Kunci Sukses Startup: Privy Ingatkan Founders Fokus pada Masalah, Bukan Pendanaan

- 3 Juli 2026 - 05:07

Rasio kewirausahaan Indonesia yang tertahan di angka 3,29% menjadi sorotan dalam National Founders Connect 2026, mendorong ajakan bagi alumni LPDP untuk membangun bisnis berbasis solusi atas masalah nyata guna meningkatkan daya saing ekonomi nasional. 


DIGI-HIGHLIGHTS:

​■ Kesenjangan Rasio: Rasio wirausaha Indonesia di 3,29% masih tertinggal dibanding Singapura (8,76%), Malaysia (4,74%), dan Thailand (4,26%).
■ Filosofi Bisnis: Privy menekankan bahwa fondasi bisnis kuat dimulai dari pemahaman masalah nyata, bukan obsesi terhadap pendanaan investor.
■ Budaya Kolaborasi: Privy mengajak alumni LPDP membangun ruang kolaborasi antar-latar belakang untuk melahirkan inovasi yang berdampak bagi negeri. 


Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam menumbuhkan populasi wirausahawan. Dengan rasio kewirausahaan yang baru menyentuh 3,29%, angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang telah mencapai 8,76%, maupun Malaysia dan Thailand. Menyadari urgensi tersebut, Founder dan CEO Privy, Marshall Pribadi, mengajak para talenta unggul—khususnya alumni penerima beasiswa LPDP—untuk mulai membangun bisnis yang berpijak pada penyelesaian masalah nyata di masyarakat, bukan sekadar mengejar pendanaan instan. 

​Dalam forum National Founders Connect 2026 yang digagas oleh Mata Garuda LPDP, Marshall Pribadi berbagi refleksi atas sepuluh tahun perjalanannya membangun Privy. Ia menekankan bahwa fondasi bisnis yang kokoh tidak lahir dari peluang sesaat, melainkan dari dedikasi dalam memberikan solusi atas tantangan yang dirasakan masyarakat luas. 

​”Menurut saya, bisnis yang bertahan lama bukanlah bisnis yang dibangun karena melihat peluang sesaat, melainkan bisnis yang mampu menyelesaikan masalah yang benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika kita fokus menciptakan solusi yang relevan dan memberikan manfaat nyata, maka kepercayaan akan terbentuk, pengguna akan datang, dan bisnis memiliki fondasi yang kuat untuk terus bertumbuh,” ujar Marshall. 

​Relevansi filosofi tersebut terbukti dari pertumbuhan Privy yang kini telah digunakan oleh 71 juta individu dan lebih dari 200.000 institusi. Perusahaan bahkan mencatatkan lebih dari 156 juta dokumen yang ditandatangani secara elektronik, serta berhasil mencegah lebih dari 122 juta upaya kecurangan digital. 

Peringatan bagi Para Founders

Marshall turut menyoroti fenomena di kalangan startup muda yang terlalu prematur dalam berburu investor. Menurutnya, langkah ini sering kali mengaburkan visi utama perusahaan. 

​”Banyak founders yang berpikir bahwa langkah berikutnya adalah mencari investor. Padahal yang lebih penting adalah memastikan bahwa kita memahami masalah yang ingin diselesaikan dan memiliki komitmen untuk membangun solusinya. Ketika fondasi itu sudah kuat, investor biasanya akan datang sebagai partner untuk mempercepat pertumbuhan, bukan menjadi tujuan utama,” jelas Marshall. 

​Pandangan ini mendapat dukungan dari Managing Partner BNI Ventures, Eddi Danusaputro. Eddi menegaskan bahwa iklim investasi saat ini menuntut selektivitas yang lebih tinggi. “Perusahaan yang mampu menjawab kebutuhan pasar dan menunjukkan arah pertumbuhan yang jelas akan memiliki daya tarik yang lebih kuat di mata investor,” ungkap Eddi. 

Kolaborasi untuk Negeri

Sebagai penutup, Marshall mengajak komunitas alumni LPDP untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia mendorong terciptanya ruang kolaborasi yang lebih luas agar individu dengan berbagai latar belakang dapat menyatukan ide dan menciptakan inovasi yang berdampak masif bagi perekonomian Indonesia. 

