Laporan Mercer Global Talent Trends 2026 menunjukkan bahwa investasi besar perusahaan terhadap Artificial Intelligence (AI) belum otomatis menghasilkan produktivitas maupun pertumbuhan bisnis. Kunci keberhasilan justru terletak pada kemampuan perusahaan merancang ulang pekerjaan, mengintegrasikan manusia dan mesin, serta membangun budaya AI yang berpusat pada pengembangan talenta. Survei terhadap sekitar 12.000 responden di 16 negara dan 16 industri menemukan kesenjangan serius antara agenda C-Suite dan HR, meningkatnya kekhawatiran karyawan terhadap AI, serta ancaman kelangkaan talenta digital yang berpotensi menghambat transformasi digital, termasuk di industri perbankan dan jasa keuangan.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Mercer menemukan 95% organisasi belum memperoleh hasil signifikan dari investasi Generative AI meskipun belanja AI perusahaan global telah mencapai US$30 miliar-US$40 miliar. Faktor utama bukan teknologi, melainkan kegagalan mendesain ulang pekerjaan dan proses bisnis.
■ Sebanyak 59% pemimpin HR mengaku kesulitan mendapatkan talenta digital. Kelangkaan keterampilan AI, data analytics, cybersecurity, dan cloud menjadi salah satu risiko terbesar bagi transformasi digital perusahaan dan industri perbankan.
■ Sebanyak 99% eksekutif memperkirakan AI akan memicu pengurangan tenaga kerja dalam dua tahun ke depan. Namun fokus utama perusahaan diperkirakan bergeser pada reskilling, upskilling, dan kolaborasi manusia-mesin untuk meningkatkan produktivitas.
Investasi miliaran dolar dalam Artificial Intelligence (AI) ternyata belum menjamin peningkatan produktivitas maupun pertumbuhan bisnis. Temuan terbaru Mercer menunjukkan bahwa perusahaan yang ingin memenangkan persaingan di era AI harus melakukan transformasi yang lebih mendasar dengan merancang ulang pekerjaan, memperkuat kecerdasan talenta, dan membangun kolaborasi manusia-mesin secara strategis.
Laporan Mercer Global Talent Trends 2026 mengungkap bahwa perusahaan global menghadapi tantangan baru dalam mengejar pertumbuhan di tengah disrupsi teknologi, persaingan yang semakin ketat, dan meningkatnya risiko bisnis.
Survei yang melibatkan sekitar 12.000 responden, terdiri dari eksekutif C-Suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan di 16 negara dan 16 industri, menunjukkan bahwa performa eksponensial kini menjadi kebutuhan bisnis, bukan lagi pilihan.
Mercer menilai keberhasilan implementasi AI tidak ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh kemampuan organisasi mendesain ulang cara kerja manusia dan mesin.
Temuan ini menjadi relevan bagi industri perbankan dan jasa keuangan yang saat ini tengah mempercepat pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengalaman nasabah, mendeteksi fraud, mengoptimalkan analitik data, hingga mempercepat proses pengambilan keputusan.
“Transformasi digital menjadi faktor utama persaingan industri perbankan. AI hanya memberikan nilai maksimal ketika pekerjaan dirancang ulang untuk memanfaatkan kemampuan manusia dan teknologi secara bersamaan,” demikian Mercer.
Investasi AI Besar, Hasilnya Belum Sesuai Harapan
Mercer mengutip penelitian MIT yang menunjukkan bahwa meskipun investasi enterprise pada Generative AI telah mencapai sekitar US$30 miliar hingga US$40 miliar, sebanyak 95% organisasi belum memperoleh imbal hasil yang signifikan dari investasi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan masih mengadopsi pendekatan technology-first, yakni membeli teknologi terlebih dahulu tanpa mendesain ulang proses bisnis dan model kerja.
Sebaliknya, pendekatan yang dinilai lebih efektif adalah work-first approach, yaitu membedah pekerjaan ke dalam berbagai tugas, mengidentifikasi aktivitas yang dapat diotomasi atau ditingkatkan oleh AI, kemudian membangun ulang proses kerja yang lebih produktif. Sebanyak 63% eksekutif C-Suite menyebut redesign pekerjaan untuk AI sebagai inisiatif dengan potensi ROI tertinggi.
