PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mengakselerasi strategi Beyond Mortgage guna memperluas diversifikasi pendapatan di luar bisnis inti pembiayaan perumahan. Perseroan mematok porsi penyaluran kredit non-perumahan mencapai 30% dari total portofolio kredit pada 2030, naik signifikan dari posisi 20,4% per Juni 2026. Pertumbuhan segmen non-housing yang mencatatkan kenaikan 46% secara tahunan (year-on-year) ini disokong oleh penetrasi ke ekosistem pemerintah daerah, institusi pendidikan, kesehatan, hingga pariwisata, serta pengembangan hunian berkonsep Transit-Oriented Development (TOD) di wilayah perkotaan.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Target Diversifikasi Portofolio: BTN membidik porsi kredit non-perumahan naik bertahap hingga menyentuh angka 30% pada 2030 mendatang.
■ Akselerasi Pertumbuhan Ekosistem: Segmen non-housing tumbuh 46% yoy, didorong kemitraan dengan 59 pemda, 57 universitas, dan 26 rumah sakit.
■ Fokus Hunian Perkotaan Berbasis TOD: Perseroan mendorong pembiayaan apartemen terjangkau di kawasan stasiun kereta guna mengoptimalkan yield.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mempercepat langkah transformasi bisnis lewat strategi Beyond Mortgage guna menciptakan sumber pertumbuhan baru di luar pembiayaan perumahan konvensional. Bank BUMN ini menargetkan porsi penyaluran kredit non-perumahan dapat mencapai sekitar 30% dari total portofolio kredit pada 2030.
Target tersebut menandai peningkatan bertahap dari realisasi per Juni 2026 yang berada di posisi 20,4%, serta capaian akhir 2025 sebesar 18,0%.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan bahwa ekspansi ke bisnis non-perumahan tidak dirancang untuk menggeser fokus utama perusahaan pada pilar perumahan rakyat. Sebaliknya, pembiayaan non-KPR ini ditujukan untuk memperkuat integrasi ekosistem keuangan nasabah yang terkoneksi dengan bisnis inti perseroan.
“Melalui Beyond Mortgage, kami ingin hadir lebih luas dalam kebutuhan finansial nasabah sekaligus masuk ke ekosistem-ekosistem baru yang memiliki potensi bisnis besar,” ujar Nixon dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9).
Guna mengejar target tersebut, perseroan menerapkan kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik, termasuk melancarkan aksi akuisisi portofolio kredit secara selektif. Strategi ini terbukti memacu kinerja pembiayaan non-perumahan hingga tumbuh 46% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Juni 2026, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit konsolidasi BTN yang berada di level 11,2% yoy dengan total nilai penyaluran sebesar Rp418 triliun. Segmen korporasi dan konsumer menjadi kontributor utama pendorong kenaikan tersebut.
Percepatan pertumbuhan ini ditopang oleh perluasan kemitraan berbasis ekosistem institusional. Hingga pertengahan 2026, BTN telah menjalin kerja sama dengan 59 pemerintah daerah, 57 perguruan tinggi, serta 26 rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia. Perseroan juga mulai merambah ekosistem pariwisata dengan menggarap potensi transaksi pada sektor merchant, kuliner, perhotelan, hingga kawasan wisata.
“Ekosistem menjadi pintu masuk yang sangat penting. Ketika BTN masuk ke pemerintah daerah, misalnya, peluangnya bukan hanya pengelolaan rekening institusi, tetapi juga payroll, KPR dan kredit konsumer bagi ASN, treasury hingga berbagai transaksi lainnya. Pola yang sama kami kembangkan di pendidikan, kesehatan maupun pariwisata,” tutur Nixon.
Di tengah ekspansi portofolio, kualitas aset perseroan mencatatkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) berhasil ditekan ke level 2,99% per Juni 2026 dari posisi 3,3% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rasio biaya kredit (cost of credit) terjaga pada level 0,7% untuk semester I 2026. “Kami sekarang menyalurkan kreditnya memang lebih selektif, terutama di beberapa segmen perkreditan,” kata Nixon.
