Desain Moneter Global: BOJ Ingatkan Sistem Masa Depan Tak Hanya Soal CBDC dan Stablecoin

- 19 Mei 2026 - 07:07

Deputi Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ), Ryozo Himino, mendesak adopsi pendekatan holistik dalam merancang sistem moneter masa depan global tanpa membatasi pilihan hanya pada mata uang digital bank sentral (CBDC) dan stablecoin. Di tengah fragmentasi regulasi antara Amerika Serikat yang melarang CBDC serta Eropa yang mempromosikan digital euro, Jepang memosisikan diri sebagai pionir yang siap menempuh kedua jalur sembari mengeksplorasi opsi tokenisasi simpanan bank dan cadangan bank sentral berbasis blockchain.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Deputi Gubernur BOJ Ryozo Himino menyerukan desain sistem moneter global yang komprehensif, tidak terbatas pada instrumen CBDC dan stablecoin.
■ Amerika Serikat melarang penerbitan CBDC untuk mendukung stablecoin dollar, sementara Eropa gencar mendorong digital euro demi integrasi ritel.
■ BOJ menguji proyek sandbox tokenisasi cadangan bank sentral berbasis blockchain demi mewujudkan sistem penyelesaian instan selama 24 jam penuh.

​Deputi Gubernur Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ), Ryozo Himino, menyerukan pentingnya “pendekatan holistik” dalam merancang arsitektur sistem moneter global masa depan. Himino menegaskan bahwa peta jalan keuangan digital dunia tidak boleh terjebak dan membatasi pilihan hanya pada mata uang digital bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC) serta stablecoin. Langkah komprehensif diperlukan guna mengakomodasi inovasi teknologi lain yang memiliki potensi serupa dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dunia.

​Pernyataan ini mencerminkan dinamika geopolitik keuangan yang kian terfragmentasi di tingkat global. Saat ini, Amerika Serikat secara tegas melarang penerbitan CBDC dan memilih mempromosikan stablecoin sebagai instrumen pendukung untuk memperkuat posisi mata uang dollar AS sebagai mata uang utama global.

Sebaliknya, kawasan Eropa justru gencar mendorong implementasi digital euro untuk mengatasi fragmentasi regional yang terjadi pada sistem pembayaran ritel mereka.

​Di tengah perbedaan arah kebijakan dua kekuatan ekonomi tersebut, Tokyo memilih strategi yang adaptif dan inklusif. “Jepang bersiap untuk kedua jalur tersebut,” kata Himino.

Penegasan ini didasari atas posisi Jepang yang telah menjadi pionir dalam memperkenalkan legislasi mengenai stablecoin, sekaligus secara konsisten memajukan program percontohan (pilot programme) untuk instrumen CBDC.

​Namun, Himino mengingatkan bahwa perkembangan lanskap keuangan di luar negeri mengindikasikan perlunya cetak biru yang lebih luas. Desain sistem moneter masa depan harus memperhitungkan berbagai variabel krusial, mulai dari kelayakan teknis, biaya sosial, kenyamanan pengguna, stabilitas keuangan, hingga efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Opsi Tokenisasi Deposito dan Cadangan Bank

​Menurut Himino, inovasi sektor keuangan digital tidak boleh berjalan di tempat atau terpaku pada narasi yang konvensional. Eksplorasi terhadap aset-aset digital baru yang berjalan di atas infrastruktur terdesentralisasi harus terus dibuka lebar demi efisiensi operasional perbankan modern.

​”Pilihan untuk sistem moneter masa depan tidak terbatas pada CBDC dan stablecoin,” kata Himino dalam pidatonya di pertemuan tahunan Japan Society for Monetary Economics seperti diberitakan Reuters. Ia menambahkan bahwa opsi-opsi potensial lain kini tersedia, seperti memperkenalkan tokenisasi simpanan bank (tokenised bank deposits) dan cadangan bank sentral yang dioperasikan pada jaringan blockchain.

​Untuk merealisasikan visi tersebut, BOJ secara resmi telah memulai proyek uji coba terbatas atau “sandbox project”. Proyek ini dirancang secara khusus untuk mengeksplorasi kelayakan teknis dari tokenisasi cadangan yang mereka miliki, serta menguji penggunaannya dalam solusi pembayaran berbasis blockchain.

​Secara institusional, BOJ memegang peranan vital dalam mengelola penyelesaian transaksi antarbank, likuiditas, dan kebijakan moneter melalui rekening cadangan milik bank-bank komersial yang ditempatkan di bank sentral.

Berdasarkan analisis para ahli keuangan, implementasi teknologi blockchain untuk menyelesaikan transaksi cadangan tersebut akan membuka ruang bagi penyelesaian instan (instant settlement) selama 24 jam sehari penuh, sekaligus meminimalkan risiko kemacetan sirkulasi likuiditas (gridlock risk) saat terjadi krisis atau tekanan pasar.

