Saham Undervalued, BTN Pertimbangkan Buyback dan Siapkan Revisi Rencana Bisnis

- 24 Juni 2026 - 10:32

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mulai membuka peluang melakukan pembelian kembali saham (buyback) di tengah dorongan Danantara agar BUMN lebih agresif menciptakan nilai bagi pemegang saham. Buyback yang sedang dikaji itu tidak ditujukan untuk aksi korporasi jangka pendek, melainkan mendukung program kepemilikan saham karyawan. Di saat yang sama, BTN juga memperkuat fundamental bisnis melalui akuisisi portofolio kredit senilai hampir Rp20 triliun dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk yang dinilai dapat meningkatkan profitabilitas tanpa menimbulkan dilusi saham.


DIGI-HIGHLIGHTS:

■ BTN mengkaji buyback saham untuk program kepemilikan saham karyawan karena harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perseroan.
■ Danantara mendorong BUMN memanfaatkan buyback sebagai instrumen penciptaan nilai saat saham diperdagangkan di bawah nilai wajarnya.
■ BTN memperkuat pertumbuhan dengan mengakuisisi portofolio kredit SMBC Indonesia senilai Rp19,92 triliun.


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tengah mempertimbangkan langkah pembelian kembali saham atau buyback sebagai bagian dari strategi penciptaan nilai bagi pemegang saham. Wacana tersebut mengemuka setelah Danantara Indonesia mendorong perusahaan-perusahaan BUMN untuk lebih aktif memanfaatkan instrumen korporasi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan ketika harga saham dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental sebenarnya.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan opsi buyback yang tengah dikaji bukan untuk tujuan spekulatif maupun sekadar mendongkrak harga saham dalam jangka pendek. Perseroan lebih melihat buyback sebagai instrumen untuk mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan.

Menurut Nixon, ruang untuk menambah kepemilikan publik relatif terbatas karena porsi saham publik BTN saat ini sudah berada di batas minimum yang dipersyaratkan regulator.

“Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau stock option. Saat ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank [RBB], tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB,” jelas Nixon di Jakarta, pekan ini.

Dirut BTN Nixon LP Napitupulu

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa BTN mulai melihat buyback sebagai salah satu opsi strategis yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan modal sekaligus meningkatkan keterlibatan karyawan terhadap kinerja perusahaan.

Danantara: Buyback Adalah Langkah yang Wajar

Gagasan buyback juga mendapat dukungan dari Danantara Indonesia. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menilai pembelian kembali saham merupakan praktik yang lazim dilakukan perusahaan ketika harga saham dinilai lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya.

Menurut Dony, perusahaan dengan fundamental kuat justru dapat menciptakan nilai lebih besar bagi pemegang saham apabila mengalokasikan sebagian modalnya untuk membeli saham sendiri dibandingkan menempatkan dana pada investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih rendah.

“Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat,” ujar Dony.

Ia menambahkan bahwa sejumlah BUMN saat ini memiliki fondasi bisnis yang kokoh, mulai dari sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur hingga berbagai sektor strategis lainnya. Dengan fundamental yang kuat, perusahaan-perusahaan tersebut dinilai memiliki kemampuan untuk terus menghasilkan nilai tambah bagi investor.

Saham BTN Masih Diperdagangkan di Bawah Nilai Bukunya

Pandangan bahwa saham BTN masih undervalued bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, saham BBTN kerap diperdagangkan pada valuasi price to book value (PBV) yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah bank besar lainnya.
Padahal, BTN mencatat pertumbuhan kredit yang konsisten dan tetap menjadi pemain dominan dalam pembiayaan perumahan nasional. Perseroan juga terus memperkuat pendapatan non-bunga serta melakukan diversifikasi sumber pertumbuhan bisnis.

Sejumlah analis menilai bahwa valuasi BTN masih menyisakan ruang kenaikan apabila kinerja keuangan dan transformasi bisnis yang dijalankan perseroan mampu terealisasi sesuai target.

Perkuat Bisnis Lewat Akuisisi Portofolio Kredit

Di luar wacana buyback, BTN saat ini juga tengah memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan anorganik.

Langkah terbaru yang sedang diproses adalah akuisisi portofolio aset kredit milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk.

Dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BTN mengungkapkan telah menandatangani dua perjanjian pengalihan aset kredit pada 22 Mei 2026 melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Melalui transaksi CPTA, BTN akan mengambil alih portofolio kredit pensiunan dan pra-pensiunan yang manfaat pensiunnya dikelola PT TASPEN dengan nilai estimasi mencapai Rp12,58 triliun.

Sementara melalui skema CLATA, BTN akan mengakuisisi portofolio kredit yang terkait dengan pensiunan ASABRI, berbagai dana pensiun lainnya, serta kredit karyawan aktif BUMN dan instansi pemerintah dengan nilai sekitar Rp7,34 triliun. Dengan demikian, total nilai portofolio yang akan diambil alih BTN mencapai sekitar Rp19,92 triliun.

