Amar Bank Bidik Generasi Digital Lewat “Ghost in the Cell” Karya Sutradara Joko Anwar

- 16 April 2026 - 17:20

Dukungan sektor keuangan terhadap industri kreatif kian nyata. Amar Bank melalui Tunaiku memilih masuk lebih dalam ke dunia perfilman nasional dengan menjadi sponsor film terbaru karya Joko Anwar, Ghost in the Cell. Langkah ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan upaya membangun kedekatan dengan generasi digital sekaligus menangkap peluang ekonomi dari industri film Indonesia yang kini berkembang pesat dan semakin dilirik pasar global.


Fokus:

■ Amar Bank memperluas strategi bisnis dengan masuk ke ekosistem industri kreatif dan perfilman nasional.
■ Film Ghost in the Cell dipilih karena dinilai memiliki daya tarik budaya, potensi ekonomi, dan resonansi kuat dengan generasi digital.
■ Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya Amar Bank membangun positioning Tunaiku sebagai brand finansial yang relevan dengan gaya hidup modern.


Di tengah persaingan industri keuangan digital yang semakin ketat, Amar Bank memilih jalur yang tak biasa. Bank digital ini tidak hanya berlomba menawarkan pinjaman cepat atau layanan berbasis AI, tetapi juga masuk ke industri kreatif dengan mendukung film terbaru karya Joko Anwar, Ghost in the Cell, yang mulai tayang di Indonesia pada 16 April 2026 dan telah terjual ke 86 negara.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Perfilman kini tidak lagi dipandang semata sebagai industri hiburan, tetapi juga sebagai mesin ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperluas eksposur budaya, dan membangun koneksi emosional yang kuat dengan publik.

PT Bank Amar Indonesia Tbk melalui Tunaiku kembali mempertegas langkahnya di industri kreatif. Setelah sebelumnya terlibat dalam JAFF Market 2025 dan mendukung film Rangga & Cinta, kali ini Amar Bank hadir sebagai sponsor Ghost in the Cell, film terbaru karya sutradara Joko Anwar.

Film tersebut resmi tayang pada 16 April 2026 dan telah terjual untuk penayangan di 86 negara. Capaian itu memperlihatkan bahwa film Indonesia semakin memiliki daya saing global, sekaligus menjadi peluang baru bagi perusahaan untuk membangun relevansi merek.

Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menilai industri kreatif kini menjadi salah satu sektor yang paling potensial di Indonesia.

“Amar Bank melihat industri kreatif sebagai salah satu sektor yang sangat potensial, bukan hanya karena pertumbuhannya, tetapi juga karena kemampuannya menciptakan nilai ekonomi, membangun perhatian publik, dan menghadirkan relevansi yang kuat,” katanya.

Menurut dia, film adalah contoh nyata. Bagi Amar Bank, mendukung Ghost in the Cell bukan hanya soal mendukung sebuah karya, tetapi juga bagian dari komitmen jangka panjang Amar Bank untuk mendukung UMKM serta tumbuh bersama ekosistem kreatif Indonesia. “Ini sekaligus memperkuat posisi Tunaiku sebagai brand digital yang relevan dengan generasi saat ini,” ujar Vishal.

Langkah Amar Bank sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan subsektor film, animasi, dan video menjadi salah satu pendorong utama. Industri ini juga didukung oleh tumbuhnya konsumsi digital dan meningkatnya jumlah penonton film nasional.

Perfilman Nasional Kian Menarik Bagi Korporasi

Dalam beberapa tahun terakhir, film Indonesia semakin menarik minat korporasi. Selain memiliki basis penggemar yang loyal, film juga menawarkan ruang promosi yang lebih organik dan emosional dibanding iklan konvensional.

Marketing Head Amar Bank, Rosalinda Hoesin, mengatakan hubungan antara brand dan audiens kini tidak lagi cukup dibangun hanya melalui iklan.

