Bank Central Asia (BCA) kembali masuk daftar World’s Best Banks 2026 versi Forbes. Pengakuan ini menegaskan konsistensi BCA menjaga kualitas layanan, kekuatan digital banking, serta pertumbuhan bisnis yang solid di tengah tekanan ekonomi global dan kompetisi industri perbankan yang makin ketat.
Digi-Highlights:
■ Forbes menempatkan BCA dalam daftar bank terbaik dunia berdasarkan survei terhadap 54.000 responden di 34 negara.
■ Pertumbuhan kredit BCA mencapai Rp994 triliun dengan dominasi dana murah CASA hingga 85,2% dari total DPK.
■ Pembiayaan hijau dan kredit UMKM menjadi motor pertumbuhan baru BCA di tengah percepatan transformasi digital perbankan.
Di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin agresif dan tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya reda, Bank Central Asia kembali mendapat pengakuan internasional. Bank swasta terbesar di Indonesia itu masuk dalam daftar World’s Best Banks 2026 versi Forbes.
Masuknya BCA dalam daftar tersebut mempertegas posisi bank berkode saham BBCA itu sebagai salah satu institusi keuangan paling konsisten menjaga kualitas layanan, kepercayaan nasabah, dan transformasi digital di Indonesia.
Selain BCA, sejumlah bank nasional lain juga masuk daftar yang sama, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Muamalat Indonesia, CIMB Niaga, dan Bank Permata.
Forbes menyusun daftar tersebut berdasarkan survei terhadap 54.000 responden di 34 negara. Penilaian dilakukan menggunakan lima parameter utama, yakni tingkat kepercayaan terhadap bank, kualitas layanan pelanggan, layanan digital, transparansi syarat dan ketentuan, serta kualitas nasihat finansial.
BCA bahkan tercatat sebagai satu dari 311 bank global yang berhasil mempertahankan predikat tersebut dari tahun sebelumnya. Di industri perbankan, konsistensi mempertahankan reputasi dinilai jauh lebih sulit dibanding sekadar meraih penghargaan satu kali.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan penghargaan tersebut menjadi refleksi kepercayaan nasabah terhadap layanan perseroan. “Kami dedikasikan penghargaan ini kepada para nasabah setia yang sudah menemani perjalanan BCA serta memercayakan BCA sebagai layanan perbankan,” kata Hendra dalam keterangan resmi.
“Pencapaian ini menjadi motivasi kami untuk terus membuat inovasi layanan perbankan berkualitas, serta memberikan nilai tambah kepada nasabah dan masyarakat Indonesia,” lanjutnya.
Di balik penghargaan itu, kinerja keuangan BCA memang masih menunjukkan ketahanan kuat. Hingga Maret 2026, total kredit BCA tumbuh 5,6% secara tahunan menjadi Rp994 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kredit produktif yang mencapai Rp760,2 triliun atau naik 7,8% secara tahunan. Segmen UMKM juga terus meningkat dengan outstanding mencapai Rp146 triliun, tumbuh 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pendanaan, kekuatan utama BCA masih berada pada dana murah atau current account saving account (CASA). Nilai CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun atau naik 11,2% secara tahunan, dengan kontribusi mencapai 85,2% dari total dana pihak ketiga.
Dominasi CASA menjadi faktor penting karena membuat biaya dana (cost of fund) BCA tetap rendah di tengah persaingan suku bunga perbankan yang masih ketat. Laba bersih BCA dan entitas anak juga mencapai Rp14,7 triliun pada kuartal I-2026.
Tak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, BCA juga mulai agresif memperbesar portofolio pembiayaan berkelanjutan. Penyaluran kredit berkelanjutan tercatat mencapai Rp258,4 triliun atau sekitar 26% dari total pembiayaan perseroan.
Sementara itu, pembiayaan hijau (green financing) tumbuh 7,7% menjadi Rp113 triliun. Salah satu pendorong utamanya berasal dari sektor energi baru dan terbarukan yang melonjak 53,5% secara tahunan.
Langkah ini sejalan dengan tren global industri keuangan yang semakin menempatkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian penting strategi bisnis bank.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan transformasi digital dan efisiensi operasional menjadi penopang utama pertumbuhan industri perbankan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, nasabah kini semakin menuntut layanan cepat, personal, aman, dan berbasis digital.
Dalam konteks itu, bank yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi digital, kekuatan modal, kualitas layanan, dan manajemen risiko diperkirakan akan menjadi pemain dominan di industri perbankan ke depan. ■
Digi-Insights:
Pengakuan dari Forbes menunjukkan bahwa persaingan industri perbankan kini tidak lagi semata ditentukan ukuran aset atau jumlah cabang. Faktor pengalaman nasabah, kualitas aplikasi digital, keamanan transaksi, hingga kecepatan layanan menjadi indikator utama yang menentukan reputasi sebuah bank di mata publik global.
Bagi BCA, kekuatan terbesar bukan hanya pada profitabilitas, tetapi kemampuan menjaga loyalitas nasabah melalui ekosistem digital yang stabil dan efisien. Di tengah era AI dan digital banking yang semakin kompetitif, konsistensi layanan justru menjadi pembeda utama antarbank besar. ■
Digionary:
● CASA: Dana murah perbankan yang berasal dari giro dan tabungan.
● Dana Pihak Ketiga (DPK): Dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.
● ESG: Standar bisnis berbasis aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.
● Green Financing: Pembiayaan yang dialokasikan untuk proyek atau kegiatan ramah lingkungan.
● Kredit Produktif: Kredit yang digunakan untuk kegiatan usaha atau investasi yang menghasilkan pendapatan.
● Outstanding Kredit: Total pinjaman yang masih berjalan dan belum dilunasi debitur.
● World’s Best Banks: Daftar tahunan Forbes yang menilai bank terbaik dunia berdasarkan survei kepuasan nasabah.
● YoY (Year on Year): Perbandingan pertumbuhan kinerja dari periode yang sama tahun sebelumnya.
#BCA #BBCA #Forbes #WorldsBestBanks #PerbankanIndonesia #BankTerbaikDunia #DigitalBanking #TransformasiDigital #PerbankanDigital #BankIndonesia #UMKM #GreenFinancing #ESG #EkonomiIndonesia #IndustriKeuangan #BankingIndustry #Fintech #SahamBank #OJK #KeuanganIndonesia