Konsistensi Eksperimen Digital Jepang

​Komitmen Jepang dalam menatap digitalisasi moneter sejatinya telah dibangun sejak lama. BOJ tercatat mulai melakukan serangkaian eksperimen untuk penerbitan CBDC pada tahun 2021. Kendati otoritas moneter tertinggi Jepang tersebut belum mengetok palu regulasi final terkait jadi atau tidaknya mata uang digital resmi itu diterbitkan, mereka telah melangkah lebih jauh dengan memulai program percontohan pada tahun 2023 untuk CBDC ritel yang didistribusikan melalui bank-bank swasta serta perusahaan penyedia jasa pembayaran.

​Langkah BOJ tidak berjalan sendiri. Pemerintah Jepang secara aktif memberikan dukungan penuh terhadap proyek yang diinisiasi oleh bank-bank domestik utama di negara tersebut untuk menerbitkan stablecoin lokal. Instrumen stablecoin ini nantinya akan diuji coba secara intensif untuk mempermudah dan mempercepat penyelesaian transaksi pembayaran lintas batas negara (cross-border payments). Melalui integrasi teknologi ini, Jepang berharap dapat mempertahankan daya saing sistem keuangannya di kancah internasional tanpa harus mengorbankan pilar-pilar stabilitas moneter dalam negeri. ●


DIGI-INSIGHTS:

​■ ​Seruan Deputi Gubernur BOJ mengenai pendekatan holistik menjadi peringatan bagi otoritas moneter global agar tidak terjebak pada dikotomi sempit antara CBDC dan stablecoin saja. Masa depan sistem keuangan dunia sangat dinamis dan menyediakan ruang bagi arsitektur alternatif, seperti tokenisasi deposito serta optimalisasi cadangan bank sentral berbasis blockchain. Pendekatan ini mengajarkan bahwa fleksibilitas regulasi dan keterbukaan terhadap berbagai opsi teknologi adalah kunci utama untuk membangun sistem pembayaran yang resilien, efisien, dan berbiaya sosial rendah.

■ ​Perbedaan tajam antara Amerika Serikat yang melarang CBDC demi menyokong stablecoin privat, dan Eropa yang agresif mendorong digital euro, mencerminkan adanya ego geopolitik dalam standar keuangan digital. Fragmentasi regulasi ini berpotensi mempersulit standardisasi sistem pembayaran lintas batas (cross-border). Negara-negara di luar poros tersebut harus mampu meniru langkah taktis Jepang yang bersikap pragmatis: tidak memihak salah satu kutub, melainkan aktif mengadopsi kedua jalur regulasi guna memitigasi risiko isolasi finansial di panggung internasional.

■ ​Eksperimen sandbox yang dilakukan BOJ pada tokenisasi cadangan perbankan berbasis blockchain menandai pergeseran besar dalam manajemen likuiditas antarbank. Dengan memindahkan mekanisme penyelesaian transaksi ke jaringan terdesentralisasi, risiko kemacetan sirkulasi dana (gridlock risk) saat pasar mengalami tekanan dapat ditekan seminimal mungkin berkat sistem yang bekerja instan selama 24 jam penuh. Teknologi ini membuktikan bahwa efisiensi radikal di level hulu (bank sentral dan bank komersial) jauh lebih mendesak untuk menjaga stabilitas makroekonomi ketimbang sekadar memodernisasi alat pembayaran di level hilir (ritel). ●


DIGIONARY:

● Blockchain: Teknologi pencatatan data digital terdesentralisasi yang terhubung melalui kriptografi untuk menjamin keamanan transaksi.
● CBDC (Central Bank Digital Currency): Bentuk digital dari mata uang resmi suatu negara yang diterbitkan dan diregulasi langsung oleh bank sentral.
● Cross-Border Payments: Mekanisme transaksi pembayaran yang dilakukan antarpihak yang berada di dua negara yang berbeda.
● Gridlock Risk: Risiko terjadinya kemacetan massal dalam sistem penyelesaian transaksi akibat kegagalan salah satu pihak mentransfer dana.
● Pilot Programme: Proyek uji coba berskala kecil yang dilakukan untuk menguji kelayakan implementasi suatu sistem sebelum diluncurkan secara massal.
● Sandbox Project: Lingkungan uji coba yang aman bagi inovasi teknologi keuangan untuk beroperasi di bawah pengawasan regulator tanpa risiko sistemik.
● Stablecoin: Jenis aset kripto yang dirancang memiliki nilai stabil dengan jaminan aset cadangan seperti mata uang fiat atau komoditas.
● Tokenisasi: Proses mengubah hak atas suatu aset riil atau finansial menjadi representasi digital berbentuk token pada jaringan blockchain.

#BankOfJapan #SistemMoneter #RyozoHimino #FintechGlobal #BlockchainKeuangan #TokenisasiCadangan #CBDC #Stablecoin #DigitalEuro #KebijakanMoneter #InovasiFinansial #EkonomiJepang #PasarModal #TeknologiBlockchain #TransaksiDigital #PerbankanGlobal #SandboxProject #PembayaranLintasBatas #StabilitasKeuangan #BeritaEkonomi

Comments are closed.