Survei Teknologi Perbankan 2026 oleh KPMG yang dipublikasikan baru-baru ini mengungkap keamanan siber dan pencegahan fraud menjadi prioritas investasi utama bagi 95% bank dalam 12 bulan ke depan, diikuti efisiensi operasional dan otomasi (91%). Kekhawatiran terhadap risiko konsentrasi penyedia cloud mencuat dengan 69% responden menilainya sebagai ancaman terbesar, sementara 71% bank beraset di atas US$100 miliar sudah merancang interoperabilitas untuk tokenized deposits dan stablecoin meski mayoritas belum menjadikan aset digital sebagai prioritas jangka pendek.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Keamanan siber dan pencegahan fraud jadi prioritas investasi 95% bank, dengan AI kini dikerahkan untuk mendeteksi ancaman real time, mengidentifikasi fraud, dan mempercepat respons insiden—sekaligus menjadi senjata baru bagi penjahat siber.
■ Risiko konsentrasi cloud provider dianggap ancaman terbesar oleh 69% bank, memicu perdebatan strategi multi-cloud dan hybrid, sementara 71% bank besar sudah merancang interoperabilitas tokenized deposits dan stablecoin.
■ Modernisasi data menjadi fondasi AI, dengan 67% responden menyasar akuisisi kapabilitas data dan analitik sebagai target utama, mengungguli keamanan siber yang diincar 65% bank.
Di tengah gelombang transformasi digital yang semakin agresif, bank-bank global menghadapi dilema akut: memacu investasi keamanan siber yang melonjak sambil mengelola ketergantungan pada segelintir penyedia cloud, serta bersiap menyambut era aset digital yang mulai bergerak dari wacana ke papan gambar. Temuan ini terungkap dalam Survei Teknologi Perbankan 2026 yang dirilis KPMG sekaligus memberi peta jalan bagi para pemimpin industri keuangan di tengah ketidakpastian teknologi.
Survei KPMG menempatkan keamanan siber dan pencegahan fraud di puncak daftar investasi teknologi perbankan, dengan 95% responden menyatakannya sebagai fokus utama dalam 12 bulan mendatang. Angka ini melampaui prioritas klasik seperti efisiensi operasional dan otomasi yang dipilih 91% bank.
Dorongan ini bukan tanpa alasan. KPMG mencatat bahwa kemajuan Generative AI dan Agentic AI memang mendongkrak produktivitas operasional bank, namun secara simultan memberi senjata baru bagi pelaku kejahatan siber. Serangan menjadi lebih kompleks, lebih cepat, dan lebih sulit dideteksi dengan metode konvensional.

Akibatnya, bank kini mengerahkan AI untuk melawan AI dengan mendeteksi ancaman secara real time, mengidentifikasi pola fraud, mencegah kebocoran sistem, dan mempercepat respons terhadap insiden keamanan. Sebanyak 65% responden menyebut penguatan keamanan siber dan manajemen risiko sebagai target akuisisi teknologi prioritas perbankan.
Enterprise GenAI sendiri menjadi prioritas bagi 68% bank, sementara implementasi co-pilot berbasis model bahasa besar (LLM) mencatat angka 60%. Ini menegaskan bahwa adopsi AI di perbankan sudah bergerak dari eksperimen ke implementasi, meski tantangan tata kelola dan keamanan masih akan terus membayangi.
Risiko Konsentrasi Cloud Meresahkan
Satu temuan yang patut digarisbawahi adalah kecemasan terhadap ketergantungan pada penyedia cloud. Sebanyak 69% responden menilai konsentrasi penggunaan cloud provider sebagai risiko teknologi terbesar saat ini. Kegagalan satu penyedia, atau perubahan kebijakan sepihak, berpotensi melumpuhkan operasional bank yang telah memindahkan beban kerja kritis ke infrastruktur pihak ketiga.
Kekhawatiran ini mendorong bank untuk mempertimbangkan strategi multi-cloud, repatriasi beban kerja tertentu, atau arsitektur hybrid yang memberi kontrol lebih besar. Namun transisi semacam itu memerlukan investasi tambahan dan waktu, menciptakan gap antara kebutuhan jangka pendek dan ketahanan jangka panjang.
Aset Digital: Dari Wacana ke Cetak Biru
Tahun 2026 menjadi garis start bagi aset digital setelah pengesahan GENIUS Act di Amerika Serikat, yang membuka peluang bagi bank untuk menyediakan layanan stablecoin. Survei KPMG menangkap sinyal awal pergeseran ini: meski 56% bank belum menjadikan aset digital sebagai prioritas dalam tiga tahun ke depan, 71% bank dengan aset di atas US$100 miliar telah merancang sistem interoperabilitas untuk tokenized deposits dan stablecoin.
Pada bisnis pembayaran, potensi disruptifnya besar. Transaksi on-chain dengan penyelesaian nyaris seketika dapat memangkas biaya dan mempercepat arus kas, mengubah infrastruktur pembayaran tradisional secara fundamental.
Modernisasi Data: Fondasi yang Tak Bisa Ditawar
Survei menekankan bahwa modernisasi data tetap menjadi agenda utama. Tanpa data yang bersih, terstruktur, dan mudah diakses, personalisasi layanan, insight berbasis data, dan implementasi AI tidak akan mencapai potensi penuhnya. Semakin besar ketergantungan AI terhadap data, semakin vital pula kualitas data yang dimiliki bank.
Investasi pada data dan analitik juga menjadi target akuisisi tertinggi (67%)—di atas keamanan siber (65%)—menegaskan bahwa bank melihat kapabilitas data sebagai keunggulan kompetitif yang harus segera direbut, jika perlu melalui transaksi M&A.
