Generative AI mulai digunakan perusahaan global untuk membantu menyusun penilaian kinerja karyawan. Teknologi ini dinilai mampu mempercepat proses evaluasi dan mengurangi beban administratif manajer. Namun sejumlah pakar HR mengingatkan, AI berisiko memperkuat bias lama dalam sistem penilaian kerja dan membuat evaluasi terlihat objektif padahal belum tentu akurat.
Digi-Highlights:
■ Perusahaan global mulai memakai AI untuk menyusun performance review dan mempercepat evaluasi pegawai.
■ Pakar HR menilai AI berpotensi memperkuat bias manajer dalam sistem penilaian kerja.
■ Tren evaluasi kerja bergerak menuju feedback real-time dan berbasis data, bukan annual review tradisional.
Divisi human resources (HR) kini menjadi wilayah baru ekspansi artificial intelligence (AI). Jika sebelumnya teknologi ini dipakai untuk membantu perekrutan, menyusun presentasi, atau menganalisis data bisnis, kini generative AI mulai digunakan untuk menyusun penilaian kinerja karyawan atau performance review.
Bagi banyak perusahaan, langkah itu dianggap logis. Proses evaluasi pegawai selama ini dikenal menyita waktu manajer, penuh pekerjaan administratif, dan sering dianggap formalitas tahunan.
Nah sekarang AI datang membawa janji efisiensi.
Namun, di balik itu, muncul pertanyaan baru: apakah AI benar-benar membuat sistem penilaian kerja lebih adil?
Atau justru memperkuat masalah lama yang belum pernah selesai?
Artikel Harvard Business Review (HBR) berjudul Gen AI Could Fix Performance Reviews—or Make Them Even Worse yang dipublikasikan pekan ini menyoroti dilema tersebut. Sejumlah perusahaan disebut mulai memakai AI untuk membantu menyusun narasi evaluasi pegawai agar terdengar lebih profesional, terstruktur, dan konsisten.
Masalahnya, teknologi hanya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia. Jika penilaian awal seorang manajer sudah bias atau subjektif, AI justru dapat membungkus bias itu menjadi tulisan yang terlihat lebih meyakinkan.
Dengan kata lain, evaluasi yang lemah bisa tampak lebih profesional hanya karena dipoles AI.
Penilaian Lebih Cepat, Belum Tentu Lebih Baik
Dalam praktiknya, banyak manajer memakai AI untuk merapikan tata bahasa, membuat ringkasan pencapaian pegawai, hingga menyesuaikan nada tulisan agar lebih diplomatis.
Beberapa perusahaan bahkan mengklaim penggunaan AI mampu memangkas waktu penyusunan performance review hingga 40%.
Di atas kertas, efisiensi itu terlihat menarik.
Namun persoalan utama dalam sistem evaluasi kerja selama ini sebenarnya bukan soal bagaimana laporan ditulis, melainkan bagaimana penilaian dibuat.
Karyawan kerap mengeluhkan evaluasi yang terlalu subjektif, dipengaruhi kedekatan personal dengan atasan, atau hanya menyoroti kesalahan terbaru.
Dalam banyak kasus, pegawai yang aktif berbicara di rapat lebih mudah dianggap berkontribusi dibanding pekerja yang pendiam tetapi efektif.
Menurut HBR, penggunaan generative AI tanpa dukungan data yang kuat justru dapat memperkuat “selective memory” manajer—kecenderungan hanya mengingat momen tertentu saat menilai bawahan.
AI tidak otomatis menghilangkan bias manusia. Teknologi itu hanya mengolah apa yang diberikan kepadanya.
Perusahaan Mulai Tinggalkan Annual Review
Perubahan ini terjadi ketika banyak perusahaan global mulai meninggalkan model evaluasi tahunan tradisional.
Meta, Amazon, hingga Boston Consulting Group mulai menerapkan sistem feedback yang lebih rutin dan berbasis target jangka pendek.
Financial Times melaporkan semakin banyak perusahaan menganggap annual review tidak lagi sesuai dengan ritme bisnis modern yang bergerak cepat.
Model evaluasi kini bergeser menuju continuous feedback—penilaian yang dilakukan lebih berkala melalui percakapan langsung antara atasan dan karyawan.
