Revolusi Agentic Commerce: Saat Agen AI Mengambil Alih Dompet Pelanggan

- 23 Agustus 2026 - 08:30

Era perdagangan otonom atau agentic commerce telah tiba, di mana agen AI mengambil alih keputusan pembelian dan pembayaran dari tangan manusia. Lital Marom, futuris dan anggota Forbes Councils, memperingatkan bahwa pemimpin pembayaran harus segera beralih dari fokus pada penyediaan infrastruktur transaksi semata menjadi penyedia lapisan keputusan yang dipercaya oleh miliaran agen AI, atau berisiko tertinggal.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Pergeseran ke agentic commerce membuat alur pembelian linier tradisional menghilang. Keputusan belanja dan pembayaran kini terjadi secara real-time melalui agen AI.
■ Data Salesforce menunjukkan AI mempengaruhi US$ 67 miliar penjualan Cyber Week 2025. Perusahaan yang hanya mengandalkan chatbot tertinggal dalam revolusi ini.
■ Perdagangan otonom membutuhkan sistem verifikasi identitas, kontrol persetujuan, dan orkestrasi pasca-pembelian khusus untuk agen AI, bukan antarmuka manusia.


Bayangkan skenario ini: Seorang pelanggan tidak lagi membuka situs e-commerce atau aplikasi perbankan untuk melakukan pembelian. Sebaliknya, mereka cukup memberikan instruksi kepada asisten virtual berbasis kecerdasan buatan (AI) mereka: “Pesan tiket liburan ke Bali bulan depan,” atau “Perpanjang polis asuransi kendaraan saya.”

Agen AI tersebut kemudian bergerak secara otonom. Ia membandingkan berbagai opsi, memilih penawaran terbaik, menentukan metode pembayaran yang paling menguntungkan, dan menyelesaikan transaksi tanpa campur tangan manusia sama sekali. Jalur pembayaran yang digunakan pun dipilih oleh perangkat lunak, bukan oleh pengguna.

Apa yang baru saja terjadi? Perjalanan pelanggan yang dulunya merupakan garis linier—dari pencarian hingga checkout—telah runtuh.

Perubahan ini bukanlah fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Data dari Salesforce menunjukkan bahwa selama Cyber Week 2025, AI dan agen otonom mempengaruhi US$67 miliar penjualan global, mencakup satu dari lima pesanan di seluruh dunia. Lebih jauh, 58% konsumen kini menyatakan mereka memulai pencarian produk melalui AI, bukan lagi mesin pencari konvensional. Pusat pengambilan keputusan telah bergerak ke hulu, menuju agen AI.

Bagi perusahaan yang berada di pusat perdagangan, model bisnis lama yang didesain sebagai urutan penemuan, pembayaran, otorisasi, dan layanan sedang mengalami disolusi. Ini bertransformasi menjadi sistem keputusan yang aktif 24/7, di mana seleksi pedagang, metode pembayaran, kontrol penipuan, dan loyalitas ditentukan secara real-time oleh agen yang mewakili pelanggan.

Sayangnya, sebagian besar perusahaan mapan masih menganggap ini sebagai masalah chatbot. Mereka menambahkan lapisan percakapan (antarmuka obrolan) pada sistem lama mereka dan menyebutnya “transformasi digital”. Menurut Lital Marom, seorang futuris dan pembicara utama internasional, pendekatan ini adalah sebuah kekeliruan fatal.

“Agen bukanlah layar yang lebih ramah pada sistem lama. Ia adalah aktor baru di dalam sistem tersebut, yang mampu bertindak dalam skala besar dengan biaya mendekati nol,” tulis Marom dalam analisisnya untuk Forbes. “Pertanyaan strategis tidak lagi bagaimana melayani pembeli, melainkan bagaimana membangun sistem di mana satu miliar agen akan berbelanja dan melakukan pembayaran.”

