Survei terbaru Salesforce mengungkap 70% karyawan di Indonesia merasa lebih percaya diri saat bekerja dengan AI. Namun, hanya 33% yang mendapat pelatihan resmi dari perusahaan. Kesenjangan ini menandakan adopsi AI di level individu jauh lebih cepat dibanding kesiapan organisasi, memunculkan risiko baru mulai dari produktivitas hingga keamanan data.
Fokus:
■ 70% pekerja Indonesia lebih percaya diri menggunakan AI, tapi hanya 33% mendapat pelatihan resmi dari perusahaan.
■ Adopsi AI personal melesat, sementara kesiapan organisasi dan governance masih tertinggal.
■ Risiko shadow AI meningkat, berpotensi membuka celah keamanan data sensitif perusahaan.
Gelombang kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar wacana di ruang direksi. Ia sudah masuk ke meja kerja karyawan. Survei yang dilakukan Salesforce terhadap 1.000 profesional di Indonesia menunjukkan fakta mencolok: 70% responden mengaku lebih percaya diri saat bekerja menggunakan AI. Bahkan, 68% menyebut pengalaman pribadi menggunakan AI mendorong kepercayaan mereka untuk mengaplikasikannya dalam pekerjaan. Hanya 3% yang menyatakan tidak berencana menggunakan teknologi ini.
Data ini mengungkapkan resistensi terhadap AI di kalangan pekerja Indonesia praktis runtuh. Namun, optimisme ini ternyata tidak diimbangi kesiapan organisasi.
Antusiasme vs Kesiapan Perusahaan
Di balik euforia adopsi AI, terdapat celah yang cukup dalam. Hanya 33% responden yang mengaku mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaan. Artinya, mayoritas pekerja belajar sendiri—melalui eksperimen pribadi, platform publik, atau tools seperti chatbot AI.
Menurut Presiden Direktur Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, kondisi ini berisiko jika tidak segera ditangani. Ia menegaskan bahwa penggunaan AI di perusahaan tidak cukup hanya sebatas kemampuan membuat prompt.
“Membuat prompt atau pertanyaan ke ChatGPT adalah perkara mudah bagi para pekerja. Namun, adopsi di lingkungan perusahaan perlu jauh lebih banyak dari itu,” katanya.
Ia menambahkan, “[Diperlukan] konteks perusahaan, data dari perusahaan serta batasan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang dapat diandalkan.”
Pernyataan ini menyoroti realitas penting: AI di level enterprise bukan sekadar alat bantu, tetapi bagian dari sistem yang harus terintegrasi dengan data, proses, dan governance perusahaan.
Shadow AI dan Risiko Keamanan
Kesenjangan antara adopsi individu dan kesiapan organisasi membuka risiko yang tidak kecil. Salah satunya adalah fenomena shadow AI—ketika karyawan menggunakan alat AI di luar sistem resmi perusahaan.
Praktik ini sering kali terjadi diam-diam, tanpa pengawasan IT atau manajemen. Dampaknya bisa serius, terutama jika melibatkan data sensitif perusahaan.
Tanpa visibilitas yang memadai, risiko kebocoran data, pelanggaran privasi, hingga kesalahan keputusan berbasis AI menjadi semakin besar. Dalam konteks global, isu ini juga menjadi perhatian banyak perusahaan teknologi dan regulator, seiring meningkatnya penggunaan AI generatif di tempat kerja.
Empat Agenda Mendesak bagi Perusahaan
Menghadapi realitas ini, perusahaan tidak punya banyak waktu untuk menunda adaptasi. Andreas Diantoro merinci empat langkah kunci:
Pertama, menyederhanakan proses kerja agar AI benar-benar membantu, namun tetap dalam kendali manusia.
Kedua, meningkatkan keterampilan karyawan agar mampu mengarahkan dan mengelola AI secara efektif.
Ketiga, memberi ruang bagi karyawan untuk fokus pada pekerjaan bernilai tinggi, bukan tugas repetitif.
Keempat, menyeimbangkan peran manusia dan AI—manusia unggul dalam kreativitas dan judgment, AI unggul dalam kecepatan dan skala.
Pendekatan ini mencerminkan tren global menuju model kerja hybrid antara manusia dan mesin.
Agentic AI: Peluang Besar, Tantangan Lebih Besar
Salah satu perkembangan paling signifikan adalah munculnya agentic AI—AI yang tidak hanya memberi rekomendasi, tetapi juga mampu bertindak secara otonom.
Teknologi ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kapasitas kerja secara signifikan.
Namun, tanpa kerangka kerja yang jelas, agentic AI juga berpotensi memperbesar risiko—mulai dari kesalahan otomatis hingga keputusan yang tidak terkontrol. Karena itu, transformasi yang dibutuhkan bukan hanya teknologi, tetapi juga sumber daya manusia dan tata kelola.
Indonesia sedang memasuki fase baru dalam adopsi AI: pekerja sudah siap, tetapi organisasi belum sepenuhnya. Jika kesenjangan ini tidak segera ditutup, manfaat AI bisa berubah menjadi risiko—baik dari sisi produktivitas maupun keamanan.
Sebaliknya, perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI secara strategis—dengan pelatihan, governance, dan teknologi yang tepat—akan berada di garis depan transformasi digital. AI bukan lagi soal masa depan. Ia sudah menjadi realitas kerja hari ini.
Digionary:
● Agentic AI: AI yang mampu mengambil tindakan mandiri tanpa intervensi manusia secara langsung.
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia.
● Prompt: Instruksi atau perintah yang diberikan pengguna kepada AI untuk menghasilkan respons.
● Shadow AI: Penggunaan AI oleh karyawan di luar sistem resmi perusahaan.
● Transformasi Digital: Proses perubahan bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital.
#AIIndonesia #ArtificialIntelligence #TransformasiDigital #FutureOfWork #Salesforce #Teknologi #DigitalWorkplace #AgenticAI #Produktivitas #KaryawanDigital #InovasiTeknologi #DataSecurity #CyberSecurity #DigitalEconomy #AIAdoption #WorkplaceTrends #TechIndonesia #EnterpriseAI #FutureJobs #HumanAndAI
