Di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja, McKinsey menegaskan bahwa teknologi tetap memiliki batas. Global Managing Partner McKinsey, Bob Sternfels, mengungkap tiga keterampilan manusia yang tidak bisa digantikan AI: kemampuan menetapkan aspirasi, penilaian berbasis nilai, dan kreativitas sejati. Pesan ini menjadi peringatan penting bagi industri jasa keuangan, termasuk di Indonesia, yang tengah berlomba mengandalkan AI namun tetap membutuhkan kepemimpinan dan keputusan manusia.
Fokus Utama:
■ AI meningkatkan efisiensi kerja, tetapi tidak mampu menggantikan peran strategis manusia.
■ Aspirasi, penilaian berbasis nilai, dan kreativitas sejati tetap menjadi keunggulan manusia.
■ Industri jasa keuangan Indonesia perlu menyeimbangkan teknologi dan pengembangan SDM.
Ketika kecerdasan buatan semakin canggih dan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan—dari analisis data hingga pembuatan grafik—McKinsey justru mengingatkan satu hal mendasar: mesin tetap memiliki batas. Dalam forum global Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas, pimpinan tertinggi firma konsultan dunia itu menegaskan bahwa masa depan kerja bukan tentang mengganti manusia dengan mesin, melainkan menempatkan manusia pada peran yang lebih strategis.
McKinsey kini bekerja berdampingan dengan ribuan AI agents. Firma konsultan global ini menggunakan sekitar 25.000 agen AI yang beroperasi bersama karyawan manusia. Sepanjang tahun lalu, pemanfaatan AI disebut telah menghemat 1,5 juta jam kerja untuk aktivitas pencarian dan sintesis informasi. Selain itu, agen AI McKinsey menghasilkan 2,5 juta grafik hanya dalam enam bulan terakhir—pekerjaan yang sebelumnya menyita waktu besar para konsultan.
Namun, menurut Bob Sternfels, Global Managing Partner McKinsey seperti dikutip dari Business Insider, efisiensi bukanlah segalanya. Ia menegaskan bahwa ada kemampuan mendasar yang tidak bisa dilakukan oleh model AI. “Hal apa yang tidak bisa dilakukan oleh model AI? Mereka tidak bisa memiliki aspirasi dan menetapkan tujuan yang tepat,” ujar Sternfels.
1. Kemampuan Menetapkan Aspirasi/Tujuan
Sternfels menekankan bahwa AI tidak mampu menentukan tujuan besar organisasi. Mesin dapat membantu menghitung risiko dan peluang, tetapi tidak bisa menentukan arah. “Apakah Anda ingin berhenti di orbit rendah Bumi, melangkah ke bulan, atau bahkan ke Mars? Itu adalah kemampuan yang sepenuhnya khas manusia,” katanya. Dalam industri jasa keuangan, kemampuan menetapkan visi jangka panjang—baik dalam inklusi keuangan, keberlanjutan, maupun ekspansi regional—tetap menjadi domain kepemimpinan manusia.
2. Penilaian (Judgement) Berbasis Nilai
Menurut Sternfels, AI tidak memahami benar atau salah. “Tidak ada konsep benar dan salah di dalam model-model ini. Karena itu, manusialah yang harus menetapkan parameter yang tepat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa manusia berperan penting dalam membangun kerangka kerja yang mempertimbangkan nilai perusahaan, etika, dan norma sosial. Bagi sektor perbankan dan asuransi di Indonesia, aspek ini krusial dalam tata kelola, kepatuhan regulasi, dan perlindungan konsumen.
3. Kreativitas Sejati
Sternfels menjelaskan bahwa AI pada dasarnya adalah mesin inferensi. “Model-model ini bekerja dengan menebak langkah berikutnya yang paling mungkin,” katanya. Sebaliknya, manusia memiliki keunggulan dalam menciptakan gagasan yang benar-benar baru. Ia menyebut kemampuan berpikir “menyilang” atau keluar dari pola lama sebagai kelebihan manusia dalam menemukan pendekatan yang sama sekali berbeda.
Perubahan Cara Perusahaan Mencari Talenta
Adopsi AI, lanjut Sternfels, juga mengubah cara perusahaan menilai kandidat kerja. Latar belakang pendidikan formal semakin kurang menentukan. “Mari kita lihat isi dan hasil kerjanya,” ujarnya. Ia mempertanyakan apakah pendekatan ini justru membuka jalan lebih luas bagi lebih banyak orang untuk masuk ke dunia kerja melalui jalur yang berbeda. Pandangan ini sejalan dengan kebutuhan industri jasa keuangan Indonesia yang mulai mencari talenta berbasis kompetensi, bukan semata-mata almamater.
Digionary:
● Artificial Intelligence (AI): Teknologi yang memungkinkan mesin meniru kecerdasan manusia dalam menganalisis data dan membuat keputusan
● AI Agents: Sistem AI yang dirancang untuk menjalankan tugas tertentu secara mandiri
● Judgement: Kemampuan manusia dalam menilai dan mengambil keputusan berdasarkan nilai dan konteks
● Orthogonal Thinking: Cara berpikir di luar pola yang sudah ada untuk menciptakan pendekatan baru
● Transformasi Digital: Proses pemanfaatan teknologi digital untuk mengubah model bisnis dan operasional
#AI #McKinsey #IndustriKeuangan #PerbankanIndonesia #TransformasiDigital #SDMKeuangan #FutureOfWork #ArtificialIntelligence #DigitalBanking #Fintech #Leadership #HumanSkills #CorporateGovernance #RiskManagement #InovasiKeuangan #EkonomiDigital #OJK #TalentDevelopment #TeknologiKeuangan #BisnisGlobal