Dalam konteks itu, AI sebenarnya memiliki peluang besar. Teknologi dapat membantu perusahaan mengumpulkan data kontribusi pegawai secara lebih objektif, mulai dari proyek yang diselesaikan, pola kolaborasi tim, hingga pencapaian target kerja.
Dengan pendekatan seperti itu, evaluasi tidak hanya bergantung pada persepsi atasan.
Risiko Evaluasi “Kosmetik”
Masalah lain yang mulai muncul adalah fenomena yang disebut HBR sebagai “AI workslop”. Istilah ini menggambarkan hasil kerja berbasis AI yang terlihat rapi di permukaan tetapi miskin substansi.
Risiko tersebut kini mulai masuk ke dunia HR.
Manajer dapat menghasilkan evaluasi yang terdengar profesional hanya dalam beberapa menit, tetapi tanpa observasi nyata terhadap performa pegawai.
Akibatnya, performance review berubah menjadi sekadar dokumen administratif.
Padahal keputusan HR berkaitan langsung dengan promosi, bonus, kenaikan gaji, bahkan pemutusan hubungan kerja.
Kesalahan penilaian dapat berdampak besar terhadap karier seseorang.
AI Belum Bisa Menggantikan Percakapan Manusia
Di tengah euforia AI, banyak pakar organisasi mengingatkan bahwa inti performance review sebenarnya bukan dokumen evaluasi, melainkan percakapan.
Karyawan ingin didengar, dipahami, dan mendapat arahan yang jelas untuk berkembang.
AI mungkin dapat membantu menyusun kalimat yang lebih rapi dan halus. Namun teknologi belum mampu menggantikan empati, konteks emosional, dan pemahaman interpersonal yang menjadi inti kepemimpinan.
Karena itu, tantangan perusahaan ke depan bukan sekadar mengadopsi AI di departemen HR, melainkan memastikan teknologi benar-benar meningkatkan kualitas penilaian kerja—bukan hanya mempercantik sistem lama yang sejak awal sudah bermasalah. ●
Digi-insights:
■ Fenomena ini memperlihatkan perubahan besar dalam filosofi manajemen modern. Selama bertahun-tahun, performance review identik dengan dokumen administratif tahunan yang kaku dan sering tidak relevan. Kini perusahaan mulai bergerak menuju sistem evaluasi real-time berbasis data dan continuous feedback. AI berpotensi menjadi alat pendukung penting dalam transisi tersebut, terutama untuk membantu perusahaan menangkap kontribusi kerja secara lebih terukur dan berkelanjutan.
■ Namun ada risiko yang mulai muncul: perusahaan terlalu fokus mengejar efisiensi, tetapi melupakan kualitas percakapan manusia. Penilaian kinerja sejatinya bukan sekadar laporan yang ditulis rapi, melainkan proses membangun kepercayaan, arahan, dan motivasi antara atasan dan karyawan. Ketika AI hanya dipakai untuk “memoles bahasa”, hubungan interpersonal di tempat kerja bisa menjadi semakin dingin, formal, dan kehilangan empati.
Digionary:
● Annual review: Evaluasi kinerja tahunan yang dilakukan perusahaan terhadap pegawai.
● Artificial intelligence (AI): Teknologi kecerdasan buatan yang meniru kemampuan berpikir manusia.
● Continuous feedback: Sistem evaluasi kerja yang dilakukan secara berkala dan real-time.
● Generative AI: Teknologi AI yang mampu menghasilkan teks atau konten secara otomatis.
● HR (Human Resources): Divisi perusahaan yang mengelola sumber daya manusia.
● Performance review: Penilaian terhadap performa dan kontribusi karyawan di perusahaan.
● Selective memory: Kecenderungan seseorang hanya mengingat kejadian tertentu saat membuat penilaian.
● Workslop: Istilah untuk hasil kerja berbasis AI yang terlihat bagus tetapi minim substansi.
#AI #GenerativeAI #HR #PerformanceReview #HumanResources #ArtificialIntelligence #EvaluasiKinerja #DuniaKerja #Teknologi #DigitalTransformation #FutureOfWork #Leadership #ManajemenSDM #Produktivitas #ContinuousFeedback #CorporateCulture #EmployeeExperience #TransformasiDigital #Bisnis #WorkplaceAI
