Singapura memilih jalur berbeda dalam menghadapi disrupsi artificial intelligence di sektor perbankan. Alih-alih membiarkan gelombang PHK seperti yang terjadi di AS dan Eropa, pemerintah bersama regulator dan bank-bank besar meluncurkan program pelatihan ulang berbasis AI untuk puluhan ribu bankir, demi menjaga stabilitas tenaga kerja dan daya saing industri keuangan nasional.
Fokus Utama:
■ Pemerintah Singapura memilih reskilling berbasis AI untuk menahan gelombang PHK di sektor perbankan.
■ Kolaborasi regulator, bank, dan institusi pendidikan menjadi kunci transisi AI yang terkontrol.
■ AI meningkatkan efisiensi dan laba bank, namun juga mengubah ekspektasi dan beban kerja bankir.
Di tengah kekhawatiran global bahwa artificial intelligence akan memangkas jutaan lapangan kerja sektor keuangan, Singapura justru mengambil langkah yang berlawanan. Negara-kota ini merancang bootcamp AI berskala besar untuk ribuan bankir—sebuah strategi nasional untuk menahan laju PHK sekaligus memastikan industri keuangan tetap kompetitif di era otomatisasi.
Kelvin Chiang tahu betul dampak kecerdasan buatan terhadap pekerjaan bankir. Lima model AI agentic yang dikembangkan timnya mampu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu satu hari hanya dalam 10 menit. Namun alih-alih langsung menerapkannya secara agresif, Chiang membawa sistem tersebut ke hadapan Otoritas Moneter Singapura (MAS).
Bersama tim data scientist Bank of Singapore—unit private wealth Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC)—Chiang mempresentasikan bagaimana sistem itu dirancang, risiko yang mungkin muncul, serta skenario mitigasi bila terjadi kegagalan. Langkah ini dilakukan bahkan sebelum tool penyusunan dokumen berbasis AI itu digunakan secara luas oleh para manajer private wealth.
Setelah diskusi dengan regulator, Chiang merasa lega. “Mereka cukup senang,” kata pria berusia 52 tahun itu, yang menjabat kepala analisis kepatuhan kejahatan keuangan di Bank of Singapore seperti dikutip Bloomberg.
Kisah ini mencerminkan pendekatan khas Singapura: kolaborasi erat antara pemerintah, regulator, dan industri. Di saat bank-bank global seperti Goldman Sachs Group Inc. secara terbuka meminta karyawannya bersiap menghadapi PHK lanjutan akibat adopsi AI, Singapura justru menempatkan negara sebagai penyangga transisi.
Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat—yang juga menjabat deputy chairman MAS—menyatakan tiga bank terbesar negeri itu, DBS Group Holdings Ltd., OCBC, dan United Overseas Bank Ltd. (UOB), akan melatih ulang seluruh 35.000 karyawan domestik mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa disrupsi teknologi tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga stabilitas sosial. “Pemerintah mengambil tindakan karena menyadari bahwa kemampuan dan perubahan ini sebenarnya menimbulkan ketakutan yang besar,” kata Violet Chung, mitra senior di McKinsey & Co.
“Mengingat apa yang kita lihat di pasar lain seperti AS di mana pemecatan dan pengurangan tenaga kerja dilakukan secara lebih agresif, pemerintah menyadari bahwa kita perlu bertindak sebagai negara untuk mendukung perusahaan-perusahaan terkemuka ini.”
Di level operasional, AI memang mengubah ritme kerja bankir secara drastis. David, 39 tahun, pengelola dana nasabah kaya di salah satu bank Singapura, merasakan manfaat sekaligus tekanan. Pekerjaan yang dulu memakan waktu satu jam kini bisa diselesaikan dalam 10–12 menit.
“Artinya saya punya lebih banyak waktu bertemu klien,” katanya. Namun, ia mengakui ekspektasi atasan ikut meningkat. Ia memilih tak menyebutkan nama lengkapnya.
Menurut Mohan Jayaraman, mitra senior Bain & Co., AI memungkinkan bank meningkatkan rasio klien per relationship manager, dari sebelumnya 50 orang menjadi 60 bahkan 70 klien. “Argumennya sederhana: jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu dengan klien, cakupan layanan meningkat dan potensi pendapatan ikut membesar,” ujarnya.
Di balik layar, lembaga negara juga bergerak. National Jobs Council Singapura bekerja sama dengan Institute of Banking and Finance (IBF) untuk mendesain ulang peran karyawan, termasuk mendanai pelatihan ulang. Dalam beberapa skema, IBF bahkan menanggung hingga 90% dukungan gaji bagi bank yang melatih ulang karyawan mid-career maupun rekrutan baru.
MAS menegaskan kolaborasi dengan IBF, industri keuangan, dan serikat pekerja terus diperkuat untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi adopsi AI. OCBC dan UOB menyatakan tidak melakukan PHK terkait AI. DBS menegaskan tidak akan memangkas karyawan tetap, meski sekitar 4.000 posisi sementara dan kontrak diperkirakan berakhir dalam tiga tahun ke depan seiring habisnya kontrak vendor.
Di sisi kinerja, Bloomberg Intelligence memperkirakan DBS akan menikmati efisiensi biaya paling besar dari adopsi AI. Teknologi ini diproyeksikan meningkatkan laba sebelum pajak hingga S$1,6 miliar—setara US$1,2 miliar—atau sekitar 17% dalam beberapa tahun ke depan.
Kini, lebih dari satu juta perintah per bulan diproses asisten AI internal DBS. UOB telah membuka akses Microsoft Copilot untuk seluruh karyawannya dan mengimplementasikan lebih dari 300 use case AI. Di Singapura, AI bukan sekadar alat efisiensi, melainkan bagian dari kebijakan negara untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan keberlanjutan tenaga kerja.
Digionary:
● Agentic AI: Model AI yang mampu mengambil tindakan mandiri dan menjalankan beberapa proses sekaligus.
● Artificial Intelligence: Teknologi yang memungkinkan sistem meniru kemampuan kognitif manusia.
● Bootcamp AI: Program pelatihan intensif untuk meningkatkan keterampilan AI dalam waktu singkat.
● Reskilling: Proses melatih ulang tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan baru industri.
● Risk Mitigation: Strategi untuk mengendalikan dan meminimalkan risiko operasional dan teknologi.
#AI #Perbankan #Singapura #TransformasiDigital #Reskilling #PHK #Fintech #Bankir #MAS #DBS #OCBC #UOB #ArtificialIntelligence #FutureOfWork #DigitalBanking #Workforce #TechPolicy #WealthManagement #Automation #EkonomiDigital
,
