Laporan “World’s Best Insurance Companies 2026” versi Forbes dan Statista menunjukkan industri asuransi global sedang memasuki fase baru yang ditandai oleh kombinasi teknologi kecerdasan buatan (AI), analitik data, dan pendekatan human-centric. Di tengah meningkatnya risiko akibat perubahan iklim, inflasi, kenaikan biaya klaim, dan kompleksitas teknologi kendaraan modern, perusahaan asuransi terbaik dunia tidak hanya unggul dalam digitalisasi, tetapi juga mampu menjaga empati dan kualitas layanan kepada nasabah. AI kini digunakan untuk mempercepat underwriting, meningkatkan layanan pelanggan, mendeteksi risiko lebih dini, hingga memperkuat pengalaman klaim yang lebih transparan dan personal.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Forbes dan Statista mensurvei lebih dari 45.000 nasabah di 13 negara untuk menyusun daftar World’s Best Insurance Companies 2026. Sebanyak 274 perusahaan asuransi masuk dalam pemeringkatan berdasarkan kepuasan pelanggan, layanan, transparansi, harga, dan kualitas penyelesaian klaim.
■ AI semakin menjadi fondasi transformasi industri asuransi global. Teknologi digunakan untuk underwriting, contact center, analitik pelanggan, deteksi risiko, hingga meningkatkan pengalaman klaim secara real-time dan lebih personal.
■ Perubahan iklim, inflasi, biaya reasuransi, dan meningkatnya kompleksitas teknologi kendaraan menjadi tantangan utama industri asuransi global. Perusahaan mulai menggeser fokus dari pembayaran klaim menjadi pencegahan risiko berbasis data.
Perusahaan asuransi terbaik dunia kini tidak lagi hanya bersaing dalam harga premi atau besaran perlindungan. Di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim, inflasi, dan ekspektasi pelanggan yang semakin tinggi, teknologi kecerdasan buatan (AI), analitik data, serta kemampuan menghadirkan layanan yang lebih manusiawi menjadi faktor utama yang membedakan para pemimpin industri asuransi global.
Forbes bersama lembaga riset pasar Statista merilis daftar “World’s Best Insurance Companies 2026” yang menyoroti perusahaan asuransi dengan tingkat kepuasan pelanggan tertinggi di berbagai negara.
Pemeringkatan tahun ini dilakukan berdasarkan survei terhadap lebih dari 45.000 responden di 13 negara pada awal 2026. Seluruh responden tercatat memiliki polis asuransi rumah, kendaraan, atau jiwa dalam tiga tahun terakhir.
Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator utama, mulai dari kualitas layanan pelanggan, transparansi, harga, kualitas saran yang diberikan perusahaan, hingga pengalaman penyelesaian klaim.
Hasilnya, sebanyak 274 perusahaan asuransi masuk dalam daftar terbaik dunia, terdiri atas 110 perusahaan asuransi rumah, 135 perusahaan asuransi kendaraan, dan 140 perusahaan asuransi jiwa.
Di Spanyol, Santalucía Seguros menempati posisi teratas untuk kategori asuransi rumah. Sementara sejumlah grup asuransi global seperti AXA, Allianz, dan Zurich berhasil masuk dalam daftar terbaik di berbagai negara.
AXA tercatat masuk dalam pemeringkatan di Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea Selatan, Spanyol, dan Inggris. Allianz tampil kuat di Australia, Brasil, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris. Sedangkan Zurich masuk dalam daftar terbaik di Australia, Brasil, Jerman, India, Italia, dan Jepang.
AI Semakin Menjadi Tulang Punggung Industri Asuransi
Salah satu temuan penting dari laporan tersebut adalah semakin luasnya pemanfaatan AI di sektor asuransi global.
Transformasi digital kini menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi operasional dan pengalaman nasabah.
Santalucía, misalnya, mengembangkan virtual assistant berbasis AI pada contact center mereka. Teknologi tersebut mampu mengenali identitas pelanggan dan memahami tujuan panggilan menggunakan pemrosesan bahasa alami atau natural language processing (NLP).
Menurut Andrés Romero, CEO Santalucía Group, sistem tersebut berhasil mengidentifikasi pelanggan dengan akurasi mencapai 83% dan memahami tujuan panggilan hingga 92%.