Namun hanya 32% yang yakin organisasi mereka mampu menggabungkan kemampuan manusia dan mesin secara optimal.
Talenta Digital Menjadi Hambatan Pertumbuhan
Selain teknologi, Mercer menemukan bahwa krisis talenta digital menjadi ancaman terbesar bagi agenda transformasi perusahaan.
Sebanyak 54% eksekutif menyebut kelangkaan talenta sebagai faktor makro yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis.
Sementara itu, 59% pemimpin HR mengaku kesulitan memperoleh tenaga kerja dengan keterampilan digital yang dibutuhkan.
Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi sektor perbankan yang tengah berlomba mengembangkan kapabilitas AI, cloud computing, cybersecurity, data analytics, open banking, hingga embedded finance.
Kebutuhan terhadap talenta dengan kombinasi kemampuan teknologi dan bisnis diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Mercer juga menemukan bahwa 53% karyawan khawatir keterampilan yang mereka miliki saat ini akan menjadi tidak relevan di masa depan.
Bahkan 63% responden menyatakan lebih memilih mendapatkan pelatihan AI dan keterampilan digital dibanding menerima kenaikan gaji 10%.
AI Meningkatkan Produktivitas, Tetapi Memicu Kekhawatiran Baru
Di satu sisi, karyawan mengakui manfaat AI terhadap produktivitas kerja. Sebanyak 83% responden menyatakan AI membantu mereka bekerja lebih efisien. Sebanyak 77% mengaku memperoleh manfaat signifikan dari implementasi AI di tempat kerja.
Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai akses yang tidak merata terhadap teknologi tersebut. Sebanyak 72% karyawan menilai sebagian pekerja mendapatkan akses yang lebih baik terhadap alat maupun pelatihan AI.
Sebanyak 56% mengatakan ketimpangan akses tersebut berdampak negatif terhadap moral kerja. Bahkan 35% menyatakan akan mempertimbangkan mengundurkan diri apabila merasa dirugikan oleh akses AI yang tidak setara.
Temuan ini menunjukkan bahwa strategi AI perusahaan tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga aspek budaya, kepemimpinan, tata kelola, dan pengalaman karyawan.
AI Diperkirakan Mengubah Struktur Organisasi
Mercer menemukan hampir seluruh perusahaan sedang menyiapkan perubahan organisasi besar-besaran. Sebanyak 98% eksekutif berencana melakukan redesign organisasi dalam dua tahun ke depan. Sebanyak 99% memperkirakan AI akan menyebabkan setidaknya sebagian pengurangan jumlah tenaga kerja.
Meski demikian, laporan tersebut menekankan bahwa masa depan bukan sekadar mengganti manusia dengan mesin.
Fokus utama perusahaan adalah melakukan redeployment, reskilling, dan upskilling agar karyawan mampu berkolaborasi dengan teknologi baru. Perusahaan yang mampu menciptakan model kerja manusia-mesin secara efektif diperkirakan akan memiliki produktivitas, inovasi, dan daya saing yang lebih tinggi.
Kesenjangan HR dan C-Suite Menjadi Tantangan Baru
Mercer juga menemukan ketidakselarasan antara prioritas manajemen puncak dan fungsi HR. Ketika C-Suite fokus pada redesign pekerjaan untuk AI, people analytics, dan pengelolaan tenaga kerja terintegrasi, banyak tim HR masih berfokus pada pengalaman karyawan, proses talenta, dan implementasi teknologi HR.
Akibatnya, hanya 27% eksekutif yang menilai tim HR mampu memberikan rekomendasi efektif terkait risiko modal manusia. Padahal 81% investor menyebut keterlibatan HR dalam pengambilan keputusan strategis menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.
Mercer juga memperkirakan kolaborasi antara HR dan IT akan semakin erat. Sebanyak 56% pemimpin HR dan 60% eksekutif memperkirakan kedua fungsi tersebut akan beroperasi sebagai satu kesatuan strategis dalam era AI.
