Cuan Rp565 Miliar, Bank Neo Commerce Rombak Manajemen untuk Akselerasi Digital

- 6 Mei 2026 - 15:29

PT Bank Neo Commerce Tbk mencatat lonjakan kinerja signifikan pada 2025 dengan laba bersih mencapai Rp565,69 miliar, meningkat tajam dari tahun sebelumnya. Melalui RUPS Tahunan 2026, bank digital ini memutuskan menahan seluruh laba untuk memperkuat permodalan serta merombak struktur direksi guna mempercepat transformasi dan menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah kompetisi industri perbankan digital.


Digi-Insight:

■ Laba Bank Neo Commerce melonjak ke Rp565,69 miliar, seluruhnya ditahan untuk memperkuat modal dan ekspansi berkelanjutan.
■ Restrukturisasi direksi menegaskan fokus baru pada operasional dan manajemen risiko di era perbankan digital.
■ Penguatan GCG dan modal menjadi strategi kunci menghadapi risiko industri digital banking yang semakin kompleks.


Di tengah persaingan ketat industri perbankan digital, PT Bank Neo Commerce Tbk mengambil langkah strategis melalui RUPS Tahunan 2026 dengan menahan seluruh laba tahun buku 2025, merombak jajaran direksi, serta memperkuat tata kelola.

Keputusan yang diambil dalam rapat yang digelar di Jakarta Selatan pada 30 April 2026 ini menjadi sinyal kuat bahwa bank tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis untuk menghadapi risiko dan kompleksitas industri ke depan.

Kinerja Melonjak, Fondasi Diperkuat

Sepanjang 2025, Bank Neo Commerce mencatat lonjakan laba bersih menjadi Rp565,69 miliar, naik signifikan dibandingkan Rp19,88 miliar pada 2024. Kinerja ini mencerminkan perbaikan fundamental bisnis, terutama dari sisi efisiensi operasional dan kualitas pertumbuhan kredit.

Seluruh laba tersebut diputuskan untuk tidak dibagikan sebagai dividen, melainkan ditahan guna memperkuat struktur permodalan. Langkah ini sejalan dengan tren industri perbankan digital yang membutuhkan buffer modal lebih besar untuk ekspansi teknologi, penguatan manajemen risiko, serta menjaga rasio kecukupan modal (CAR).

Di industri, penguatan modal menjadi krusial. Data regulator menunjukkan bank digital cenderung menghadapi volatilitas lebih tinggi dibanding bank konvensional, terutama terkait biaya akuisisi nasabah dan risiko kredit berbasis data alternatif.

Restrukturisasi Direksi untuk Akselerasi Strategi

RUPS juga menyetujui perubahan struktur direksi dengan mengangkat Adrian Wibisono Soewardjo dan Indra Aditya Sanjaya sebagai direktur baru, menunggu persetujuan OJK. Pergantian ini menandai fokus baru pada penguatan operasional dan manajemen risiko.

Adrian membawa pengalaman lebih dari 25 tahun di industri perbankan, termasuk pengelolaan operasional bank digital. Sementara Indra memiliki lebih dari 15 tahun pengalaman di bidang manajemen risiko—area yang semakin krusial di tengah meningkatnya eksposur digital banking terhadap fraud, kredit macet berbasis algoritma, serta risiko teknologi.

Langkah ini sekaligus mencerminkan pergeseran prioritas bank digital: dari sekadar ekspansi pengguna menuju penguatan governance dan sustainability.

Dorongan Tata Kelola dan Strategi Jangka Panjang

Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menegaskan bahwa capaian kinerja merupakan hasil konsistensi dalam memperkuat fundamental bisnis.

“Kami mengapresiasi kepercayaan dan dukungan para pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan terhadap Bank Neo Commerce. Pencapaian kinerja pada tahun 2025 mencerminkan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat fundamental bisnis, menjaga kualitas pertumbuhan, serta meningkatkan efisiensi operasional. Ke depan, kami akan terus meningkatkan kapabilitas organisasi dan mendorong inovasi layanan agar Perseroan dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan sebagai bank dengan layanan digital yang relevan bagi kebutuhan masyarakat,” ujar Eri.

Perseroan juga menegaskan komitmen terhadap penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan transparansi. Dalam konteks industri, penguatan GCG menjadi perhatian regulator seperti OJK dan Bank Indonesia, terutama setelah sejumlah kasus di bank digital yang menyoroti pentingnya pengawasan internal dan kontrol risiko.

Analisis: Arah Baru Bank Digital

Langkah Bank Neo Commerce mencerminkan fase baru industri perbankan digital Indonesia. Jika sebelumnya fokus pada pertumbuhan agresif, kini bank mulai beralih ke model yang lebih seimbang antara ekspansi dan profitabilitas.

Dengan memperkuat modal, manajemen, dan tata kelola, bank berupaya memastikan keberlanjutan bisnis di tengah tekanan biaya, risiko teknologi, serta perubahan perilaku nasabah yang semakin digital-savvy.


Digionary:

● Capital Adequacy Ratio: Rasio kecukupan modal bank untuk menutup risiko kerugian.
● Digital Banking: Layanan perbankan berbasis teknologi tanpa ketergantungan cabang fisik.
● Good Corporate Governance: Prinsip tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel.
● Laba Ditahan: Keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan sebagai dividen.
● Manajemen Risiko: Proses identifikasi dan mitigasi potensi kerugian.
● Otoritas Jasa Keuangan: Regulator sektor jasa keuangan di Indonesia.
● RUPS: Forum pengambilan keputusan tertinggi dalam perusahaan.
● Transformasi Digital: Perubahan model bisnis dengan pemanfaatan teknologi.

#BankNeoCommerce #BNC #PerbankanDigital #RUPS2026 #DigitalBanking #TransformasiDigital #FintechIndonesia #OJK #GoodCorporateGovernance #ManajemenRisiko #LabaBank #IndustriPerbankan #BankDigitalIndonesia #EkonomiDigital #InovasiKeuangan #CapitalAdequacy #BankingStrategy #FinancialIndustry #TeknologiKeuangan #BisnisBank

Comments are closed.