Data dari panggilan pelanggan, survei, ulasan daring, hingga komentar media sosial kemudian dianalisis dalam satu model analitik terpadu. Pendekatan itu memungkinkan perusahaan mendeteksi potensi masalah lebih awal sebelum berkembang menjadi keluhan yang lebih besar.
“Setelah keluarga tersebut berada dalam kondisi aman, prioritas kami adalah membantu mereka mendapatkan kembali hal yang paling berarti: rumah mereka dan rasa normalitas yang diwakili rumah itu,” kata Andrés Romero.
Penggunaan AI juga berkembang pada proses underwriting atau penilaian risiko. Perusahaan asuransi Inggris LV= mulai menguji pemanfaatan AI untuk membantu proses analisis data kesehatan dan gaya hidup calon nasabah.
CEO LV= David Hynam mengatakan teknologi tersebut mampu mempercepat dan meningkatkan konsistensi proses underwriting asuransi jiwa. Namun ia menegaskan bahwa teknologi tetap tidak dapat menggantikan aspek kemanusiaan dalam industri jasa keuangan. “Otomatisasi tidak dapat menggantikan empati atau penilaian profesional,” ujarnya.
Perubahan Iklim Menjadi Ancaman Terbesar Industri Asuransi
Selain teknologi, laporan ini juga menyoroti meningkatnya tekanan risiko yang dihadapi industri asuransi global.
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar, terutama bagi perusahaan asuransi umum dan properti.
Presiden dan Chief Operating Officer Desjardins General Insurance Group, Valérie Lavoie, menyebut frekuensi kejadian cuaca ekstrem terus meningkat di berbagai wilayah dunia.
Kanada, misalnya, menghadapi risiko banjir, kebakaran hutan, hingga badai besar yang semakin sering terjadi. “Sebagai perusahaan asuransi, peran kami secara tradisional adalah membantu masyarakat pulih setelah mengalami kerugian,” kata Lavoie.
Kini, menurutnya, perusahaan asuransi juga harus mengambil peran lebih aktif dalam mitigasi risiko melalui edukasi kepada nasabah mengenai langkah-langkah pencegahan.
Desjardins mulai mendorong penggunaan material bangunan yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan berinvestasi pada teknologi analitik untuk meningkatkan kemampuan pemodelan risiko bencana.
Tren tersebut menunjukkan industri asuransi global mulai bergeser dari model pembayaran klaim menjadi model pencegahan risiko berbasis data.
Data Pelanggan Jadi Aset Strategis Baru
Laporan Forbes juga menunjukkan bagaimana data pelanggan menjadi aset penting dalam pengembangan model bisnis asuransi modern.
Tesco Insurance di Inggris memanfaatkan data perilaku konsumen yang berasal dari program loyalitas Tesco Clubcard.
Menurut Alex Cross, Chief Customer Officer Tesco Insurance, analisis data menunjukkan pelanggan yang rutin membawa tas belanja sendiri saat berbelanja cenderung memiliki profil risiko lebih rendah dibanding pelanggan lainnya.
Kelompok pelanggan tersebut dinilai lebih terorganisir, lebih disiplin melakukan perawatan rumah maupun kendaraan, serta memiliki tingkat klaim yang lebih rendah.
Temuan tersebut memungkinkan perusahaan memberikan premi yang lebih kompetitif kepada kelompok pelanggan tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa data analytics semakin berperan dalam personalisasi produk asuransi dan manajemen risiko.
Teknologi Kendaraan Baru Ubah Model Risiko
Perubahan teknologi kendaraan juga mengubah peta bisnis asuransi otomotif global. Fitur keselamatan seperti automatic emergency braking dan lane assist system terbukti membantu mengurangi frekuensi kecelakaan.
Namun di sisi lain, biaya perbaikan kendaraan justru meningkat. Menurut Tesco Insurance, kendaraan modern kini dilengkapi berbagai sensor dan kamera yang membuat biaya perbaikan pascakecelakaan menjadi jauh lebih mahal dibanding kendaraan konvensional.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan asuransi mengembangkan model risiko baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi otomotif.
Pengalaman Pelanggan Menjadi Pembeda
Di tengah masifnya digitalisasi, perusahaan-perusahaan asuransi terbaik dunia justru menempatkan pengalaman pelanggan sebagai faktor utama diferensiasi.