Industri Perbankan Hadapi Momentum Penting
Bagi industri perbankan, temuan Mercer mempertegas bahwa transformasi digital berikutnya tidak lagi hanya tentang implementasi teknologi. Bank perlu memastikan investasi AI mampu menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, kualitas layanan nasabah, dan profitabilitas yang terukur.
Keberhasilan implementasi AI di sektor keuangan akan sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, tata kelola data, literasi digital, serta kemampuan organisasi mengintegrasikan teknologi dengan proses bisnis inti.
Dalam konteks tersebut, kecerdasan talenta (talent intelligence) diperkirakan akan menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan modal finansial. ●
DIGI-INSIGHTS:
Gelombang implementasi AI di industri perbankan kemungkinan akan memasuki fase yang lebih realistis. Selama beberapa tahun terakhir, banyak bank berfokus pada investasi teknologi, mulai dari chatbot, generative AI, analitik data hingga otomatisasi proses. Namun laporan Mercer menunjukkan bahwa teknologi tanpa perubahan model kerja berisiko menjadi investasi mahal dengan hasil terbatas. Tantangan berikutnya bagi bank bukan membeli AI yang lebih canggih, melainkan mendesain ulang proses bisnis agar manusia dan mesin mampu menciptakan nilai secara bersamaan.
Temuan mengenai kelangkaan talenta digital juga menjadi sinyal penting bagi industri keuangan. Persaingan bank ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau jumlah nasabah, tetapi oleh kemampuan menarik, mengembangkan, dan mempertahankan talenta AI, data science, cybersecurity, serta cloud engineering. Dalam konteks ini, talent intelligence berpotensi menjadi keunggulan kompetitif baru yang sama strategisnya dengan manajemen risiko dan pengelolaan modal.
Laporan Mercer juga memperlihatkan bahwa transformasi digital memasuki tahap organisasi, bukan lagi tahap teknologi. Ketika 99% eksekutif memperkirakan AI akan mengubah struktur tenaga kerja, bank perlu menyiapkan tata kelola yang lebih matang terkait reskilling, etika AI, keamanan data, dan produktivitas karyawan. Bank yang mampu membangun budaya pembelajaran berkelanjutan, memperluas akses AI secara merata, serta mengintegrasikan HR dan teknologi ke dalam strategi korporasi akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi, profitabilitas, dan pengalaman nasabah di era AI. ●
DIGIONARY:
● AI Enablement: Strategi pemberdayaan karyawan melalui pemanfaatan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
● Artificial Intelligence: Teknologi yang memungkinkan mesin melakukan tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia.
● C-Suite: Kelompok eksekutif puncak perusahaan seperti CEO, CFO, dan COO.
● Cloud Computing: Teknologi penyimpanan dan pemrosesan data melalui internet.
● Customer Experience: Pengalaman yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan perusahaan.
● Data Analytics: Proses mengolah dan menganalisis data untuk menghasilkan wawasan bisnis.
● Digital Quotient (DQ): Tingkat kemampuan individu memahami dan memanfaatkan teknologi digital.
● Embedded Finance: Integrasi layanan keuangan ke dalam platform non-keuangan.
● Fraud Detection: Teknologi untuk mendeteksi aktivitas penipuan secara otomatis.
● Generative AI: AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, audio, atau konten baru.
● Open Banking: Sistem berbagi data perbankan secara aman melalui API.
● People Analytics: Analisis data tenaga kerja untuk mendukung pengambilan keputusan SDM.
● Reskilling: Pelatihan ulang untuk memperoleh keterampilan baru.
● Talent Intelligence: Pemanfaatan data dan analitik untuk memahami serta mengelola talenta.
● Upskilling: Peningkatan keterampilan yang sudah dimiliki agar lebih relevan.
#Mercer #MercerGlobalTalentTrends2026 #ArtificialIntelligence #GenerativeAI #DigitalTransformation #DigitalBanking #PerbankanIndonesia #BankDigital #TalentManagement #PeopleAnalytics #FutureOfWork #Reskilling #Upskilling #HRTransformation #Cybersecurity #DataAnalytics #OpenBanking #FinancialServices #BusinessStrategy #DigitalEconomy