Mengenai likuiditas, rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) dijaga pada kisaran 94%-97%. Tingginya angka LDR ini dipengaruhi oleh porsi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dominan, dengan rata-rata LDR khusus KPR subsidi tersebut mencapai 133%.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap program perumahan nasional, BTN mengarahkan fokus pembiayaan pada hunian vertikal perkotaan berbasis transit (Transit-Oriented Development/TOD). Salah satu proyek yang tengah disokong adalah pembiayaan apartemen di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta.
“Kita sudah commit ikut membiayai apartemen Manggarai yang di stasiun kereta, harganya murah Rp500-600 juta per unit. Kita yakin nanti kalau itu kita dorong, rumah perkotaan semakin kita dorong di daerah transportasi, buat kami yield-nya lebih baik dibanding FLPP,” kata Nixon.
Nixon menambahkan, skema kredit apartemen TOD menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi 1% dibandingkan KPR FLPP landed. Model skema pembiayaan ini mengombinasikan porsi pendanaan pemerintah sebesar 75% dan porsi porsi perbankan sebesar 25%, namun dikenakan tingkat suku bunga 6%, atau sedikit di atas bunga FLPP subsidi sebesar 5%.
“Kita pasti akan dorong pertumbuhan rumah di daerah urban yang high-rise, terutama sekali di area TOD dengan harga yang terjangkau. Kita yakin ini akan tumbuh sangat masif karena ini akan jadi model masa depan perumahan di kota-kota besar,” kata Nixon.
Analis industri perbankan menilai diversifikasi menuju non-mortgage dan komersialisasi kawasan TOD merupakan langkah krusial bagi BTN untuk mengoptimalkan marjin bunga bersih (net interest margin) di tengah ketatnya persaingan perebutan dana murah perbankan nasional. ■
DIGIONARY:
● Beyond Mortgage: Strategi diversifikasi bisnis perbankan untuk memperluas portofolio produk keuangan di luar fasilitas KPR konvensional.
● Cost of Credit: Rasio biaya pencadangan yang dialokasikan bank untuk mengantisipasi risiko kerugian atas potensi kredit macet.
● FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan): Program subsidi pembiayaan perumahan dari pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
● LDR (Loan to Deposit Ratio): Indikator tingkat likuiditas bank yang mengukur perbandingan antara total volume kredit yang disalurkan dengan jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun.
● NPL (Non-Performing Loan): Rasio persentase pinjaman bermasalah atau macet dibandingkan dengan total portofolio kredit yang disalurkan.
● Organic & Anorganic Growth: Strategi ekspansi bisnis melalui pengembangan kapasitas internal (organik) maupun lewat akuisisi atau kemitraan eksternal (anorganik).
● Payroll: Layanan sistem pemrosesan pembayaran gaji karyawan secara otomatis yang dikelola melalui jaringan perbankan.
● Public Expose: Paparan informasi publik secara berkala yang diselenggarakan perusahaan terbuka untuk menyampaikan kinerja keuangan dan strategi bisnis kepada investor.
● Transit-Oriented Development (TOD): Konsep pembangunan kawasan perkotaan terpadu yang memprioritaskan aksesibilitas langsung ke jaringan transportasi massal.
● Yield: Tingkat imbal hasil atau persentase keuntungan yang diperoleh bank dari penyaluran instrumen pembiayaan atau investasi.
#BTN #BankBTN #BeyondMortgage #KreditPerbankan #BBTN #NixonNapitupulu #PerbankanIndonesia #PublicExpose2026 #HunianTOD #KPRSubsidi #FLPP #ApartemenManggarai #KreditKonsumer #KreditKorporasi #KualitasAset #LDRPerbankan #NPL #KreditNonPerumahan #EkosistemBisnis #PropertiPerkotaan
