Efisiensi Operasional, Starling Bank Kurangi Tenaga Kerja Demi Pacu Adopsi AI​

- 5 Juli 2026 - 13:39

Gelombang efisiensi di sektor perbankan digital Inggris kembali memakan korban. Starling Bank, salah satu pelopor neo-bank di London, baru saja mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 130 karyawannya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi restrukturisasi perusahaan yang bertujuan untuk merampingkan operasional, menghilangkan duplikasi peran, dan mengalihkan fokus investasi pada teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) guna menekan biaya operasional di tengah pasar yang kian kompetitif.


DIGI-HIGHLIGHTS;

​■ Restrukturisasi Karyawan: Starling Bank melakukan PHK terhadap 130 pegawai atau 3% dari total tenaga kerja untuk menghilangkan duplikasi peran.
■ Akselerasi AI: Perusahaan menggeser alokasi modal dengan memangkas peran perbankan tradisional demi mendanai pengembangan kecerdasan buatan.
■ Kinerja Keuangan: Pendapatan turun 6% menjadi £887 juta, dipicu oleh investasi besar pada perangkat lunak Engine dan denda regulasi sebelumnya.


Pemangkasan karyawan dan posisi di tubuh Starling Bank  ini mencakup sekitar 3% dari total 4.000 karyawan Starling Bank. Pihak manajemen menyebut langkah ini diambil untuk memastikan kelincahan perusahaan di tengah tantangan ekonomi.

Dalam pernyataan resminya, bank tersebut menegaskan bahwa meski mereka melakukan pengurangan jumlah karyawan di sektor perbankan tradisional, mereka justru tetap agresif dalam merekrut talenta di bidang teknologi dan AI.

“Meskipun kami terus melakukan perekrutan untuk posisi insinyur teknologi dan AI, baru-baru ini kami menyampaikan kepada rekan-rekan bahwa kami sedang mengubah bagian dari struktur tim perbankan kami untuk menyederhanakan cara kami beroperasi, mengurangi terjadinya duplikasi, dan mendorong pengiriman produk lebih lanjut dengan lebih cepat,” tulis manajemen dalam pernyataan resmi perusahaan seperti dikutip The Guardian.

Kinerja di Bawah Tekanan

Langkah perampingan ini muncul pada saat yang genting bagi Starling Bank. Laporan keuangan tahunan hingga Maret 2026 menunjukkan performa yang lesu dengan pendapatan turun 6% menjadi £887 juta.

Laba sebelum pajak pun tergerus 3% menjadi £217 juta. Perusahaan berdalih bahwa penurunan laba ini sebagian besar disebabkan oleh investasi besar-besaran pada software perbankan digital mereka, Engine.

​Didirikan pada 2014 oleh Anne Boden, Starling Bank sempat menjadi wajah disrupsi perbankan Inggris bersama Revolut dan Monzo. Namun, jalan mereka tidak selalu mulus. Bank yang kini melayani 6,2 juta nasabah ini tercatat kesulitan berekspansi ke pasar internasional dan sempat membatalkan rencana lisensi perbankan Eropa pada 2022.

​Selain tantangan pertumbuhan, Starling juga sempat tersandung masalah kepatuhan. Pada 2024, regulator keuangan Inggris, Financial Conduct Authority (FCA), menjatuhkan denda sebesar £29 juta karena sistem kontrol kejahatan keuangan yang dinilai “sangat longgar.” Regulator menuding sistem tersebut membiarkan sistem perbankan terbuka lebar bagi para kriminal dan entitas yang terkena sanksi.

Prospek Masa Depan

Meski menghadapi tantangan operasional dan hukum, spekulasi mengenai rencana penawaran saham perdana (Initial Public Offering) tetap hidup. CEO Starling Bank, Raman Bhatia, dalam wawancaranya dengan Sunday Times pada Januari lalu, mengisyaratkan keterbukaan terhadap potensi bank ini untuk menjadi perusahaan publik (plc) di masa depan. Fokus pada AI kini menjadi taruhan utama Bhatia untuk memulihkan margin keuntungan dan mengembalikan kepercayaan investor. ●


DIGI-INSIGHTS:

​Langkah Starling Bank memangkas tenaga kerja untuk mendanai investasi AI mencerminkan tren “agresif-efisien” yang kini melanda sektor neo-bank. Setelah bertahun-tahun fokus pada akuisisi nasabah secara masif, bank digital kini dipaksa untuk membuktikan profitabilitas jangka panjang. Investasi pada AI dalam konteks ini bukan lagi soal inovasi semata, melainkan alat bertahan hidup untuk menggantikan beban biaya operasional manusia dengan otomatisasi yang lebih skalabel, terutama pada proses back-office dan deteksi kepatuhan yang sebelumnya menjadi kelemahan fatal Starling.

​Keputusan ini juga menunjukkan pergeseran prioritas dari ekspansi geografis yang mahal menuju optimasi infrastruktur software (Engine). Kegagalan Starling dalam menembus pasar Eropa sebelumnya menjadi pelajaran pahit bahwa pertumbuhan top-line melalui ekspansi fisik tidak berkelanjutan jika fundamental kontrol risiko tidak kuat. Kini, dengan menjadikan AI sebagai tulang punggung baru, Starling mencoba membangun moat atau keunggulan kompetitif berbasis teknologi yang sulit ditiru oleh bank konvensional yang masih terbebani oleh warisan sistem (legacy system) yang lamban dan mahal.

​Secara strategis, Starling sedang mempersiapkan diri untuk skenario IPO. Pasar saham saat ini sangat sensitif terhadap rasio efisiensi (cost-to-income ratio). Dengan memangkas biaya melalui PHK dan AI, Starling sedang “mempercantik” neraca keuangan agar lebih menarik di mata investor institusi. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga reputasi di mata regulator setelah skandal kepatuhan tahun 2024. Teknologi AI memang bisa memangkas biaya, tetapi tanpa budaya kepatuhan yang kuat, otomatisasi justru berisiko memperlebar celah kegagalan sistemik jika tidak diawasi dengan ketat oleh manusia. ●


DIGIONARY:​● Artificial Intelligence (AI): Teknologi kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk otomasi tugas, efisiensi operasional, dan analisis data.
● Duplikasi Peran: Situasi di mana fungsi kerja atau tanggung jawab tumpang tindih antara satu posisi dengan posisi lainnya dalam organisasi.
● Engine: Perangkat lunak atau platform perbankan digital berbasis cloud yang dikembangkan oleh Starling Bank untuk nasabah institusi.
● Financial Conduct Authority (FCA): Lembaga regulator keuangan di Inggris yang mengawasi perilaku perusahaan jasa keuangan.
● Neo-bank: Bank yang beroperasi sepenuhnya secara digital tanpa memiliki kantor cabang fisik (juga dikenal sebagai bank digital).
● PLC: Public Limited Company, perusahaan yang sahamnya dapat dibeli oleh publik di bursa efek.
● Restrukturisasi: Proses reorganisasi struktur perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan profitabilitas.

​#StarlingBank #Fintech #PerbankanDigital #PHK #Restrukturisasi #KecerdasanBuatan #AI #BankingNews #EkonomiInggris #DigitalBanking #NeoBank #BisnisKeuangan #Efisiensi #InvestasiAI #TeknologiKeuangan #AnneBoden #Bisnis #PasarModal #StartupFintech #CorporateStrategy

Comments are closed.