Riset Amar Bank Sebut 51,9% Gen Z Rela Pangkas Anggaran Nongkrong demi Tren Olahraga

- 10 September 2026 - 15:27

Riset media sosial Amar Bank terhadap 300 responden perkotaan mengungkap tren active wellness seperti padel, tenis, dan maraton yang memicu kerentanan finansial pada generasi muda. Sebanyak 51,9% Gen Z mengaku rela mengorbankan porsi anggaran sosialisasi demi biaya olahraga, bahkan 10,6% di antaranya menyisihkan lebih dari 20% gaji bulanan hingga menguras tabungan. Menanggapi kondisi tersebut, Amar Bank mengedukasi masyarakat melalui lima langkah strategi keuangan sehat, mulai dari penerapan alokasi tabungan hobi maksimal 15%, kalkulasi rasio Cost-per-Use, hingga pemanfaatan instrumen perbankan digital untuk menjaga rasio dana darurat tetap aman.


■ Rela Potong Anggaran Sosialisasi: Sebanyak 51,9% Gen Z rela memangkas alokasi belanja nongkrong demi membiayai hobi active wellness.
■ Kerentanan Tabungan dan Dana Darurat: Sekitar 28,9% Gen Z menyisihkan >10% gaji untuk olahraga, dan 29,8% pernah menguras dana daruratnya.
■ Edukasi Finansial Terstruktur: Amar Bank mendorong formula alokasi hobi maksimal 15% serta rasio Cost-per-Use sebelum membeli perlengkapan.


Demam olahraga gaya hidup (active wellness) seperti padel, tenis, maraton, hingga Hyrox kini kian menguat sebagai simbol identitas masyarakat perkotaan. Namun, di balik popularitas kebugaran fisik tersebut, hasil riset teranyar memotret adanya tekanan finansial pada alokasi pendapatan bulanan generasi muda.

Riset media sosial bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” yang digelar Amar Bank terhadap 300 responden di area Jabodetabek dan kota-kota besar Indonesia memperlihatkan pergeseran prioritas belanja yang signifikan.

Sebanyak 51,9% responden Gen Z secara terbuka menyatakan rela mengorbankan anggaran bersosialisasi dan konsumsi kopi demi mendanai aktivitas olahraga mereka. Pola ini berbeda dengan kelompok Milenial, di mana mayoritas responden (52%) memilih lebih disiplin membatasi anggaran dan bersedia menunda hobi jika alokasi dana belum memadai.

Di balik antusiasme tersebut, riset memotret tingginya potensi kerentanan finansial akibat pengeluaran hobi yang tak terukur. Sebanyak 28,9% Gen Z tercatat menyisihkan lebih dari 10% pendapatan bulanan khusus untuk aktivitas olahraga. Bahkan, 10,6% responden dari kelompok usia ini bersedia mengalokasikan di atas 20% gaji bulanan hingga mengorbankan tabungan utama.

Kerentanan ini berdampak langsung pada ketahanan dana darurat. Sebanyak 29,8% Gen Z mengaku dana darurat mereka pernah terpaksa dipakai untuk memenuhi kebutuhan hobi. Sementara itu, 34,2% Milenial berada dalam kondisi rentan karena belum memiliki cadangan dana darurat yang memadai atau terpaksa mengandalkan pinjaman saat menghadapi kebutuhan mendesak.

Marketing Head Amar Bank Rosalinda Hoesin menjelaskan bahwa kebiasaan menjaga kebugaran fisik harus diimbangi dengan tata kelola keuangan pribadi yang terukur agar tidak mengganggu ketahanan ekonomi jangka panjang.

“Kami melihat semangat generasi muda dalam mengadopsi gaya hidup sehat makin meningkat. Di Amar Bank, kami percaya bahwa kesehatan fisik dan kesadaran finansial harus berjalan berdampingan. Kami tidak hanya mendukung aspirasi wellness masyarakat, tetapi juga ingin mendampingi mereka dalam mengambil keputusan keuangan yang bijak lewat ekosistem keuangan digital dari Amar Bank,” ujar Rosalinda.

Merespons temuan tersebut, Amar Bank menyusun edukasi lima solusi keuangan sehat guna membantu penggiat olahraga menjaga keseimbangan anggarannya:

1. Budaya Save Now, Spend Later

Riset mencatat 63,5% Gen Z sebenarnya memiliki kebiasaan menabung terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi bernilai besar. Pendekatan ini diperkuat melalui fitur tabungan otomatis seperti Celengan di aplikasi perbankan digital Amar Bank yang menawarkan bunga harian hingga 5,5% per tahun untuk pos kebutuhan impian.

