Perusahaan teknologi asuransi asal Singapura, Igloo, meluncurkan asisten penjualan asuransi perjalanan berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Igi di Indonesia. Berbeda dari chatbot konvensional, Igi mampu menangani seluruh proses pembelian asuransi mulai dari pencarian produk, perbandingan polis, rekomendasi, pembayaran hingga penerbitan polis dalam satu percakapan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Igloo memperluas pemanfaatan AI di sektor asuransi sekaligus menjawab rendahnya penetrasi asuransi Indonesia yang masih berada di kisaran 2,7%.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Igloo meluncurkan Igi, agen AI penjualan asuransi perjalanan yang mampu menangani seluruh proses pembelian mulai dari pencarian produk hingga penerbitan polis dalam satu percakapan digital.
■ Berdasarkan data internal perusahaan, pengguna yang berinteraksi dengan Igi memiliki kemungkinan 44% lebih tinggi menyelesaikan pembelian dibandingkan pengguna situs web konvensional.
■ Peluncuran Igi menjadi bagian dari strategi AI yang lebih luas di Igloo yang mencakup underwriting, deteksi fraud, pemrosesan klaim, dan distribusi produk asuransi berbasis teknologi.
Transformasi kecerdasan buatan kini tidak lagi berhenti pada layanan pelanggan atau chatbot. Perusahaan teknologi asuransi asal Singapura, Igloo, memperkenalkan agen AI bernama Igi yang mampu menjual asuransi perjalanan secara mandiri di Indonesia, mulai dari memahami kebutuhan nasabah hingga menerbitkan polis hanya dalam satu percakapan digital.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri asuransi memasuki babak baru. Igloo resmi meluncurkan Igi, asisten AI untuk penjualan asuransi perjalanan yang dirancang menangani seluruh proses pembelian secara otomatis melalui satu antarmuka percakapan.
Igi telah terintegrasi ke platform konsumen Igloo di Indonesia dan memungkinkan pengguna mencari informasi produk, membandingkan polis, memperoleh rekomendasi perlindungan, melakukan pembayaran, hingga menerima polis asuransi tanpa harus berpindah platform atau berinteraksi dengan banyak agen.
Langkah tersebut menunjukkan bagaimana teknologi AI mulai bergerak dari sekadar alat layanan pelanggan menjadi mesin penjualan digital yang dapat menghasilkan pendapatan secara langsung.
Indonesia Jadi Pasar Strategis
Peluncuran Igi dilakukan di Indonesia, salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara yang masih memiliki tingkat penetrasi asuransi relatif rendah. Menurut Igloo, penetrasi asuransi Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 2,7%. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya kesenjangan perlindungan (protection gap) yang dapat dimanfaatkan melalui pendekatan digital dan AI.
Rendahnya penetrasi asuransi selama ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kompleksitas produk, kesulitan membandingkan manfaat polis antar perusahaan, hingga terbatasnya akses pembelian di luar jam operasional.
Dalam konteks tersebut, AI diposisikan sebagai alat untuk menyederhanakan pengalaman nasabah.
Bukan Sekadar Chatbot
Igloo menegaskan bahwa Igi berbeda dengan chatbot konvensional yang umumnya hanya berfungsi menjawab pertanyaan pelanggan.
Perusahaan menyebut Igi berperan sebagai agen penjualan digital yang mampu mengelola seluruh perjalanan pembelian (end-to-end customer journey).
Raunak Mehta, Co-Founder dan CEO Igloo, mengatakan, Igi mengambil infrastruktur yang sama dan menempatkannya langsung di hadapan konsumen. “Ia mendampingi pelanggan, memahami perjalanan mereka, merekomendasikan perlindungan yang tepat, dan menyelesaikan penjualan kapan saja, dalam hitungan menit,” katanya mengutip insuranceasia.com.
Igi juga beroperasi selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Jika diperlukan bantuan lebih lanjut, pelanggan dapat dialihkan ke agen manusia melalui WhatsApp.
Data Awal Tunjukkan Peningkatan Konversi
Berdasarkan data internal Igloo, pengguna yang berinteraksi dengan Igi memiliki kemungkinan 44% lebih tinggi untuk menyelesaikan pembelian dibandingkan pengguna yang hanya menggunakan pengalaman standar melalui situs web.
Perusahaan juga mencatat model hybrid yang mengombinasikan AI dan dukungan manusia menghasilkan tingkat konversi lebih dari 1,7 kali lebih tinggi pada tahap transaksi pembelian. Temuan tersebut memperkuat tren global bahwa conversational AI mulai menjadi kanal distribusi baru bagi industri keuangan dan asuransi.
AI tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga mampu mempercepat proses akuisisi pelanggan dan meningkatkan rasio konversi penjualan.
