Piyush Gupta: Pensiun Bukan Akhir Karier, Tapi Kesempatan Membangun Ulang Kehidupan

- 11 Mei 2026 - 14:25

Mantan CEO DBS Bank, Piyush Gupta, menilai masa pensiun bukan akhir karier, melainkan fase “rewiring” atau membangun ulang cara hidup. Setelah 45 tahun di industri perbankan, Gupta kini aktif di bidang pendidikan, konservasi alam, transformasi bisnis, dan isu AI, sambil mendorong perubahan cara berpikir tentang kepemimpinan dan masa depan pendidikan tinggi.


Digi-Highlights:

■ Piyush Gupta menyebut usia 60-75 tahun sebagai fase baru kehidupan: pensiun aktif dengan tetap bekerja dan memberi dampak.
■ Mantan CEO DBS itu kini fokus pada pendidikan, konservasi alam, AI, dan transformasi organisasi pasca pensiun.
■ Gupta menilai AI akan mengubah sistem pendidikan dan mengurangi dominasi spesialisasi tradisional di kampus.


Banyak eksekutif memilih memperlambat hidup setelah pensiun. Namun bagi Piyush Gupta, meninggalkan kursi CEO DBS Bank justru menjadi awal fase baru yang lebih personal, reflektif, sekaligus produktif.

Pria yang selama 15 tahun membesarkan DBS menjadi salah satu bank paling kuat di Asia itu menolak menyebut dirinya pensiun. Ia lebih menyukai istilah “rewiring” — membangun ulang arah hidup.

Dulu, Gupta identik dengan setelan formal, dasi merah khas DBS, dan tas kerja eksekutif. Kini, ia tampil lebih santai dengan ransel sederhana di pundaknya. Namun satu hal tidak berubah: cara berpikirnya yang tajam dan obsesinya pada transformasi.

Dalam wawancara dengan The Business Times, Gupta berbicara mengenai meditasi, pendidikan, konservasi alam, kecerdasan buatan, hingga bagaimana manusia harus merancang hidup jika umur harapan hidup mencapai 100 tahun.

“Fase hidup manusia sekarang berubah. Kita sedang menciptakan fase baru antara usia 60 hingga 75 tahun, yaitu fase rambut perak, ketika seseorang sudah pensiun tetapi masih aktif bekerja dan berkarya,” kata Gupta.

Merancang Pensiun Sejak Masih Berkuasa
Berbeda dengan banyak pemimpin korporasi yang sulit melepas jabatan, Gupta justru merancang transisi pensiunnya sejak lama.

Keputusan itu dipengaruhi pengalaman pahit ketika startup pertamanya gagal bertahun-tahun lalu. Saat itu ia sempat mengalami depresi.
“Pelajaran itu terus melekat pada saya. Saya berkata pada diri sendiri, ketika saya pensiun atau melakukan rewiring hidup, saya harus melakukannya dengan lebih bijak dan terencana,” ujarnya.

Gupta mengaku sengaja mundur dari DBS pada usia 65 tahun agar masih memiliki sekitar 15 tahun untuk mengejar hal-hal lain di luar dunia perbankan.

Ia percaya manusia modern harus berhenti melihat pensiun sebagai akhir produktivitas. Menurutnya, dengan perkembangan kesehatan dan teknologi medis, usia 100 tahun akan menjadi sesuatu yang normal bagi banyak orang. “Masa hidup 100 tahun akan terjadi pada kita semua,” katanya.

Pandangan ini sejalan dengan riset World Health Organization yang memperkirakan populasi lansia global akan melonjak drastis dalam dua dekade mendatang. Konsep “second career” dan active ageing kini menjadi tren baru di banyak negara maju.

Dari Bankir Menjadi Pendukung Konservasi Alam

Pasca-DBS, Gupta mengisi hidupnya dengan perjalanan ke Himalaya, Gurun Gobi di Mongolia, hingga Zambia. Namun di balik perjalanan itu, ada misi yang lebih besar: mencari aktivitas yang memberinya makna sekaligus dampak sosial.

Salah satu kecintaannya adalah birdwatching atau pengamatan burung — hobi yang jarang diasosiasikan dengan dunia perbankan. “Saya merasa itu membantu menenangkan pikiran. Anda harus punya kesabaran. Bagi saya, itu sangat meditatif,” katanya.

Gupta kini menjadi bagian dari BirdLife International dan kelompok advokasi lingkungan global Campaign for Nature yang mendorong perlindungan minimal 30% daratan dan lautan dunia pada 2030.

