Laju transaksi account-to-account (A2A) yang diproyeksikan melonjak 160% menjadi 5,8 triliun transaksi pada 2028 memicu eskalasi ancaman kejahatan siber global, memaksa raksasa pembayaran Visa meluncurkan fitur terbaru A2A Protect berbasis kecerdasan buatan (AI) hasil integrasi teknologi Featurespace dan aksi akuisisi BioCatch senilai US2,4 miliar. Langkah pencegahan waktu-nyata (real-time) ini menjadi krusial mengingat mayoritas perbankan global membutuhkan waktu hingga enam tahun untuk mencapai pengembalian investasi (ROI) dari sistem keamanan AI mereka, meski kasus unik seperti Discovery Bank terbukti mampu mencetak ROI di atas 500% dan menekan potensi kerugian hingga US6 juta.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Visa resmi memperbarui sistem A2A Protect menggunakan AI dari Featurespace dan BioCatch untuk menghentikan fraud sebelum dana keluar rekening.
■ Nilai transaksi A2A global diproyeksikan melonjak 160% menjadi 5,8 triliun transaksi pada tahun 2028, memicu kebutuhan proteksi instan.
■ Mayoritas bank butuh hingga enam tahun untuk ROI AI, namun Discovery Bank mencatatkan ROI di atas 500% dan mencegah kerugian sebesar US$6 juta.
Laju transaksi pembayaran antar-rekening (account-to-account atau A2A) di tingkat global terus meluncur deras tanpa henti. Namun, ketika dana berpindah hanya dalam hitungan detik, celah keamanan justru membayang di belakangnya. Menyikapi tren ini, raksasa jaringan pembayaran Visa resmi meluncurkan versi terbaru dari alat pencegahan kejahatan finansial, Visa A2A Protect, guna membantu sektor perbankan menghentikan aksi penipuan (fraud) sebelum uang keluar dari rekening nasabah.
Langkah ini dirilis di tengah proyeksi lonjakan volume transaksi A2A dunia yang diperkirakan melampaui 5,8 triliun transaksi pada 2028, naik 160% dibandingkan 2024. Terlebih lagi, wilayah Asia Pasifik diperkirakan menyumbang lebih dari separuh transaksi A2A global, di mana total kerugian akibat penipuan di kawasan ini sempat menyentuh angka US$688,42 miliar dalam setahun.
“Pelaku penipuan bergerak cepat di berbagai jenis pembayaran, dan lembaga keuangan membutuhkan analisis risiko yang sama cepatnya, tanpa memperlambat transaksi yang sah,” ujar James Mirfin, Head of Risk and Security Solutions Visa mengutip PYMNTS.
Dia menambahkan A2A Protect menggabungkan keahlian jaringan Visa dengan teknologi Featurespace untuk menghadirkan lapisan perlindungan baru yang andal, membantu lembaga keuangan mendeteksi lebih banyak penipuan secara lebih awal.
Sistem A2A Protect memanfaatkan transfer learning dan analisis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memberikan analisis risiko secara real-time. Pendekatan ini memangkas proses rumit karena lembaga keuangan tak perlu lagi membangun model pelatihan data lokal atau membentuk konsorsium dari awal. Pada enam bulan pertama penerapannya, teknologi ini terbukti meningkatkan deteksi penipuan hingga 75%.
Penguatan perisai siber Visa juga ditopang oleh aksi korporasi besar berupa akuisisi perusahaan keamanan berbasis AI asal Israel, BioCatch, senilai US$2,4 miliar. Teknologi BioCatch bekerja dengan memantau ribuan sinyal perilaku, seperti ritme ketukan tombol keyboard (keystrokes), kebiasaan gestur layar touch screen, hingga jaringan perangkat untuk membedakan nasabah asli dan penipu secara presisi.
Meski urgensi pengamanan amat mendesak, fakta di lapangan menunjukkan adanya jurang kesiapan infrastruktur. Laporan PYMNTS Intelligence bersama Plaid bertajuk “Payment Protection: Why Firms Still Aren’t Real-Time Ready” mengungkapkan bahwa 65% perusahaan berencana memperkuat verifikasi identitas dan 59% berencana memperluas deteksi penipuan berbasis AI. Namun, mayoritas alat keamanan perbankan saat ini hanya mengover sebagian alur pembayaran, meninggalkan celah bahaya saat dana berpindah jauh lebih cepat daripada kapasitas tim analisis risiko.