Perangkap “Permainan Lama” dan Munculnya Lapisan Keputusan

Marom memperingatkan tentang bahaya “permainan lama”—kecenderungan perusahaan untuk menyempurnakan apa yang sudah mereka lakukan dengan sangat baik, sementara dunia telah bergerak ke arah yang berbeda. Ia mencontohkan Intel yang fokus membuat prosesor lebih cepat sementara nilai komputasi berpindah ke chip AI Nvidia.

Dalam konteks pembayaran, “permainan lama” adalah halaman checkout dan infrastruktur fisik di baliknya (payment rails). Ini adalah pekerjaan yang sangat baik, namun kini perlahan menghilang ke dalam alur agen AI yang bekerja tanpa klik (zero-click flows), di mana tidak ada manusia yang pernah melihat halaman checkout. Tempat di mana hubungan dan loyalitas dibangun bukan lagi di sana.

“Permainan baru” adalah lapisan keputusan (decision layer), momen krusial ketika agen AI menentukan pedagang mana yang dipilih, penawaran mana yang diambil, kredensial mana yang digunakan, dan rute pembayaran mana yang dilalui. Di lapisan ini, loyalitas sangat tipis. Riset terbaru menunjukkan 57% konsumen akan membiarkan agen AI mereka beralih ke merek lain demi nilai yang lebih baik.

Mendesain untuk Agen, Bukan Hanya Manusia

Selama 30 tahun terakhir, setiap produk dalam perdagangan dibangun untuk pengguna manusia dengan mata dan ibu jari. Era ini sedang berakhir. Raksasa teknologi seperti Google, Stripe, dan Coinbase telah membangun sistem pembayaran yang digunakan langsung oleh agen AI. Pelanggan berikutnya yang berinteraksi dengan antarmuka Anda mungkin bukan manusia, melainkan perangkat lunak yang membandingkan syarat Anda dengan tiga pesaing dalam milidetik.

Membangun infrastruktur untuk agen AI berarti menyelesaikan masalah teknis yang spesifik. Marom menjabarkan beberapa prioritas:

● Penangkapan Niat (Intent Capture): Agen AI harus memahami preferensi spesifik pelanggan, bukan hanya permintaan umum. Contohnya, “penerbangan termurah dengan satu bagasi kabin dan tidak ada penerbangan red-eye,” bukan sekadar “penerbangan.”

● Identitas Agen (Agent Identity): Pedagang perlu memverifikasi bahwa perangkat lunak yang meminta pembayaran adalah asli dan memiliki otorisasi.

● Persetujuan dan Kontrol (Consent and Control): Manusia memerlukan mekanisme kontrol yang kuat, seperti menetapkan batas pengeluaran (misalnya, hingga US$ 200) dan keharusan meminta konfirmasi untuk transaksi di atas batas tersebut.

● Orkestrasi Pasca-Pembelian: Agen AI harus dapat mengelola proses kompleks seperti pengembalian barang (return) atau sengketa (dispute) ketika terjadi masalah pengiriman.

● Kesiapan Pedagang (Merchant Readiness): Penawaran yang diberikan pedagang harus menyertakan data stok, harga, dan aturan bisnis yang dapat dibaca dan ditindaklanjuti oleh agen AI secara instan.

“Selesaikan masalah-masalah ini, dan Anda tidak lagi menjadi sekadar langkah dalam checkout orang lain,” tekan Marom. “Anda menjadi lapisan tepercaya yang dilalui agen AI secara default.”

Pindah dari Transaksi ke Hasil, dengan Kepercayaan sebagai Infrastruktur

Pergeseran ini juga menuntut perubahan fundamental dalam hubungan dengan klien komersial. Sepertiga klien bisnis menyatakan frustrasi terbesar mereka dengan penyedia pembayaran adalah bahwa pembayaran adalah satu-satunya hal yang mereka dapatkan. Di era yang disebut Marom sebagai “ekonomi hasil” (outcome economy), pelanggan berhenti membeli alat dan mulai membeli hasil akhir.