​”Indonesia memiliki banyak talenta hebat dan potensi yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita menciptakan lebih banyak ruang kolaborasi agar orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bisa saling bertemu, bertukar ide, dan membangun solusi bersama. Dari kolaborasi seperti itulah inovasi yang mampu memberikan dampak besar biasanya lahir,” tambah Marshall. (MMS)


DIGI-INSIGHTS:

Keberhasilan Privy dalam membangun kepercayaan digital selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa product-market fit dalam industri teknologi bukanlah hasil dari pengejaran tren, melainkan akumulasi dari penyelesaian masalah fundamental yang bersifat pain point di masyarakat. Dengan menduduki posisi sebagai penyedia layanan digital trust yang memfasilitasi transaksi bagi jutaan pengguna dan ratusan ribu institusi, Privy membuktikan bahwa loyalitas pengguna terbentuk secara organik ketika inovasi teknologi diposisikan sebagai jembatan kepercayaan, bukan sekadar alat transaksional. Bagi para founder muda, ini adalah pengingat krusial bahwa fundamental bisnis yang kuat—seperti sertifikasi keamanan dan validitas data—harus menjadi prioritas utama sebelum mengekspansi skala operasional ke pasar global. 

​Fenomena yang disorot dalam National Founders Connect 2026 mengenai ketergantungan founder pada pendanaan eksternal mencerminkan adanya pergeseran prioritas yang mengkhawatirkan dalam ekosistem startup nasional. Ketika pertumbuhan bisnis dipacu oleh injeksi modal alih-alih oleh kejelasan proposisi nilai (value proposition), perusahaan cenderung kehilangan arah saat pasar melakukan koreksi. Pernyataan dari BNI Ventures yang menekankan selektivitas investor saat ini menjadi sinyal bagi entrepreneur bahwa “bahan bakar” berupa modal hanya akan diberikan kepada mereka yang telah membuktikan kemampuan menciptakan nilai ekonomi nyata, bukan kepada mereka yang hanya mahir dalam memproyeksikan pertumbuhan di atas kertas. 

​Ajakan untuk mengonsolidasikan potensi alumni LPDP melalui ruang kolaborasi lintas sektor merupakan strategi pragmatis untuk mengatasi defisit rasio kewirausahaan di Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan dan jejaring yang luas, alumni LPDP memiliki keunggulan komparatif untuk merancang solusi yang tidak hanya berdampak secara lokal, tetapi juga kompetitif secara internasional. Kolaborasi yang efektif, seperti yang diilustrasikan oleh Privy melalui kemitraan strategisnya dengan pemerintah dan asosiasi industri, akan menjadi katalis utama dalam menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional, yang pada gilirannya akan menempatkan Indonesia sebagai pemain yang diperhitungkan di kancah inovasi global.  ●


DIGIONARY:

​● B2B (Business-to-Business) : Model transaksi bisnis yang dilakukan antarperusahaan.
● B2C (Business-to-Consumer) : Model transaksi bisnis yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir.
● Certificate Warranty : Jaminan atas keaslian sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh penyedia layanan.
● Digital Trust : Kepercayaan terhadap sistem keamanan dan keaslian transaksi dalam ekosistem digital.
● E-KYC (Electronic Know Your Customer) : Proses verifikasi identitas nasabah secara digital.
● FIDO Alliance : Asosiasi internasional yang menetapkan standar keamanan autentikasi global.
● Founder : Pendiri atau inisiator sebuah perusahaan atau startup.
● LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) : Lembaga yang memberikan beasiswa pendidikan tinggi kepada putra-putri Indonesia.
● Mata Garuda : Organisasi resmi yang menaungi alumni penerima beasiswa LPDP.
● Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) : Lembaga berwenang yang menerbitkan sertifikat tanda tangan elektronik.
● Regulatory Sandbox : Wadah eksperimen untuk menguji inovasi teknologi keuangan di bawah pengawasan regulator.
● Rasio Kewirausahaan : Persentase jumlah wirausaha dibandingkan dengan total angkatan kerja.
● Sertifikasi ISO/IEC 27701:2019 : Standar internasional untuk manajemen privasi data pribadi.
● Startup : Perusahaan rintisan yang bergerak di bidang teknologi dan inovasi.
● Web Trust for CA : Sertifikasi keamanan untuk lembaga penerbit sertifikat elektronik. 

​#Privy #Kewirausahaan #LPDP #MataGaruda #StartupIndonesia #DigitalTrust #BisnisBerdampak #InovasiDigital #EkonomiIndonesia #MarshallPribadi #BNIVentures #Entrepreneurship #FoundersConnect #TransformasiDigital #PendidikanIndonesia #SertifikasiElektronik #StartupGrowth #Investasi #KolaborasiBisnis #DigitalIdentity

Comments are closed.