Di tengah lesunya pasar tenaga kerja bagi angkatan kerja muda, studi terbaru LinkedIn menunjukkan Generasi Z dan Milenial justru mendominasi sektor pekerjaan kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh pesat dan bergaji tinggi. Meskipun demikian, laporan ini juga menyoroti kesenjangan gender yang melebar serta tantangan pendidikan bagi mereka yang ingin masuk ke bidang ini.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Generasi Z dan Milenial menguasai sebagian besar posisi kunci di bidang AI, dengan gaji fantastis, bahkan menempati peran kepemimpinan di usia muda.
■ Lonjakan permintaan talenta AI mendorong peningkatan gaji yang signifikan, di mana rata-rata peran AI menawarkan gaji dobel dibandingkan posisi non-AI.
■ Data LinkedIn menunjukkan partisipasi perempuan di bidang AI masih minim, terutama di posisi eksekutif, dengan konsentrasi tinggi pada peran bergaji rendah.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan ketidakpastian ekonomi global yang melanda dunia kerja rupanya tidak menghalangi kaum muda untuk bersinar. Sebuah studi terbaru dari LinkedIn menemukan anomali yang menarik: di saat Generasi Z kesulitan mencari pekerjaan di sektor konvensional, mereka justru berkembang pesat di ceruk industri yang sangat spesifik, yakni kecerdasan buatan (AI).
Studi yang dirilis pada Selasa (18/8) ini menganalisis data platform LinkedIn untuk memetakan 12 peran pekerjaan di bidang AI yang tumbuh paling cepat. Data ini mencakup demografi, gender, pendidikan, dan usia para profesional yang berhasil direkrut dalam kurun waktu 2023 hingga 2025.
Temuan utama menunjukkan bahwa pekerja muda memanfaatkan momentum ledakan AI ini dengan sangat baik. Hal ini kontras dengan data makroekonomi di Amerika Serikat. Pada Juni 2026, tingkat pengangguran untuk pekerja muda berusia 22 hingga 27 tahun mencapai 7,2%, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 4,1%, menurut Biro Sensus dan Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
“Melihat Generasi Z memanfaatkan pasar tenaga kerja AI dengan begitu kuat dan cepat, itu cukup mengejutkan,” kata Kory Kantenga, Kepala Ekonomi Amerika di LinkedIn mengutip CNBC.
Kuasai Peran Strategis dengan Gaji Fantastis
Fakta di lapangan membuktikan narasi tersebut. Data LinkedIn menunjukkan bahwa Generasi Z mendominasi lebih dari dua pertiga perekrutan untuk dua peran individual contributor yang paling dicari: forward deployed engineer (insinyur yang bekerja langsung dengan klien) dan AI engineer. Median gaji tahunan untuk peran ini masing-masing mencapai US$199.000 (sekitar Rp3,1 miliar) dan US$ 166.000 (sekitar Rp2,6 miliar).
Sementara itu, kaum Milenial mengambil peran yang lebih senior, mengisi 60% dari posisi head of AI (kepala bidang AI), yang menawarkan median gaji mencengangkan, yakni US$236.000 (sekitar Rp3,7 miliar) per tahun.
Posisi tawar pekerja muda saat ini sangat kuat karena perusahaan berlomba-lomba mengadopsi teknologi AI. Data internal LinkedIn menunjukkan lowongan pekerjaan terkait AI meningkat tajam sebesar 156% antara 2024 dan 2025, setelah kenaikan 14% pada tahun sebelumnya.
“Beberapa pekerja muda mampu ‘memanfaatkan momen ini’ untuk mengamankan gaji tinggi dan ‘beralih ke posisi kepemimpinan’,” ujar Kantenga. Ia mendorong lulusan baru untuk memanfaatkan peluang ini sebagai langkah strategis “membangun pertahanan diri terhadap perubahan di masa depan.”
Kesenjangan Gender yang Mengkhawatirkan
Di balik kesuksesan tersebut, terdapat catatan merah soal inklusivitas. Pertumbuhan pesat industri AI tampaknya belum dinikmati secara merata oleh semua kalangan, terutama perempuan. LinkedIn mencatat bahwa pada tahun 2025, hanya 26% karyawan baru di peran AI adalah perempuan. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan partisipasi perempuan di bidang non-AI yang mencapai 50%.
Ketimpangan ini semakin tajam di posisi puncak. Perempuan hanya mengisi seperlima dari posisi head of AI, 26% untuk direktur AI, dan hanya 18% untuk member of technical staff (MOTS)—tiga kategori pekerjaan dengan gaji tertinggi.
Sebaliknya, satu-satunya peran yang didominasi atau memiliki keterwakilan setara oleh perempuan adalah data annotator (pemberi anotasi data), yang ironisnya merupakan pekerjaan dengan bayaran terendah dalam daftar LinkedIn, dengan median gaji US$ 51.000 (sekitar Rp816 juta).
