Bank Neo Commerce Cetak Laba Rp136,98 Miliar di Awal 2026, Jaga Kualitas di Tengah Tekanan

- 29 April 2026 - 13:33

Bank Neo Commerce mencatat laba Rp136,98 miliar pada Kuartal I/2026, melanjutkan tren kinerja positif di tengah tekanan likuiditas dan gejolak global. Meski penyaluran kredit dan DPK mengalami kontraksi terbatas, bank memperkuat kualitas aset, efisiensi, serta permodalan untuk menjaga keberlanjutan bisnis.


Fokus:

■ Bank Neo Commerce catat laba Rp136,98 miliar, pertahankan tren positif di tengah tekanan ekonomi global dan likuiditas.
■ Kredit turun 17,24% akibat strategi selektif, namun kualitas terjaga dengan NPL rendah di 0,43%.
■ Permodalan kuat dengan CAR 50,60% dan fokus pada digital retail serta inovasi BNPL untuk ekspansi ke depan.


Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan likuiditas industri perbankan, Bank Neo Commerce memilih jalur konservatif: menahan ekspansi kredit, memperkuat kualitas aset, dan menjaga efisiensi. Strategi ini berbuah laba pada awal 2026.

Bank Neo Commerce membuka tahun 2026 dengan kinerja yang relatif stabil. Bank digital ini membukukan laba sebesar Rp136,98 miliar pada Kuartal I/2026, melanjutkan tren positif yang telah dibangun sepanjang tahun sebelumnya. Kinerja tersebut dicapai di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik serta tekanan terhadap likuiditas di industri keuangan.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp13,42 triliun per Maret 2026, turun tipis 1,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp13,69 triliun. Namun, perubahan struktur pendanaan menjadi sorotan.

Tabungan—sebagai komponen dana murah—justru meningkat 8,62% menjadi Rp3,50 triliun. Sementara deposito mengalami penurunan 2,18% menjadi Rp9,35 triliun. Pergeseran ini mendorong rasio CASA ke level 30,34%.

Langkah tersebut mencerminkan strategi bank untuk mengurangi ketergantungan pada dana mahal dan memperkuat basis transaksi nasabah.

Kredit Ditahan, Kualitas Dijaga

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp7,03 triliun, turun 17,24% dibandingkan Rp8,49 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini bukan tanpa alasan. Bank secara sengaja memperketat penyaluran kredit guna menjaga kualitas portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi.

Hasilnya, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) neto tetap rendah di level 0,43%, mencerminkan kualitas aset yang terjaga.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Eri Budiono mengatakan, di tengah banyaknya ketidakpastian yang sedang terjadi dan keadaan geopolitik yang tengah bergejolak di beberapa belahan dunia, Bank Neo Commerce terus berupaya menjalankan bisnis dengan baik dan tetap memperhatikan tata kelola.

“Kami fokus untuk mendorong pertumbuhan kredit di segmen digital retail secara hati-hati dan memperkuat ekosistem digital kami. Kami terus berupaya untuk melanjutkan tren kinerja yang positif ke depan yang terbukti dengan raihan laba sebesar Rp136,98 miliar yang berhasil kami catatkan di Kuartal pertama di tahun 2026 ini,” ujarnya.

Modal Kuat, Efisiensi Terjaga

Dari sisi neraca, total aset meningkat tipis 0,94% menjadi Rp18,34 triliun. Sementara efisiensi operasional menunjukkan perbaikan, dengan rasio BOPO di level 83,68% dan Cost to Income Ratio (CIR) sebesar 32,93%.

Net Interest Margin (NIM) tercatat tinggi di level 13,50%, menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan pendapatan bunga dari aset produktif.

Yang paling menonjol adalah rasio kecukupan modal (CAR) yang melonjak ke 50,60%, jauh di atas 35,81% pada tahun sebelumnya. Rasio ini menegaskan posisi permodalan bank yang kuat untuk menopang ekspansi ke depan.

Arah Bisnis: Digital Retail dan Inovasi Pembiayaan

Ke depan, Bank Neo Commerce menegaskan akan tetap fokus pada segmen digital retail dengan pendekatan yang lebih selektif.

Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) pada 2026. Produk ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat ekosistem digital bank.

Di saat yang sama, kepercayaan pasar terhadap kinerja bank juga tercermin dari pergerakan sahamnya. Saham BBYB resmi masuk dalam indeks Economic 30 sejak Maret 2026.

“Masuknya BBYB dalam indeks tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kinerja dan prospek Perseroan yang secara konsisten mencatatkan kinerja keuangan dan bisnis yang meyakinkan,” ujar Eri.

Menjaga Momentum di Tengah Ketidakpastian

Secara industri, langkah Bank Neo Commerce mencerminkan tren yang lebih luas di sektor perbankan digital: pertumbuhan tidak lagi agresif, melainkan lebih selektif dan berorientasi kualitas. Dengan laba tahun buku 2025 sebesar Rp565,69 miliar yang berlanjut ke awal 2026, bank ini menunjukkan pergeseran strategi dari ekspansi ke stabilisasi.

Ke depan, tantangan utama bukan hanya pertumbuhan, tetapi menjaga keseimbangan antara ekspansi digital, kualitas aset, dan efisiensi operasional.


Digionary:

● BOPO: Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional untuk mengukur efisiensi bank.
● CASA: Dana murah yang berasal dari tabungan dan giro.
● CAR: Rasio kecukupan modal bank untuk menutup risiko kerugian.
● CIR: Perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan, indikator efisiensi.
● DPK: Dana pihak ketiga yang dihimpun dari masyarakat.
● NIM: Selisih antara pendapatan bunga dan biaya bunga.
● NPL: Rasio kredit bermasalah dalam portofolio bank.

#BankNeoCommerce #PerbankanDigital #KinerjaBank #LabaBank #EkonomiIndonesia #DigitalBanking #BBYB #IndustriKeuangan #FintechIndonesia #BankingStrategy #Likuiditas #KreditBank #NPL #CAR #CASA #EkonomiGlobal #TransformasiDigital #BNPL #FinancialIndustry #BankIndonesia

Comments are closed.