Di sisi lain, adopsi AI di sektor jasa keuangan kerap terbentur masalah efisiensi investasi. Laporan Enterprise Benchmark Report mencatat bahwa walau 90% hingga 100% perusahaan finansial merasakan manfaat dari belanja teknologi AI, hanya 5% hingga 10% yang berhasil meraih pengembalian investasi (full payback) secara utuh dalam waktu singkat. Sebagian besar perbankan membutuhkan waktu lima hingga enam tahun untuk mencapai titik balik modal.
Namun, Discovery Bank asal Afrika Selatan menjadi salah satu pengecualian (outlier) yang mencolok. Menggunakan arsitektur platform data Databricks yang terintegrasi dengan Azure OpenAI, bank digital tersebut mencatatkan nilai ROI lebih dari 500%. Pemrosesan pipa data berjalan 20 kali lebih cepat dan tim dapat membangun lebih dari 300 model AI dalam sehari.
“Dengan platform Databricks dan asisten berbasis Azure OpenAI, kami mencatatkan pengembalian investasi (ROI) sebesar 500%,” kata Stuart Emslie, Head of Actuarial and Data Science Discovery Bank.
Sistem AI terpadu milik Discovery Bank tak hanya memprediksi kebutuhan nasabah melalui next-best action model yang meningkatkan interaksi hingga 40%, tetapi juga menjadi benteng pertahanan utama. Sejak akhir 2025, platform AI ini berhasil memblokir potensi kerugian akibat fraud senilai 100 juta rand (sekitar US$6 juta), serta menyelesaikan 55% pertanyaan layanan nasabah secara instan pada kontak pertama.
“Kami sedang memasuki fase berikutnya di Discovery Bank seiring dengan langkah kami memperdalam integrasi layanan perbankan, perlindungan, poin hadiah, dan investasi ke dalam satu pengalaman digital yang terpadu,” jelas Hylton Kallner, CEO Discovery Bank.
Langkah percepatan berbasis kecerdasan buatan ini juga tercermin di lembaga keuangan global lain seperti Deutsche Bank, yang berhasil memangkas durasi penyelesaian sejumlah proyek kerja dari dua tahun menjadi hanya tiga bulan. Tren ini mempertegas bahwa di tengah lesatan transaksi finansial digital, adopsi sistem proteksi AI bukan lagi sekadar pilihan operasional, melainkan fondasi kelangsungan bisnis perbankan modern. (MMS) ■
DIGIONARY:
● Account-to-Account (A2A): Metode transfer dana secara langsung dari satu rekening bank ke rekening bank lainnya tanpa melalui perantara kartu kredit atau debit.
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan intelektual manusia untuk menganalisis data dan mengambil keputusan.
● Behavioral AI: Cabang kecerdasan buatan yang berfokus pada analisis pola perilaku manusia, seperti riwayat transaksi, pemakaian perangkat, dan ritme pengetikan.
● Fraud: Tindakan kecurangan atau penipuan finansial yang sengaja dilakukan untuk memperoleh keuntungan materi secara ilegal.
● Real-Time Insights: Informasi atau hasil analisis risiko yang disajikan secara langsung pada saat transaksi sedang berlangsung.
● Return on Investment (ROI): Rasio finansial yang mengukur efisiensi atau tingkat keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi dibanding biaya yang dikeluarkan.
● Transfer Learning: Teknik dalam pembelajaran mesin (machine learning) di mana model yang telah dilatih untuk satu tugas dimanfaatkan kembali untuk tugas lain yang serupa.
#Visa #A2AProtect #PencegahanFraud #TeknologiKeuangan #Fintech #ArtificialIntelligence #AIPerbankan #KeamananSiber #BioCatch #Featurespace #DiscoveryBank #Databricks #PerbankanDigital #TransaksiDigital #FraudPrevention #CyberSecurity #RealTimePayments #InovasiFinansial #KeamananTransaksi #BeritaEkonomi
