terus dipercepat juga menunjukkan bahwa kompetisi perbankan kini tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya aset atau jaringan kantor cabang. Kecepatan inovasi digital, pengalaman pengguna, integrasi layanan keuangan, dan kemampuan memanfaatkan data menjadi faktor pembeda utama. Bank yang mampu menggabungkan kekuatan digital dengan kualitas layanan konsultatif berpotensi memiliki daya saing lebih kuat dalam beberapa tahun ke depan. ●
DIGIONARY:
● CASA (Current Account Saving Account): Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan.
● CAR (Capital Adequacy Ratio): Rasio kecukupan modal bank untuk menyerap risiko dan mendukung ekspansi bisnis.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana masyarakat yang dihimpun bank dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito.
● LCR (Liquidity Coverage Ratio): Rasio yang mengukur kemampuan bank memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
● Loan at Risk (LaR): Indikator kredit yang berpotensi mengalami penurunan kualitas.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio kredit bermasalah terhadap total kredit yang disalurkan.
● Wealth Discovery: Pendekatan perencanaan keuangan untuk memahami profil, kebutuhan, dan tujuan finansial nasabah.
● Wealth Management: Layanan pengelolaan kekayaan yang mencakup investasi, proteksi, dan perencanaan keuangan.
#OCBC #BankOCBC #Perbankan #KreditPerbankan #DanaPihakKetiga #CASA #WealthManagement #DigitalBanking #OCBCMobile #PerbankanDigital #LabaBank #CAR #LCR #NPL #LoanAtRisk #TransformasiDigital #Investasi #Keuangan #PerbankanIndonesia #Bisnis