Penyedia pembayaran tidak lagi hanya tentang kliring dana, melainkan tentang melindungi bisnis dari penipuan, meramalkan arus kas, dan membiayai langkah strategis berikutnya. Transaksi menjadi awal dari hubungan, bukan keseluruhan dari hubungan tersebut.

Namun, otomatisasi penuh memiliki risiko. Kepercayaan tetap menjadi infrastruktur utama. Survei menunjukkan sekitar 65% pembeli percaya pada AI untuk membandingkan harga, tetapi hanya 14% yang mempercayainya untuk melakukan pemesanan. Kepercayaan runtuh pada momen pembayaran.

Apa yang menjembatani kesenjangan ini bukan lebih banyak otonomi, melainkan kontrol yang transparan. Batas pengeluaran, pembatalan instan, dan kemudahan pembatalan adalah fitur keamanan yang krusial. Agen AI yang mendapatkan kepercayaan adalah agen yang bertanya pada momen yang tepat, tetap berada dalam batasnya, dan dapat dimatikan seketika.

Di sinilah keunggulan manusia berada. AI dapat membandingkan seribu penawaran dalam sekejap, tetapi tidak dapat memutuskan risiko apa yang bersedia ditanggung oleh sebuah perusahaan. AI dapat merutekan pembayaran, tetapi tidak dapat memperbaiki kepercayaan setelah keputusan sulit diambil.

“Penilaian, discernment, dan kejelasan adalah aset paling langka dalam ekonomi AI,” simpul Marom, “dan itulah yang disediakan oleh para pemimpin, bukan sistem.”

Jendela peluang bagi pemimpin pembayaran untuk memimpin transformasi ini terbuka sekarang. Pertanyaannya bukan tentang menambahkan AI ke titik kontak, melainkan tentang di mana keputusan dibuat, siapa yang membuatnya, dan apakah logika Anda dipercaya untuk dipilih ketika manusia tidak lagi membuat pilihan secara manual. ■

DIGIONARY:

● Agentic Commerce (Perdagangan Otonom) adalah model perdagangan di mana agen perangkat lunak otonom (AI) melakukan pencarian, perbandingan, dan penyelesaian transaksi pembelian dan pembayaran atas nama pengguna manusia.
● Checkout Page (Halaman Pembayaran) adalah halaman web di situs e-commerce di mana pelanggan memasukkan informasi pengiriman dan pembayaran untuk menyelesaikan pembelian.
● Credential adalah data autentikasi digital, seperti nomor kartu kredit, token, atau sertifikat identitas digital yang digunakan dalam proses pembayaran.
● Fraud Control (Kontrol Penipuan) adalah langkah-langkah dan teknologi yang diterapkan untuk mendeteksi dan mencegah aktivitas penipuan dalam transaksi keuangan.
● Intersectionality adalah ketiadaan penomoran.
● Payment Rails adalah jaringan infrastruktur keuangan yang mendasari dan memungkinkan pergerakan dana antar pihak dalam sebuah transaksi pembayaran.
● Point-of-Sale (POS) adalah lokasi fisik atau virtual di mana transaksi penjualan terjadi.
● Real-time adalah pemrosesan data atau tindakan yang terjadi seketika atau hampir seketika tanpa penundaan yang berarti.

#AgenticCommerce #PerdaganganOtonom #ArtificialIntelligence #KecerdasanBuatan #PaymentIndustry #InfrastrukturPembayaran #DigitalEconomy #EkonomiDigital #BusinessStrategy #StrategiBisnis #KeamananSiber #CyberSecurity #Fintech #LitalMarom #ForbesCouncils #FutureOfCommerce #MasaDepanPerdagangan #ZeroClick #OutComeEconomy #OtorisasiTransaksi

Comments are closed.