“Hari ini, koneksi antara brand dan audiens dibangun bukan hanya lewat pesan, tetapi lewat pengalaman dan ruang budaya yang mereka anggap relevan. Film punya kekuatan itu. Karena itu, dukungan terhadap Ghost in the Cell menjadi cara Amar Bank membangun kedekatan yang lebih autentik dengan audiens yang semakin digital, ekspresif, dan culture-driven,” ujar Rosalinda.

Pilihan terhadap Ghost in the Cell juga dinilai strategis. Nama Joko Anwar selama ini identik dengan film-film yang kuat secara cerita dan memiliki daya tarik komersial tinggi. Beberapa karya sebelumnya seperti Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, dan Siksa Kubur berhasil menjadi perbincangan publik dan menembus pasar internasional.

Menurut Joko Anwar, keterlibatan perusahaan seperti Amar Bank penting untuk memperkuat fondasi industri film nasional.

“Dukungan dari Amar Bank menunjukkan bahwa industri film Indonesia semakin dilihat sebagai ekosistem yang menarik dan punya nilai besar, bukan hanya secara budaya tetapi juga secara bisnis. Bagi kami, kolaborasi seperti ini penting karena membantu memperluas jangkauan film sekaligus memperkuat kepercayaan bahwa karya kreatif Indonesia layak mendapat dukungan yang lebih luas,” ujar Joko Anwar.

Bukan Hanya Promosi, Tapi Rebutan Perhatian Generasi Baru

Bagi Amar Bank, mendukung film juga menjadi cara untuk menjangkau generasi muda yang aktif, digital, dan dekat dengan budaya populer. Generasi ini menjadi pasar penting bagi layanan keuangan digital, terutama pinjaman berbasis aplikasi, tabungan digital, dan transaksi cashless.

Tunaiku, sebagai produk andalan Amar Bank, selama ini dikenal menyasar segmen ritel dan UMKM. Dengan masuk ke ekosistem film, Amar Bank ingin memastikan brand mereka hadir di ruang-ruang yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Strategi seperti ini semakin banyak dipakai perusahaan global. Brand tidak lagi sekadar beriklan, tetapi membangun keterikatan lewat konten, komunitas, dan pengalaman budaya. Di tengah banjir informasi digital, perhatian publik menjadi aset paling mahal. Dan film, bagi Amar Bank, adalah salah satu pintu masuk terbaik untuk mendapatkannya.


Digionary:

● AI: Teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem memproses data dan mengambil keputusan otomatis.
● Brand relevance: Tingkat kedekatan dan keterhubungan sebuah merek dengan kebutuhan serta gaya hidup konsumen.
● Cultural moment: Momen budaya yang menjadi perbincangan luas dan menarik perhatian publik.
● Digital banking: Layanan perbankan yang dilakukan melalui aplikasi dan platform digital tanpa harus datang ke kantor cabang.
● Ekonomi kreatif: Sektor ekonomi yang bertumpu pada ide, kreativitas, budaya, dan inovasi.
● Fintech: Singkatan dari financial technology, yakni layanan keuangan berbasis teknologi digital.
● JAFF Market: Forum industri film yang mempertemukan pembuat film, investor, distributor, dan pelaku bisnis kreatif.
● Positioning: Strategi membangun citra atau persepsi tertentu terhadap sebuah merek di benak konsumen.
● Sponsor: Dukungan dana atau promosi dari perusahaan terhadap sebuah kegiatan, acara, atau karya.
● UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.

#AmarBank #Tunaiku #GhostInTheCell #JokoAnwar #FilmIndonesia #IndustriKreatif #EkonomiKreatif #PerfilmanNasional #BankDigital #FintechIndonesia #UMKM #BudayaPopuler #BrandMarketing #DigitalLifestyle #GenerasiDigital #SponsorFilm #JAFFMarket #BisnisKreatif #EkosistemFilm #IndustriHiburan

Comments are closed.