Zurich Insurance misalnya meluncurkan program pelatihan dukungan masa berkabung bagi petugas klaim di Inggris. Program tersebut mencakup pelatihan selama 60 jam untuk meningkatkan sensitivitas dan empati terhadap pelanggan yang sedang menghadapi masa sulit.
“Empati bukan sekadar nilai tambah, tetapi merupakan fondasi utama dalam cara kami memberikan nilai kepada pelanggan,” kata Alison Martin, CEO Life, Health and Bank Distribution Zurich.
Pendekatan serupa juga dilakukan LV= yang berupaya mengubah persepsi masyarakat bahwa asuransi jiwa bukan sekadar produk perlindungan, melainkan bagian penting dari kesejahteraan finansial jangka panjang.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masa depan industri asuransi akan ditentukan oleh kemampuan menggabungkan kecanggihan teknologi dengan sentuhan manusia yang relevan dan personal. (MMS) ●
DIGI-INSIGHTS:
Industri asuransi global sedang mengalami transformasi yang sangat mirip dengan yang terjadi di sektor perbankan digital. Jika dalam beberapa tahun terakhir bank berlomba membangun aplikasi, cloud infrastructure, dan AI, kini perusahaan asuransi juga bergerak ke arah yang sama. Perbedaannya, sektor asuransi menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena harus mengelola risiko jangka panjang yang semakin dipengaruhi perubahan iklim, volatilitas ekonomi, dan perilaku konsumen yang berubah cepat. Dalam konteks ini, AI bukan lagi alat efisiensi semata, melainkan fondasi baru dalam manajemen risiko dan pengalaman pelanggan.
Temuan Forbes menunjukkan bahwa perusahaan asuransi terbaik dunia bukanlah yang paling agresif melakukan otomatisasi, melainkan yang berhasil mengombinasikan AI dengan empati manusia. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi industri jasa keuangan, termasuk perbankan. Di era Generative AI, keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami konteks emosional pelanggan. Customer experience berbasis AI yang tetap mempertahankan unsur human touch akan menjadi standar baru industri keuangan global.
Bagi industri keuangan Indonesia, termasuk bank, perusahaan asuransi, dan fintech, arah perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Data analytics, AI underwriting, predictive risk management, dan personalisasi layanan akan menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus alat mitigasi risiko. Di sisi lain, meningkatnya risiko iklim dan ketidakpastian ekonomi global akan mendorong lembaga keuangan untuk memperkuat kemampuan analitik serta membangun ekosistem data yang lebih terintegrasi. Institusi yang mampu mengubah data menjadi insight bisnis secara real-time akan memiliki posisi lebih unggul dalam persaingan industri keuangan digital beberapa tahun ke depan. ●
DIGIONARY:
● AI Underwriting: Penggunaan kecerdasan buatan untuk analisis risiko dan penentuan polis asuransi.
● Analytics: Proses pengolahan data untuk menghasilkan wawasan bisnis.
● Claims Management: Sistem pengelolaan dan penyelesaian klaim asuransi.
● Contact Center AI: Teknologi AI yang membantu layanan pelanggan secara otomatis.
● Customer Experience: Pengalaman keseluruhan yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan perusahaan.
● Data Analytics: Analisis data untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
● Extreme Weather: Kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, badai, dan kebakaran hutan.
● Financial Wellbeing: Kondisi kesehatan keuangan seseorang dalam jangka panjang.
● Insurance Premium: Biaya yang dibayarkan nasabah untuk mendapatkan perlindungan asuransi.
● Natural Language Processing (NLP): Teknologi AI yang memungkinkan mesin memahami bahasa manusia.
● Personalization: Penyesuaian layanan berdasarkan karakteristik pelanggan.
● Property Insurance: Produk asuransi yang melindungi aset properti.
● Reinsurance: Asuransi yang dibeli perusahaan asuransi untuk mengelola risiko.
● Risk Modeling: Pemodelan statistik untuk mengukur potensi risiko.
● Underwriting: Proses evaluasi risiko sebelum penerbitan polis.
#Asuransi #Insurance #WorldBestInsuranceCompanies #Forbes #Statista #ArtificialIntelligence #AI #Insurtech #DigitalTransformation #CustomerExperience #DataAnalytics #RiskManagement #ClimateRisk #Cybersecurity #InsuranceIndustry #FinancialServices #DigitalBanking #EmbeddedFinance #Underwriting #Fintech