Ia juga menjabat Chairman Mandai Wildlife Group, operator taman satwa terbesar di Singapura.
Menurut Gupta, kebun binatang modern tidak lagi sekadar tempat hiburan, tetapi alat edukasi untuk membangun kesadaran lingkungan generasi muda.

“Dampak terbesar kebun binatang saat ini bukan hanya hiburan. Ini tentang advokasi konservasi,” ujarnya.

Pendidikan Harus Berubah di Era AI
Selain konservasi, Gupta kini banyak mencurahkan perhatian pada dunia pendidikan. Sebagai Chairman Board of Trustees Singapore Management University, ia mulai mempertanyakan relevansi sistem pendidikan tradisional di era AI generatif.

Gupta bahkan melontarkan gagasan kontroversial: apakah kampus masa depan masih membutuhkan fakultas atau jurusan seperti ekonomi, hukum, dan akuntansi?

Menurutnya, AI akan mengurangi kebutuhan manusia terhadap pengetahuan yang terlalu spesifik. “Pendidikan masa depan adalah tentang melatih pikiran dan konteks, bukan sekadar menghafal pengetahuan,” katanya.

Ia mengusulkan model pembelajaran lintas disiplin, di mana mahasiswa memahami banyak bidang secara cukup mendalam dibanding hanya menjadi spesialis sempit. “Saya rasa kita harus membubarkan jurusan, dan kita seharusnya membiarkan orang-orang fokus mengambil 10 program minor,” ujar Gupta.

Pandangan tersebut mencerminkan perubahan besar yang mulai terjadi di universitas global. Laporan World Economic Forum menyebut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan adaptasi lintas disiplin akan menjadi keterampilan utama di era AI.

Kepemimpinan Tanpa Hierarki

Gupta juga menyoroti budaya organisasi modern yang menurutnya masih terlalu hierarkis.
Ia percaya transformasi perusahaan hanya bisa terjadi jika organisasi menciptakan ruang aman untuk bertanya, berdiskusi, bahkan berbeda pendapat.

“Sebagian besar rapat dewan direksi sangat formal dan kaku. Padahal dewan direksi itu seharusnya menjadi kumpulan orang bijak yang bisa berdiskusi terbuka,” katanya.

Di perusahaan-perusahaan tempat ia terlibat, Gupta mengaku selalu mencoba menghapus jarak jabatan, termasuk meminta semua orang memanggilnya “Piyush”, bukan “Chairman”.

Pendekatan itu dianggap penting untuk membangun budaya inovasi di tengah era AI dan perubahan bisnis yang bergerak semakin cepat.

Fokus Baru: India, Infrastruktur Hijau, dan Hubungan Regional

Meski tak lagi memimpin DBS, Gupta masih aktif di berbagai posisi strategis. Ia kini menjabat Chairman Keppel dan masuk dalam Council of Presidential Advisers Singapura.

Perhatiannya juga tertuju pada India, negara kelahirannya yang kini memiliki ekonomi lebih dari US$4 triliun.

Menurut Gupta, India membutuhkan modal besar untuk membangun infrastruktur berkelanjutan dan Singapura bisa memainkan peran penting. “India membutuhkan modal, dan ini sesuatu yang bisa disediakan Singapura,” katanya.

Ia berharap hubungan ekonomi India-Singapura semakin dalam, terutama di sektor energi hijau, infrastruktur, dan investasi. ■


Digionary:

● Active Ageing: Konsep hidup aktif dan produktif di usia lanjut.
● Birdwatching: Aktivitas mengamati burung di habitat alaminya untuk rekreasi atau konservasi.
● Generative AI: Teknologi kecerdasan buatan yang mampu menciptakan teks, gambar, audio, atau konten baru secara otomatis.
● Liberal Arts: Sistem pendidikan lintas disiplin yang menggabungkan berbagai bidang ilmu.
● Rewiring: Istilah yang digunakan Piyush Gupta untuk menggambarkan proses membangun ulang arah hidup setelah pensiun.
● Second Career: Karier kedua yang dijalani seseorang setelah pensiun dari profesi utama.
● Silver-haired Phase: Fase usia lanjut yang tetap aktif bekerja, belajar, dan berkarya.
● Sustainability: Prinsip pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

#PiyushGupta #DBS #DBSBank #Leadership #Retirement #ActiveAgeing #AI #ArtificialIntelligence #Education #FutureOfEducation #Singapore #Keppel #SMU #Mandai #Birdwatching #Sustainability #GreenFinance #BusinessLeadership #TransformasiDigital #AsianLeadership

Comments are closed.