2. Alokasi Gaya Hidup 10%–15%

Guna mencegah kondisi defisit, total akumulasi dana hobi disarankan berada pada kisaran 10% hingga maksimal 15% dari total pendapatan bersih bulanan. Porsi ini dihitung setelah kewajiban kebutuhan pokok (50%) dan alokasi investasi jangka panjang (20%) terpenuhi.

3. Evaluasi Rasio Cost-per-Use

Sebelum membeli peralatan olahraga berharga tinggi, konsumen diimbau menghitung rasio frekuensi pemakaian (Cost-per-Use) dengan membagi harga barang terhadap perkiraan jumlah penggunaan dalam setahun. Pembelian sepatu lari seharga Rp1,5 juta yang digunakan 150 kali setahun menghasilkan biaya Rp10.000 per pemakaian, yang tergolong efisien. Sebaliknya, sepatu lari spesifikasi balap seharga Rp2 juta yang hanya dipakai 4 kali setahun membebankan biaya Rp500.000 per pemakaian, yang mengindikasikan dorongan emosional akibat fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

4. Penguatan Fondasi Dana Darurat

Idealnya, cadangan dana darurat tersimpan aman pada kisaran 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Evaluasi kecukupan dana ini dapat dihitung menggunakan fitur analisis keuangan digital seperti Finsight pada aplikasi Amar Bank.

5. Penggunaan Pinjaman Digital Secara Bijak

Jika membutuhkan alternatif pendanaan melalui produk pinjaman digital, pengguna wajib memastikan platform tersebut legal dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti Tunaiku dari Amar Bank. Total porsi cicilan disarankan maksimal 30% dari pendapatan bulanan, dengan peruntukan barang berdaya guna jangka panjang serta skema arus kas pelunasan yang telah terukur.

“Gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang yang sangat baik, namun jangan sampai mengorbankan kesehatan finansial di masa depan. Melalui solusi perbankan digital yang cerdas dan terencana dari Amar Bank, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap bugar secara fisik sekaligus tangguh secara finansial,” kata Rosalinda.

Data OJK menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 65,43%, namun implementasi manajemen risiko keuangan pribadi di tingkat individu masih memerlukan pendampingan intensif seiring maraknya pertumbuhan produk-produk gaya hidup.  (NCK)

DIGIONARY:

● Active Wellness: Tren gaya hidup yang berfokus pada kebugaran fisik aktif melalui keikutsertaan dalam berbagai cabang olahraga secara rutin.
● Amar Bank: PT Bank Amar Indonesia Tbk, lembaga perbankan digital di Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham AMAR.
● Cost-per-Use: Indikator perhitungan efisiensi pembelian barang yang diperoleh dari pembagian harga barang dengan proyeksi frekuensi pemakaian.
● Dana Darurat: Alokasi dana likuid yang disiapkan khusus untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak atau situasi krisis keuangan tak terduga.
● Finsight: Fitur analisis dan konsultasi keuangan pribadi berbasis aplikasi milik Amar Bank untuk memantau porsi pengeluaran dan kebutuhan cadangan dana.
● FOMO (Fear of Missing Out): Kecemasan sosial akibat kekhawatiran tertinggal dari tren atau aktivitas populer yang sedang berlangsung di media sosial.
● Hyrox: Cabang olahraga kompetisi kebugaran kombinasi yang memadukan lari jarak jauh dengan stasiun latihan fungsional.
● Otoritas Jasa Keuangan (OJK): Lembaga independen negara yang bertugas mengawasi dan mengatur seluruh kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.
● Save Now, Spend Later: Prinsip pengelolaan keuangan yang memprioritaskan pengumpulan dana tabungan terlebih dahulu sebelum melakukan pengeluaran.
● Tunaiku: Platform pinjaman digital berbasis aplikasi yang disediakan oleh PT Bank Amar Indonesia Tbk.

#AmarBank #RisetKeuangan #GenZ #Milenial #ActiveWellness #GayaHidupSehat #KeuanganPribadi #DanaDarurat #LiterasiKeuangan #BankDigital #Tunaiku #PadelIndonesia #MaratonIndonesia #Hyrox #CostPerUse #FOMO #OJK #InvestasiMasaDepan #PerbankanDigital #ManajemenRisiko

amar bank, riset amar bank, gen z, milenial, active wellness, gaya hidup sehat, keuangan pribadi, dana darurat, literasi keuangan, bank digital, tunaiku, padel, maraton, hyrox, cost per use, fomo, otoritas jasa keuangan, perbankan digital, manajemen risiko, pinjaman digital,

Comments are closed.