Lebih jauh, studi Russell Reynolds Associates pada Februari 2025 menemukan bahwa perempuan hanya memegang 10% dari posisi CEO dan peran teknologi puncak di organisasi AI. Kantenga menyimpulkan, secara keseluruhan, “perempuan kurang terwakili di setiap jenjang senioritas” di perusahaan AI.
Jalan Menuju Karier AI: Pendidikan dan Pengalaman Data
Lantas, bagaimana caranya agar talenta muda bisa menembus benteng industri ini? Meskipun lulusan ilmu komputer menghadapi tantangan berat di pasar kerja secara umum—dengan tingkat pengangguran mencapai 7% pada 2024 menurut Federal Reserve Bank of New York—Kantenga tetap menegaskan bahwa gelar sarjana di bidang ilmu komputer adalah “tiket” utama untuk peran AI tingkat pemula.
Keyakinan ini beralasan. Meskipun berisiko tinggi, proyeksi gaji awal untuk lulusan ilmu komputer dari kelas tahun 2026 adalah yang tertinggi di antara semua jurusan, mencapai US$ 81.535, menurut laporan National Association of Colleges and Employers.
Lebih dari sekadar ijazah, Kantenga menekankan pentingnya pengalaman praktis dalam mengolah data. “Pastikan Anda memiliki pengalaman bekerja dengan data,” ujarnya. Tidak cukup hanya bermodal latar belakang teoretis, peran AI menuntut talenta untuk “tahu bagaimana menyiapkan dan menggunakan data secara efektif.”
Bagi mereka yang memiliki pengalaman dunia nyata terbatas, Kantenga merekomendasikan untuk mengerjakan proyek sampingan terkait AI guna membangun portofolio dan menunjukkan gairah di bidang tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua Generasi Z antusias dengan AI. Banyak dari mereka memiliki perasaan campur aduk mengenai prospek karier di masa depan, dibayangi kekhawatiran apakah teknologi ini pada akhirnya akan menggantikan posisi mereka. (NCK) ■
DIGIONARY:
● Individual Contributor adalah profesional yang memberikan kontribusi langsung terhadap hasil kerja perusahaan melalui keahliannya, tanpa memiliki bawahan atau tanggung jawab manajerial langsung.
● Kecerdasan Buatan (AI) adalah cabang ilmu komputer yang berfokus pada pembuatan sistem yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia.
● Median Gaji adalah nilai tengah dari seluruh data gaji yang diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar, seringkali lebih akurat menggambarkan situasi pasar daripada rata-rata.
● Non-AI Jobs adalah sektor pekerjaan di luar bidang rekayasa dan pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
● Orkestrasi Pasca-Pembelian adalah proses manajemen kompleks yang terjadi setelah transaksi selesai, mencakup logistik, pengembalian barang, dan penanganan sengketa.
● Pay Gap (Kesenjangan Upah) adalah perbedaan rata-rata pendapatan antara kelompok demografis yang berbeda, seperti antara laki-laki dan perempuan.
● Pipeline Talenta adalah kumpulan kandidat yang memenuhi syarat dan sedang dipersiapkan untuk mengisi posisi pekerjaan di masa depan.
● Posisi Kepemimpinan adalah peran manajerial atau eksekutif yang memiliki tanggung jawab strategis dan pengambilan keputusan dalam organisasi.
● Resiliensi Finansial adalah kemampuan individu untuk menyerap kejutan finansial dan pulih dari kesulitan ekonomi.
● Sertifikasi Profesional adalah kredensial yang diberikan oleh lembaga industri untuk memvalidasi keahlian spesifik dalam suatu bidang, seringkali menjadi pelengkap gelar akademik.
● Sisi Proyek adalah inisiatif kerja mandiri yang dilakukan di luar pekerjaan utama untuk mengasah keterampilan atau membangun portofolio.
● Soft Skill adalah atribut pribadi dan antarpribadi yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan orang lain di tempat kerja.
● Talenta AI adalah individu yang memiliki keahlian dan pengalaman yang relevan untuk bekerja di bidang rekayasa dan pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
● Tenaga Kerja Muda adalah angkatan kerja yang berada dalam rentang usia awal karier, seperti Generasi Z.
● Tingkat Pengangguran adalah persentase dari angkatan kerja total yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan.
#GenZ #Millennials #AIJobs #Technology #Career #Salaries #LinkedInStudy #Workforce #Diversity #GenderGap #Inclusion #Skills #ComputerScience #DataEngineering #FutureOfWork #GenZUnemployment #AIEngineer #ForwardDeployedEngineer #HeadOfAI #WomenInTech