Dinilai Beri Nilai Tambah Tanpa Dilusi

Analis Bahana Sekuritas Razqi M Kurniawan menilai transaksi akuisisi tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi BTN.

Menurutnya, akuisisi portofolio kredit pensiunan memiliki sejumlah keunggulan karena menawarkan profil risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan segmen kredit lainnya. Selain itu, imbal hasil atau yield yang dihasilkan juga dinilai menarik.

Razqi menilai langkah tersebut dapat membantu BTN memperbaiki struktur aset, meningkatkan profitabilitas, serta memperpendek durasi portofolio kredit tanpa harus melakukan aksi korporasi yang berpotensi menimbulkan dilusi bagi pemegang saham.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya persaingan industri perbankan, kombinasi antara penguatan fundamental bisnis dan kajian buyback saham menunjukkan bahwa BTN tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan sekaligus meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang. ●


DIGI-INSIGHTS:

BTN tampaknya sedang mengubah pendekatan penciptaan nilai (value creation) dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menjadi kombinasi antara optimalisasi struktur modal dan ekspansi bisnis. Wacana buyback menunjukkan manajemen mulai melihat adanya kesenjangan antara harga saham di pasar dan nilai intrinsik perusahaan. Jika buyback benar-benar direalisasikan, pasar kemungkinan akan menangkap sinyal bahwa manajemen memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap prospek jangka panjang BTN. Terlebih, buyback yang diarahkan untuk program kepemilikan saham karyawan dapat memperkuat keterikatan manajemen dan pegawai terhadap kinerja perusahaan.

Di sisi lain, langkah mengakuisisi portofolio kredit senilai hampir Rp20 triliun dari SMBC Indonesia memperlihatkan bahwa BTN tidak hanya fokus pada penguatan sentimen pasar, tetapi juga memperkuat mesin pendapatan. Portofolio kredit pensiunan dan pegawai pemerintah memiliki karakteristik risiko yang relatif rendah karena didukung arus pendapatan yang stabil. Bagi BTN, akuisisi ini berpotensi meningkatkan pendapatan bunga, memperbaiki kualitas aset, dan mempercepat pertumbuhan tanpa harus membangun portofolio baru dari nol. Strategi ini jauh lebih cepat menghasilkan kontribusi terhadap laba dibandingkan pertumbuhan organik biasa.

Yang menarik, kombinasi buyback dan akuisisi aset menunjukkan BTN sedang menyiapkan fondasi menuju rerating valuasi saham. Selama ini BBTN sering diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan bank-bank besar lain meskipun memiliki posisi dominan di sektor pembiayaan perumahan nasional. Jika akuisisi portofolio kredit berhasil meningkatkan profitabilitas dan kualitas aset, sementara buyback mampu memperbaiki persepsi pasar terhadap nilai perusahaan, BTN berpeluang mempersempit diskon valuasinya. Dengan kata lain, strategi yang sedang disiapkan BTN bukan hanya soal pertumbuhan aset, tetapi juga upaya meningkatkan return bagi pemegang saham dalam jangka panjang. ●


DIGIONARY:

● Buyback: Pembelian kembali saham perusahaan yang beredar di pasar oleh perusahaan penerbit saham tersebut.
● CLATA (Conditional Loan Asset Transfer Agreement): Perjanjian pengalihan aset pinjaman yang dilakukan dengan syarat-syarat tertentu sebelum transaksi efektif.
● CPTA (Conditional Portfolio Transfer Agreement): Perjanjian pengalihan portofolio aset yang baru efektif setelah seluruh persyaratan terpenuhi.
● Danantara: Badan pengelola investasi strategis pemerintah Indonesia yang mengelola aset dan investasi BUMN.
● Dilusi Saham: Penurunan persentase kepemilikan pemegang saham akibat penerbitan saham baru.
● Fundamental Perusahaan: Kondisi dasar perusahaan yang mencerminkan kinerja keuangan, aset, profitabilitas, dan prospek bisnis.
● OJK (Otoritas Jasa Keuangan): Lembaga yang mengawasi sektor jasa keuangan di Indonesia.
● PBV (Price to Book Value): Rasio valuasi yang membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan.
● RBB (Rencana Bisnis Bank): Dokumen rencana strategis dan operasional bank yang disampaikan kepada regulator.
● Stock Option: Hak yang diberikan kepada karyawan untuk membeli saham perusahaan pada harga tertentu dalam periode tertentu.
● Undervalued: Kondisi ketika harga saham diperdagangkan di bawah nilai intrinsik atau nilai wajarnya.
● Yield: Tingkat pengembalian atau imbal hasil yang diperoleh dari suatu investasi atau aset.

#BTN #BBTN #BuybackSaham #Danantara #BUMN #PerbankanIndonesia #SahamBTN #PasarModal #StockOption #KaryawanBTN #AkuisisiAset #SMBCIndonesia #KreditPensiunan #InvestasiSaham #OJK #FundamentalPerusahaan #BankBTN #ValuasiSaham #StrategiBisnis #BankingNews

Comments are closed.