Bali Disiapkan Jadi Pusat Keuangan Global dengan Skema KEK, Pemerintah Lirik Model Dubai

- 28 April 2026 - 12:18

Pemerintah membuka opsi membangun pusat keuangan (financial center) di Bali melalui skema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Proyek ini diproyeksikan mengadopsi model Dubai dan berpotensi dikelola oleh Danantara, dengan tujuan menarik investasi global di tengah perubahan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional.


Fokus:

■ Bali diproyeksikan jadi financial center untuk tarik arus dana global di tengah geopolitik yang berubah cepat.
■ Pemerintah siapkan regulasi fleksibel, termasuk akomodasi family office dan investor besar dunia.
■ Model Dubai jadi acuan, dengan peluang besar tapi tantangan pada daya saing dan kepastian hukum.


Pemerintah membuka opsi pembentukan pusat keuangan (financial center) di Bali sebagai bagian dari strategi menarik arus modal global. Kawasan ini dirancang dalam format Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor jasa keuangan, dengan pendekatan yang mengacu pada model internasional seperti Dubai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengakui rencana tersebut tengah disiapkan, seiring meningkatnya dinamika geopolitik global yang memengaruhi arah investasi dunia.

“Ya tentu kita lihat ada kesempatan untuk financial center. Untuk kita juga mempersiapkan. Dengan adanya perubahan geopolitik. Maka Bali menjadi menarik,” ujar Airlangga.

Pemerintah tampaknya mulai serius menyiapkan Bali sebagai pusat keuangan baru di kawasan Asia. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan pergeseran arus investasi, Indonesia melihat peluang strategis untuk menarik dana internasional melalui pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor keuangan.

Menurut dia, pemerintah saat ini tengah mengkaji kerangka regulasi yang mampu mengakomodasi kebutuhan pusat keuangan modern, termasuk fleksibilitas bagi pelaku global seperti pengelola dana besar dan family office.

“Dan juga berapa jauh regulasi itu bisa mengakomodasi apa yang diminta oleh pendirian daripada financial center atau family office. Financial center kan seluruhnya dikelola oleh dalam tanda petik non-pemerintah,” katanya.

Dalam skema yang sedang disusun, pemerintah juga membuka kemungkinan keterlibatan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pengelola kawasan tersebut. “Tetapi kalau Danantara mengelola boleh juga,” ujar Airlangga.

Mengadopsi Model Dubai

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi model pusat keuangan global yang dinilai paling relevan untuk Indonesia, yakni Dubai International Financial Centre (DIFC). “Yang masuk untuk saya adalah yang model Dubai, gitu. Kita akan kejar dalam waktu dekat,” kata Purbaya.

Model DIFC dikenal sebagai salah satu pusat keuangan internasional paling sukses di dunia, dengan lebih dari 5.000 perusahaan terdaftar dan mengelola aset bernilai lebih dari US$700 miliar per 2025. Kawasan ini menawarkan regulasi yang fleksibel, sistem hukum berbasis common law, serta insentif pajak yang kompetitif.

Presiden Prabowo Subianto, menurut Purbaya, telah memberikan arahan langsung untuk mempercepat realisasi proyek tersebut, dengan Airlangga ditunjuk sebagai koordinator utama. “Presiden sudah memberikan perintah dan petunjuk. Jadi Pak Menko Perekonomian akan lead timnya, nantikan kita bantu dari situ,” ujarnya.

Peluang dan Tantangan

Secara global, tren pembentukan financial center semakin kompetitif. Selain Dubai, pusat keuangan seperti Singapura, Hong Kong, dan Abu Dhabi terus berlomba menarik dana dari ultra high net worth individuals (UHNWI) dan institusi global.

Data Boston Consulting Group menunjukkan, total aset global yang dikelola (global wealth) telah mencapai lebih dari US$480 triliun pada 2025, dengan Asia menjadi kawasan pertumbuhan tercepat.

Indonesia melihat peluang untuk menangkap sebagian arus dana tersebut, terutama dengan meningkatnya tren relokasi aset dan diversifikasi investasi akibat ketegangan geopolitik serta kebijakan suku bunga global.

Namun, sejumlah tantangan tetap mengemuka, mulai dari kesiapan regulasi, kepastian hukum, hingga daya saing insentif fiskal dibandingkan negara lain.

Selain itu, keberhasilan proyek ini juga akan sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan tata kelola Indonesia.


Digionary:

● Danantara: Badan Pengelola Investasi Indonesia yang mengelola dana strategis negara untuk investasi jangka panjang.
● Family Office: Entitas yang mengelola kekayaan individu super kaya, termasuk investasi lintas negara.
● Financial Center: Kawasan yang menjadi pusat aktivitas keuangan global seperti investasi, perbankan, dan pengelolaan aset.
● Kawasan Ekonomi Khusus (KEK): Area dengan regulasi dan insentif khusus untuk menarik investasi.
● DIFC: Dubai International Financial Centre, pusat keuangan global dengan sistem regulasi modern dan pajak kompetitif.
● Geopolitik: Dinamika politik global yang memengaruhi ekonomi dan arus investasi antarnegara.

#KEK #FinancialCenter #Bali #InvestasiGlobal #Danantara #EkonomiIndonesia #AirlanggaHartarto #Geopolitik #WealthManagement #FamilyOffice #DubaiModel #DIFC #PasarKeuangan #EkonomiDigital #GlobalCapital #InvestasiAsing #IndonesiaGrowth #EkonomiAsia #StrategiNasional #TransformasiEkonomi

Comments are closed.