Strategi AI yang Lebih Luas
Peluncuran Igi merupakan bagian dari strategi AI yang lebih luas di lingkungan Igloo. Perusahaan saat ini telah memanfaatkan AI untuk berbagai fungsi bisnis, termasuk underwriting, deteksi fraud, pemrosesan klaim, analisis risiko, serta aktivitas pemasaran dan penjualan.
Ke depan, Igloo berencana memperluas kemampuan Igi ke platform WhatsApp serta mengimplementasikan teknologi serupa pada produk asuransi lain seperti asuransi kendaraan bermotor dan asuransi kecelakaan diri.
Dampak bagi Industri Keuangan dan Asuransi
Kemunculan agen AI seperti Igi berpotensi mengubah model distribusi asuransi tradisional yang selama puluhan tahun mengandalkan agen fisik, call center, dan telesales.
Bagi industri keuangan, tren ini menunjukkan bahwa AI generatif mulai berkembang dari fungsi pendukung menjadi “digital workforce” yang mampu menghasilkan pendapatan secara langsung.
Perusahaan asuransi yang berhasil mengintegrasikan AI dengan data analytics, cloud computing, fraud detection, dan customer experience berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif dalam perebutan nasabah digital.
Dalam beberapa tahun ke depan, persaingan industri asuransi diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan harga premi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menyediakan pengalaman pembelian yang cepat, personal, dan berbasis AI. ●
DIGI-INSIGHTS:
Perkembangan Igi menunjukkan bahwa gelombang AI di industri jasa keuangan telah memasuki fase monetisasi. Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk efisiensi operasional dan otomatisasi layanan pelanggan, kini teknologi tersebut mulai ditempatkan langsung pada titik pendapatan. Artinya, AI tidak lagi sekadar menjadi cost center, tetapi berubah menjadi revenue engine yang berinteraksi langsung dengan nasabah.
Bagi industri asuransi Indonesia, inovasi ini berpotensi mengatasi salah satu masalah terbesar sektor tersebut, yakni rendahnya penetrasi dan literasi. Kompleksitas produk selama ini menjadi hambatan utama masyarakat membeli asuransi. Agen AI yang mampu menjelaskan produk dengan bahasa sederhana, memberikan rekomendasi personal, dan tersedia 24 jam berpotensi memperluas akses perlindungan ke segmen masyarakat yang selama ini belum terjangkau agen konvensional.
Dalam jangka panjang, kompetisi industri asuransi kemungkinan akan bergeser dari perang produk menuju perang pengalaman digital. Perusahaan yang mampu menggabungkan AI, data analytics, cloud infrastructure, dan customer intelligence akan memiliki peluang lebih besar meningkatkan akuisisi nasabah sekaligus menjaga profitabilitas. Namun, keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada kualitas data, tata kelola AI, keamanan siber, dan kemampuan perusahaan membangun kepercayaan pelanggan terhadap keputusan yang dihasilkan mesin. ●
DIGIONARY:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan sistem meniru kemampuan berpikir dan belajar manusia.
● Chatbot: Program otomatis yang berinteraksi dengan pengguna melalui percakapan digital.
● Cloud Computing: Infrastruktur komputasi berbasis internet untuk penyimpanan dan pemrosesan data.
● Conversational AI: AI yang mampu berinteraksi secara alami menggunakan bahasa manusia.
● Customer Experience: Pengalaman pelanggan selama berinteraksi dengan produk atau layanan.
● Data Analytics: Proses menganalisis data untuk menghasilkan insight bisnis.
● Digital Distribution: Penyaluran produk melalui kanal digital tanpa tatap muka.
● End-to-End Journey: Keseluruhan proses layanan dari awal hingga akhir.
● Fraud Detection: Teknologi untuk mendeteksi dan mencegah aktivitas penipuan.
● Hybrid Model: Kombinasi interaksi AI dan manusia dalam satu proses layanan.
● Insurtech: Perusahaan teknologi yang fokus pada inovasi sektor asuransi.
● Penetrasi Asuransi: Rasio kontribusi industri asuransi terhadap perekonomian atau jumlah masyarakat yang terlindungi.
● Policy Issuance: Proses penerbitan polis asuransi kepada nasabah.
● Underwriting: Proses penilaian risiko sebelum perusahaan memberikan perlindungan asuransi.
● WhatsApp Integration: Integrasi layanan ke platform WhatsApp untuk interaksi pelanggan.
#Igloo #Igi #ArtificialIntelligence #AIInsurance #Insurtech #DigitalInsurance #AsuransiDigital #TravelInsurance #TransformasiDigital #Fintech #DigitalEconomy #FraudDetection #CustomerExperience #DataAnalytics #InsuranceTechnology #ConversationalAI #DigitalSales #IndonesiaInsurance #FinancialTechnology #DigitalBanking