M&A dan Transformasi: Teknologi Jadi Katalis
Teknologi kini menjadi pendorong utama aktivitas merger dan akuisisi di sektor perbankan. Sebanyak 33% responden menyatakan teknologi sebagai faktor utama dalam strategi akuisisi mereka, sementara 44% menyebutnya sebagai pertimbangan penting. Target akuisisi meliputi modernisasi core banking, platform digital, dan peningkatan pengalaman pelanggan—sejalan dengan prioritas investasi organik.
KPMG menilai bahwa bank harus mampu menyeimbangkan modernisasi sistem, pemeliharaan infrastruktur warisan (legacy system), dan inovasi secara simultan—sebuah juggling act yang memerlukan kepemimpinan teknologi yang matang dan alokasi anggaran yang presisi.
Adapun peningkatan pengalaman nasabah digital melalui mobile banking, internet banking, dan otomasi layanan tetap menjadi prioritas bagi 69% responden, menunjukkan bahwa fokus pada pelanggan tetap menjadi jangkar dari seluruh investasi teknologi. ●
DIGI-INSIGHTS:
Survei KPMG mengonfirmasi bahwa bank sedang berjalan di atas tali yang semakin tipis: di satu sisi harus menggelontorkan investasi besar untuk keamanan siber karena AI memperkuat musuh, di sisi lain harus mengadopsi AI yang sama untuk operasional. Paradoks ini tidak akan selesai dalam satu siklus anggaran. Bank yang mampu membangun arsitektur keamanan berbasis AI yang proaktif—bukan sekadar reaktif—akan memenangkan kepercayaan nasabah di era di mana satu kebocoran data bisa menghancurkan reputasi puluhan tahun. Bagi bank-bank Indonesia yang adopsi AI-nya sudah menembus 57,9%, temuan ini adalah peringatan bahwa keamanan harus menjadi lapisan pertama, bukan lapisan terakhir.
Kekhawatiran terhadap konsentrasi cloud (69%) juga relevan untuk Indonesia. Mayoritas bank nasional menggantungkan beban kerja digital pada segelintir penyedia cloud global. Ketergantungan ini menciptakan risiko sistemik yang belum tergarap serius oleh regulator. Ke depan, OJK dan Bank Indonesia perlu mulai merumuskan panduan ketahanan cloud, termasuk stress test untuk skenario kegagalan penyedia, sementara bank perlu menguji arsitektur multi-cloud atau hybrid sebelum dipaksa oleh insiden.
Adopsi aset digital—meski masih dini dengan 71% bank besar baru merancang interoperabilitas—adalah sinyal bahwa revolusi pembayaran on-chain bukan lagi soal “jika”, tetapi “kapan”. Bank-bank di Indonesia harus mencermati bahwa GENIUS Act di AS akan menciptakan standar de facto global untuk stablecoin. Mereka yang mulai membangun kapasitas teknis dan kepatuhan sekarang akan siap ketika gelombang itu tiba di Asia. Menunda berarti menyerahkan ceruk pembayaran digital kepada pemain non-bank yang lebih lincah. KPMG memberi peta; bank-bank harus segera membaca kompasnya. ●
DIGIONARY:
● Agentic AI: Sistem AI otonom yang mampu merencanakan langkah, mengakses data, dan mengeksekusi tugas tanpa supervisi manusia terus-menerus.
● Aset Digital: Representasi digital dari nilai yang dapat diperdagangkan atau ditransfer, termasuk stablecoin dan tokenized deposits.
● Cloud Provider: Perusahaan yang menyediakan layanan komputasi awan seperti penyimpanan, server, dan perangkat lunak melalui internet.
● Core Banking: Sistem perbankan inti yang menangani transaksi fundamental seperti simpanan, pinjaman, dan pembayaran.
● Efisiensi Operasional: Kemampuan bank untuk meminimalkan biaya dan waktu proses tanpa mengorbankan kualitas layanan.
● Fraud Detection: Sistem deteksi penipuan yang memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi transaksi mencurigakan secara otomatis.
● Generative AI: Teknologi kecerdasan buatan yang mampu menciptakan konten baru—teks, gambar, kode—berdasarkan data pelatihan.
● Interoperabilitas: Kemampuan sistem yang berbeda untuk saling terhubung, bertukar data, dan bekerja sama tanpa hambatan teknis.
● Legacy System: Sistem atau aplikasi lama yang masih digunakan bank meskipun teknologinya sudah usang, sering menjadi hambatan modernisasi.
● LLM (Large Language Model): Model AI yang dilatih pada data teks raksasa untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia.
● M&A (Merger dan Akuisisi): Strategi korporasi menggabungkan atau mengakuisisi perusahaan untuk memperoleh teknologi, kapabilitas, atau pasar.
● On-chain: Aktivitas transaksi yang tercatat dan diverifikasi langsung di jaringan blockchain.
● Stablecoin: Aset digital yang nilainya dikaitkan ke aset stabil seperti dolar AS, dirancang untuk meminimalkan volatilitas.
● Tokenized Deposits: Representasi digital dari simpanan bank tradisional yang dapat diprogram dan ditransaksikan di jaringan blockchain.
● Transformasi Digital: Proses menyeluruh mengintegrasikan teknologi digital ke seluruh aspek operasional dan strategi bank.
#KPMG #BankingTechnology #CyberSecurity #AI #GenerativeAI #CloudRisk #DigitalAssets #Stablecoin #TokenizedDeposits #DataModernization #BankingInnovation #Fintech #CoreBanking #FraudDetection #DigitalTransformation #BankingIndustry #TechInvestment #MergerAcquisition #EnterpriseAI #KPMGSurvey2026
